Resensi Film-Bhayu MH

The Hunger Games: Mockingjay – Part 1

Year : 2014 Director : Francis Lawrence Running Time : 123 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

 

Jalan Cerita

Setelah di sekuel film sebelumnya diselamatkan dari arena pertandingan Hunger Games ke-75 yang hancur, Katniss Everdeen dibawa ke Distrik 13. Ini adalah distrik independen yang terpisah dari bagian lain di negara Panem. Di sanalah terletak basis pemberontak yang juga sudah memiliki struktur pemerintahan sendiri.

Katniss diselamatkan oleh tim pemberontak bersama dengan Victors Beetee dan Finnick Odair. Sementara temannya dari Distrik 12 yaitu Peeta Mellark ditinggalkan dan saat itu belum diketahui kabar keselamatannya. Katniss pun kemudian dipertemukan dengan ibu dan adiknya Prim yang telah diselamatkan lebih dulu.

Ia lalu dipertemukan dengan pimpinan pemberontak, Presiden Alma Coin. Karena pingsan, Katniss tidak tahu bahwa aksinya di arena telah memicu pemberontakan dan serangan melawan The Capitol. Katniss diminta oleh Coin untuk menjadi “Mockingjay”, sebagai simbol perlawanan dan bagian dari strategi “hati dan pikiran” dalam peperangan. Katniss menolak, terutama dikarenakan kemarahan Peeta Mellark ternyata ditinggalkan di arena.

Coin merasa, Katniss memang cuma anak kecil yang tak pantas bergabung dengan pemberontak apalagi dijadikan icon perjuangan. Plutarch Heavensbee –sang Gamemaker yang membelot- lantas menenangkannya. Atas sarannya pula kemudian Katniss dibawa untuk menengok keadaan di bekas desanya, Distrik 12. Alangkah geramnya Katniss melihat seluruh area tempat tinggalnya telah rata dengan tanah akibat pemboman oleh tentara The Capitol, yang ironisnya disebut “Penjaga Perdamaian” (Peacekeepers). Apalagi di Kompleks Kediaman Para Pemenang The Hunger Games, ia menemukan mawar putih yang masih segar. Seakan merupakan kode dari Peeta Mellark yang mencintainya.

Setibanya kembali di markas, dalam keadaan gundah, di ruang makan bersama televisi menayangkan talkshow yang dipandu Caesar Flickerman. Alangkah terkejutnya ia menyaksikan tamu acara itu adalah Peeta Mellark. Bukannya mendukung Katniss, ia malah mengajak Katniss “bertobat” dan menyerukan penghentian pemberontakan. Katniss berang. Tetapi ia sempat membawa pulang kucing milik adiknya yang ditemukan di sekitar reruntuhan rumahnya.

Maka, ia pun menghadap Presiden Alma Coin dan bersedia menjadi “Mockingjay”. Tetapi ia mengajukan syarat yang tidak boleh ditawar, dan harus diumumkan oleh sang wanita presiden itu sendiri di hadapan khalayak. Permintaannya sebenarnya tidak sulit, karena ia hanya meminta agar Peeta dan seluruh peserta The Hunger Games ke-75 diselamatkan di kesempatan pertama. Tetapi yang sulit adalah memberikan pengampunan penuh kepada Peeta karena ia dianggap pengkhianat oleh para pemberontak. Tetapi sang presiden tak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Sebagai tambahan syarat yang merujuk pada kepentingan umum, Katniss meminta agar adiknya Prim diizinkan memelihara kucing mereka. Padahal di markas pemberontak yang terletak jauh di bawah tanah itu dilarang memelihara binatang.

the_hunger_games_mockingjay_part_1_movie-wideHaymitch pun menyadari perlunya membuat propaganda untuk “Mockingjay”. Ia lantas dibuatkan kostum oleh Effie Trinket. Setelah siap, ia dibuatkan film di studio dan oleh tim lapangan yang dipimpin Cressida. Gale rekannya sesama petarung di The Hunger Games bertindak sebagai penjaga atau ajudan Katniss. Mereka berdua juga disediakan senjata panah yang dahsyat, ada yang anak panahnya berhulu ledak bom.

Dalam rangka membuat film itulah, Katniss mengunjungi rumah sakit di Distrik 8 yang penuh korban sipil yang terluka. Aktivitas itu langsung disiarkan oleh televisi pemberontak, dan dapat ditangkap pula oleh The Capitol. Presiden Snow pun serta-merta memerintahkan agar pesawat pembom menyerang Distrik 8. Dengan sengaja rumah sakit dihancurkan, melanggar aturan hukum humaniter.

Katniss dan Gale naik ke atap dan berhasil menjatuhkan dua pesawat pembom milik rezim penguasa Panem tersebut. Tetapi korban telah jatuh. Di depan kamera yang disiarkan langsung, Katniss menunjukkan kemarahannya kepada The Capitol dan Presiden Snow. Katniss bersumpah akan melawan habis-habisan, hingga kalau mereka hancur, ia berjanji akan membawa serta The Capitol jatuh bersamanya. Siaran itu berhasil dipancarkan ke seluruh negeri Panem berkat Beetee yang membacak saluran berita The Capitol. Disemangati oleh siaran Katniss itu, pasukan pemberontak di Distrik 7 berhasil membunuh seluruh pasukan Peacekeepers dengan ranjau darat tersembunyi.

Kembali ke markas, The Capitol kembali menyiarkan acara wawancara dengan Peeta. Malah, kali ini Peeta sampai menangis segala memohon agar Katniss menghentikan aksinya. Bukannya tersentuh, Katnis dan kru televisi kembali lagi ke Distrik 12. Di sana, mereka kembali merekam kerusakan yang terjadi sembari Gale menceritakan kisah penghancurannya. Katniss direkam menyanyikan “The Hanging Tree” sebagai sarana propaganda. Setelah siaran itu, pasukan pembom darat pemberontak dari Distrik 5 menghancurkan bendungan. Ini mengakibatkan The Capitol kehilangan sumber listrik dan terpaksa menggunakan generator. Selain menggelisahkan penduduk, juga melemahkan kemampuan The Capitol menyebarkan propaganda.

Malam itu juga, Katnis melihat Peeta kembali duduk sebagai tamu dalam talkshow. Meski seolah terlihat masih dipengaruhi The Capitol, tetapi Peeta yang sempat melihat siaran Katniss dari reruntuhan tersadar. Ia pun sempat meneriakkan peringatan bahwa The Capitol akan menyerang Distrik 13. Presiden Coin memerintahkan agar seluruh penduduk Distrik 13 mengungsi ke tempat perlindungan yang terletak lebih jauh ke dalam perut Bumi.

Katniss pun menemui ibunya, tetapi Prim adiknya ternyata belum sampai ke tempat perlindungan. Ia masih di bagian atas mencari-cari kucingnya yang hilang. Ditemani Gale, Katniss kembali untuk menyelamatkan adiknya. Hampir tidak memenuhi tenggat waktu menutupnya pintu berlapis baja tebal sebagai pelindung shelter. Serangan The Capitol tidak menimbulkan kerusakan berarti karena hanya di permukaan saja dan tidak menembus ke bawah tanah.

Usai serangan, Katniss, Gale dan kru televisi naik ke permukaan. Mereka mendapati bahwa wilayah itu dipenuhi mawar putih yang ditebarkan dari udara. Itu merupakan pesan dari Presiden Snow yang menunjukkan seolah ia hendak membunuh Peeta. Tentu saja itu sebagai hukuman karena peringatan Peeta di siaran langsung televisi memberikan tambahan waktu 8 menit yang krusial bagi evakuasi. Di sisi lain, Presiden Coin menghargai tindakan itu dan memutuskan mengirimkan pasukan khusus elite untuk menyelamatkan Peeta. Di dalam tim itu Gale bergabung. Selain Peeta, diketahui juga ada Johanna Mason dan Annie Cresta yang selamat dan berada di The Capitol Tribute Center.

Aksi penyelamatan itu berhasil, setelah melewati baku-tembak dan perkelahian seru tentu saja. Ketika Katniss hendak menemui Peeta, tanpa diduga Peeta malah menyerang Katniss. Seketika Katnis pingsan, tetapi kemudian Peeta berhasil pula dibuat terkapar oleh Boggs.

Beberapa waktu kemudian, Katniss terbangung di fasilitas medis. Ia diberitahu bahwa Peeta telah dicuci otak sedemikan rupa oleh The Capitol. Ia dibuat dendam kepada Katniss karena mengasosiasikannya dengan kejadian dimana ia disengat Tracker Jacker yang sarangnya dijatuhkan Katniss dalam sekuel film sebelumnya, The Hunger Games: Catching Fire (2013).

Proses untuk membalikkan pencucian-otak Peeta dimulai, agar ia kembali seperti sediakala. Tetapi selama itu, Peeta harus diisolasi karena berbahaya.

Di akhir film, Presiden Coin mengumumkan kepada khalayak keberhasilan misi menyelamatkan para Victors, yaitu peserta The Hunger Games ke-75 yang tersisa. Ia juga mengumumkan langkah mereka selanjutnya. Mereka berniat menyerang benteng pertahanan pasukan inti The Capitol yang terletak di Distrik 2.

Kritik Film

The Hunger Games-Mockingjay part 1

Rasanya serupa seperti saat menonton Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010) atau The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) di bioskop. Saya tak sabar menunggu sekuel kelanjutannya. Karena film ini ujungnya menggantung. Walau tentu kita tahu bahwa pasti “happy ending” karena ini film berjenis “jagoan pasti menang”, tetapi yang penonton ingin tahu adalah caranya. Bagaimanakah Katniss akan mengalahkan rezim The Capitol?

Di sekuel film ini, mulai terasa “dongeng”-nya. Ironisnya, itu justru karena adanya “film dalam film” berupa propaganda yang dilakukan pemberontak. Agak terasa kurang masuk akal dan aneh bagaimana mungkin dalam perang sempat-sempatnya “ngeceng” seperti itu. Saat Katnis mengunjungi rumah sakit, seorang pasien juga bertanya setengah sinis, “apa yang kau lakukan di sini?” Apalagi Katnis terlihat terkejut karena tidak mengira dampak perang seburuk itu.

Tapi tentu saja semua penggambaran itu dilakukan selain karena “tuntutan skenario” juga “adaptasi novel”-nya. Rasa “nikmat” menonton saya agak terganggu karena kekuranglogisan dalam pertempuran. Terutama saat Katniss dan Gale berhasil menembak jatuh dua pesawat pembom cuma dengan panah. Agak terasa seperti “superhero tunggal dipaksain” bak film Commando (1985) yang diperankan Arnold Schwarzenegger.

Demikian pula saat pasukan Peacekeepers dihancurkan dengan ranjau darat di Distrik 7. Sementara para pemberontak menghindar cuma dengan memanjat pohon. Kalau ledakannya sedahsyat digambarkan di film, bukankah pohon tempat para pemberontak “nangkring” juga akan tumbang? Ketidaklogisan lain juga muncul saat serangan The Capitol yang digambarkan digdaya ternyata “cuma segitu doang” saat menyerang Distrik 13. Ibarat kata, “lecet aja kagak”. Weirdo.

Maka, pemakluman yang bisa dilakukan adalah kalimat klasik, “Yah… namanya juga pelem…” Ekspektasi awal karena penasaran di akhir sekuel film sebelumnya terasa ditampar begitu menyaksikan film ini. Agak kecewa. Tapi ya… mau bagaimana lagi? Semoga sekuel terakhir filmnya yang akan luncur tahun 2015 jauh lebih baik.

Leave a Reply