Resensi Film-Bhayu MH

Transcendence

Year : 2014 Director : Wally Pfister Running Time : 119 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Film ini berkisah tentang seorang ilmuwan bernama Dr. Will Caster (Johny Depp) yang penasaran tentang asal-muasal dunia. Ia menjadi bagian dari tim yang membuat komputer super yang mampu berpikir sendiri dan memiliki kesadaran mandiri, yang dikenal sebagai “sentient computer”. Will memprediksi bahwa komputer semacam itu akan membuat singularitas teknologis atau kesatuan segala hal berbasis teknologi. Ia menyebut fenomena itu sebagai “Transcendence”. Istrinya Evelyn (Rebecca Hall), sangat mendukung idenya walau banyak orang lain meragukannya. Ia bergabung dengan suaminya di kebun percobaan mereka dimana ia mengumpulkan serpihan tembaga yang akan menggeneralisasi “Faraday cage” untuk memblokir radiasi elektromagnetik.

Tanpa diduga, segerombolan orang yang menamakan dirinya “Revolutionary Independence from Technology” (R.I.F.T.) menyerang dan menembak Will dengan peluru berlapis polonium. Tidak hanya itu, mereka juga melancarkan rangkaian serangan terhadap seluruh laboratorium penelitian kecerdasan buatan (AI=Artificial Intelligence) di seluruh negeri. Karena tertembak, Will hanya punya waktu tak lebih dari sebulan untuk hidup.

Dalam kebingungan dan putus asa, Evelyn berencana mengunggah kesadaran Will ke dalam quantum computer yang dikembangkan proyek yang mereka kerjakan. Sahabatnya Max Waters (Paul Bettany) yang sesama peneliti mempertanyakan tindakan tersebut. Ia menganggap hal itu berbahaya. Tetapi Evelyn jalan terus dengan rencananya. Karena baginya, tindakan ini akan menyelamatkan Will. Paling tidak, kesadaran dan pikiran Will akan tetap hidup meskipun tubuhnya mati. Bahkan bisa jadi kecerdasannya akan terus berkembang karena terkoneksi ke internet. Max berupaya meyakinkan Evelyn bahwa kecerdasan komputer itu bukanlah Will. Evelyn bersikukuh menyambungkan kecerdasan komputer itu ke internet melalui satelit. Ia juga memaksa Max untuk pergi.

Dengan segera Max berhadapan dengan R.I.F.T., terutama setelah ia diculik dan dipaksa bergabung. Ia diyakinkan oleh Bree (Kate Mara), pimpinan teroris anti kecerdasan buatan tersebut. Pemerintah yang juga mencurigai aktivitas Will yang telah diunggah kesadarannya ke komputer super berencana menggunakan kelompok teroris sebagai kambing hitam.

Transcendence-Johnny-Depp-2014-ImagesDengan bantuan Evelyn yang membeli sebuah kota bernama Brightwood, Will membangun kota berteknologi tinggi. Uangnya didapat dengan mudah dari pasar saham yang dimanipulasi sistem super komputer berotak Will. Kota baru berteknologi tinggi itu segera dikenal luas karena membangun industri berbasis teknologi tinggi di bidang energi, kedokteran, biologi dan nano-teknologi. Tetapi yang paling menarik adalah kemampuan teknologi itu menyembuhkan segala jenis penyakit, nyaris seketika. Maka, berbondong-bondonglah orang-orang datang ke kota itu ingin disembuhkan. Tetapi yang tidak diketahui oleh mereka, bahwa dengan menyerahkan diri untuk diperbaiki sel-selnya dengan partikel nano, mereka memberikan kontrol kepada super-komputer untuk mengendalikan pikirannya. Perlahan tapi pasti, Will membentuk pasukannya yang terdiri dari orang-orang yang telah disembuhkan penyakitnya, tetapi tubuh dan pikirannya terkontaminasi partikel nano.

Agen FBI Donald Buchanan (Cillian Murphy) dibantu ilmuwan pemerintah Joseph Tagger (Morgan Freeman), berupaya menghentikan penyebaran teknologi ciptaan Will itu. Super-komputer Will dengan cepat mempengaruhi seluruh teknologi komputer jaringan di dunia. Pihak R.I.F.T. berupaya mengembangkan semacam virus komputer yang akan menghapus kode sumber Will sekaligus membunuhnya. Sebagai efek sampingnya, peradaban berbasis teknologi akan hancur. Terjadi dilema moralitas dan kepentingan di sini, karena super-komputer Will menjanjikan terhentinya polusi, penyakit dan kematian manusia. Semua hal di Bumi akan diubah menjadi partikel-nano yang terhubung dengan super-komputer Will sebagai otak pengendali.

Ketika Evelyn kembali ke pusat kendali penelitian di Brightwood, super-komputer Will menunjukkan bentuk tubuh barunya yang identik dengan Will manusiawi yang telah mati. Will menyambut Evelyn tetapi segera sadar bahwa ia membawa virus untuk menghancurkannya. FBI dan para aktivis R.I.F.T. mencoba menyerang kota Brightwood sebagai pangkalan super-komputer Will dengan meriam dan mortir. Tetapi mereka dapat dikalahkan dan malah melukai Evelyn.

Will lantas memberikan pilihan kepada Evelyn, apakah ia ingin tubuhnya disembuhkan dengan partikel-nano atau kesadarannya diunggah ke super-komputer. Setelah diancam oleh Bree untuk mengunggah virus atau ia melihat temannya Max tewas, Will menunggu. Evelyn mencoba membujuk super-komputer Will bahwa tak seorang pun layak mati karena kesalahan mereka. Will memilih untuk menyelamatkan orang yang dicintainya daripada menyelamatkan peradaban berteknologi.

Ketika sekarat, Will mencoba menjelaskan kepada Evelyn apa yang dilakukannya adalah untuk Evelyn. Menyelamatkan planet seperti keinginannya, mempelajari rahasis semesta. Evelyn menyadari bahwa meskipun telah menjadi super-komputer, itu memang Will dan ia melakukannya hanya untuk sang istri tercinta. Virus itu lantas membunuh Will dan Evelyn. Teknologi global hancur dan listrik padam total.

Tiga tahun setelahnya, di dalam kebun rumah kaca Will dan Evelyn di Berkeley, Max menyadari bahwa bunga matahari adalah satu-satunya tanaman yang berbunga di sana. Setelah meneliti lebih seksama, Max melihat bahwa setetes air yang jatuh dari bunga matahari itu secara seketika membersihkan minyak. Akhirnya Max sadar bahwa Faraday cage juga melindungi contoh dari partikel-nano Will.

Kritik Film

Terus-terang, film ini njelimet. Saya yang sangat menyenangi genre sci-fi saja agak mikir saat menontonnya. Tetapi ada satu hal yang jadi panduan saya, setiap kali menyaksikan film (atau membaca buku) apa pun kita harus punya pikiran terbuka. Dengan begitu, tidak akan sulit mencerna apa pun yang dihidangkan di hadapan kita.

Meski berbeda jalan cerita, tetapi logika sci-fi-nya mirip dengan Source Code (2011). Kesamaannya adalah pada peleburan batas dunia nyata dengan dunia partikel. Lucy (2014) sebenarnya juga punya kesamaan pola cerita, tetapi berbeda stimulannya. Di film tersebut, manusia menjadi “super” dengan mengkonsumsi obat sejenis stimulan yang kategorinya masuk obat terlarang. Sementara di film ini, justru kecerdasan komputer ditingkatkan begitu rupa hingga bisa mandiri dan berkembang seperti makhluk hidup. Dan sebaliknya, kesadaran Will penciptanya dicangkokkan ke dalam super-computer ciptaannya. Justru kalau mau dibandingkan, meski bukan jadi alur cerita utama, kesadaran Dr. Arnim Zola yang dimasukkan ke super-computer S.H.I.E.L.D. sebagai bagian rencana Hydra menguasai dunia dalam Captain America: The Winter Soldier (2014) lebih mirip.

Saya menyukai ide dasarnya yang menurut saya brilian. Tetapi sayangnya, eksekusinya kurang tuntas. Jembatan ide Will dengan perwujudan dirinya yang melebur sebagai otak super-computer menjadi nano-partikel sangat kurang dijelaskan.

R.I.F.T. yang melawan Will, baik yang masih sebagai manusia maupun yang sudah maujud sebagai super-computer juga tidak dijelaskan latar-belakangnya. Penonton ‘dibajak’ dan diajak begitu saja untuk masuk dalam kancah pertarungan mereka. Tentu saja itu ‘tidak fair’.

Karena itu, saya hanya memberi ‘nilai tengah’ alias 3 dari 5. Yah, sedang-sedang saja. Lumayan untuk hiburan.

Leave a Reply