Resensi Film-Bhayu MH

Thor

Year : 2011 Director : Kenneth Branagh Running Time : 114 mins. Genre : , , , ,
Movie review score
4/5

Thor adalah dewa petir dalam legenda bangsa Norwegia Kuno. Ia dikenal luas dalam kepercayaan Proto-Indo-Eropa kuno, termasuk di Jerman dan Skandinavia. Terutama semasa kerajaan Viking Kuno. Tak ada yang peduli lagi pada keberadaannya yang dianggap cuma mitos dan legenda. Apalagi di dunia modern seperti sekarang ini.

Sutradara Kenneth Branagh dengan dukungan dana 150 juta dollar AS dari Marvel Studios membawa legenda kuno tersebut ke masa kini. Dengan teknologi yang sudah sangat modern dewasa ini, kita ternyata masih bisa dibuat kagum pada kekuatan supernatural. Kecanggihan Computer Graphic Imagery (CGI) membuat dunia (realm) Asgards tempat para dewa bermukim terlihat sangat mengagumkan. Bagi pemerhati film, mungkin sulit mengharapkan kejutan bangunan supermegah lagi setelah adanya film semacam trilogy Lord of The Ring atau Gladiator. Namun, ternyata Thor mampu menghadirkan nuansa berbeda dengan istana para dewa yang mewah. Walau cerita fantasi seperti ini sudah pasti berujung pada “jagoan pasti menang”, namun jalan ceritanya masih cukup menarik.

Dimulai dengan penggambaran perang di masa kuno, dimana Odin Raja Asgard melancarkan perang melawan the Frost Giant dari Jotunheim. Di bawah pimpinan Laufey, para raksasa es itu berniat menguasai kesembilan dunia , dimulai dari Bumi. Odin dan balatentaranya berhasil mencegahnya serta mengambil sumber kekuatan mereka: Casket of Ancient Winters. Konon, karena pusaka kuno inilah Bumi pernah mengalami zaman es.

Di masa kini, Thor bersiap untuk mengambil tahta Asgard dari ayahnya yang menua. Tetapi upacara penobatannya terhalangi oleh kemunculan tiba-tiba tiga Frost Giant yang mencoba mengambil kembali Casket. Karena marah, Thor menyerbu ke Jotunheim bersama sahabatnya Sif dan the Warriors Three: Volstagg, Fandral dan Hogun. Adiknya Loki yang sebenarnya adalah orang yang bertanggungjawab meloloskan tiga raksasa es ke dalam istana Asgard pun turut serta. Mereka hampir saja dikalahkan oleh Laufey dan tentaranya kalau saja Odin tidak turun tangan. Maka, rusaklah perdamaian semu antara Asgard dan Jotunheim yang telah berlangsung ratusan tahun.

Karena marah, Odin melucuti ke-dewa-an Thor dan membuangnya dari Asgard. Palu godamnya yang bernama Mjolnir turut dibuang tapi ke tempat berbeda. Film ini menceritakan bagaimana Thor sang putra mahkota Asgard beradaptasi saat diasingkan ke Bumi. Dan dalam pengasingan itu Thor terlibat kisah asmara singkat dengan Jane Foster, seorang astrofisikawan. Itu terutama karena –kebetulan- Jane bersama mentornya Dr. Erik Selvig dan asistennya Darcy-lah yang menemukan Thor di New Mexico saat dibuang dari “langit”.

Di Bumi, Thor yang semula sombong mendapat pelajaran. Tanpa kekuatan dewanya, ia bukan apa-apa. Sementara konflik terus terjadi di Asgard, terutama menghadapi ancaman penyerbuan dari Jotunheim. Apalagi tiba-tiba Odin jatuh dalam “Odin’s Sleep” yang tak diketahui waktunya. Karena Thor sedang diasingkan, maka tak ada pilihan lain selain mengangkat Loki sebagai Raja. Sayangnya, Loki kemudian tahu bahwa dia sebenarnya anak Lafey yang diadopsi Odin saat perang dahulu. Ini menimbulkan tanda-tanya, kepada siapakah kesetiaan Loki dilabuhkan? Sementara Loki sendiri malah mengirimkan the Destroyer ke Bumi untuk menghancurkan Thor dan para sahabatnya yang menyusul. Heimdall sang penjaga gerbang Bifrost yang menghubungkan Asgard dengan dunia lain pun dipaksa memilih pihak. Thor dan teman-temannya berupaya menyelamatkan dua dunia sekaligus: Asgard dan Bumi.

Seperti saya bilang di awal, efek khusus film ini mengagumkan. Penggambaran Asgard cukup menunjukkan kedewaannya. Sayangnya para raksasa es tampak biasa saja, seperti manusia batu di The Hobbit: Unexpected Journey. Demikian pula plot cerita di Bumi terlalu sederhana. Bagaimana mungkin pemerintah AS yang digdaya diam saja menyaksikan ada invasi alien? Bukannya mengirim balatentara malah para agen rahasia yang dikirim. Bisa jadi karena memang itulah tuntutan di komiknya. Karena seperti terlihat di akhir film, S.H.I.E.L.D. kemudian turut campur. Inilah lembaga “hantu” pemerintah AS yang kemudian memayungi The Avengers.

Leave a Reply