Resensi Film-Bhayu MH

Soekarno: Indonesia Merdeka

Year : 2013 Director : Hanung Bramantyo Running Time : Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Siapa anak negeri ini yang tak kenal Soekarno? Setiap pelajar di Indonesia pasti pernah mengenyam pelajaran sejarah, apa pun bentuknya. Dengan demikian sudah pasti mereka mengetahui Soekarno, Presiden pertama Indonesia sekaligus proklamator kemerdekaan negara ini. Namanya bahkan menggema ke seantero dunia.  Kemerdekaan Indonesia kemudian menjadi inspirasi negara-negara di Asia-Afrika untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme. Apalagi ketika Indonesia mengadakan Konferensi Asia-Afrika yang menegaskan posisinya sebagai pemimpin Gerakan Non-Blok.

Soekarno sebagai tokoh besar dalam sejarah telah cenderung menjadi mitis. Kisahnya seolah mitologis, padahal seharusnya sebagai bagian sejarah ia dilandasi fakta dan data. Dan film ini berupaya mengetengahkan sisi-sisi kehidupan si Bung Besar dengan cara seobyektif mungkin.

Film diawali dengan bersama-sama meminta penonton berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang tampaknya dibuat seadanya sebagai tambahan karena cuma menampilkan animasi bendera merah-putih dan subtitle syair lagu saja. Film dibuat dengan urutan kronologis beralur maju. Hanya sedikit di bagian awal film yang sempat flash-back ke masa kecil Soekarno saat masih bernama Kusno, termasuk prosesi pergantian namanya menjadi Soekarno. Untuk kemudian alurnya terus maju hingga ke akhir film.

Sinopsis

(spoiler alert!)

Ceritanya sendiri seperti ‘buku sejarah’ belaka. Penggambaran mengenai kehidupan Soekarno terkait dengan masa perjuangan pra-kemerdekaan Indonesia. Adegan dimulai dengan situasi di tahun 1934 saat serdadu marsose pemerintah kolonial Belanda Dutch East Indies menangkap Soekarno dan beberapa rekannya yang tengah berada di rumah Ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) Jawa Tengah, dokter Sujudi.

Adegan lantas flash-back ke masa kecil Soekarno, dimana saat itu ia yang masih bernama Kusno sakit-sakitan. Ayahnya Raden Soekemi Sosrodihardjo sampai menjalankan ‘laku tirakat’, tidur di bawah ranjang anak lelakinya. Tujuannya adalah agar penyakit itu ‘pindah’ ke tubuhnya. Akhirnya menurut kepercayaan Jawa, nama Kusno dipandang tidak cocok bagi anak itu. Dengan upacara ‘ruwatan’, maka ia pun diganti namanya menjadi Soekarno. Nama ini terinspirasi dari nama tokoh Kurawa yang sesungguhnya berhati mulia, Adipati Karna.

Film Soekarno-foto Bhayu-01

(Foto 1) Soekarno berpidato di depan rakyat

Cerita maju terus ke masa kecil Soekarno yang sempat menjalin “cinta monyet” dengan seorang gadis cilik Belanda bernama Mien Hessel. Namun, justru di sinilah rasa nasionalismenya tumbuh saat ia diusir oleh ayah Mien karena dianggap tidak sederajat. Ketika ia mengikuti rapat-rapat Sarekat Islam yang dipimpin oleh bapak kost-nya Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Cokroaminoto) ia makin tertarik pada ide kebangsaan. Soekarno muda pun mulai belajar berpidato sendirian di kamarnya. Segera, di usia 24 tahun ia telah mulai berpidato di berbagai tempat. (lihat foto 1).

Beranjak dewasa, Soekarno mulai aktif di politik. Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai basis organisasinya bersama sejumlah rekan, termasuk Gatot Mangkoepradja. Ia kemudian ditangkap dengan tuduhan menghasut dan berhaluan komunis. Ia, Gatot, dan dua rekan lainnya dipenjara di Banceuy, Bandung. Di saat inilah ia kemudian menyusun pledooi (pembelaan)-nya yang terkenal: “Indonesia Menggugat”. Soekarno tetap dijatuhi hukuman penjara empat tahun, namun dua tahun kemudian dibebaskan. Terutama karena gejolak di dalam negeri Belanda sendiri yang mengecam hukuman itu sebagai bertentangan dengan kemanusiaan dan demokrasi.

Soekarno kembali ke politik, tapi kemudian ditangkap lagi dan lantas diasingkan ke Ende, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Karena tidak memiliki podium dan massa, maka Soekarno memilih menjadi guru relawan di sekolah Muhammadiyah. Di sinilah ia kemudian jatuh hati pada salah satu muridnya, anak tokoh lokal Hassan Din. Namanya: Fatmawati. Padahal, saat itu Soekarno masih beristrikan Inggit Garnasih, istri keduanya setelah menceraikan istri pertamanya Siti Oetari.

Di saat ‘galau’ dengan masalah rumah tangganya, terutama karena Inggit belum mampu memberikan anak, ekskalasi politik memanas. Perang Dunia II mencapai Asia dengan masuknya Jepang ke dalam kancah perang dengan membom pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii. Jepang memberikan istilah sendiri untuk Perang Dunia II di teater Pasifik dengan “Perang Asia Timur Raya”. Kekuatan Jepang dengan cepat melumpuhkan satu demi satu negara di Asia, terutama di Asia Timur dan Tenggara. Indonesia yang waktu itu dikuasai Belanda ikut jatuh, menyusul kalahnya Amerika Serikat dan Inggris di Singapura dan Filipina.

Pasukan Belanda pimpinan Letnan Kolonel Hoogeband yang berpangkalan di Bengkulu sempat akan memindahkan Soekarno ke Jawa untuk kemudian akan diungsikan ke Australia. Tapi terlambat karena Jepang keburu mendarat. Terjadi kekacauan, perampokan dan penjarahan terutama terhadap orang-orang Belanda dan keturunan Tionghoa. Beberapa petinggi tentara Belanda di sana kemudian dieksekusi oleh tentara Jepang.

Berbeda dengan Belanda, Jepang bersikap baik kepada Soekarno. Ia dibawa kembali ke Jawa. Tujuan Jepang adalah memanfaatkan Soekarno untuk menarik hati rakyat agar mendukung program 3 A: Jepang Cahaya Asia, Jepang Sahabat Asia, Jepang Pelindung Asia. Ini adalah program propraganda perang negeri matahari terbit itu. Apalagi ia sempat diperbolehkan membentuk PETA (PEmbela Tanah Air) dan PUTERA (PUsat TEnaga Rakyat), serta mengibarkan bendera merah-putih dan menyanyikan Indonesia Raya di seluruh Jawa. Tapi, Soekarno sedih karena Jepang malah menggunakannya untuk mencari tenaga kerja paksa romusha.

Soekarno merasa bisa memanfaatkan situasi ini untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sutan Sjahrir keras menolak, untung ada Mohammad Hatta yang bijak menjadi penengah. Akhirnya disepakati dua jalan, Soekarno dan Hatta mencari peluang kooperasi dengan pemerintah Dai Nippon, sedangkan Sutan Sjahrir memimpin kelompok pemuda berada di garis keras.

Di tengah situasi genting, Soekarno mengalami masalah rumah tangga. Ia ingin menikahi Fatmawati, tapi tidak mau menceraikan Inggit. Masalahnya, Inggit tidak mau dimadu dan Fatmawati sudah dilamar orang lain. Akhirnya, Inggit mengalah dan meminta diceraikan. Soekarno pun menikahi Fatmawati dan tak lama kemudian istrinya itu hamil. Soekarno pun tak lama kemudian digembirakan dengan lahirnya putra pertamanya, yang diberi nama Guntur Soekarnoputra.

Tanpa diduga, Amerika Serikat yang gusar pada kekalahan di Pearl Harbour menggunakan jalan pintas yang kejam untuk mengakhiri perang: menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang menyerah kalah. Siaran radio luar negeri yang dilarang berhasil didengarkan oleh beberapa tokoh, terutama Sjahrir. Ia membujuk Soekarno dan Hatta agar mengabaikan janji kemerdekaan dari Jepang, yang rencananya akan diadakan pada tanggal 22 Agustus 1945. Soekarno yang sempat diberikan penghargaan langsung oleh Kaisar Jepang Hirohito –yang bahkan rela turun dari singgasana untuk menyalami Soekarno, suatu hal yang amat sangat langka karena ia dianggap dewa di negerinya- masih mempercayai Jepang.

Saat Soekarno, Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh ‘tua’ masih mempertimbangkan beberapa hal, kelompok pemuda bergerak. Mereka menculik Soekarno, Hatta dan Fatmawati ke Rengasdengklok pada 15 Agustus 1945. Sjahrir terkejut dan marah. Meski berbeda pendapat dengan Soekarno-Hatta, ia menyatakan kedua tokoh itu sangat penting bagi pergerakan kemerdekaan. “Dua-tiga Sjahrir pun tak akan bisa menggantikan Soekarno!” katanya. Ia pun mendesak para pemuda untuk mengembalikan keduanya ke Jakarta.

(Foto 2) Perumusan naskah proklamasi

(Foto 2) Perumusan naskah proklamasi

Sesampai di Jakarta, Laksamana Tadashi Maeda melaksanakan janji samurainya setelah dalam pertemuan sebelumnya sempat disindir Hatta. Ia memberikan rumahnya sebagai tempat merumuskan naskah proklamasi. Bahkan, tokoh-tokoh pergerakan sudah dikumpulkan sebelumnya dan menyambut Soekarno-Hatta saat tiba di rumah Maeda. Akhirnya, diputuskan tiga orang untuk menyusun naskah proklamasi: Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo (lihat foto 2).

Ketika naskah itu selesai ditulis tangan, Sayuti Melik ditugaskan mengetiknya. Suasana tegang terasa, terutama karena kuatir tentara Jepang akan ikut campur. Tapi karena jaminan Maeda, semua lancar dan aman. Esok paginya, Hatta pulang dulu untuk sahur, mandi dan berganti pakaian. Dalam film tidak digambarkan, tapi saat itu bulan Ramadhan. Soekarno yang kelelahan demam. Ia diperiksa dr. Soeharto. Tapi saat Bodancho PETA Latief Hendraningrat melapor semua sudah siap, Soekarno menolak membacakan proklamasi tanpa Hatta. Ketika akhirnya Hatta datang, acara pun dimulai dengan sambutan singkat dari Soekarno yang dilanjutkan pembacaan naskah proklamasi dan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya. Beberapa malam sebelumnya, Fatmawati yang sedang mengandung menjahit sendiri dengan tangan bendera pusaka itu. Bendera nasional pertama yang dikibarkan di era Indonesia merdeka.

Kemerdekaan Indonesia disambut, peran Soekarno terus berlanjut. Dan bangsa ini terus memantapkan diri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Soekarno akan selamanya dikenang sebagai Bapak Bangsa yang telah membawa Indonesia mencapai kemerdekaannya.

Kritik Film

(Foto 3) Detail foto dan ornamen sejarah apik.

(Foto 3) Detail foto dan ornamen sejarah apik.

Saya memuji detail penggunaan propertinya. Penggambaran detail di film ini ciamik. Mobil dan motor era itu dihidupkan kembali. Seragam tentara Belanda dan Jepang cukup bagus, demikian pula senjatanya. Penggunaan bahasa selain bahasa Indonesia yaitu bahasa Jawa kromo inggil, bahasa Belanda dan bahasa Jepang rinci. Aktornya cukup fasih mengucapkan seolah itu bahasa ibunya.  Beberapa barang era itu juga tampak realistis, seperti gramofon. Satu yang saya kagum,  foto-foto di atas meja yang merupakan foto reka ulang yang diisi para pemainnya, bukan foto asli Soekarno dan keluarganya, tapi dibuat dengan pose seperti aslinya. (lihat foto 3). Keren!

Cuma ada beberapa pertanyaan kecil di benak, seperti penggunaan stopmap yang tampak berkali-kali di film ini. Sepertinya model begitu baru ada di tahun 1960-an. Di film Soekarno ini juga tak tampak jelas ada penggambaran tahun berapa saat itu seperti dari kalender, kecuali satu scene saja diperlihatkan sepintas dari selebaran “Oetoesan Hindia”. Sebagian besar pengetahuan  penonton soal tahun kejadian didapat dari keterangan di subtitle. Tampak jelasnya merek “Teh 2 Tang” saat Fatmawati membuatkan teh di dapur rumah juga agak mengganggu. Memang sih, sponsor. Desain kemasannya juga dibuat kuno, tapi, apa iya di tahun itu sudah ada? Juga buku-buku yang tampak kusam, kelihatan lawas betulan. Padahal, di tahun 1945, buku-buku itu masih relatif baru kan? Coba deh tengok film Hollywood ber-setting lama, justru ditampakkan ‘kebaruan’ segala sesuatu di era itu, bukannya era itu dilihat dari masa sekarang. Satu contoh yang paling bagus adalah penggambaran ulang Titanic saat masih berlayar, tampak jelas kemewahannya.

Soekarno-romusha

Soekarno sebagai mandor romusha

Saya juga mencatat fiksinisasi dari foto terkenal Soekarno sebagai mandor sedang memerintahkan romusha untuk bekerja (lihat foto sejarah asli di samping). Terus terang, saya sendiri heran pada foto ini. Bagi para pembenci Soekarno, foto tersebut adalah bukti nyata bahwa Soekarno adalah kolaborator Jepang. Ia dianggap ‘menjual’ bangsanya sendiri sebagai romusha. Tapi di film ditampakkan bahwa Soekarno sendiri sedih dipaksa bergaya seperti di foto itu oleh Jepang. Fotografernya digambarkan adalah juru foto tentara pendudukan sebagai bagian dari divisi propaganda perang. Faktanya, tak ada fakta sejarah sama sekali tentang apa-bagaimananya foto ini dibuat. Di samping itu, saat di Bengkulu, Soekarno juga digambarkan dalam film ini mengusulkan agar didirikan rumah bordil khusus untuk tentara pendudukan Jepang. Hal ini dengan tujuan ‘mulia’ agar Jepang tidak menculik dan memperkosa wanita penduduk setempat. Masalahnya, kita tahu dari sejarah, tak ada pelacur Jepang yang lazim disebut “jugun ianfu” merupakan pelacur profesional, dalam arti menjadi pelacur atas pilihan sendiri. Mereka justru diculik dari kampung halamannya dan dipaksa menjadi budak seks tentara pendudukan Jepang. Dua fiksinisasi ini menurut saya bisa mencederai penggambaran Soekarno dalam film berlatar sejarah yang mustinya berdasarkan data dan fakta semata.

Banyaknya tokoh yang berseliweran di layar juga membingungkan penonton. Saya saja yang ‘khatam’ sejarah bangsa, harus menerka-nerka. Beberapa tokoh sejarah yang jelas disebut namanya selain Soekarno dan Hatta adalah Sutan Sjahrir, Ahmad Subardjo, Gatot Mangkoeprodjo, Haji Agus Salim, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Dr. Radjiman Wediodiningrat, dokter Sujudi, Latief Hendraningrat, Soekemi Sosrodihardjo ayah Soekarno dan tokoh pemuda Wikana. Tentu selain dua istri Soekarno di periode itu, Inggit Garnasih dan Fatmawati. Juga ada ‘pemeran pembantu’ seperti Omi (Ratna Djoeami), Riwu dan Hassan Din ayah Fatmawati, serta bayi Guntur Soekarnoputra. Sementara dari pihak ‘musuh’ ada Laksamana Tadashi Maeda, Marsekal Hitoshi Imamura, Kumakichi Harada, Nishijima, Letkol Hoogeband bahkan Kaisar Jepang Emperor Hirohito. Dari credit title, baru saya tahu ada nama-nama karakter sejarah lain seperti Ki Bagus Hadikusumo, Sujatmoko, Ki Hadjar Dewantara, Chaerul Saleh, Dr. Waworuntu, Musso, Sukarni, Subadio Sastrosatomo, Maskoen, bahkan Otto Iskandar Dinata (Otista), tapi saya tidak ngeh yang mana. Kecuali Sayuti Melik yang adegan ia mengetik naskah proklamasi dan dr. Soeharto yang adegan memeriksa Soekarno saat sakit menjelang proklamasinya cukup jelas, yang lainnya cuma muncul selintas saja tampaknya. Akan lebih baik bila ada keterangan subtitle saat tokoh-tokoh itu muncul untuk pertama kalinya di layar. Satu yang saya heran, Mr. Muhammad Yamin yang diberi peran penting di masa Orde Baru bahkan disebut sebagai perumus naskah Pancasila sama sekali tak ditampilkan. Saya juga sempat salah mengira salah satu pemuda sebagai Tan Malaka, namun di credit title ternyata Musso.

Melihat deretan tokoh sejarah itu, film ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia didirikan oleh banyak orang yang menyadari arti pentingnya bersatu. Soekarno dan Hatta juga ditampilkan beberapa kali berbeda pendapat, tapi mampu mengesampingkannya demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Menariknya, tampak bahwa Kartosuwiryo ternyata pernah sama-sama indekost bersama Soekarno di rumah HOS Cokroaminoto. Di kemudian hari, ia memberontak kepada Republik Indonesia dengan memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII). Juga tampak ada pertentangan ideologis dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Tapi semua itu mampu mengerucut kepada satu tujuan: demi Indonesia Raya.

Penggunaan footage film dokumenter sejarah asli juga bagus. Mampu berpadu apik dengan film baru rekayasa sutradara Hanung Bramantyo ini. Adegan menjelang proklamasi juga cukup detail. Hanya saja saya mempertanyakan kenapa justru saat pembacaannya hanya tampak layar gelap disertai subtitle teks proklamasi disertai diperdengarkannya suara asli Soekarno? Apakah disensor atau kenapa? Kalau pun adegan pembacaan yang dibuat baru di film ini dianggap kurang sesuai, tampilkan saja foto asli proklamasi yang dibuat oleh Alex Mendur dari IPPHOS.

Khusus mengenai pemeran Soekarno yaitu Ario Bayu, justru inilah yang menjadi salah satu sumber konflik dengan Rachmawati Soekarnoputri. Menurut ayah saya yang kenal dengan keluarga Bung Karno, Rachma mencalonkan anaknya sendiri yang juga seorang aktor: Anjasmara. Tapi setelah diseleksi, sutradara Hanung Bramantyo lebih memilih Ario Bayu terutama karena reputasi internasionalnya. Bagi saya sendiri, Ario memang tampan. Tapi matanya tidak seperti “mata elang” Bung Karno, cenderung menerawang.

Sedangkan mengenai sosok Soekarno yang di film ini digambarkan berkali-kali tampak ‘galau’ soal wanita, justru menurut saya itu menunjukkan sisi manusiawinya. Beliau bukan “Superman”, yang selalu tampil gagah seperti di atas podium. Dan hal ini justru menunjukkan bahwa tak perlu beliau dipuja seperti para pengikutnya yang berslogan “pejah gesang nderek Bung Karno”. Tapi juga tak perlu dibenci seolah beliau “setan dari neraka” seperti sikap para pendukung Soeharto dan Orde Baru, terutama pada periode awal konsolidasinya (1965-1971).

Toh, di balik semua kekurangan apalagi perseteruan dengan Rachmawati Soekarnoputri, film ini patut diacungi jempol. Karena di masa Orde Baru, hampir mustahil film ini dibuat. Ini karena sosok Bung Karno yang memang kontroversial. Ia dipuja, tapi juga dibenci oleh sebagian kelompok masyarakat, terutama pendukung Orde Baru. Secara apik film ini mampu masuk ke penuturan sejarah tanpa perlu memihak. Salut!

4 Responses so far.

  1. I Gde Mahendra says:

    Heboh di berita, pas nonton filmnya gak segitunya… banyak lompat2nya. Ceritanya gak runut…

  2. Amelia says:

    bukitikan alur pengenalan ,konflik,klimaks, anti klimaks sama penyelesainnya terimakasih

    • Bhayu Mahendra says:

      Hehe…. ini tugas sekolah ya? Kok ditanyakan ke saya? Coba saja baca resensinya, sepertinya bisa dijawab asal cermat. Selamat belajar. 😉

Leave a Reply