Resensi Film-Bhayu MH

Star Trek

Year : 2009 Director : J.J. Abrams Running Time : 126 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film ini adalah reboot dari serial Star Trek yang sudah dilayarlebarkan. Ini berarti penonton bisa mengabaikan kontinuitas dari serial Star Trek layar lebar sebelumnya yang diberi judul seri “The Next Generation” dengan sekuel terakhirnya Nemesis (2002). Dalam film ini, dikisahkan Kapten Kirk bahkan masih berada di Akademi Starfleet. Dan ia belum jadi komandan dari USS Enterprise.

Kisah film dimulai dengan menegangkan ketika pada tahun 2233 kapal angkasa Federasi USS Kelvin menyelidiki “badai petir” aneh. Tiba-tiba, sebuah kapal Romulan raksasa bernama Narada muncul dari dalamnya and menyerang USS Kelvin. Mereka memerintahkan Kapten Robau untuk naik ke atas kapal mereka. Ia ditahan dan ditanyai mengenai “Duta Besar Spock”, tapi ia memang belum mengenalnya. Nero -kapten kapal Romulan- bertanya tanggal berapakah ini dalam penanggalan bintang, namun setelah dijawab ia malah membunuh Robau. Ia pun meneruskan menyerang Kelvin.

Kapten pengganti USS Kelvin adalah Perwira Pertama George Kirk. Ia melihat ketidakmungkinan pesawatnya bisa menandingi Narada yang lebih besar dan kuat. Maka,ia memerintahkan evakuasi kapal segera. Termasuk pula istrinya Winona yang tengah hamil tua. Saat ia hendak menyusul, sistem pilot otomatis rusak dan harus dikendalikan manual. Maka, George Kirk pun memutuskan tetap berada di pesawat untuk menabrakkannya ke Narada. Sebelum menabrak, Winona melahirkan anak lelaki. George sempat diberitahu melalui saluran komunikasi dan ia berpesan agar putra mereka diberi nama James Tiberius Kirk.

Bertahun-tahun kemudian, kisah menyoroti kehidupan di planet Vulcan. Spock muda diundang utnuk bergabung ke Vulcan Science Academy. Ia kerap di-bully teman-temannya karena ibunya Amanda Grayson adalah “makhluk Bumi”. Ia pun berkelahi melawan mereka yang mengejek ibunya. Maka, saat disidang ia pun memilih bergabung dengan Akademi Starfleet.

Di Bumi, Kirk muda menjadi remaja bandel. Ia menggoda Nyota Uhura dan berkelahi dengan para kadet Starfleet di sebuah bar. Perkelahian dihentikan saat Kapten Christopher Pike datang. Ia mengatakan mengenal ayah Kirk dan memintanya mendaftar ke Akademi Starfleet. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Pirk datang ke lokasi pemberangkatan pesawat di saat terakhir. Di dalamnya, ia bertemu dokter yang sinis karena dikhianati istrinya bernama Leonard Mc.Coy. Tentu saja, ada Uhura juga di sana dan Kirk pun sempat mengedipkan mata.

Tiga tahun kemudian, Spock yang sudah jadi senior dan berpangkat Commander menudut Kadet Kirk melakukan kecurangan saat ujian simulasi perang. Program bernama Kobayashi Maru itu dirancang sendiri oleh Spock dan selama ini belum pernah ada yang mengalahkannya. Kirk pun dipanggil sidang senat guru besar. Sidang disiplin diinterupsi oleh adanya panggilan darurat dari Vulcan. Karena armada utama posisinya jauh, para kadet dimobilisasi. Mc.Coy dan Uhura ikut di kapal Kapten Pike, USS Enterprise. Kirk sebenarnya tidak diikutsertakan karena sedang dalam masa hukuman. Tapi Mc.Coy menyelundupkannya dengan alasan ia adalah dokter yang sedang menangani penyakit yang diderita Kirk.

Saat pesawat sudah mengangkasa, Kirk yang dalam pengaruh obat mulai menyadari bahwa “badai petir” yang terjadi di Vulcan serupa dengan yang terjadi di saat kelahirannya. Ia berupaya memberitahu Uhura tapi karena pengaruh obat, ia jadi sulit berbicara. Ia pun nekat masuk ke kokpit komando untuk menemui Kapten Pike dan mencoba meyakinkannya bahwa sinyal yang dipancarkan itu perangkap.

Tapi Pike tidak yakin dan tetap masuk ke dalam pusaran badai. Saat melewatinya, di sisi lain mereka menemui empat pesawat angkasa Federasi lain sudah hancur. Mereka juga melihat Narada yang tengah mengebor inti planet Vulcan. Melihat ada pesawat federasi lain datang, Narada pun menyerang, tapi menghentikan serangan setelah melihat nama pesawat itu Enterprise. Nero tahu bahwa Spock yang dicarinya adalah awak di Enterprise. Karena itu ia meminta Pike untuk naik ke kapalnya. Sebelum pergi, ia menyerahkan komando kapal kepada Spock dan mengangkat Kirk sebagai Perwira Pertama.

Dalam upaya menghentikan perusakan atas planet Vulcan, Kirk bersama Kepala Mesin Olson dan Hikaru Sulu terjun ke perangkat pengeboran. Sayangnya Olson gagal mendarat dan tewas. Setelah berkelahi dengan awak Romulan, akhirnya Kirk dan Sulu berhasil mematikan alat itu. Akan tetapi, Nero keburu menyuntikan “materi merah” ke dalam inti planet. Tujuannya adalah menciptakan lubang hitam buatan yang akan menghancurkan apa saja termasuk planet itu sendiri. Spock turun ke planet dengan teleportasi dan menyelamatkan dewan tinggi Vulcan termasuk ayahnya Sarek. Sayangnya, saat akan diteleportasi ke dalam Enterprise, tebing tempat ibunya berpijak runtuh. Ibunya pun tewas.

Narada pun menuju ke Bumi untuk menghancurkannya. Nero menyiksa Pike untuk mendapatkan kode akses guna mematikan sistem pertahanan Bumi. Sementara di atas Enterprise, Kirk yang mencoba melakukan pemberontakan kepada Spock yang tidak mau mengejar Narada dibuang keluar pesawat. Ia mendarat di planet asing bernama Delta Vega.

Di sana, setelah diserang makhluk buas penghuni planet, Kirk lari ke sebuah gua. Ia bertemu sosok Spock tua yang mengaku berasal dari masa depan. Spock menceritakan bahwa 129 tahun ke depan, planet Romulus terancam oleh sebuah supernova. Sebagai wakil federasi, Duta Besar Spock berupaya menyelamatkan planet itu dengan menembakkan “materi merah” ke dalam supernova. Bila itu berhasil, diharapkan lubang hitam yang tercipta akan menyerapnya. Akan tetapi upaya itu gagal karena supernova keburu menghantam Romulus dan menghancurkannya. Nero yang berada di Narada marah dan mengejar kapal kecil Spock melewati lubang hitam. Mereka kembali ke masa lalu melewati inti lubang hitam. Nero berhasil menangkap Spock dan membuangnya ke Delta Vega. Sebagai balas dendam, Nero menghancurkan planet Vulcan, memaksa Spock menyaksikannya tanpa daya untuk menolong.

Spock Prime tua menyarankan agar mereka berdua mencari pos pengamatan luar Starfleet di planet itu. Di sana, mereka bertemu petugasnya Montgomery Scott. Ia sebenarnya menemukan sebuah formula untuk bis melakukan teleportasi ke pesawat yang sedang bergerak dengan kecepatan tinggi. Tapi formula itu belum sempurna dan kemudian dibantu Spock Prime, Scott menyempurnakannya dan kelak dicatat sebagai penemunya.

Kirk dan Scott diteleportasi ke Enterprise, dan meski sempat menghadapi tantangan karena Scott justru muncul di dalam sebuah tangki air, mereka berhasil masuk ke kokpit komando. Di sana, mengikuti saran Spock Prime, Kirk memancing amarah Spock. Dengan begitu, sesuai aturan Starfleet bahwa seorang komandan tak boleh labil emosinya, jabatan Spock sebagai Kapten Enterprise terpaksa dilepaskan. Kirk pun mengambil alih komando karena sebelumnya ia diangkat Pike sebagai Perwira Pertama.

Setelah ditenangkan oleh ayahnya Sarek, Spock kembali ke kokpit untuk membantu Kirk. Agar tidak diketahui Narada, Enterprise bersembunyi di balik kabut gas Titan. Kirk dan Spock diteleportasi ke Narada untuk menyelamatkan Pike. Spock menggunakan kapal Spock Prime  –dari masa depan-  untuk menabrakkannya ke Narada. Enterprise menteleportasi Kirk, Spock dan Pike ketika “materi merah” menciptakan lubang hitam yang menghancurkan Narada.

Sesampainya di Bumi, Kirk diberi penghargaan dan dinaikan pangkatnya sebagai Kapten yang mengomandani Enterprise. Sementara Pike pun dipromosikan sebagai Rear Admiral.

Dalam epilog, Spock diyakinkan oleh Sarek bahwa dirinya akan memberi kontribusi lebih apabila terus bergabung dalam Starfleet. Ia diyakinkan untuk memilih apa yang benar dibandingkan apa yang masuk akal seperti tradisi Vulcan. Sarek pun mengungkapkan bahwa sebenarnya Spock Prime adalah dirinya yang menyamar untuk membuat Kirk yakin supaya mengambil alih komando Enterprise. Spock pun diangkat sebagai Perwira Pertama di Enterprise. Bersama-sama mereka kelak akan menjelajahi angkasa raya sampai ke tempat dimana tak seorang pun pernah ke sana sebelumnya.

Kritik Film

Film ini secara komersial menebus kegagalan sekuel film sebelumnya Star Trek Next Generation: Nemesis (2002).Pemasukannya dari penayangan di bioskop seluruh dunia melebihi US$ 385 juta dengan biaya produksi US$ 150 juta. Bagi pecinta seri Star Trek atau lazim disebut “Trekkers”, memang film ini memberi angih segar.

Ceritanya baru, membuat penonton yang bahkan belum pernah melihat film ini sebelumnya bisa mengikuti dengan baik. Justru kalau sudah pernah seperti saya, agak bingung karena tidak adanya kesinambungan dari cerita-cerita sebelumnya. Harus membaca resensi untuk ngeh apa setting ceritanya. Karena film ini sebenarnya pre-quel dari kisah-kisah Star Trek versi layar lebar sebelumnya.

Sulit mengomentari jalan cerita yang kuat. Kalau pun ada yang terasa kurang greget adalah romansa antara Uhura dan Spock yang kurang dieksplorasi. Tapi memang versi layar lebar serial ini jarang mengedepankan hal-hal semacam ini. Justru serial televisinya yang lebih luwes.

Saya cuma agak bingung pada adanya dua Spock di sana. Dalam jalan cerita di Wikipedia, dikisahkan di epilog  Spock Prime atau Spock dari masa depan justru yang menasehati Spock muda agar tetap di bergabung di Enterprise. Tapi saat saya menyaksikan filmnya melalui cakram padat, Spock yang tua itu adalah Sarek, ayahnya. Dan justru saat itu Sarek mengakui bahwa Spock Prime yang ditemui Kirk di Delta Vega adalah dirinya yang menyamar. Ia mengatakan itu mencontek cara Kirk yang mencurangi simulasi Kobayashi Maru. Dan memang dalam persoalan paradoks waktu akibat perjalanan antar dimensi, selalu ditekankan bahwa individu atau persona yang sama tidak boleh saling bertemu.

Walau bagaimana, bagi pecinta kisah sains-fiksi bertema penjelajahan luar angkasa, Star Trek tidak boleh dilewatkan. Karena bersama Star Wars, ia telah meletakkan fondasi bagi film-film sejenis.

Leave a Reply