Resensi Film-Bhayu MH

Taken

Year : 2008 Director : Pierre Morel Running Time : 93 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film dimulai dengan video kenangan ulang tahun seorang anak berusia 5 tahun. Kim namanya. Saat itu ia diberikan kado kuda mainan. Ayah dan ibunya bercerai, sehingga saat Kim berusia 17 tahun –di masa sekarang- Bryan Mills ayahnya harus datang ke rumah suami mantan istrinya, Lennie yang kini minta dipanggil Lenore. Hadiah ulang tahun berupa mesin karaoke yang dibelikan ayah kandungnya kalah mengesankan dibandingkan kuda asli yang diberikan ayah tirinya, Stuart.

Bryan sendiri tak mampu mempertahankan pernikahannya dengan Lennie karena ia jarang pulang. Sebagai agen rahasia CIA, ia baru berupaya dekat setelah pensiun. Meski setelah pensiun ia masih bekerja bersama teman-temannya di biro jasa keamanan swasta. Salah satu tugasnya adalah menjadi pengawal pribadi artis bernama Sheerah.

Cerita dimulai saat Kim diajak sahabatnya Amanda pergi ke Paris. Meski ayahnya keberatan karena dua gadis itu bepergian sendirian tanpa orangtua, tapi desakan mantan istrinya membuatnya terpaksa menandatangani surat izin orangtua. Dan kekuatiran ayahnya terbukti. Kedua gadis itu diculik!

Dari temannya sesama agen, Bryan tahu, kansnya untuk menemukan putrinya hanya 48 jam. Karena berdasarkan penelusurannya, mereka diculik oleh komplotan pedagang manusia. Untungnya, Bryan yang mantan agen berpengalaman sempat memberikan petunjuk kepada putrinya agar menyerukan ciri-ciri penculiknya lewat telepon genggam.

Dari tindakan itu, Bryan dengan bantuan Sam melacak bahwa para penculik menggunakan bahasa Albania dialek Tropoja. Bahkan Sam mengenali tattoo di tangan penculik Kim dan mengidentifikasinya sebagai pemimpin kelompok penculik. Sendirian, Sam terbang ke Paris untuk berupaya membebaskan putrinya. Di sana, ia mendapatkan bantuan dari rekannya yang seorang pejabat polisi lokal. Penelusurannya membawanya ke berbagai tempat guna mencari petunjuk keberadaan putrinya.

Bagi saya pribadi, film ini keren dan menegangkan. Kita jadi tahu bagaimana cara kerja kelompok penculik dan juga cara agen rahasia melacak. Meski di beberapa hal terasa agak terlalu mudah, seperti saat Sam cuma melihat ke komputer untuk menemukan data para penculik. Tapi cara Bryan melacak cukup masuk akal karena ia seperti bisa merekonstruksi kejadiannya saat berada di TKP. Meski bertemakan spionase, film ini baru memunculkan adegan aksi baku-tembak di akhir film. Selebihnya ketegangan mental yang lebih berupa thriller atau suspense. Menarik, dan tidak membosankan.

 

Leave a Reply