Resensi Film-Bhayu MH

The Mummy

Year : 1999 Director : Stephen Sommers Running Time : 125 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Kisah dimulai di Thebes, Mesir Kuno pada 1.290 SM. Seorang pendeta tinggi bernama Imhotep melakukan hubungan terlarang dengan Anck-su-namun, calon istri raja Pharaoh Seti I. Di saat sang raja memergoki mereka, kedua orang itu malah membunuhnya. Pada saat para pengawal datang, Imhotepmelarikan diri namun Anck-su-namun bunuh diri. Ia sempat berpesan agar Imhotep kekasihnya membangkitkannya kembali. Saat Anck-su-namun sudah dikubur, Imhotep dan para pendetanya mencuri mayatnya dan membawanya ke Hamunaptra yang dikenal sebagai Kota Orang Mati. Saat mereka sedang melakukan upacara, para pengawal raja Seti tiba. Mereka menangkap Imhotep dan para pendetanya sehingga arwah Anck-su-namun kembali terlempar ke Dunia Bawah.

Imhotep dan para pendetanya dihukum mati dengan cara yang mengerikan. Para pendetanya dijadikan mumi dalam keadaan hidup, sementara Imhotep dikenai kutukan bernama Hom Dai. Ia dikubur hidup-hidup bersama kumbang pemakan daging. Kuburannya disegel rapat dengan sarkofagus dan dikuburkan di bawah patung Dewa Kematian Mesir Kuno Anubis. Pengawal raja yang disebut Medjai ditugaskan menjaganya selamanya. Karena bila peti mati dibuka, Imhotep akan bangun kembali dan membinasakan umat manusia.

3.000 tahun kemudian pada tahun 1926, Jonathan Carnahan memberikan hadiah kepada saudarinya Evelyn berupa sebuah kotak dan peta yang dikatakannya ditemukan di Thebes. Evelyn ini adalah seorang pustawakan di Museum Kairo serta ahli tentang Mesir (Egyptologist). Keduanya terkejut saat menemukan bahwa peta itu menunjukkan rute ke kota kuno yang hilang: Hamunaptra.  Jonathan akhirnya mengakui kepada Evelyn bahwa ia mencuri artefak itu dari seorang bernama Rick O’Connel yang saat itu dipenjara. Ketika keduanya mendatangi Rick, ia mengatakan tahu lokasi di peta itu karena sewaktu menjadi tentara di Legiun Asing Prancis dirinyalah yang menemukannya. Mereka pun membuat perjanjian, Rick akan mengantarkan Evelyn dan Jonathan asal diselamatkan dari tiang gantungan.

Mereka bertiga lantas menuju ke kota itu, tapi dihadang oleh para pemburu harta karun dan perampok makam yang justru dipimpin oleh ahli tentang Mesir bernama Dr. Allen Chamberlain. Mereka dipandu oleh Beni Gabor, teman sepasukan Rick di Legiun Asing Prancis yang pengecut. Kedua rombongan itu diserang oleh sekelompok bersenjata yang menamakan diri Medjai, dipimpin oleh Ardeth Bay. Ia mengingatkan bahwa di bawah makam itu terkubur kejahatan sehingga tidak semestinya digali.

Kedua rombongan mengabaikan peringatan itu dan meneruskan ekspedisi. Evelyn mencari Kitab Amun-Ra, buku bersampul emas padat yang konon bisa mencabut nyawa. Sialnya, ia malah bertemu sisa-sisa Imhotep yang masih berwujud mumi. Tim lainnya asal Amerika menemukan Kitab Kematian, beserta guci yang menyimpan organ tubuh Anck-su-namun yang diawetkan. Chamberlain mencuri Kitab Kematian di saat anggota tim lainnya sedang merampok barang berharga lain. Sebelum membuka kotak yang disangka berisi harta karun, Chamberlain membaca peringatan yang terukir dalam aksara hieroglyph yang menyatakan bahwa kotak peti mati itu dikutuk. Apabila dibuka, Imhotep akan bangkit kembali. Orang-orang itu mengabaikannya, tapi Beni menolak membantu dan kabur.

Di malam hari, Evelyn mengambil Kitab Kematian itu dan membacanya keras-keras, tanpa disadarinya pembacaan mantra itu membangkitkan Imhotep. Ekspedisi melarikan diri ke Kairo, tapi Imhotep mengikuti mereka dengan bantuan Beni yang mengatakan akan menjadi pelayan mumi yang bangkit itu. dalam rangka memulihkan tubuh fisiknya, Imhotep membunuh para anggota tim ekspedisi Amerika dengan menyerap daging dan darahnya. Tetapi sebelum bangkit sepenuhnya dan utuh, lucunya Imhotep bisa ditakuti dengan kucing. Karena kucing adalah lambang dari Osiris, dewa kehidupan Mesir Kuno.

Dalam upaya mencari cara menghentikan Imhotep, Rick bersama Evelyn dan Jonathan menemui Ardeth. Evelyn menyebutkan bahwa mumi Imhotep memanggilnya Anck-su-namun saat bertemu. Ardeth dan kurator Museum Kairo Terrence Bay menduga bahwa Imhotep bermaksud membangkitkan kembali arwah kekasihnya namun dengan mengorbankan Evelyn, sehingga nantinya jasad Anck-su-namun menempati tubuh Evelyn.

Evelyn menyadari bahwa ketika Kitab Kematian membangkitkan kembali Imhotep, Kitab Amun-Ra dapat mematikannya kembali dengan mengirimnya ke Dunia Bawah. Setelah menemukan lokasi buku itu, Imhotep memojokkan kelompok Evelyn dengan bantuan sepasukan budak. Evelyn setuju menemani Imhotep dalam upacara asalkan ia membiarkan anggota kelompok lainnya hidup. Imhotep ingkar janji dan menyuruh pasukannya membunuh kelompok itu. Untunglah Rick berhasil lolos melalui saluran pembuangan. Terrence terpaksa mengorbankan diri agar anggota kelompok lainnya bisa lolos.

Imhotep yang dibantu Beni menawan Evelyn dan membawanya ke Hamunaptra. Rick dan Jonathan dibantu Ardeth mengejarnya. Setelah bertarung melawan para pendeta Imhotep yang dulunya dimumifikasi hidup-hidup dan telah dibangkitkan kembali, Evelyn berhasil diselamatkan. Evelyn membaca mantra yang ada di Kitab Amun-Ra, membuat Imhotep kehilangan keabadiannya dan jadi manusia biasa. Rick menusuknya dan menjatuhkannya ke Sungai Kematian. Tubuhnya tergerus kembali ke Dunia Bawah, tapi bersumpah akan membalas dengan kata-kata yang sama dengan yang terukir di sarkofagusnya: “Kematian hanyalah awal”.

Di saat sedang merampok makam dari piramida, Beni terperangkap dan dimangsa oleh kumbang pemakan daging. Hamunaptra hancur kembali ditelan pasir. Rick, Evelyn dan Jonathan berhasil meloloskan diri, tetapi kehilangan Kitab Amun-Ra. Mereka pun pergi meninggalkan lokasi dengan membawa sepasang unta yang telah dimuati banyak artefak berharga oleh Beni.

Kritik Film

Cerita film ini menarik dan kuat. Demikian pula dengan penokohan atau karakterisasinya. Jalan ceritanya pun mudah dicerna dengan sentuhan humor cerdas di sana-sini. Tentu saja, penonton harus punya sedikit ketertarikan pada sejarah dan arkeologi. Itu akan sangat membantu memahami legenda sejarah Mesir Kuno yang dijadikan pijakan film.

Walau beberapa karakter terinspirasi dari sejarah asli, tapi kisahnya bukan kisah nyata. Maklum saja, karena justru catatan sejarahnya tidaklah semendetail kisah cerita. Umumnya sejarah raja-raja kuno hanya menceritakan silsilah dan riwayat kepahlawanan dalam peperangan saja. Intrik dan lika-liku kehidupannya biasanya tidak diceritakan.

Efek khusus paling bagus adalah saat Imhotep memanipulasi pasir menjadi badai untuk menyerang ekspedisi Rick. Di sana, tampak wajah Imhotep mengejawantah di gulungan badai pasir. Mengagumkan untuk film buatan tahun 1999. Demikian pula beragam bentuk mumi yang hidup kembali sangat realistis, tapi tidak membuat film bergenre action ini lantas jadi film horror.

Pakaian, bangunan bahkan tulisan hieroglyph dan bahasa Mesir Kuno yang terdengar beberapa kali begitu rinci. Tidak ada kritikan dari para ahli sejarah Mesir soal ini, berarti memang riset pembuat film akurat. Akting Brendan Fraser sebagai Rick O’Connel berhasil meneguhkan satu karakter petualang baru. Ia tidak seperkasa Indiana Jones karena kekonyolannya, tapi tetap tangguh. Demikian pula Rachel Weisz sebagai Evelyn Carnahan tampil lugu menggemaskan, tapi di saat tertentu menunjukkan keahliannya sebagai pakar sejarah dan arkeologi Mesir. Ketengilan Jonathan Carnahan yang diperankan John Hannah dan kelicikan Beni Gabor yang diperankan Kevin J. O’Connor pun tampil begitu natural.

Sebagai hasilnya, penerimaan pasar atas film ini begitu bagus. Dengan biaya produksi ‘hanya’ 80 juta dollar Amerika Serikat, film ini meraup pemasukan lebih dari US$ 415 juta di seluruh dunia. Tak heran studio Alphaville Films dan distributor Universal Pictures segera merencanakan sekuelnya sebagai dampak kesuksesan film ini.

Leave a Reply