Resensi Film-Bhayu MH

The Hobbit: An Unexpected Journey

Year : 2012 Director : Peter Jackson Running Time : 169 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film ini merupakan sekuel pertama dari trilogi yang direncanakan. Melanjutkan kesuksesan trilogi Lord of The Ring (LoTR), cerita mengenai Hobbit ini merupakan “cerita sampiran”. Kalau di cerita pewayangan Mahabharata, ini seperti kisah “Lahirnya Gatotkaca”. Meski bukan cerita utama, namun tetap penting dan menarik diikuti. Sama seperti kisah utamanya The Lord of The Ring (LOTR), karya J.R.R. Tolkien ini juga akan dibuat trilogy. Dan film ini diberi sub-judul: “An Unexpected Journey”.

Penggemar LoTR pasti sudah hafal dengan sebagian besar tokoh di film ini. Namun, karena kisahnya  adalah epilog dari LoTR, sudah pasti hampir semuanya masih muda. Film ini sebenarnya lebih memotret bagaimana Bilbo Baggins memulai petualangannya yang kemudian dituliskan menjadi buku “The Hobbit”.  Kisah yang terjadi 60 tahun sebelum kisah utama LOTR.

Tolkien memang membuat berbagai kejadian dalam kisah LOTR seolah dicatat oleh Bilbo dalam buku jurnalnya “The Hobbit” yang legendaris. Buku yang dimulai dengan kalimat terkenal yang ditulis pertama kali oleh Tolkiens pada tahun 1930 saat bekerja sebagai dosen di Oxford: “in a hole in the ground there lived a hobbit”. Jadi, kalau boleh diasosiasikan, posisi Bilbo adalah sudut pandang Tolkien sebagai pencerita.

The-hobbit-an-unexpected-journey

Penonton diberikan “pengetahuan” di awal film, bahwasanya pada awalnya ada sekelompok dwarf pimpinan Thror  yang hidup di kaki gunung Erebor. Mereka terusir dari kampung halamannya karena seekor naga bernama Smaug menyerbu untuk menguasai emas dan batu-batu mulia yang digali para dwarf dari dalam bumi. Para dwarf penghuni Erebor ini kemudian terpaksa hidup dalam pengasingan, termasuk sang cucu mahkota Thorin Oakenshield.

Sementara itu, beberapa waktu setelahnya, di desa Hobbit yang aman-tentram, ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi, nyaris tak terpikir akan ada kekacauan di dunia. Paling-paling yang ada cuma pertengkaran kecil karena masalah remeh saja. Namun, keadaan berubah ketika Gandalf  melibatkan Bilbo dalam sebuah petualangan yang tidak diduganya.

Petualangan ini terkait dengan kisah narasi di awal film. Bilbo dilibatkan oleh Gandalf dengan mengarahkan ke-13 ksatria Dwarf tadi ke rumahnya yang damai di Shire sebagai meeting point. Mereka adalah Dwalin, Balin, Fili, Kili, Oin, Gloin, Dori, Nori, Ori, Bifur, Bofur, Bombur, dan sang pangeran Thorin Oakenshield. Mereka bertekad merebut kembali tanah kelahiran mereka. Dan terpaksalah Bilbo bergabung dalam sebuah “perjalanan tak diharapkan” (an unexpected journey).

Perjalanan mereka mencari rute yang tak terjaga Smaug begitu menantang. Dan Bilbo dengan kesadaran sendiri ikut serta bersama rombongan itu. Tentu saja Gandalf juga ikut sehingga rombongan berjumlah 15 orang.

Di keseluruhan film ini, kita bisa melihat prolog dari epik LOTR. Para tokoh utamanya masih amat muda, bahkan ada yang belum lahir. Kita bisa melihat masa muda dari Gandalf dan terutama Bilbo Baggins. Dan memang, selain Gandalf dan Bilbo, hanya ada sedikit karakter dari LOTR yang muncul di The Hobbit. Terutama, tentu saja adalah para pimpinan Elves yang hidup abadi (kecuali terbunuh): Lady Galadriel dan Lord Elrond. Pemirsa akan melihat banyak adegan yang membuat kita ber-“oooh”, apalagi bagi penyuka trilogi LOTR seperti saya. Banyak adegan yang menjelaskan mengenai berbagai musabab atau asal-muasal kejadian di LOTR. Misalnya ada adegan yang menjelaskan bagaimana Bilbo pertama kali bertemu dengan Gollum, makhluk eks-Hobbit yang menguasai The Master Ring. Juga terlihat saat Saruman masih jadi “penyihir baik”, serta tentu saja para dwarf yang masih hidup dalam kejayaan sebelum dihancurkan oleh kekuatan hitam Sauron di LOTR. Peran Fellowship of The Ring digantikan oleh 13 ksatria Dwarf di kisah “The Hobbit” ini.

the hobbit an unexpected journeySaya tak usah bicara soal kehebatan efek khusus dalalm film ini. Teknologi terkini perfilman dipergunakan begitu maksimal. Segala yang hanya bisa dibayangkan satu dekade lalu kini terwujud. Bagi yang sudah pernah membaca karya asli Tolkien sebagai sumber film ini, niscaya akan tahu bahwa hampir semua yang dituliskan sang mahasastrawan itu sudah mampu divisualkan. Padahal, kentika ia menulisnya puluhan tahun lalu, tentu tak terbayang karyanya itu bisa diflimkan sebegini dahsyat. Desa-desa Hobbit yang aman-tenteram-makmur, megahnya kerajaan Erebor milik para Dwarf, penggambaran aneka makhluk Elves, Dwarfs, Orcs, Trolls, dragon serta tentu saja pertempuran yang berada di dunia hiper-realitas. Luar biasa!

Saya terutama menyukai lagu para Dwarf yang dinyanyikan bersama di rumah Bilbo, dan juga digunakan sebagai lagu tema utama film ini. Lagunya berjudul “The Song of Loneliness Mountain” karya Neil Finn. Cara menyanyikannya keren, bak paduan suara accapella. Namun lebih dari itu, lagu ini dengan tepat menggambarkan tema kesendirian, kerinduan, dan pengembaraan dalam suasana yang syahdu.

Di semua film LoTR termasuk trilogi Hobbit ini, penggambaran dunia “Bumi Tengah” begitu luar biasa. Baik itu hasil shooting langsung yang dilakukan di Australia dan Selandia Baru, rekayasa CGI (Computer Graphic Imagery) dan lukisan matte karya John Martin dan Caspar David Friedrich, semua berpadu apik. Bagi yang mengikuti kisah dari trilogi LOTR, akan ngeh ada kesinambungan apik di sini. Ada kisah-kisah di LoTR yang awalnya justru didapati penjelasannya di film ini.

Studio, para aktor dan pekerja film ini hampir semuanya sama dengan LOTR. Jadi, kita bisa mengharapkan kualitas yang sama pula. Dan saya tak keliru. Sutradara Peter Jackson membawa penonton berpetualang seperti halnya Odyssey-nya Homer, Gulliver’s Travel-nya Morte d’Arthur atau bagi orang Indonesia seperti kisah pewayangan dalam epik pra-Mahabharata. Saya pribadi terkesan dengan begitu banyaknya detail yang mampu diwujudkan para pekerja film ini dari buku karya Tolkien.

So, meski subyektif, tapi saya sangat merekomendasikan film ini. Bintang lima dari lima bintang. Bagaimanapun, film ini memang sempurna. Sangat layak ditonton segala kalangan usia. Juga layak dikoleksi kepingan DVD-nya untuk ditonton berkali-kali. Cuma… ending-nya membuat penasaran penonton yang “dipaksa” menunggu sekuel lanjutannya yang diberi sub-judul “Desolation of Smaug”.

The-Hobbit-An-Unexpected-Journey-2012

Catatan: klik pada gambar poster di kiri atas untuk melihat trailer-nya.

Leave a Reply