Resensi Film-Bhayu MH

The Mummy: Tomb of The Dragon Emperor

Year : 2008 Director : Rob Cohen Running Time : 111 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
2/5

Jalan Cerita

Film dibuka dengan penggambaran di masa China Kuno, dimana ada seorang Kaisar bernama Qin Shi Huang yang bermaksud menyatukan seluruh China dengan cara brutal. Ia menaklukkan negeri demi negeri demi memenuhi ambisinya. Para penduduk negeri taklukan dijadikan pekerja paksa terutama untuk membangun Tembok Raksasa China. Mereka yang tewas dan dianggap tak berguna dikubur di bawahnya, dijadikan fondasi. Para penyihir kerajaan mengajarka sang kaisar kekuatan untuk menguasai lima elemen alam: api, air, tanah, kayu, dan logam.

Meskipun digdaya, namun sang kaisar adalah manusia. Ia menghadapi musuh terakhirnya: kematian. Karena menginginkan hidup abadi, ia memerintahkan para pembantunya untuk mencari penyihir yang dikabarkan menguasai ilmu kekekalan, yaitu Zi Yuan. Ia menyuruh orang yang paling dipercaya untuk menemuinya, yaitu Jenderal Ming Guo. Tanpa dinyana, ketika bertemu, sang penyihir ternyata cantik dan membuat sang jenderal jatuh cinta.

Setibanya di istana, Zi Yuan mengatakan bahwa ia tidak mengetahui rahasia kehidupan abadi. Tapi, ia mengatakan tahu dimana mendapatkannya. Maka, ia bersama Jenderal Ming pergi ke perpustakaan  biara Turfan di perbatasan barat. Perpustakaan ini adalah yang terbesar di China Kuno. Mereka menemukan sebuah kitab mantra sihir kuno yang disimpan di sebuah perangkat rahasia. Karena keduanya jatuh cinta, setelahnya mereka pun bercinta. Hal ini diketahui anak buahnya yang kemudian melapor kepada sang kaisar.

Sesampai di istana, Zi Yuan yang membawa kitab kemudian membacanya. Kitab dari daun lontar itu tertulis dalam bahasa Sansekerta yang tidak dimengerti sang kaisar. Karena sudah dilapori anak buahnya tentang pengkhianatan Jenderal Ming, kaisar menghukum mati sang jenderal dan menusuk Zi Yuan. Tanpa diketahuinya, ternyata mantra yang dirapal sang penyihir adalah kutukan. Sang kaisar beserta balatentaranya pun berubah menjadi patung terracotta atau tanah liat. Sementara Zi Yuan berhasil melarikan diri dengan membawa kitab mantra sihir kuno tadi.

Kisah film berpindah ke tahun 1946, dimana arkeologis Ricochet alias Rick O’Connell yang hidup mewah karena keberhasilan penemuan situs arkeologis Mesir Kuno yang berharga, sedang belajar memancing. Sementara Evy atau Evelyn istrinya yang kini menjadi penulis, sedang membacakan buku karyanya dalam acara jumpa penulis di sebuah toko buku. Keduanya memang pensiun sebagai arkeolog, tapi kemudian begitu merindukan kehidupan di alam liar dan petualangan mereka di masa lalu.

Justru putra merekalah yaitu Alexander Rupert atau akrab dipanggil Alex yang meneruskan jejak kedua orangtuanya. Dalam ekspedisi ekskavasi di China, ia dan timnya yang didukung Profesor Roger Wilson menemukan makam berisi ribuan prajurit tanah liat. Dalam upaya mencari makam atau patung sang kaisar, anggota tim tewas karena adanya jebakan kuno di dalam kompleks makam itu. Alex dan Roger Wilson selamat. Tepat saat menemukan keberadaan makam sang kaisar yang ada di bagian terbawah kompleks makam, mereka diserang oleh sesosok ninja. Tapi Alex berhasil mengalahkannya.

Di kediamannya, Rick dan Evy didatangi pejabat Kementerian Luar Negeri. Ia menawari tugas khusus membawa “Mata Shangri-La” ke China. Berpikiran “sambil menyelam minum air” untuk mengunjungi Jonathan adik Evy yang membuka bar bernama “Imhoteps” di Shanghai, keduanya setuju. Tanpa dinyana, Alex yang sudah selesai melakukan ekspedisi juga ada di bar pamannya. Dan di sana mereka diserang oleh segerombolan orang yang ternyata adalah anak buah teman lama Rick.

Rick dan Evy lalu menuju ke lokasi tempat penemuan Alex disimpan, yaitu di museum yang dikepalai oleh Roger Wilson. Mereka juga menyerahkan “Mata Shangri-La” kepada Wilson sesuai amanat. Akan tetapi, ternyata Wilson merupakan anak buah Jenderal Yang yang membiayai seluruh ekspedisi penggalian Alex. Ia bertujuan membangkitkan kembali sang kaisar dan para bala tentara tanah liatnya.

Upaya membangkitkan sang kaisar dengan “Mata Shangri-La” akhirnya berhasil, walau sempat salah mengira bahwa mayat dalam peti mati sebagai sang kaisar, yang ternyata bukan. Justru sosok sais keretalah yang ternyata menyembunyikan jasad sang kaisar yang dikutuk Zi Yuan. Saat akan pergi dengan kereta kudanya, sang kaisar membunuh Wilson, sementara Jenderal Yang dan Choi wakil komandannya diterima sebagai abdinya.

Alex dan Lin berupaya mengejar sang kaisar. Lin mengungkapkan bahwa hanya belati suci miliknya yang bisa membunuh sang kaisar. Upaya mereka gagal walaupun sudah dibantu orangtua Alex dan pamannya yang menyusul dengan mobil.

Atas petunjuk Lin, mereka lalu menyusul sang kaisar yang menuju ke sebuah kompleks kuil Buddha di Himalaya. Dari sana, sang kaisar bermaksud meletakkan berlian “Mata Shangri-La” di puncak menara stupa emas. Pasukan Jenderal Yang beserta sang kaisar tiba dengan pesawat. Sementara rombongan Rick sudah mendahului dengan pesawat yang dikemudikan sahabatnya “Mad Dog” Maguire. Upaya mereka membendung pasukan Yang nyaris gagal karena kalah jumlah dan persenjataan. Dalam keadaan terdesak, Lin merapal mantra dan memanggil Yeti, makhluk mitis penghuni Himalaya. Dengan bantuan Yeti, mereka bisa mengalahkan pasukan Jenderal Yang. Akan tetapi, Yeti kabur begitu Kaisar Qin Shi Huang menggunakan kekuatannya. Ia tak terhalangi untuk meletakkan mata Shangri-La di puncak menara stupa emas, yang menunjukkan jalan ke Shangri-La. Tapi kemudian terjadi longsoran salju yang mengubur kompleks kuil.

Sialnya, Rick tertembak dan sekarat. Lin membawa mereka ke Gerbang Shangri-La tempat ibunya Zi Yuan berada. Dengan kesaktian Zi Yuan dan air dari Kolam Keabadian, Rick disembuhkan. Di saat itulah baru terungkap bahwa Lin adalah putri Zi Yuan dan Jenderal Ming. Karena itulah mereka berdua hidup abadi dan merupakan penjaga rahasia China Kuno tentang Shangri-La dan Kolam Keabadian.

Saat mereka sedang beristirahat, tiba-tiba sang kaisar datang disertai Jenderal Yang. Ia pun memasuki Kolam Keabadian. Tubuh muminya berubah menjadi naga bersayap berkepala tiga dan ia pun abadi. Zi Yuan beserta keluarga O’Connell gagal menghalanginya. Lin malah diculik dan belati suci direbut. Karena jelas setelah bangkit dan abadi, langkah berikutnya dari Kaisar Qin Shi Huang adalah membangkitkan bala-tentaranya. Dengan wujud naga terbang, ia pun kembali ke kompleks pemakamannya yang semula ditemukan oleh Alex. Rombongan O’Connell menyusul dengan pesawat “Mad Dog” Maguire.

Mereka bersiap menghadapi pertempuran melawan gabungan ribuan balatentara China Kuno mummy terracotta Kaisar Qin Shi Huang yang dibangkitkan dan ratusan pasukan tentara China modern Jenderal Yang. Untuk melawan mereka, Zi Yuan membangkitkan ribuan mayat yang dikubur di bawah Tembok Besar China. Di antara mereka adalah Jenderal Ming kekasihnya.

Sementara orangtuanya bertempur bersama pasukan Jenderal Ming, Alex membebaskan Lin yang ditawan di tenda. Berdua mereka lantas memburu Jenderal Yang dan Choi. Kaisar Qin Shi Huang pun kemudian berduel pedang melawan Zi Yuan. Ia mengorbankan diri dengan tujuan mengambil belati suci yang berada di sabuk sang kaisar. “Mad Dog” Maguire dan Jonathan pun datang membantu dengan dua pesawat. Akan tetapi sang kaisar mengubah diri menjadi makhluk jejadian mirip gorilla dan menjatuhkan satu pesawat rekan mereka.

Rick, Evy, Alex dan Lin kemudian menemui Zi Yuan yang sekarat tertusuk pedang sang kaisar. Sebelum tewas, ia menyerahkan belati suci kepada Alex. Sementara mobil jip bersenapan mesin yang ditumpangi Choi dan Jenderal Yang berhasil dimusnahkan dengan bom yang dijatuhkan Jonathan dari pesawat “Mad Dog” Maguire.

Kaisar menuju ke altar dan merapal mantra, mengembangkan kelima elemen yang dikuasainya. Pasukan Jenderal Ming sempat terseret akibat mantra itu. Tapi kemudian Alex tiba dan menembak dua bola elemen sehingga membuat sang kaisar pecah konsentrasinya. Pasukan Jenderal Ming pun kembali bertarung. Sang kaisar berubah wujud menjadi semacam gorilla raksasa. Alex berhasil menancapkan belati suci kepadanya. Ketika sang kaisar kembali berubah wujud menjadi manusia, ia mencabut belati suci dan melemparkannya kepada Rick, tapi meleset. Belati suci patah.

Secara ajaib, Jenderal Yang dan Choi tidak tewas. Mereka menyerang Lin dan Evy, tapi kemudian tewas besama-sama di semacam roda penggerak. Rick yang bertarung melawan sang kaisar berhasil menusukkan belati k eke jantungnya. Hal itu membuat sang kaisar musnah, demikian pula tentara mummy terracotta-nya. Pasukan Jenderal Ming pun tertebus dan bisa pergi ke alam lain dengan tenang.

Film berakhir dengan suasana di klub Imhoteps milik Jonathan. Di sana, Alex dan Lin sedang berdansa. Karena sebelumnya telah berjanji, Jonathan menyerahkan kepemilikan klub kepada “Mad Dog” Maguire”. Dengan membawa berlian “Mata Shangri-La”, ia sendiri memilih pergi ke Peru dengan alasan di sana tidak ada mummy. Tapi ada keterangan narasi sebagai penutup: “tak lama kemudian mummy ditemukan di Peru”. Tentu ini menandakan kemungkinan adanya sekuel lanjutan dari serial sukses ini.

Kritik Film

Bagi saya, film ini adalah antithesis dari dua film sebelumnya yang sangat menarik. Memang, pendapatannya fantastis, hampir empat kali lipat dari biaya produksinya. Akan tetapi, ada sejumlah ekspektasi saya yang tidak terpenuhi di film ini.

Satu yang pertama adalah digantinya pemeran utama wanita. Dari tadinya Rachel Weisz menjadi Maria Bello. Padahal, aktor utamanya tetap sama yaitu Brendan Fraser. Demikian pula karakter Jonathan Carnahan pun tetap diperankan oleh aktor yang sama yaitu John Hannah. Konon, itu karena sang aktris baru saja melahirkan ditambah ia memiliki masalah dengan naskah skenarionya.

Hal ini membuat kontinuitas film dari sekuel sebelumnya terasa terganggu. Selain itu, maaf-maaf saja, entah kenapa casting memilih Maria Bello, yang dari segala segi sangat jauh dibandingkan Rachel Weisz. Selain kalah cantik, tentunya juga kalah seksi dan sensual. Apalagi kalau mengingat kembali The Mummy Returns (2001) dimana ada adegan Weisz tampil seronok sebagai Nefertiri. Huaduh… nyesel abis…

Kalau pun ada hiburan, justru bagi saya penampilan Jessey Meng sebagai Choi, wakil komandan Jenderal Yang bisa menjadi ‘obat mata’. Postur tubuh dan wajahnya begitu pas dalam balutan seragam militer China. Sayang, perannya kurang dioptimalkan dan cuma menjadi pelengkap saja, bahkan di kalangan karakter antagonis. Ibu dan anak perempuannya yang penyihir sebagai karakter protagonis tampaknya dimaksudkan sutradara Rob Cohen sebagai magnet penarik. Bahkan walau karakter Zi Yuan diperankan oleh aktris kenamaan China Michelle Yeoh, masih terasa kurang gereget. Justru yang agak lumayan malah anaknya Lin yang diperankan oleh Isabella Leong. Meski bagi saya masih terasa kurang sensual dibandingkan Rachel Weisz. Bayangkan, ada tiga aktris sekaligus di film ini, tapi tetap tidak mampu menandingi sensualitas Rachel Weisz.

Selain soal karakter aktris, karakter aktor Alex O’Connel putra pasangan Rick dan Evelyn tampil memadai. Walau tetap asja justru Rick-lah pusat utama perhatian film ini. Karakter John seperti biasa tampil konyol dan menjengkelkan, tapi justru menghibur. Satu yang disayangkan justru penampilan Jet Li sebagai Kaisar Qin Shi Huang justru efektif cuma beberapa menit di awal film dan di akhir film. Selebihnya, karakternya sebagai mumi sang kaisar adalah hasil rekayasa CGI. Anthony Wong sebagai Jenderal Yang yang sejatinya adalah pemeran pembantu dari aktor antagonis utama malah tampil dominan dan bagus.

Special effect yang menarik bagi saya ada dua. Selain pembangkitan mumi yang memang jadi ciri khas serial film ini, juga sekumpulan yeti yang tampak natural. Kalau adegan laga dan aksinya tergolong biasa untuk film tahun 2008. Adegan salju longsor yang rumit sebenarnya lumayan, sayang kalah sensasinya dibandingkan badai pasir di The Mummy (1999) dan tsunami air sungai di The Mummy Returns (2001). Apalagi di dua sekuel terdahulu diimbuhi animasi sosok wajah sang mummy Imhotep di dalamnya.

Pemandangan yang membuat saya cukup wow adalah penggambaran Shangri-La. Walau tidak sehidup Ravendell di serial The Lord of The Ring. Dan tentu saja, sekali lagi kekhasan serial film ini adalah bangunan kunonya yang benar-benar tampak realistis dan menunjukkan kemegahannya. Bila di dua film sebelumnya berlatar Mesir Kuno, di film ini berlatar China Kuno. Demikian pula adegan pertempurannya lebih memuaskan dan lebih lama daripada di sekuel sebelumnya. Peletakannya di penghujung film membuatnya menjadi klimaks yang bagus.

Kekurangan sudah pasti ada dan agak menyolok dibandingkan sekuel film sebelumnya. Salah satu yang terlihat adalah saat pasukan Jenderal Yang tiba di Himalaya dengan menumpang pesawat yang jelas merupakan OV-10 Bronco. Ada dua kesalahan di situ. Pertama, pesawat ini jelas tidak akan bisa mencapai pegunungan Himalaya yang kencang anginnya dan juga tidak bisa mendarat begitu saja di salju. Kedua, pesawat ini bukan pesawat angkut, sedangkan di film diperlihatkan Jenderal Yang membawa seregu pasukan. Ditaruh di mana?

Demikian pula tembak-menembak di pegunungan Himalaya, agak membingungkan karena justru di gunung bersalju hal ini berbahaya karena bisa menyebabkan longsor. Longsornya salju di gunung juga bukan karena tembak-menembak, tapi semata kejadian alam. Sebagai pembanding, bisa menyaksikan film Vertical Limit yang lebih realistis soal pendakian gunung Himalaya.

Tapi paling aneh adalah saat Jenderal Yang dan Choi yang dibom dari udara oleh Jonathan tidak tewas. Mereka berdua cuma luka ringan. Konyolnya, keduanya malah mati dengan cara sederhana: tergilas roda turbin penggerak. Kemunculan dan kematian keduanya di akhir film seperti tergesa-gesa dan dipaksakan. Mungkin karena masalah durasi.

Secara umum, jalinan ceritanya yang kuat dan bagus membuat film ini sangat menghibur. Menarik bahkan untuk disaksikan berkali-kali. Dan seperti saya bilang di atas, tampaknya pasar sependapat. Dengan biaya produksi ‘hanya’ US $ 145 juta, film ini meraup pendapatan lebih dari US $ 400 juta. Wow kan?

Leave a Reply