Resensi Film-Bhayu MH

The Fifth Estate

Year : 2013 Director : Bill Condon Running Time : 128 minutes Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
1/5

Jalan Cerita

Di tahun 2010, Catatan Perang Afghan dirilis. Ini kemudian membuka borok pemerintah dan tentara AS tentang perang yang didalihkan sebagai tindakan balasan atas Tragedi 9/11.

Kisah film kemudian mundur kembali (flash-back) ke tahun 2007, ketika jurnalis Daniel Domscheit-Berg untuk pertama kalinya bertemu hacker Julian Assange di acara Chaos Computer Club di Berlin. Mereka sudah berkorespondensi melalui e-mail karena Daniel sedang tertarik mengenai aktivitas dunia maya. Rupanya keduanya memiliki kesamaan visi sehingga memutuskan bekerjasama pada proyek WikiLeaks yang digagas Julian. Situs ini ditujukan sebagai sarana melepaskan informasi kepada publik. Tentu bukan sembarang informasi, melainkan informasi rahasia yang tidak dikehendaki untuk dipublikasikan oleh penguasa. Termasuk di sini informasi kejahatan perang, korupsi, kolusi, konspirasi atau pembunuhan. Hal itu dilakukan seraya melindungi pihak yang memberikan informasi, lazim disebut “whistleblower”.

Target besar pertama mereka adalah Julius Baer, sebuah bank asal Swiss yang memiliki cabang di pulau Cayman. Aktivitasnya ilegal karena melakukan pencucian uang untuk orang-orang kaya. Semula keduanya sangat bersemangat dalam bekerja. Apalagi WikiLeaks mendapatkan sorotan luas, bahkan dari media arus utama (mainstream). Julian bak selebriti yang didaulat bicara di berbagai acara seminar, talkshow televisi dan bahkan menjadi cover story media arus utama. Sementara Daniel cuma dijadikan semacam “pembantu” yang cukup berada “di belakang” saja. Bahkan peran Daniel melebarkan sayap WikiLeaks dengan menghubungi sesama hacker di berbagai negara dan membeli  server dianggap sebagai semacam kewajiban saja oleh Julian.

Daniel mulai menyadari ketidakjujuran Julian pada tujuan proyek tersebut dan mencium aroma membanggakan diri sendiri. Saat awal bergabung Julian menyatakan WikiLeaks punya ratusan sukarelawan, padahal hanya ada dia sendiri. Ditambah Daniel hanya ada dua orang saja. Tingkah Julian makin menjadi-jadi saat ia tiba-tiba datang ke kost Daniel di saat Daniel akan bercinta dengan pacarnya. Itu masih ditambah dengan pergi meninggalkan rumah orangtua Daniel begitu saja tanpa pamit saat diundang makan malam.

WikeLeaks mulai ngetop. Pembocoran dokumen rahasia negara mulai memakan korban. Di Kenya, informan mereka dibunuh. Mereka terus melakukan berbagai pembongkaran informasi, termasuk mempublikasikan e-mail Sarah Palin. Demikian pula data lengkap anggota British National Party termasuk alamat dan nomor teleponnya dipublikasikan. Namun, reaksi paling keras justru saat mereka mengunggah video rekaman asli dari helikopter Apache yang secara brutal melakukan penembakan terhadap warga sipil di Irak. Meski di antara korban tewas terdapat dua orang pegawai Reuters –kantor berita Inggris-, namun pers percaya pada keterangan resmi pemerintah bahwa keduanya tewas di tengah baku-tembak militer dan pemberontak. Barulah saat video itu terungkap terjadi kehebohan. Namun, mereka mulai mendapatkan dukungan dan publikasi. Salah satunya dari anggota parlemen Islandia, Birgitta Jónsdóttir. Pers arus utama pun mulai mengutip dan memberitakan mereka. Namun, Julian menganggap semua publikasi itu adalah haknya. Ketika wawancara Daniel muncul di majalah Wired UK, Julian marah dan menganggap Daniel mencari sensasi.

Konflik internal tambah rumit saat seorang tentara Amerika Serikat bernama Bradley Manning meretas komputer di tempatnya bekerja dan mengirimkan isinya kepada WikiLeaks. Mereka terkejut karena ada sekitar  91.000 halaman dokumen dan 250.000 kawat diplomatik rahasia yang dijebol. Perdebatan etika muncul saat Julian ingin segera mempublikasikan dokumen itu tanpa diedit, sementara Daniel ingin melindungi nama-nama di dalamnya. Karena mereka adalah informan, agen rahasia, tentara atau diplomat yang keselamatan dirinya dan keluarganya terancam.

Di AS sendiri, para pejabatnya ‘kebakaran jenggot’. Kementerian Luar Negeri –disebut US State Department– yang dipimpin Hillary Clinton adalah yang paling tertekan. Tiga pejabatnya yaitu Sarah Shaw, Sam Colson dan James Bosswell berupaya meminimalisir dampak. Salah satunya dengan menarik para informan AS di negara dimana CIA terlibat, salah satunya Dr. Tarek Hamiseh di Libya. Jenderal Thomason juga tampak gelisah karena banyak informan militer yang terancam hidupnya.

Sementara itu Nick Davies, seorang reporter dari The Guardian menghubungi Daniel. Ia mengatakan korannya bersedia menerbitkan ribuan dokumen itu. Bahkan jaringan mereka yaitu The New York Times di AS, Der Spiegel di Jerman dan 2 koran Eropa lain pun akan melakukan hal yang sama. Waktunya empat hari untuk bersama-sama merilis semua itu. Tapi Daniel kewalahan mengedit ribuan halaman itu sendirian. Julian malah sibuk berunding dengan Alan Rusbridger –Pemimpin Redaksi The Guardian- tanpa membantu pekerjaan Daniel.

Daniel keberatan dengan cara Julian. Ia tetap menolak keras menerbitkan dokumen tanpa diedit. Julian pun akhirnya “memecat” Daniel dan mengambil seorang remaja tanggung bernama “Ziggy” sebagai penggantinya. Padahal, tidak sepeser pun Julian membayar Daniel yang malah sudah rela kehilangan pekerjaannya sebagai jurnalis dan banyak berkorban.

Terdorong pada rasa jengkel kepada arogansi Julian dan kekuatiran pada keselamatan diri dan keluarganya, Daniel bersama Marcus menghapus basis data WikiLeaks. Ia juga memblokir akses Julian ke server. Itu dilakukan setelah Julian memfitnahnya sebagai FBI dan pacarnya Anke sebagai CIA di Twitter. WikiLeaks pun dihancurkan dari dalam.

Di epilog film, Daniel tampak memberikan wawancara kepada wartawan The New York Times. Sementara Julian juga diwawancara sebuah televisi. Mereka menempuh jalan berbeda. Daniel menulis sebuah buku tentang keterlibatannya dalam WikiLeaks. Sementara Julian yang dikenai tuduhan perilaku seksual oleh kejaksaan Swedia –dan berlaku di seluruh Uni Eropa- menyimpang mencari suaka di Kedutaan Besar Ekuador di London-Inggris. Ia pun berupaya meneruskan WikiLeaks sebagai sumber informasi alternatif yang membocorkan rahasia penguasa.

Kritik Film

Bingung. Itulah kesan pertama saya saat menyaksikan film ini. Ya. Saya memang sepintas sempat membaca mengenai situs yang menggemparkan ini. Tapi di negeri ini, dampaknya tidak seheboh di AS dan beberapa negara Eropa.

Tapi kebingungan saya bukanlah soal jalan cerita, melainkan lebih ke karakterisasi. Selain Julian dan Daniel, nama-nama lain tidak jelas disebut. Kalau menonton di bioskop, sudah pasti terlewat. Saya saja yang menyaksikan lewat cakram padat harus berkali-kali me-rewind dan mem-pause. Tapi, tetap saja saya tidak bisa tahu nama-nama beberapa karakter yang ditampilkan. Untuk membuat resensi ini, saya musti searching di internet untuk mencari plot yang lumayan lengkap. Dan tahukah Anda, ternyata saya malah mendapatkan skenarionya! Di mana? Di situs http://wikileaks.org sendiri! Hahaha.

Saya tidak mudeng apa peran banyak orang di sana, selain Julian dan Daniel tentunya. Tiga pejabat Kemenlu AS juga tidak jelas apa jabatannya, selain digambarkan panik dan bingung menghadapi publikasi dokumen ‘bocoran’ di WikiLeaks. Nama hacker yang digambarkan membantu Julian dan Assange saja harus saya cari: Marcus. Juga anggota parlemen Islandia atau Iceland yang membantu sebagai juru bicara: Birgitta Jónsdóttir. Sungguh tidak nyaman.

Setting film yang cepat berpindah ke berbagai tempat juga membingungkan. Berbagai negara dijelajahi, mulai dari Jerman –asal Daniel-, Belgia, Islandia hingga Inggris. Demikian pula angle antara sudut pandang Julian, Daniel, Nick Davies sang reporter The Guardian serta para pejabat Kemenlu AS terutama Sarah Shaw. Sutradara tidak secara tegas mengambil sudut pandang, bahkan sudut bird-eye pun tidak.

Sekedar informasi, film ini dibuat berdasarkan dua buku. Buku pertama ditulis oleh Daniel Domscheit-Berg berjudul WikiLeaks: My Time with Julian Assange at the World’s Most Dangerous Website (2011) dan WikiLeaks: Inside Julian Assange’s War on Secrecy (2011) yang ditulis oleh jurnalis asal Inggris David Leigh and Luke Harding. Assange sendiri dikabarkan berupaya menyabot penerbitan buku Daniel, namun setelah akhirnya terbit ia melakukan penolakan pada kebenarannya. Bila memang begitu, akan lebih baik bila angle Daniel saja yang dipakai agar terlihat lebih kental nuansa naratif dari bukunya.

Saat menyaksikan filmnya dan membaca skenarionya (ini untuk pertama kali saya menulis resensi dengan membaca skenario), saya mendapati satu perbedaan paling menyolok. Nama Dr. Tarek Haliseh asal Libya di film, saat di skenario adalah Dr. Sim Sarna dari Iran. Bisa jadi, ini sengaja dibuat karena rezim Khadafy sudah runtuh, sementara Iran belum. Dan mungkin pembuat film menghindari konflik.

Menyaksikan film ini memang seperti melihat film-film berdasarkan kisah nyata serupa. Sebutlah seperti All The President’s Men atau Conspiracy Theory. Hanya saja, cerita di film ini lebih mutakhir karena baru terjadi 2-3 tahun lalu. Sayangnya, kemajuan teknologi perfilman kurang dimanfaatkan. Film ini jadi seperti ‘asal jadi’ dengan model penceritaan linear. Penggarapan konflik dan ketegangan juga kurang maksimal. Bahkan romansa antara Daniel dan Anke pun kurang dieksplorasi. Bahkan kalau mau, masa kecil Julian yang aneh bisa saja diberikan tambahan detail daripada sekedar flash-back samar.

Yah, mau bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur. Julian mengatakan film ini jelek dan tidak bermutu. Di filmnya sendiri ia digambarkan diwawancara dan mengatakan film ini sebagai “anti-Wikileaks movie”. Celakanya, pasar sependapat. Film ini mencatat rekor film terburuk pemasukannya di pasaran sepanjang 2013, tentu dibandingkan biaya produksinya. Dengan pengeluaran US$ 26 juta, film ini hanya meraup pendapatan sekitar US$ 8,5 juta dollar. Bahkan tambahan penghasilan dari penjualan cakram padatnya tidak akan menutupi jeblok-nya pendapatan saat pemutaran bioskop.

Leave a Reply