Resensi Film-Bhayu MH

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Year : 2013 Director : Sunil Soraya Running Time : 165 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
5/5

BALAS DENDAM TERBAIK ATAS PENGKHIANATAN CINTA ADALAH DENGAN MERAIH PRESTASI KEHIDUPAN

Novel Asli

Setelah Tjoet Nja’ Dhien (1988), saya belum pernah melihat lagi film Indonesia bertema reka-ulang sejarah sebagus ini. Bagi yang nilai bahasa Indonesianya memadai, mungkin pernah membaca dan masih ingat novel “Tenggelamnja Kapal Van Der Wijk” karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias HAMKA. Itulah novel yang jadi rujukan film ini, yang menurut Sunil Soraya sang sutradara filmnya dibuat semirip mungkin dengan penggambaran di novelnya yang detail. Novelnya sendiri diterbitkan pertama kali tahun 1938, dengan setting suasana pada dekade 1930-an, berarti sebelum Indonesia merdeka.

Di masanya, karya sastra HAMKA ini heboh. Karya sastranya terbit di periode kesusastraan “Pujangga Baru”. HAMKA sendiri memilih menggunakan penerbitan milik temannya M.Syarkawi untuk menghindari sensor, daripada diterbitkan oleh Balai Pustaka. Maklum, di masa itu, tulisan semacam ini yang mengkritik keras adat Minangkabau dianggap mencemari kesakralan adat. Sebelum dibukukan menjadi novel, karya “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” ini dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masjarakat yang dipimpin HAMKA sendiri. Ternyata, cerita ini mendapatkan sambutan luas masyarakat hingga mampu meningkatkan oplaag majalahnya. Setelah dua kali dicetak oleh M. Syarkawi, cetakan ketiga hingga ketujuh diterbitkan oleh Balai Pustaka, dan di tahun 1961 cetakan kedelapannya diterbitkan oleh Penerbit Nusantara.  Barulah setelah itu hingga sekarang penerbitannya diambil-alih oleh penerbit Bulan Bintang.

Kesuksesan novel ini di kala itu sempat menuai polemik karena Pramoedya Ananta Toer di tahun 1962 menuliskan di koran Bintang Timoer dengan menggunakan nama samaran Abdullan S.P, menuding karya HAMKA ini sebagai plagiasi. Karya sastra sumber yang dituding jadi inspirasi adalah Sous les Tilleuls (1832) karya Jean-Baptiste Alphonse Karr. Karya ini diduga dibaca HAMKA melalui terjemahan berbahasa Arab oleh Mustafa Lutfi al-Manfaluti, karena HAMKA tidak mahir berbahasa Prancis. Namun, H.B. Jassin dalam tulisannya di antologi Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I (1985:59–69) menampiknya. Karena menurutnya, penggambaran adat Minang yang detail dan kesesuaian dengan gaya bahasa HAMKA sendiri di karya sebelumnya menunjukkan hal itu. Terlepas dari polemik itu, selama puluhan tahun, novel ini merupakan salah satu bacaan wajib bagi pelajar di Indonesia dan Malaysia. Penerbitannya juga sudah mengalami kesuksesan finansial dengan puluhan kali dicetak ulang. Tak heran, produser Soraya Intercine Films tertarik mengangkatnya ke layar lebar.

Alur Cerita Film

(spoiler alert!)

Kisah di fim dimulai dari niat Zainuddin untuk kembali ke Minangkabau, tanah leluhur asal ayahnya. Ia meminta izin kepada pengasuhnya Mak Base agar bisa pulang kembali ke Batipuh-Padang Panjang. Meski berat, akhirnya Mak Base mengizinkannya. Di film, ada prolog cerita yang tidak digambarkan. Ayah Zainuddin bernama Pendekar Sutan membunuh mamak (paman)-nya dan berakibat ia diasingkan ke Cilacap selama 12 tahun. Setelah itu, ia merantau ke Makassar dan menikah dengan Daeng Habibah. Mereka pun memiliki anak tunggal bernama Zainuddin. Namun saat Zainuddin masih kecil, kedua orangtuanya wafat sehingga ia diasuh oleh Mak Base.

Kembali ke cerita film, kedatangan Zainuddin di ranah Minang rupanya tidak disambut baik. Ia dianggap “tidak berdarah murni” –meminjam istilah dari Harry Potter- karena beribukan seorang Bugis, walau ayahnya orang Minangkabau. Dalam adat di nagari itu, seseorang dirunut menurut nasab ibu atau matrilineal. Karena itu, Zainuddin dianggap tercemar dan nggak level.

Di tanah asal ayahnya itu, Zainuddin bertemu dengan seorang gadis keturunan bangsawan Minangkabau bernama Hayati. Mereka berdua pun kerap pergi berdua. Hayati terutama jatuh cinta pada Zainuddin karena kemampuannya dalam bersastra. Cinta mereka terdeteksi oleh para tetua, yang kemudian mengusir Zainuddin agar keluar dari Batipuh. Sebelum pergi, keduanya mengikat janji saling setia yang ditandai dengan Hayati memberikan kerudungnya kepada Zainuddin sebagai “azimat”.

Tak berapa lama kemudian, Hayati yang ngotot mempertahankan hubungan dengan Zainuddin menyusulnya ke Padang Panjang. Di sana, ia menginap di rumah sahabatnya Khadijah. Tak diduga, ia diperkenalkan dengan kakak Khadijah yang bernama Aziz. Sebagai pegawai kantor yang bekerja untuk pemerintah Belanda, Azis hidup mewah. Apalagi orangtua Khadijah dan Aziz memang bangsawan kaya. Sayangnya, Aziz ini selain kasar kepada wanita juga gemar berjudi dan berfoya-foya. Sudah bisa diduga, ia tertarik kepada Hayati yang memiliki kecantikan sempurna lahir-batin.

Maka, saat datang ke pacuan kuda yang semula tujuannya untuk bertemu Zainuddin, Hayati malah dihalangi oleh sahabatnya. Zainuddin yang tak mampu membeli tiket kelas VIP pun terpaksa memandangi Hayati dari jauh. Sepulangnya ke Batipuh, mamaknya menerima lamaran resmi dari Aziz. Di saat bersamaan, Zainuddin pun melamar melalui sepucuk surat. Tanpa banyak pertimbangan, mereka menerima lamaran Aziz dan menolak Zainuddin.

Hayati pertama kali bertemu Aziz

Hayati pertama kali bertemu Aziz

Pemuda itu kecewa dan mencoba menyurati Hayati. Namun, jawaban dari Hayati lebih membuatnya kecewa karena gadis pujaannya itu menyatakan memilih menikahi Aziz bukan karena paksaan, melainkan karena pilihan hatinya sendiri. Pernikahan pun dilaksanakan dengan cukup mewah untuk ukuran Batipuh. Hayati lantas diboyong Aziz ke Padang Panjang pasca pernikahan.

Zainuddin sempat jatuh sakit bahkan nyaris mati. Dengan alasan kemanusiaan, keluarga Muluk yang menampung Zainuddin menghubungi Hayati agar bersedia menjenguk. Hayati ditemani Aziz pun datang. Namun, saat menyalami Zainuddin, tangan Hayati berhiaskan ‘celak’, tanda ia sudah menjadi istri orang. Zainuddin pun mengusir mereka keluar dari rumahnya.

Dibantu Muluk, semangat Zainuddin bangkit kembali. Lelaki yang tadinya bengal dan suka melawan orangtua ini justru sadar pada arti hidup setelah melihat Zainuddin. Ia menyadarkan Zainuddin pada bakat sastranya yang terpendam, dan memintanya agar mengirimkan kepada koran dan majalah di Batavia. Lebih lanjut, Zainuddin malah bertekad merantau ke Jawa untuk melupakan Hayati. Muluk bersedia mengikutinya sebagai ‘jongos’ guna mengubah nasibnya. Mereka berdua menumpang kapal Van Der Wijk ke Batavia.

Di Batavia –kini Jakarta- ibukota Hindia Belanda, tulisan-tulisan Zainuddin dimuat di koran Pedoman Masjarakat. Dengan menggunakan nama samaran “Z”, ternyata cerita bersambungnya yang berjudul “Teroesir” digemari pembaca hingga meningkatkan oplaag korannya. Cerita ini pun lantas diterbitkan sebagai buku novel. Prestasi ini membuat sang pemilik penerbitan yang ternyata anak dari konglomerat media asal Surabaya menawarinya memimpin penerbitan milik ayahnya. Sementara, ayahnya hendak pensiun dan menikmati masa tua. Sedangkan sang anak masih sibuk mengurus penerbitan di Batavia.

Nasib Zainuddin pun berubah. Ia menjadi termasyhur dan mengganti namanya menjadi Shabir. Dua buku novelnya terbit berturut-turut dan sangat laris di pasaran, menyusul “Teroesir”, terbit lagi buku novel keduanya “Kemana Akoe Akan Poelang”. Naskahnya pun digubah untuk dipentaskan sebagai sebuah drama opera. Hayati merengek meminta Aziz untuk menyaksikannya karena ia mendapatkan undangan dari Klub Orang Minang. Sebelumnya, secara sembunyi-sembunyi ia juga telah membaca buku novelnya yang sedang hype saat itu. Khadijah-lah yang memberikannya kepada Hayati dengan komentar “kisahnya mirip kisahmu dengan Zainuddin”.

Ketika menonton drama opera, baik Aziz maupun Hayati terkejut saat penulis novel yang jadi inspirasi drama opera itu diperkenalkan di panggung. Karena Z tak lain dan tak bukan adalah Zainuddin. Hingga di suatu pesta, mereka pun bertemu dengan Shabir alias Zainuddin. Dengan santun Zainuddin ditemani Muluk menyapa keduanya sebagai sahabat. Tentu saja, baik Hayati maupun Aziz jadi salah tingkah.

Tanpa dinyana, nasib sebaliknya terjadi pada Aziz. Kebiasaan judinya membuatnya berhutang banyak hingga membuat harta termasuk rumahnya disita. Akhirnya, mereka terpaksa mengemis meminta tumpangan kepada Zainuddin di rumahnya yang megah. Terdorong rasa kemanusiaan dan persaudaraan sesama urang awak, Zainuddin pun menerima mereka menumpang.

Sampai satu ketika, Aziz memutuskan pergi untuk mencari pekerjaan. Ia pun menitipkan Hayati di rumah Zainuddin, yang tetap menjaga jarak. Sang pemilik rumah berpesan agar tamunya tidak memasuki ruang kerjanya. Namun, karena terdorong rasa penasaran, Hayati akhirnya bertanya pada Muluk apa alasannya. Dan ternyata, di dalam ruang kerjanya ada lukisan Hayati dalam ukuran besar dengan diimbuhi tulisan “Permataku yang hilang” di bawahnya. Hayati terkejut, ternyata Zainuddin tak pernah membiarkan hatinya diisi wanita lain selain dirinya. Padahal, ia sudah mengkhianati cinta sang pemuda yang amat tulus.

Tanpa diduga, Aziz memutuskan bunuh diri. Dalam suratnya, ia menceraikan Hayati dan memutuskan mengembalikan wanita itu kepada cinta sejatinya: Zainuddin.

Namun, terdorong dendam membara karena selama bertahun-tahun ia menderita akibat dikhianati Hayati, Zainuddin justru menolak memperistri wanita pujaannya itu. Ia malah mengusir Hayati agar pulang kembali ke Batipuh. Kebetulan, ada kapal Van Der Wijk yang akan berlayar dari Jawa ke Andalas (Padang). Zainuddin membelikan tiket kapal mewah itu dan memberikan uang sebagai bekal. Ia menampik permohonan Hayati yang bersedia mengabdi bahkan sebagai pembantu sekali pun hanya agar bisa berada di dekat Zainuddin. Pria itu masih dendam, sementara sang wanita menyadari kesalahannya dan bersedia menebusnya sepanjang sisa hidupnya.

Keputusan Zainuddin itu membuat Muluk heran. Ia bilang, kini sudah sah apabila Zainuddin hendak memiliki Hayati. Tapi, kok kesempatan itu malah dibuang begitu saja. Zainuddin tersadar, ia pun memerintahkan agar mengambil mobil untuk mengejar kapal ke Surabaya.

Tapi saat akan berangkat, seorang pembantunya menyerahkan koran yang memuat headline berita “Kapal Van Der Wijk Tenggelam”. Zainuddin panik dan segera menuju ke rumah sakit tempat penampungan para korban di Surabaya. Untunglah, ia menemukan Hayati yang tengah sekarat. Keduanya pun saling menyatakan cinta sejati mereka. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Hayati pun wafat di pelukan Zainuddin. Ia digambarkan khusnul khotimah karena wafat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang di-tahsin-kan Zainuddin di telinga kekasihnya itu.

Zainuddin mengetik naskah berlatar lukisan Hayati

Kematian Hayati membuat Zainuddin seperti ‘terbangun’. Alih-alih sedih seperti saat kehilangan Hayati pertama kali ketika dinikahi oleh Aziz, kini ia malah seolah mendapatkan energi. Zainuddin pun kemudian mengurung diri di kamar kerjanya. Ia bekerja keras siang-malam demi merampungkan sebuah buku novel terbaru yang terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri. Dengan begitu, ia merasa kekasihnya itu ‘hidup kembali’ dan abadi selamanya. Tentu hanya di dalam novel karyanya: “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”.

Kritik Film

Petugas pacuan kuda mengibarkan bendera

Film dan novelnya dibuat semirip mungkin, termasuk suasana dan setting-nya yang di masa penjajahan Belanda. Satu detail sederhana yang saya rasa terlewat justru bendera Belanda merah-putih-biru yang sangat jarang ditampilkan di film. Saya melihatnya hanya sepintas saat di kapal Van Der Wijk ketika Hayati hendak pulang di akhir film. Malah, saat adegan pacuan kuda, bendera tiga warna hitam-merah-kuning yang merupakan warna khas bendera Jerman modern yang ditampilkan menyolok (perhatikan umbul-umbul di belakang orang yang mengibarkan bendera dalam foto di samping). Saya tidak tahu apakah ini disengaja karena isyu nasionalisme ke-Indonesia-an atau malah sekedar terlewat saja. Selain itu, satu kali detail terlihat aneh saat karakter Hayati terlihat berjalan-jalan di sebuah taman sementara di sampingnya tampak jelas pagar TRC. Padahal, di masa itu, pagar semacam itu jelas-jelas belum ada. Seorang teman orang Belanda juga menginformasikan kalau foto Ratu Belanda yang dipasang salah. Semestinya Ratu Wilhelmina (yang berkuasa 1890-1948, berarti di waktu setting cerita film ini), tapi yang terpasang foto Ratu Juliana putrinya yang baru berkuasa tahun 1948. Namun, saya tidak bisa memverifikasi pendapat ini karena terlalu cepatnya adegan yang menunjukkan hal tersebut.

Zainuddin & Hayati bercengkerama

Selain itu, semuanya nyaris sempurna. Kostum yang dikenakan para pemain sudah melalui riset dan dikerjakan oleh perancang kenamaaan Samuel Wattimena. Demikian pula mobil yang dipakai Aziz kebut-kebutan di ladang jagung –juga yang dipakai Zainuddin di rumahnya- pun asli buatan masa itu, yang disewa produser film dari para kolektor. Bahkan meski cuma beberapa menit, penggambaran tenggelamnya kapal Van Der Wijk bisa dibilang bagus untuk ukuran film kita. Konon, produsernya benar-benar membuat replika kapal dan memesannya dari pabrikan kapal aslinya, Feijenoord. Tentu, jangan dibandingkan dengan Titanic (1997), walau saya melihat ada inspirasi angle yang diambil dari film Hollywood yang termasuk film terlaris sepanjang masa itu. Toh, sekali lagi, untuk ukuran film Indonesia –bahkan Asia- saya rasa ini sudah luar biasa.

Penggunaan bahasa Minang-nya juga perfect, ditambah beberapa scene berbahasa Belanda. Demikian pula langgam sastra Melayunya yang berpantun dan berima itu. Keren! Walau di awal nuansa filmnya berwarna biru –saya tidak tahu mengapa bukan sephia untuk menggambarkan kekunoan, mungkin untuk menunjukkan keromantisan- namun secara keseluruhan filmografinya dahsyat. Suasana kemewahan di masa kolonial Belanda amat terasa. Pengaturan figuran cermat sehingga dalam scene yang memerlukan penggambaran kolosal terasa natural dan wajar. Belum lagi pemilihan musik tema (original soundtrack) yaitu “Sumpah Cinta Matiku” dari Nidji juga enak disenandungkan. Dengan melibatkan composer Inggris Jason O`Bryan, musiknya diwarnai nuansa Britannia dengan kemegahan ala Gregorian. Terasa menggigit untuk kemewahan ala bangsawan Minang kelas atas di zaman Belanda. Walau bagi saya, untuk urusan musik seharusnya bisa lebih banyak nuansa Minang dan Belanda yang dimasukkan, mengingat film ini mengambil latar belakang dari kedua budaya tersebut.

Akting para pemain pun bisa dipujikan. Walau penampilan Reza Rahardian sebagai Aziz seolah mengatasi Herjunot Ali sebagai Zainuddin. Pemilihan Pevita Pearce sebagai Hayati cukup pas, walau ia tampak lebih match saat didandani modern daripada berkerudung tradisional. Yah, maklum saja, wong aslinya sang aktris memang indo kan ?

Pendeknya, untuk sebuah penilaian yang amat jarang bagi film Indonesia, saya memberikan 5 bintang dari 5 bintang untuk film ini. Misi mengadopsi novel laris ber-setting pra-kemerdekaan Indonesia ke layar perak berhasil dengan baik. Sangat layak ditonton! Segera ke bioskop mumpung masih tayang! (Maksudnya, saat resensi ini ditulis dan diunggah, film ini masih masa tayang di bioskop.)

Catatan: klik pada gambar poster di kiri atas untuk melihat trailer-nya.

12 Responses so far.

  1. Zainal Abidin says:

    Wuidih, resensinya komplit abis… Ini ulasan paling keren yg ada di internet.

  2. Marissa Pohan says:

    Jadi bisa ngebayangin zamannya papa-mama kita pacaran dulu… ngegombalnya kayak si zainuddin gitu kali ya? wkwkwkwk

  3. israr says:

    Saya hanya ingin menambahkan tentang bendera hitam-kuning-merah yang seperti bendera jerman.Kalau bendera itu bendera kebesaran minangkabau namanya Marawa. Sering dipasang pada acara acara besar sampai saat ini.

  4. Enzo says:

    gan, bisa minta penampakan lukisan hayati permatakoe yang hilang polos ngga?

  5. film kerajaan indonesia jaman dulu says:

    I am in fact thankful to the owner of this site who has shared this great article at at this
    time.

  6. Orang Sumatera says:

    Mas Bhayu, saya mau memberikan koreksi. Bendera berwarna hitam, merah, kuning seperti ditampilkan dalam film bukanlah bendera Jerman. Itu merupakan bendera kebesaran Minangkabau. KEtiga warna itu dalam budaya Minang disebut sebagai “Marawa Kebesaran Alam Minangkabau”. Kalau Anda pernah berkunjung ke Tanah Minang, Anda akan sering menjumpai warna-warna itu dalam berbagai bentuk (bendera, umbul-umbul, dsb). Terima kasih.

  7. Chelsi says:

    That in’tghiss just what I’ve been looking for. Thanks!

  8. hana jeliona says:

    makasih ya gan
    lengkap nih

  9. delfiero says:

    lengkap semua penjelasan nya, cuma yang mau saya sapaikan bendera german yang di tampilkan itu bukan bendera german, itu bendera khusus apa bila terjadi perayaan di daerah minang kabau, jadi selalu ada bendera itu. mungkin sang pembuat film mau mendalami rasa minang kabau nya sehingga di letak kan bendera khusus perayaan itu.

Leave a Reply