Resensi Film-Bhayu MH

Sex and The City: The Movie

Year : 2008 Director : Michael Patrick King Running Time : 145 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
1/5

saya mau sedikit hedon dengan menengok dunia glamour ala Carrie Bradshaw. Bagi pemirsa setia serial Sex and The City yang di Indonesia sempat tayang di RCTI, pasti tahu siapa dia. Nama tersebut adalah salah satu karakter yang berperan sebagai narrator sekaligus protagonis utama dalam serial tersebut. Di negeri asalnya sendiri –AS- serial tersebut tayang pada tahun 1998 hingga 2004 di stasiun TV HBO. Dikisahkan Carrie adalah seorang penulis kenamaan yang mengisi kolom “Sex and The City” di sebuah media lokal terkemuka. Ia bersahabat dengan Samantha Jones, Charlotte York, dan Miranda Hobbes. Keempat cewek ini membentuk semacam geng cewek.
Dan setting cerita dibuat real time at the present untuk mendekatkan penonton dengan kehidupan mereka. Pasca berhenti tayang di televisi empat tahun lalu, dikisahkan dalam film ini keempat wanita tersebut telah terpisah karena menempuh hidup masing-masing. Saat ini, empat tahun kemudian, di tahun 2008, mereka memutuskan untuk reuni dan berkumpul karena Carrie akan menikah di usia 40 tahun. Pernikahan Carrie begitu istimewa karena ia terkenal sebagai penulis lajang yang bermotto ala “being single and happy” hingga perlu-perlunya diliput oleh Vogue. Tidak cuma itu, Carrie malah dijadikan cover dan mendapatkan hadiah gaun pengantin mewah dari sponsor.
Cerita berkembang pada pergulatan Carrie yang maju-mundur hendak menikah dengan Mr.Big. Pria ini adalah seorang duda yang ahli financial kaya-raya. Carrie dibuat mabuk kepayang karena dikisahkan ia begitu sempurna: ganteng, kaya, romantis, pandai menyenangkan wanita, dan tentunya…ahli bercinta. Hanya satu kekurangannya: ia tidak yakin pada konsep pernikahan karena sudah pernah gagal sebelumnya. Maka, meski ia mencintai Carrie, Mr.Big tidak yakin akan menikahinya.
Di sinilah drama terjadi. Tapi tenang saja, seperti halnya “Cinderella Story” lainnya, film ini (spoiler warning!) happy ending kok.
Cinderella Story? Betul. Ini lagi-lagi film ala “Cinderella Story”, cuma si Cinderella bukan tipikal upik abu, tapi gadis kaya yang kesulitan cari pangeran ideal. Susah banget memenuhi kriteria idealnya si Carrie ini. Makanya begitu ketemu yang ideal, semua yang mengenalnya langsung heboh.
Film ini mungkin membosankan bagi kaum pria, karena sama sekali tidak ada adegan action. Mayoritas penonton di bioskop saya perhatikan juga wanita. Kalau pun ada pria, biasanya bersama pasangannya. Toh, sebagai hiburan, film ini lumayan asyik. Banyak adegan mengundang tawa meski bukan film komedi. Menarik mencermati paparan mengenai permasalahan hidup yang dihadapi wanita urban di negara maju. Tapi tentu yang menarik adalah pameran kemewahan dalam begitu banyaknya sponsor merk-merk terkenal yang bertaburan di sepanjang film. Rasanya, dalam soal pameran merek fashion, film ini bersaing ketat dengan “The Devils Wear Prada”. Lumayan-lah untuk melupakan sejenak kisruh BBM dan akrobat politik di negeri sendiri.

Tambahan: Saya paling suka adegan saat Carrie membuang buku The Secret. Haha. Saya pun menganggapnya sampah bualan belaka! Toss!

Catatan: Resensi film ini pertama kali dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 28 Juni 2008.

Leave a Reply