Resensi Film-Bhayu MH

The Last Samurai

Year : 2003 Director : Edward Zwick, Running Time : 154 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Saya sangat menyukai film ini ketika menontonnya di bioskop. Dan makin menyadari nilai-nilai yang dikandungnya saat berkali-kali kembali menyaksikannya melalui VCD original yang saya beli. Banyak hal yang bisa dipetik dari kisah perjuangan “samurai terakhir” ini.

Meski berlatar sejarah, namun kisah dalam film ini fiksi. Hanya saja agar tidak bingung saat menyaksikannya, saya mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai setting waktu film ini.

Jepang adalah kekaisaran tua yang sudah ada semenjak ratusan tahun lalu. Di abad pertengahan yang dikenal sebagai abad kegelapan oleh Eropa, Jepang pun seringkali dilanda peperangan antar kerajaan kecil seperti trend di masa itu. Meski Jepang memang dikepalai oleh Kaisar di Tokyo, tapi antar wilayah ada semacam kerajaan kecil yang dikuasai oleh para Shogun. Wilayah seluas kabupaten hingga provinsi itu disebut Shogunate. Agar tercipta kedamaian di penjuru Jepang, kaisar meluncurkan program yang disebut Restorasi Meiji pada akhir abad ke-19. Ini setelah barat melalui Renaissance dan enlightenment serta maju melalui Revolusi Industri. Salah satu programnya adalah pembaratan atau westernisasi, termasuk pemutakhiran persenjataan angkatan bersenjata Jepang dengan produksi barat. Kekuasaan para shogun juga dilucuti. Strata samurai dihapus dan dilarang. Sebagai akibatnya banyak samurai yang ditangkap dan dibunuh.

Tapi tak semua shogun dan samurai mau menyerah begitu saja. Banyak yang menganggap justru kaisar keblinger dan termakan oleh bujuk-rayuan pihak barat. Mereka mengangkat senjata dan melancarkan pemberontakan. Salah satu yang tercatat sejarah adalah “pemberontakan Satsuma” pada tahun 1877 yang dipimpin oleh Saigō Takamori. Film ini terinspirasi dari kejadian historis ini, tapi bukanlah reka-ulang darinya. Dalam penulisan naskahnya, John Logan selaku penulis skenario juga merujuk pada tulisan dokumentasi yang ditulis oleh Jules Brunet, kapten pasukan Prancis yang seorang Shogun bernama Enomoto Takeaki dalam masa awal Perang Boshin. Juga ada kisah historis yang ditulis Frederick Townsend Ward, seorang tentara bayaran asal Amerika Serikat yang membantu pasukan China membentuk Ever Victorious Army.

Gabungan dua tokoh sejarah itulah yang membentuk karakter Kapten Nathan Algren (diperankan dengan kuat oleh Tom Cruise), tokoh utama film ini. Dia adalah anggota pasukan elite kavaleri ke-17 Angkatan Darat Amerika Serikat yang sarat pengalaman perang terutama melawan Indian. Algren juga dikisahkan memiliki medali kehormatan tertinggi yaitu Congressional Medal of Honour. Meski prajurit berprestasi, Algren dihantui perasaan bersalah karena pasukan kolonial Amerika Serikat membantai penduduk asli benua Amerika secara sadis dalam Perang Indian. Ia melihat bagaimana pasukannya membantai penduduk asli yang tak bersenjata di perkampungan mereka yang terletak di Sungai Washita. Algren sudah berusaha mencegah Kolonel Bagley (Tony Goldwyn), tapi tak dipedulikan.

 Algren pun lari ke alkohol dan menjadi pemabuk untuk melupakan trauma itu. Ia malah bekerja pada industri senjata Winchester sebagai semacam endorser. Ia lantas bertemu dengan mantan teman sepasukannya Sersan Zebulon Gant (Billy Connolly). Gant menawarinya pekerjaan baru dan mempertemukannya kembali dengan Kolonel Bagley, mantan komandannya yang dulu memerintahkannya membantai Indian. Bagley bertindak atas nama seorang pengusaha Jepang bernama Mr. Omura (Masato Harada). Ia menawari gaji US$ 400 per bulan kepada Algren untuk melatih tentara kerajaan Jepang modern yang baru dibentuk. Algren menawar agar ia dan Gant masing-masing mendapatkan US$ 500 setiap bulan dan US$ 500 lagi setelah selesai.

Karena membutuhkan jasa mereka, Omura setuju. Akhirnya pada 12 Juli 1876 Algren dan Gant berangkat ke Jepang. Sesampainya di sana, ia dijemput oleh Simon Graham (Timothy Spall), seorang budayawan yang tertarik mempelajari budaya Jepang. Karena ia bisa berbahasa Jepang, maka ia sekaligus bertindak sebagai penerjemah. Algren ditugasi sebagai pelatih kepala pasukan angkatan darat Jepang yang berasal dari petani dan pedagang. Pasukan ini dipimpin oleh Jenderal Hasegawa, mantan samurai. Sementara lawan mereka adalah samurai Lord Moritsugu Katsumoto (Ken Watanabe).

Saat baru dua bulan melatih, jalur kereta yang dimiliki Omura diserang oleh Katsumoto. Bagley meminta pasukan kerajaan Jepang (imperial army) untuk maju bertempur, padahal Algren sudah menyatakan mereka belum siap. Dan benar saja, dalam pertempuran, pasukan angkatan darat kekaisaran Jepang dikalahkan oleh pasukan samurai pimpinan Katsumoto. Sementara Jenderal Hasegawa menolak ikut bertempur melawan sahabatnya. Di sini, Kapten Algren yang sudah terkepung dengan gagah berani melawan sejumlah samurai dengan sebilah tombak berpanji harimau, panji klan Katsumoto. Sebelumnya, Lord Katsumoto mendapatkan visi melihat sosok harimau. Karena itu ia melarang Algren dibunuh. Saat ia dibawa dengan kuda sebagai tawanan, Algren melihat Jenderal Hasegawa melakukan seppuku dan dipenggal kepalanya oleh Katsumoto.

Sang kapten dibawa ke desa Katsumoto dan dirawat oleh Taka (Koyuki), adik Katsumoto yang janda seorang samurai bernama Hirotaro. Ironis karena Hirotaro justru dibunuh oleh Algren saat ia hendak membunuh Algren yang sudah terjatuh. Karena saat itu musim dingin, maka jalanan tertutup salju dan Algren terjebak di desa Katsumoto. Tak ada pilihan baginya selain mencoba beradaptasi. Katsumoto sendiri tertarik belajar bahasa Inggris dan tradisi barat, dan pada akhirnya Algren pun sebaliknya mempelajari budaya Jepang, terutama tradisi samurai.

Algren diajari seni beladiri oleh Ujio dan sesekali oleh Katsumoto sendiri. Putra Katsumoto yaitu Nobutada (Shin Koyamada) pun ikut membantu. Sedangkan sehari-hari ia dijaga oleh seorang samurai yang tak mau bicara bahkan sekedar menyebutkan namanya. Dari hari ke hari ia berinteraksi, lama-kelamaan ia jadi simpati dan jatuh hati pada musuhnya itu. Ternyata, nilai-nilai kehidupan dan budaya Jepang sangat luhur dan tinggi. Apalagi kemudian ia makin dekat dengan anak-anak Taka, Hideo dan Megujiro yang malah mengidolakannya. Algren pun rajin menulis buku jurnal harian selama di sana. Katsumoto menerangkan mengenai prinsip bushido yang mereka jalankan. Algren pun mengakui baru di tempat itulah ia bisa tidur nyenyak.

Ketika musim dingin berakhir, Kaisar memanggil Katsumoto yang termasuk dewan untuk datang ke istana. Di sana, ia sempat mengingatkan Kaisar bahwa rakyat tidak menginginkan kemodernan ala barat dengan meninggalkan budaya asli Jepang. Tapi dalam sidang, Katsumoto malah diminta untuk memberikan pedangnya sebagai dampak dari diberlakukannya undang-undang baru yang melarang samurai dan membawa pedang di muka umum. Katsumoto mengatakan hanya Kaisar yang bisa memintanya menyerahkan pedang, tapi sang Kaisar bungkam. Maka Katsumoto menolak menyerahkan pedangnya dan ia pun ditahan.

Sementara Algren kembali bergabung dengan pasukan kekaisaran Jepang. Ia menyaksikan bahwa selama ia pergi selama musim dingin telah ada peningkatan besar. Selain lebih terlatih dan terorganisir, pasukan kekaisaran Jepang modern yang baru sudah dilengkapi persenjataan modern dari Amerika Serikat. Dua jenis yang paling mematikan adalah meriam Howitzer dan senapan mesin Gatling yang mampu melontarkan 200 peluru semenit. Algren ditawari Omura untuk bekerjasama dengan memberikan informasi mengenai Katsumoto, tapi ia menolak.

Mengetahui bahwa Katsumoto kemungkinan akan dibunuh oleh Omura, Algren pun menyelinap pergi keluar penginapan. Namun, ia dicegat oleh empat samurai suruhan Omura. Berkat keahlian pedang yang dipelajarinya selama di tempat Katsumoto, ia berhasil membunuh keempatnya. Salah satunya adalah asisten Omura yang malah meminta Katsumoto untuk hara-kiri.

Ia lantas menemui samurai yang setia kepada Katsumoto untuk merancang pelarian. Dengan muslihat dari Graham yang mengaku hendak memotret tahanan sebelum dihukum mati, mereka bisa menyelinap masuk ke dalam dan membebaskan Katsumoto. Sayangnya, dalam usaha pelarian Nobutada tertembak dan ia malah mengorbankan diri untuk tinggal guna menahan laju pasukan kekaisaran Jepang yang berupaya mengejar.

Sesampainya kembali di desa wilayah kekuasaan Katsumoto, mereka menyadari bahwa perang akan pecah. Pasukan kekaisaran Jepang pasti akan mengejar mereka. Karena itu, mereka pun menyiapkan pertahanan. Dari atas bukit, mereka melihat pasukan musuh berjumlah tak kurang dari 1.000 orang atau 2 resimen penuh dengan persenjataan modern. Sementara pasukan samurai Katsumoto tak lebih dari 500 orang. Di saat awal ditawan Katsumoto, Algren sempat menceritakan pertempurannya bersama Jenderal Custer, salah satu komandan perang legendaris pasukan A.S. Dan Katsumoto pun berkomentar bahwa mereka akan seperti Custer. Karena jumlah pasukan mereka lebih sedikit. Algren menambahkan semangat dengan menceritakan Pertempuran Termophyllus (the battle of Thermopyllae). Dalam pertempuran di masa kuno itu, pasukan Sparta yang hanya berjumlah 300 orang bertempur melawan 1.000.000 pasukan Persia yang merupakan imperium penguasa dunia. Meski akhirnya gugur seluruhnya, pasukan Sparta berhasil menewaskan hampir seluruh pasukan Persia.

Sebelum ikut berperang, Algren diminta Taka memakai baju zirah samurai milik almarhum suaminya Hirotaro. Hideo pun sempat marah karena tak ingin Algren tewas. Tapi akhirnya setelah diajak bicara baik-baik bahwa sudah tugas mereka mempertahankan kehormatan samurai, Hideo akhirnya mengerti. Katsumoto pun memberi sebilah samurai kepada Algren, yang khusus dibuat olehnya. Karena seorang samurai harus menyandang 2 bilah pedang.

Akhirnya dalam pertempuran yang dicatat Algren berlangsung pada 25 Mei 1877, pasukan Katsumoto dengan gagah-berani bertempur melawan pasukan kekaisaran Jepang yang dipimpin oleh Bagley dan Omura. Dengan taktik yang dirancang Algren, pasukan Katsumoto meski cuma bersenjatakan pedang, tombak dan panah berhasil membunuh banyak pasukan kekaisaran Jepang. Sebelum akhirnya mereka terpaksa berhadapan dengan sisa pasukan kekaisaran Jepang yang justru bersenjatakan senapan mesin Gatling yang canggih. Dan seluruh sisa pasukan samurai gugur di sana, kecuali Katsumoto dan Algren meski luka-luka. Menyadari kekalahannya, dan mengkuti jalan bushido, Katsumoto meminta Algren membantunya melakukan seppuku. Ini adalah tradisi dimana seorang pimpinan pasukan yang kalah akan bunuh diri dan diakhiri dengan kepalanya dipenggal oleh seorang ksatria yang dipercayanya. Melihat kegagah-beranian sang samurai, pasukan musuh malah berlutut dan menuduk menghormati kematian Katsumoto.

Algren yang selamat menghadap Kaisar Meiji, tepat saat Omura menghadapkan Duta Besar Amerika Serikat untuk menandatangani perjanjian. Di saat itulah Algren menyerahkan pedang samurai milik Katsumoto, yang pernah menjadi guru sang kaisar. Barulah sang kaisar terhenyak dan turun dari tahtanya, bahkan berlutut di hadapan Algren. Para pembantunya terkejut karena sang dewa yang mengejawantah manusia itu tak pernah melakukan itu. Sebagai bentuk simpatinya, sang kaisar menanyakan bagaimana Katsumoto tewas, tapi Algren malah menjawab bahwa ia lebih suka menceritakan bagaimana sang samurai hidup. Kaisar akhirnya meminta Duta Besar Amerika Serikat pergi meski Omura sudah mencoba meyakinkan agar perjanjian segera ditandatangani. Ia juga menitahkan agar seluruh harta kekayaan keluarga Omura disita dan diserahkan kepada rakyat. Graham diberikan buku jurnal harianAlgren agar menuliskan kisah itu dan menyebarkannya kepada dunia. Algren pun kemudian kembali ke desa wilayah kekuasaan Katsumoto dan menemui Taka.

Film ini tak perlu komentar lagi dari seorang kritikus kacangan seperti saya. Pemasukan lebih dari US$ 456 juta membuktikan itu. Padahal biaya pembuatannya ‘hanya’ US$ 140 juta saja. Detailnya dahsyat sehingga penonton yang tidak membaca resensi dan proses pembuatan akan mengira ini film epik historis. Padahal sejarah hanya dipakai sebagai latar belakang waktu pengisahan saja. Pendeknya, film ini layak ditonton berkali-kali karena saratnya nilai-nilai kehidupan di dalamnya.

Leave a Reply