Resensi Film-Bhayu MH

The Chronicles of Narnia: Prince Caspian

Year : 2008 Director : Andrew Adamson Running Time : 150 mins. Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Banyak yang mengira film ini serupa dengan film anak-anak belaka. Padahal, novel karya epik klasik C.S. Lewis yang jadi sumber film ini termasuk kategori sastra serius. Meski dengan tema fantasi, bukan berarti cuma jadi konsumsi anak-anak semata.

Seperti film sebelumnya, The Chronicles of Narnia: the Lion, the Witch, and the Wardrobe (2005), film ini masih mengisahkan soal negeri Narnia. Dunia dimana Narnia berada dikisahkan berada dalam dunia lain yang berjalan seiring dengan dunia kita, hanya saja penghuni kedua dunia tak tahu. Sampai ada yang menemukan pintu masuk yang salah satunya adalah pada dinding lemari kayu yang diceritakan pada film sebelumnya. Ini saja sudah cukup serius, karena Lewis mengambil argumentasi adanya dunia lain ala dunia paralel-nya Einstein.

Kisah dimulai dari lahirnya seorang bayi lelaki dari istri Lord Miraz, wali negara kerajaan Telmarine. Karena Prince Caspian IX terbunuh sementara putranya masih belum cukup umur, maka ia yang memerintah. Tapi begitu sang bayi lahir, maka sang pangeran pewaris tahta akan dibunuh. Karenanya sang pangeran lari masuk hutan. Di hutan, ia diselamatkan makhluk penghuni Narnia, para dwarf. Namun, dalam keadaan terancam, sang pangeran sempat meniup terompet gading.

Ternyata, terompet gading itu merupakan sarana untuk memanggil kembali para raja dan ratu masa lalu Narnia. Keempat anak yang pernah jadi raja dan ratu Narnia pun tersedot kembali ke dunia paralel itu. Mereka adalah kakak-beradik Pevensie: Peter, Edmund, Susan, dan Lucy. Hanya saja, kali ini kondisinya berbeda. Narnia ternyata sudah hancur dijajah oleh bangsa Telmarine. Karena kepergian mereka waktu itu begitu mendadak, Narnia kehilangan pegangan. Bahkan Aslan sang singa bijak nan perkasa pun pergi.

Singkat cerita, mereka berempat bahu-membahu dengan Prince Caspian untuk melawan Lord Miraz yang kemudian mengklaim tahta Telmarine. Terjadi pertempuran, dan tentu saja jagoannya menang. Hanya saja sempat terjadi salah taktik sehingga pada penyerbuan pertama mereka pihak protagonis mengalami kekalahan.

Saya tetap terkesima melihat efek khusus yang digunakan pada film ini. Tetap dahsyat. Hanya bagi saya, jalinan ceritanya terasa lebih kuat dibandingkan yang pertama. Ada nuansa kesedihan dalam penderitaan hebat yang terpancar begitu getasnya. Cuma sayangnya, dalam adegan pertempuran ala abad pertengahan, ada adegan yang begitu mirip dengan LOTR. Misalnya adegan pohon yang jadi hidup turut turun dalam pertempuran dan memihak kubu Narnia-Prince Caspian.

Toh, secara keseluruhan film ini amat menarik. Terutama bagi yang senang berimajinasi dan kreatif. Kalau mengajak anak-anak, pastikan Anda menguasai jalan ceritanya dulu. Hati-hati juga pada adegan peperangan yang cukup keras. Karena cerita C.S. Lewis mungkin kurang dikenal dibandingkan H.C. Andersen di Indonesia, tidak ada salahnya para orangtua membaca dulu.

Catatan: Resensi ini pertama kali dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 17 Mei 2008.

Leave a Reply