Resensi Film-Bhayu MH

The Hobbit: The Battle of the Five Armies

Year : 2014 Director : Peter Jackson Running Time : 144 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
4/5

The-Hobbit-The-Battle-of-The-Five-Armies-Wallpaper-7522Jalan Cerita

Bilbo dan para kurcaci (dwarf) hanya bisa menonton dari Gunung Kesepian (Lonely Mountain) saat sang naga “Smaug” menghancurkan Laketown. Di saat kritis itu, Bard berhasil meloloskan diri dari penjara. Ia lantas berhasil membunuh Smaug dengan panah hitam. Mayat “Smaug” yang jatuh menimpa perahu Master of Laketown yang berusaha kabur dengan membawa banyak harta-benda. Setelah sang naga “Smaug” berhasil dikalahkan, penduduk kota yang tersisa berkumpul. Mereka lantas memilih Bard sebagai pemimpin baru kota itu.

Kili –salah satu dari kelompok 13 kurcaci- mengakui bahwa ia jatuh cinta kepada Tauriel –Kapten pasukan pengawal peri (elf) di kerajaan Thranduil-, walau mereka beda spesies. Tetapi kemudian keduanya harus berpisah karena pada Dwarf harus melanjutkan misi dan Tauriel sendiri dipanggil oleh Legolas sang putra mahkota.

Thorin the Oakenshield pemimpin para kurcaci terserang “penyakit naga” yang rakus dan serakah harta. Apalagi mereka masih membutuhkan “Arkenstone” yang hilang di tengah banyaknya tumpukan emas di istana. Mereka tidak tahu bahwa batu itu telah ditemukan oleh Bilbo saat ia mengenakan “jubah gaib” sehingga tak terlihat mata. Bilbo memberitahu Balin untuk meminta pertimbangan apakah ia harus menyerahkan batu itu kepada Thorin. Balin malah menyarankan sebaliknya. Itu karena ia melihat perubahan kepribadian dan karakter pada diri Thorin yang signfikan. Karena kuatir akan serbuan bangsa-bangsa lain yang menginginkan harta di istana pasca tewasnya “Smaug”, Thorin memerintahkan teman-temannya membangun barikade di pintu masuk Erebor.

Sementara itu, Ratu Peri (Elves Queen) Galadriel dan anggota “Dewan Putih” (White Council) lainnya menolong Gandalf dari Dol Guldur, benteng Sauron The Necromancer. Sang penyihir jahat itu tiba dan mencoba menarik Galadriel, tetapi sang peri mampu merapalkan mantra. Hal itu mengusir Sauron dan Nazgûl pergi dari benteng. Saruman menjamin Elrond bahwa Sauron bukan lagi ancaman tanpa “Cincin Utama” (One Ring).

Di perjalanan menuju Erebor, pasukan Orc yang dipimpin Azog mendapatkan informasi dari Bolg bahwa pasukan peri dari kerajaan Thranduil juga sedang mendekat. Azog lantas mengirim Bolg kembali ke Gundabad untuk memperingatkan sisa pasukan yang ada. Legolas dan Tauriel yang mengintai di Gundabad menjadi saksi diberangkatkannya gelombang kedua pasukan Orc yang berjumlah besar dan disertai ratusan kelelawar raksasa.

Ketika pasukan Thranduil tiba di Dale, ia menjalin persekutuan dengan Bard untuk mendapatkan harta milik bangsa peri yang juga ada di Erebor. Harta itu berupa kalung yang terbuat dari permata putih yang dibuat leluhur bangsa peri. Mencoba jalan damai, Thranduil mencoba memberikan penawaran. “Penyakit naga” yang dideritanya membuat Thorin menolak berbagi harta yang dikuasainya walau secuil. Padahal, pembunuh “Smaug” jelas bukan dia.

Bilbo berniat baik menghindarkan perang di antara mereka. Setelah Gandalf tiba, Bilbo menyelinap keluar benteng dan menyerahkan Arkenstone kepada Thranduil dan Bard. Tindakannya itu tidak diketahui satu pun di antara para kurcaci hingga ia berhasil menyelinap kembali ke dalam benteng. Hari berikutnya, pasukan Bard dan Thranduil berkumpul bersama di depan gerbang Erebor. Mereka menawarkan barter antara Arkenstone yang berharga bagi Thorin dengan kalung permata putih yang berharga bagi bangsa peri, ditambah hak emas bagi Bard seperti pernah dijanjikan Thorin.

Tetapi sekali lagi Thorin menolak tawaran damai Bard dan Thranduil. Akhirnya, kedua pasukan bersiap menggempur benteng Erebor. Tetapi sebelum serangan dimulai, sepupu dari Thorin bernama Dáin tiba bersama pasukan bangsa kurcaci. Pasukan peri dan manusia berhadapan dengan pasukan kurcaci. Tetapi sebelum pertempuran terjadi, pasukan Orc tiba. Mereka serta-merta menyerang pasukan kurcaci dan kota Dale asal Bard. Kalah jumlah, dengan cepat pasukan kurcaci pimpinan Dáin kalah.

Melihat hal itu, pasukan peri pimpinan Thranduil bergabung ke pertempuran dan memihak para kurcaci. Karena pasukan orc yang jahat adalah musuh semua bangsa di “Bumi Tengah” (Middle Earth). Demikian pula pasukan Bard pun turut bergabung. Gandalf dan Bilbo bahkan ikut bertempur pula. Tetapi, pasukan Orc yang sangat banyak masih jauh lebih kuat.

Di dalam benteng Erebor, Thorin menolak ajakan rekan-rekannya untuk turut bergabung dalam pertempuran. Padahal, di hadapannya ribuan nyawa sudah tewas. Dalam situasi itu, Thorin jatuh tertidur kelelahan dan bermimpi buruk. Ia akhirnya membebaskan diri dari “penyakit naga”, dan memimpin teman-temannya bergabung ke pertempuran. Ketika teman-temannya menolong pasukan Dáin, Thorin brerkuda menuju Ravenhill. Ia bermaksud membunuh Azog, ditemani oleh Dwalin, Fili dan Kili. Logikanya sederhana, pasukan Orc yang bodoh –walau kuat dan banyak- akan mudah dipukul mundur tanpa pimpinan.

Di Ravenhill, Azog membuat muslihat. Ia menyerang para kurcaci dan dengan sadisnya membunuh Fili. Bilbo pun pingsan karena terpukul saat Thorin berhadapan dengan Azog. “Elang Raksasa” mendadak muncul, membawa Radagast dan Beorn ke dalam pertempuran. Legolas dan Tauriel pun tiba dan menuju Ravenhill untuk membantu. Bolg berhasil dibunuh oleh Legolas dalama perkelahian sengit. Tetapi Kili telah tewas dan Tauriel terluka dalam upaya melindunginya. Thorin yang juga terluka pada akhirnya berhasil membunuh Azog.

Usai pertempuran yang mereka menangkan, Thorin berdamai dengan Bilbo yang dianggapnya mengkhianati dirinya karena mencuri Arkenstone. Sayangnya, Thorin sekarat karena luka-lukanya yang parah. Legolas meninggalkan ayahnya Thranduil untuk bertemu dengan salah seorang Dunedain, sesepuh bangsa peri. Sementara Tauriel meraung menangisi kematian Kili.

Bilbo pun kemudian berpamitan kepada para kurcaci dan kembali ke Shire bersama Gandalf. Saat akan berpisah, Gandalf mengakui kepada Bilbo kalau ia tahu Bilbo menggunakan kekuatan “Cincin Utama”. Meski ia tidak bisa memastikan kekuatan aslinya, Gandalf mengingatkan Bilbo agar jangan sering menggunakannya. Bilbo lantas kembali ke Bag End, desanya. Tetapi ia malah mendapati rumahnya telah dibongkar. Semua barangnya dikeluarkan dan dilelang oleh Sackville-Bagginses, karena mengira ia telah mati. Bahkan saat ia datang pun, sempat tidak dipercaya dan harus membuktikan identitasnya sebagai Bilbo Baggins.

Di akhir film, kisah melompat ke 60 tahun berikutnya. Saat Bilbo bersiap hendak merayakan ulang tahunnya ke-111 yang diadakan besar-besaran oleh penduduk desanya, ia mendapatkan kejutan saat ada seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ketika pintu dibuka, di hadapannya berdirilah Gandalf. Dengan tangan terbuka dan penuh kegembiraan, Bilbo menyambut teman amat sangat lamanya itu. Adegan ini adalah pembuka dari petualangan berikutnya yang dimulai di film The Lord of The Ring: Fellowship of the Ring (2001).

 

Kritik Film

hobbit_the_battle_of_the_five_armies_ver25_xlg

Film ini adalah sekuel terakhir dari trilogi serial franchise film The Hobbit. Ini adalah film keenam yang diangkat dari novel karya J.R.R. Tolkien, The Lord of The Ring (LOTR). Tiga lainnya adalah trilogi The Lord of The Ring sendiri. Tentunya, menyaksikan rangkaian serial dahsyat tersebut, penonton memiliki ekspektasi tinggi terhadap film ini.

Dari segi filmografi terutama special effect, film ini jelas tanpa cela. Dengan biaya pembuatan US$ 250 juta, tentu saja semuanya maksimal. Maka, sebagai penikmat film, yang bisa saya komentari paling sebatas dari sisi kelogisan alur cerita dan keasyikan menyaksikan saja.

Awal film agak kurang menjelaskan kejadian di dua sekuel film sebelumnya. Sehingga kalau ada penonton yang ‘kebetulan’ benar-benar baru sekali menonton film dari trilogi “The Hobbit”, bisa jadi akan bingung dan kelabakan. Tetapi, pembuat film tampaknya beranggapan bahwa penonton sebagian besar adalah “penggemar setia”, maka film seolah “langsung masuk” ke babakan lanjutan.

Ritme film terasa sekali mengalir cepat, malah terkesan agak terburu-buru. Selain karena durasi tayang di bioskop yang dibatasi, tentu saja harus menyingkat cerita dari novel ratusan halaman bukan hal mudah. Apalagi penggambaran dalam novel begitu detailnya, membuat sulit bagi penulis naskah skenario untuk memilih dan memilah adegan yang dianggap perlu.

Sub-judul film ini adalah “Pertempuran Lima Pasukan” (The Battle of the Five Armies), menggantikan judul yang sebelumnya direncanakan “Ke Sana dan Kembali Lagi” (There and Back Again). Awalnya, cerita sampiran dari LOTR ini akan dijadikan dwilogi. Tetapi sutradara Peter Jackson memutuskan untuk membuat sekuel film ketiga. Dan kemudian mengganti judul yang direncanakan. Karena menurutnya, esensi kalimat “Ke Sana dan Kembali Lagi” sudah terpenuhi di sekuel film kedua, The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013), dimana Bilbo telah menunaikan tugasnya di Erebor.

Saya agak kebingungan sebenarnya dengan judul film ini. karena disebut ada lima pasukan, sementara hanya ada empat bangsa: peri (elf), kurcaci (dwarf), manusia (men) dan orc. Tetapi, pasukan Orc terbagi dua gelombang, yaitu yang dipimpin oleh Bolg dan Azog. Sementara ketigabelas kurcaci pimpinan Thorin terlalu kecil untuk disebut pasukan. Tetapi, tampaknya yang dimaksud pasukan kelima adalah pasukan “Elang Raksasa” yang dipimpin Radagast dan Beorn.

Agak lucu juga ketika Thorin yang cuma didampingi dua belas orang kurcaci sok “jual mahal” tidak mau ikut bertempur. Dan lebih lucu lagi saat mereka memutuskan ikut terjun bertempur, seolah kehadiran mereka begitu signifikan. Padahal, secara logika “Middle Earth”, pasukan peri (elf) jelas jauh lebih kuat daripada pasukan kurcaci (dwarf) dalam rangka menghadapi orc. Dan secara logika “Bumi kita” pun, apalah artinya tiga belas orang dibandingkan ribuan orang?

Walau begitu, tidak usah dipusingkan. Film ini jelas menimbulkan “efek wow” terutama dari “efek khusus”-nya yang nyaris sempurna tak tertandingi. Dan jelas penutup manis bagi kerja keras Peter Jackson dan kru filmnya dengan membukukan pemasukan US$ 955,1 juta atau lebih dari Rp 9,5 trilyun!

Leave a Reply