Resensi Film-Bhayu MH

Star Trek: Into Darkness

Year : 2013 Director : J.J. Abrams Running Time : 133 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Di masa teknologi informasi termasuk perfilman sepertinya sudah mencapai puncaknya, kita sulit dibuat kagum pada tontonan visual. Film sepertinya sudah sulit mengundang decak kagum. Tapi teknologi yang ditampilkan di film ini masih mampu melakukannya. Di tahun bintang 2259.55, Bumi terkesan sangat maju. Pemandangan di Royal Children’s Hospital di London misalnya menampilkan mobil terbang dan brankar rumah sakit yang melayang.  Tentu saja di samping pesawat-pesawat antariksa dan peralatan canggih masa depan yang sudah menjadi trademark dari serial film ini.

 Film ini sendiri merupakan pembuatan film keduabelas dari franchise  film bioskop “Star Trek”. Secara seri, ia merupakan sekuel dari Star Trek (2009). Karena itu, bagi yang terbiasa menyaksikan serial televisinya, versi ini agak berbeda karena merupakan prekuel kisah dari kru pesawat penjelajah antariksa milik federasi antar bintang NCC-1701 Enterprise. Kapten James Tiberius Kirk dan para kru-nya baru saja lulus dari akademi, namun diberikan mandat besar mengawaki Enterprise. Sebelumnya, kapten kapal itu adalah Christopher Pike yang kini menjadi Admiral.

Diceritakan di awal film, kru Enterprise berada di planet Nibiru yang terancam kepunahan massal karena akan meletusnya sebuah gunung berapi raksasa. Spock dan Kirk mengambil tindakan intervensi dengan membekukan inti magma gunung itu, sehingga penduduknya selamat. Celakanya, dalam upaya menyelamatkan Spock, Kirk mengambil keputusan menerbangkan pesawat keluar dari lautan dan masuk ke dalam gunung. Ini dilihat oleh penduduk Nibiru yang masih primitif sehingga melanggar perintah utama federasi Starfleet untuk tidak turut campur dalam proses evolusi sebuah planet.

Akibatnya, Kirk dan Spock dipanggil ke markas besar federasi. Kirk terancam dipecat terutama karena tidak memasukkan laporan detail tentang insiden di Nibiru, sementara Spock justru melakukannya. Akibat intervensi Pike, Admiral Alexander Marcus sebagai Panglima Starfleet memberi kesempatan kedua. Kapten kapal Enterprise diserahkan kembali kepada Pike, sementara Kirk diberi jabatan sebagai perwira pertama atau wakil komandannya.

Karena dijanjikan anaknya akan sembuh oleh Harrison, seorang personel Starfleet bernama Thomas Harewood berkhianat. Ia meledakkan instalasi militer rahasia yang disebut Section 31. Ketika komando tinggi berkumpul untuk membahas hal itu, justru itulah yang dikehendaki sang penyerang. Sebuah drone yang dipiloti dari jarak jauh menyerang mereka. Kirk berhasil menjatuhkan drone itu, tapi Pike tewas.

Drone itu ternyata dikendalikan oleh John Harrison, dan ia kabur ke planet Kronos yang berada di wilayah milik Klingon. Pengejaran pun dilakukan oleh armada Starfleet,dipimpin oleh Enterprise. Karena Pike tewas, Kirk kembali jadi kaptennya. Namun, saat akan berangkat, ada pemuatan 72 torpedo supercanggih rahasia yang tidak boleh diketahui oleh perwira teknik mereka, Montgomery Scott. Ia pun memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Bersama mereka, kemudian ikut Dr. Carol Wallace, seorang ahli persenjataan canggih.

Ketika tiba di Kronos, mereka dihadang oleh Klingon. Nyota Uhura perwira komunikasi Enterprise yang mampu berbahasa Klingon mencoba melobi, tapi gagal. Kru Enterprise terdesak karena kalah jumlah oleh pasukan Klingon. Tapi tiba-tiba ada bantuan datang. Dan tak dinyana itu adalah Harrison. Sendirian ia menghabisi banyak Klingon bahkan termasuk menjatuhkan beberapa pesawat mereka.

Setelah Klingon dikalahkan, Harrison justru menyerah kepada Kirk. Itu setelah tahu Kirk membawa 72 rudal canggih tadi. Di dalam tahanan, Harrison mengungkapkan identitasnya bahwa ia sebenarnya bernama Khan. Ia mengungkapkan dirinya baru saja bangun dari tidur beku cryogenic selama 300 tahun. Khan juga mengungkapkan bahwa Admiral Marcus punya rencana jahat menggunakan Starfleet sebagai armada perang untuk menginvasi galaksi lain. Secara detail makhluk superhuman yang jauh lebih cerdas dari manusia itu mengungkapkan bahwa dirinyalah yang merancang pesawat-pesawat tempur federasi. Ia juga mengungkapkan di dalam 72 torpedo itulah disembunyikan para krunya yang juga dibekukan dalam cryogenic.

Kirk sebenarnya tidak percaya, tapi tiba-tiba datang NCC Vengeance, pesawat komando Admiral Marcus. ia meminta agar Khan diserahkan kepadanya, tapi Kirk menolak. Ia ingin Khan dibawa ke Bumi dan diadili. Saat mencoba kabur dengan kecepatan warp, Enterprise berhasil ditembaki Vengeance. Karena kalah teknologi, pesawat mereka terhenti. Apalagi perwira teknik mereka yaitu Pavel Chekov sebenarnya belum semahir Scotty yang mengundurkan diri.

Ternyata Khan berkhianat. Ia membunuh para kru termasuk Admiral Marcus, merebut Vengeance dan mengancam Enterprise. Setelah bernegosiasi dengan Spock yang menjabat sebagai komandan sementara, 72 torpedo tadi sepakat diteleportasi ke Vengeance. Namun, ternyata Spock telah meminta Dr. Leonard “Bones” McCoy yang sebenarnya kepala medis Enterprise untuk mengubah rudal-rudal itu. Sehingga, tujuan Khan menghidupkan kembali awak kapalnya gagal, malah 72 torpedo itu meledak. Khan terlambat menyadari dan berupaya melakukan upaya bunuh diri terakhir dengan membawa Vengeance ke Bumi dan mengarahkannya ke markas besar Starfleet di San Fransisco.

Spock berupaya mencegahnya dengan diteleportasi ke sana. Sementara Kirk mencoba menghidupkan kembali Enterprise dengan masuk ke inti utama nuklir yang jadi bahan bakar pesawat. Ia terkena radiasi dan tewas. Tapi McCoy menyadari bahwa darah Khan bisa menghidupkan kembali Kirk. Maka, Uhura pun turun untuk membantu Spock menangkap Khan, sekaligus mencegahnya membunuh superhuman itu. Bumi, Enterprise, dan Kirk akhirnya bisa diselamatkan.

Di penghujung film, Kirk berpidato di depan para perwira Starfleet untuk memperingati peristiwa itu. Sementara Khan dikembalikan ke cryogenic pod. Carol yang ternyata putri Admiral Marcus ikut bergabung sebagai kru Enterprise. Dan pesawat itu memulai misi 5 tahun menjelajahi angkasa raya.

Secara pribadi, saya sangat menyukai film-film seri Star Trek. Namun, saya tak bisa memungkiri kebingungan saya karena waktu yang tercampur-baur. Saya hanya penyuka, bukan penggemar fanatik atau “Trekkers”. Sehingga tak hafal silsilah dan segala pelik-melik tentang Enterprise. Maka, terus-terang saya bingung dengan konflik yang ada dan adanya dua orang Spock –tua dan muda- di film ini. Tentu saja, Spock Prime adalah ayah Spock yang jadi perwira pertama di Enterprise. Tapi saya masih belum ngeh di film ini menceritakan generasi keberapa dari Star Trek. Karena beberapa kali kaptennya berganti-ganti, termasuk yang saya ingat ada Kapten Picard yang ada di serial televisinya. Ah, entahlah. Karena ini film sains-fiksi, maka menikmatinya tak boleh dengan kening berkerut. Cukup ditonton saja dan ikuti jalan ceritanya. That’s it.

Leave a Reply