Resensi Film-Bhayu MH

Spy

Year : 2015 Director : Paul Feig Running Time : 120 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Sebuah film komedi yang merupakan parodi dari film “spy” serius seperti James Bond, Jason Bourne atau malah The Transporter. Bahkan, Jason Statham yang biasa berperan sebagai “jagoan”, di film ini tampil konyol. Saat resensi ini diturunkan pada 25 Mei 2015, film ini baru saja tayang di bioskop Indonesia. Penayangan di Indonesia pada 21 Mei 2015 bahkan mendahului penayangan di Amerika Serikat yang baru akan berlangsung pada 5 Juni 2015 mendatang.

Jalan Cerita

[spoiler alert!]

Bradley Fine (Jude Law) yang berpakaian tuxedo lengkap berada di suatu pesta yang digambarkan berlangsung di Bulgaria. Dengan melemparkan gelas champagne sebagai pengalih perhatian, ia mampu menyelinap masuk ke ruangan rahasia. Ia mendapati bos mafia yang memiliki bom berhulu ledak nuklir tersembunyi. Meski diancam dengan todongan pistol, si bos mafia tidak takut. Ia mengatakan Fine tidak bisa membunuhnya karena dialah satu-satunya orang yang tahu dimana letak bom itu, karena ia telah membunuh semua orang lain yang mengetahuinya. Sialnya, Fine alergi suhu udara yang berbeda dan bersin. Karena bersin, picu pistolnya tertekan dan pistol meledak. Peluru melayang, tepat mengenai tengah dahi si bos mafia yang langsung tewas di tempat.

Poster "Spy" versi 2

Poster “Spy” versi 2

Mendengar suara tembakan, para pengawal pun turun ke lantai bawah menuju ruangan si bos mafia. Fine pun harus melarikan diri. Ia dipandu oleh seorang wanita dari markasnya menggunakan alat komunikasi dengan earphone. Berkat kelihaian Susan Cooper (Melissa McCarthy), Fine selalu berhasil menunaikan tugasnya.

Padahal, saat memandu Fine, atap langit-langit di ruangan tempat Cooper bekerja rusak dan dari balik loteng terbanglah puluhan kelelawar. Ruangan kerja CIA digambarkan tak ada bedanya dengan ruangan kerja kantoran biasa, tidak seperti umumnya di film-film semacam yang ‘keren abis’.

Fine menyelidiki keberadaan bom nuklir tersebut, hingga bertemu seorang wanita cantik dan seksi bernama Rayna Boyanov (Rose Byrne) yang mengaku memilikinya. Ia bermaksud menjual bom itu kepada penawar tertinggi. CIA mendeteksi tawaran itu datang dari Sergio De Luca (Bobby Cannavale) yang merupakan seorang gembong teroris kaya-raya namun eksentrik. Sayangnya, Rayna berhasil membongkar penyamaran Fine dan membunuhnya. Sebelum kamera dan penyadap dirusak, Rayna menyebutkan sejumlah nama agen rahasia CIA rekan kerja Fine yang ia ketahui. Karena komunikasi terputus diakhiri dengan hunjaman pisau, CIA menduga Fine tewas dibunuh Rayna.

Perbandingan poster film Spectre (James Bond 007)  dan Spy

Perbandingan gaya agen rahasia di film Spectre (James Bond 007) dan Spy

Rapat pun digelar dipimpin Direktur CIA Elaine Crocker (Allison Janney). Mereka membahas tentang bocornya nama-nama agen rahasia CIA ke tangan Rayna. Padahal, misi harus dilanjutkan untuk mencari bom nuklir yang hendak dijual ke pasar gelap. Rick Ford (Jason Statham) yang merasa paling berpengalaman mengajukan diri menggantikan Fine. Tetapi identitasnya dikuatirkan sudah diketahui karena namanya juga disebut oleh Rayna. Demikian pula dengan tiga agen lapangan lainnya seperti Timothy Cress (Will Yun Lee).

Maka, dengan memberanikan diri Susan Cooper mengajukan diri. Tentu saja sang direktur meragukannya. Tetapi ketika ia mempelajari data Cooper saat pelatihan yang ternyata lulusan terbaik, ia heran mengapa Cooper justru cuma di belakang meja. Ternyata, itu ulah Fine yang merupakan mentornya, yang sengaja menempatkannya di belakang meja.

Cooper pun akhirnya mendapatkan mimpinya ditugaskan sebagai agen lapangan. Ia tidak hanya harus menghadapi anak buah Rayna dan De Luca saja, tetapi juga intrik di antara para agen. Dengan Cooper berada di lapangan, sahabatnya Nancy (Miranda Hart)-lah yang kini menggantikan posisinya. Ia memandu Cooper dari markas melalui perangkat komunikasi.

Sebelum pergi, ia dibekali sejumlah peralatan khusus oleh ahli teknik CIA. Karakter ini mengingatkan kita pada Q-nya James Bond. Tetapi lucunya peralatan yang diberikan tampak konyol karena disamarkan dalam aneka bentuk perlengkapan wanita seperti pembalut.

Tanpa diduga, Ford menguntit setiap gerakan Cooper, dengan maksud melindunginya tetapi sekaligus juga menentang perintah atasan karena ia merasa seharusnya ia yang ditugaskan. Kesombongan Ford meski merepotkan Cooper, tetapi dalam beberapa kali kejadian justru menyelamatkannya. Walau dalam beberapa kali justru kekonyolan Cooper sendiri yang menyelamatkannya, seperti saat ia berhasil mengalahkan pembunuh yang dikirim De Luca.

Scooter Cooper terjebak di jalan semen basah.

Scooter Cooper terjebak di jalan semen basah.

Kejutan terjadi ketika Cooper malah dipercaya sebagai tangan kanan Rayna setelah berhasil menyusup ke pesta di Paris dan memberitahukan ada yang memasukkan racun ke minumannya. Ia juga beberapa kali menyelamatkan Rayna dari upaya pembunuhan. Salah satunya ternyata dilakukan oleh Karen Walker (Morena Baccarin), agen CIA cantik yang ternyata agen ganda.

Di Roma, Cooper dibantu agen lapangan CIA di Italia bernama Aldo (Peter Serafinowicz). Ia cukup membantu meski menyebalkan karena begitu gemar merayu wanita. Bahkan juga sengaja melakukan pelecehan kepada Cooper saat bertugas. Tetapi justru di situ letak leluconnya. 😀

Ketika kembali ke Budapest, di dalam pesawat Rayna sempat mengkonfrontir Cooper. Tetapi Cooper meyakinkannya bahwa dirinya adalah Amber Valentine, bukan Susan Cooper. Nama ini konyol karena merupakan bintang film porno. Cooper meyakinkannya bahwa dirinya diutus ayah Rayna untuk menjaganya.

Tanpa diduga, Nancy menyusul ke Budapest, dan mereka berdua malah jadi pengawal Rayna. Saat transaksi akan dilakukan di sebuah klub di mana 50 Cent naik panggung, ternyata pembelinya dikenali Cooper. Ia kuatir penyamaran Ford yang juga ada di ruangan itu terbongkar. Maka, ia memerintahkan Nancy membuat pengalihan, yang konyolnya dengan menabrak 50 Cent hingga jatuh di panggung.

Alangkah terkejutnya Cooper mengetahui Fine masih hidup, dan malah jadi kekasih Rayna. Ternyata, kematiannya sengaja dipalsukan. Transaksi bom nuklir pun dilakukan, tetapi De Luca ternyata berniat mengkhianati Rayna dengan merampas bom nuklir tetapi mengambil kembali ratusan berlian yang semula telah dibayarkannya. Dengan heroik, Cooper dan Fine lantas berupaya menggagalkannya. Ternyata, Fine hanya berusaha masuk lebih dalam dan tidak berkhianat.

De Luca berupaya kabur dengan helikopter. Cooper dengan beraninya meloncat dan bergelantungan di penampang kaki helikopter. Fine yang juga mencoba ikut malah terjatuh ke laut. Bantuan datang tanpa diduga ketika Aldo dan Nancy menembaki helikopter De Luca dari helikopter lain yang ternyata milik 50 Cent.

Di akhir film, Cooper dan Nancy dipuja-puji agen lain. Mereka jadi pahlawan dan Cooper malah langsung diberikan penugasan berikutnya oleh Crocker. Saat yang lain pergi, barulah Cooper dan Nancy berjalan dengan terpincang-pincang.

Kritik Film

Sudah cukup lama saya tak tertawa sekencang ini menyaksikan film komedi Hollywood. Hampir sepanjang film, banyak sekali adegan lucu yang membuat penonton –termasuk saya- heboh sendiri. Awalnya, saya tak mengira film ini komedi. Tetapi melihat gaya sang agen rahasia di awal film, saya langsung tahu bahwa film ini pelesetan dari James Bond. Apalagi saat bumper atau animasi pembuka film yang menampilkan judul muncul, tampilan bahkan lagunya sengaja dibuat mirip dengan opening agen rahasia MI-6 legendaris itu.

Pemilihan Cooper yang gemuk sebagai agen lapangan justru membuat orang tidak curiga. Apalagi samarannya bukan hanya tidak mencolok, tetapi konyol. Ia selalu diberikan identitas palsu sebagai seorang wanita yang “nggak banget”. Sehingga ia sempat mengomentari, “I look like someone’s homophobic aunt”.

Alat-alat konyol yang diberikan sang ahli teknik, malah berguna di saat yang tepat. Ketika Rayna menggeledahnya di pesawat, ia tidak menemukan benda mencurigakan. Dan itu sangat cerdik.

Meski film ini komedi, tetapi sebagai parodi film “spy”, ia tak luput dari aksi. Mulai dari tembak-menembak, baku-hantam, hingga kejar-kejaran di jalan raya. Apalagi saat di Roma, khas sekali dengan jalanan berlantai paving block-nya yang sempit. Keren!

Rayna Boyanov (Rose Byrne)

Rayna Boyanov (Rose Byrne)

Bagi pria seperti saya, bonus tentunya melihat penampilan Roose Byrne sebagai Rayna Boyanov dan Morena Baccarin sebagai Karen Walker. Walau untuk nama terakhir saya sangat menyayangkan kenapa tidak jelas ujung-pangkalnya lantas karakter Karen Walker malah menjadi agen ganda dan harus mati di tangan Rick Ford.

Saya tak sanggup menuliskan banyak. Tawa saya hampi sepanjang film menunjukkan betapa senangnya saya menonton film ini. Tetapi, terus-terang film ini bukan film komedi yang cocok bagi anak kecil karena banyaknya adegan vulgar dan kata makian. Tetap saja, bagi saya, film ini masih lebih asyik daripada film sejenis seperti Knight and Day (2010) atau Johnny English (2003). Layak ditonton bersama pasangan!

One Response so far.

  1. Rika Kartika says:

    Iya kaka… film ini lutu bingitz! Gak brenti ketawa pas nonotnnya 😀

Leave a Reply