Resensi Film-Bhayu MH

Underworld: Awakening

Year : 2012 Director : Måns Mårlind, Björn Stein Running Time : 88 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Film ini adalah serial dari kisah Underworld. Perseteruan antara vampire dan lycans (manusia serigala) memasuki babak baru. Di film edisi sebelumnya, Underworld: Rise of The Lycans (2009), manusia menyadari keberadaan dua ras lain selain homo sapiens. Maka, kemudian dilakukan pembersihan yang mungkin bisa disebut “race cleansing” alih-alih “ethnic cleansing”. Kejadian tersebut dikisahkan di awal film dalam bentuk kilas balik (flash back). Sehingga, bagi yang belum pernah menyaksikan tiga film dari serial ini sebelumnya masih akan bisa mengikuti jalannya cerita.

[spoiler alert!]

Tidak sulit mengikuti jalan cerita film ini, karena memang kisahnya cuma pertempuran antara dua ras itu. Hanya saja, di film episode ini dikisahkan kedua ras terpaksa bersembunyi karena manusia berhasil mengeliminasi sebagian besar di antara mereka. Di film terakhir, Selena (diperankan oleh Kate Beckinsale) dikisahkan terpisah dari kekasihnya Michael Corvin dikarenakan bom ultraviolet yang diledakkan manusia. Berbeda dengan Selena yang vampire, Michael adalah ras baru campuran keduanya. Sehingga ia lebih kuat. Lycans sendiri merupakan mutasi dari werewolves, sehingga ia bisa berubah bentuk kapan pun menjadi manusia atau serigala. Sementara werewolves cenderung tidak bisa mengontrol perubahan dirinya, dimana ia biasanya berubah menjadi serigala di malam bulan purnama.

Di edisi ini, Selena tersadar sudah berada dalam satu inkubator es di sebuah laboratorium dan dirinya disebut “Subyek 2”. Sementara “Subyek 1” kemudian berhasil meloloskan diri dan membebaskan Selena. Tadinya, ia mengira “Subyek 1” itu adalah Michael, namun ternyata seorang anak perempuan. Keistimewaan dari mereka adalah saling terhubung sehingga bisa melihat melalui mata subyek yang lain. (Saya mau tak mau teringat pada Resident Evil saat Selena mencoba kabur dari laboratorium).

Saat Selena kabur, ia kemudian berjumpa dengan seorang pemuda yang ternyata putra tetua kelompok vampire yang tersisa. Selena dibawanya ke tempat persembunyian kelompok itu di bawah tanah. Namun, kehadiran Selena ditolak karena di film episode sebelumnya, Selena membunuh beberapa di antara para tetua vampire itu. Tindakannya itu karena ia merasa dikhianati. Kedatangan Selena dengan membawa “Subyek 1” yang ternyata anaknya sendiri dari Michael itu malah membuat markas rahasia para vampire terendus oleh musuh mereka, para Lycans.

Sementara itu, ras Lycans berhasil mengembangkan sejenis vaksin yang membuat mereka jauh lebih kuat. Justru dari darah dan DNA Selena serta anaknya si “Subyek 1” (serta kemudian diketahui juga ada bagian dari darah Michael), dikembangkanlah serum baru itu. Maka, muncullah generasi Lycans yang beberapa kali lebih besar ukurannya, otot lebih kuat dan cepat berkembang serta yang paling penting adalah mampu segera memulihkan diri sendiri apabila terluka. Lycans mampu melakukan ini karena mereka mendirikan perusahaan bernama “Antigen” yang berafiliasi dengan pemerintah. Dengan demikian mereka punya akses ke laboratorium canggih dan bahan-bahan kimia berkualitas, selain tenaga ahli dan dana tentunya.

Adegan-adegan selanjutnya cukup menarik dari segi special effect. Adegan pertempuran dan perkelahiannya keren. Cuma, memang tak ada yang baru. Seperti menonton kelanjutan trilogi The Matrix saja. Jalan ceritanya sederhana sehingga mudah disimak sambil makan camilan. Meski ada darah di mana-mana, namun terasa artifisial karena secara logika kita tahu ini cerita “komik” yang fiktif. Bagi saya, film ini lumayan sebagai tontonan. Hanya saja jangan berharap “got something” darinya. Karena film ini memang murni untuk hiburan. Mirip-mirip serial Breaking Dawn minus “menye-menye”-nya lah…

 

Leave a Reply