Resensi Film-Bhayu MH

Valkyrie

Year : 2009 Director : Bryan Singer Running Time : 124 mins. Genre : , , , , , , ,
Movie review score
1/5

Film ini mengangkat kisah dari kejadian nyata yang tidak banyak diketahui orang lain. Alkisah, di masa Hitler memegang tampuk pimpinan Jerman dan melaksanakan politik ekspansi dengan Perang Dunia II-nya, sebenarnya di dalam tubuh ketentaraan Nazi Jerman sendiri tidak semua orang setuju dengan pendiriannya. Salah satunya adalah Claus Schenk Graf von Stauffenberg. Dia adalah seorang perwira menengah berpangkat Kolonel yang memiliki pandangan kalau Hitler saat itu tengah membawa Jerman ke arah kehancuran. Maklum saja, ketika itu di tahun 1944 angkatan bersenjata Jerman tengah terdesak di mana-mana. Pada saat itulah, Stauffenberg berkomplot bersama sejumlah rekannya untuk menghentikan Hitler. Mereka berpandangan, satu-satunya cara adalah dengan membunuhnya.

Pembunuhan direncanakan dengan menaruh bom di dekat Hitler, saat sang tiran itu sedang memimpin sebuah rapat. Stauffenberg sendiri seringkali mengikuti rapat rahasia bersama kelompok kecil para perwira menengah dan tinggi angkatan bersenjata Nazi Jerman. Rapat rahasia itu diadakan di markas rahasia Hitler di Berlin.

Nama “Valkyrie” yang jadi judul film ini merupakan nama sandi Operasi Militer Nazi Jerman yang justru diciptakan oleh Hitler. Maksud operasi ini adalah menyelamatkan Jerman apabila di suatu saat kondisi negeri itu kacau karena serangan Sekutu. Hitler selaku Fuhrer memberi wewenang untuk mengambil-alih pimpinan negara kepada para pimpinan Pasukan Cadangan Angkatan Darat. Tentu saja, posisi Stauffenberg sebagai Kepala Staf Umum di Pasukan Cadangan Jerman akan memuluskan jalan mereka. Operasi rancangan Hitler itu diubah oleh kelompok Stauffenberg sehingga akan menjadikan mereka sebagai pimpinan negara pasca Hitler berhasil dibunuh. Tujuannya mulia, setelah menguasai Jerman, kelompok Stauffenberg berencana akan menghentikan perang.

Karena itu, meski peristiwa ini jarang diketahui orang awam, tapi bagi pasukan Sekutu, tentu saja tindakan Stauffenberg ini heroik. Sayangnya, rencana tersebut gagal. Bom memang berhasil diletakkan sendiri oleh Stauffenberg pada 20 Juli 1944 di bawah meja saat berlangsung rapat yang dipimpin langsung oleh Hitler. Tapi sang Fuhrer sendiri ternyata meninggalkan rapat lebih awal tanpa diketahui alasannya. Hal ini tidak diketahui oleh Stauffenberg karena ia justru lebih awal lagi meninggalkan lokasi markas rahasia Hitler yang disebut “Sarang Serigala”. Sehingga, saat bom meledak ia sudah tidak di tempat. Bom itu menewaskan dan melukai sejumlah perwira menengah dan tinggi dalam tubuh angkatan bersenjata Jerman.

Akibatnya, Hitler yang murka karena markas rahasianya diporak-porandakan melakukan penyelidikan dan pengejaran. Stauffenberg dan kelompoknya disingkap dan ditangkap. Mereka pun akhirnya dihukum mati.

Saya pikir, ini tidak menerabas “spoiler-alert!” karena cerita di film ini berangkat dari fakta sejarah. Jadi tanpa menonton filmnya pun Anda bisa mencari di sumber-sumber lain. Tak mungkin akhir cerita berubah Hitler jadi mati dan Stauffenberg menang misalnya. Yang dimungkinkan berbeda dalam film adalah perubahan titik berat penceritaan dan fokus pada detail dari kejadian.

Dalam film garapan Hollywood ini, Tom Cruise memang cukup berhasil memerankan kembali peran yang bukan sekali ini saja diangkat ke dalam film ini. Sebelumnya, sudah ada film lain berjudul Stauffenberg (2004) yang digarap oleh sutradara Jerman Jo Baier. Dalam film ini sang kolonel diperankan oleh aktor Jerman Sebastian Koch. Tentu saja, karena bukan buatan Hollywood, film ini tidak begitu dikenal khalayak.

Unsur action dan peperangan yang semestinya mengemuka pun tidak begitu tampak dalam film Jerman tersebut. Maka, yang diutamakan adalah unsur suspense-thriller-nya. Sementara bagi saya, Valkyrie terasa lebih dinamis, dengan aroma action ala film detektif yang lebih menonjol. Kalau menonton Stauffenberg serasa menonton Pemberontakan G-30-S/PKI garapan Arifin C. Noer, menyaksikan Valkyrie bak melihat Tom beraksi dalam trilogi Mission Impossible yang diperankannya. Tapi, secara psikologis, melihat pergulatan batin para aktor intelektual upaya kudeta terhadap Hitler tersebut akan lebih bernuansa dalam film buatan Jerman. Tentu saja, karena merekalah yang paling memahami kondisi negara dan orang-orangnya.

Terlepas dari filmnya, yang mungkin perlu diungkap oleh para ahli sejarah adalah latar belakang Stauffenberg melakukan tindakan nekat tersebut. Karena kudeta tersebut sepertinya punya unsur-unsur kesalahan perhitungan dan ‘over estimated’ terhadap kekuatan kelompoknya sendiri. Juga bisa jadi para perwira ‘nyeleneh’ (dari pandangan resmi angkatan bersenjata Jerman) itu mendapatkan sokongan dari pihak luar. Bisa jadi, mereka adalah binaan dari badan rahasia negara lain.

Asal tahu saja, salah satu faktor kekalahan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II adalah karena para insinyur handal mereka yang sebagian berdarah Yahudi berhasil disogok oleh CIA untuk mengungsi atau minta suaka ke A.S. Sehingga, segala keunggulan Jerman di atas kertas menjadi mubazir karena rencana pembuatan peralatan perangnya menjadi tidak bisa dieksekusi. Karena perang tidak hanya berlangsung di medan laga bersimbah darah dan peluh di tengah desingan peluru, tapi juga di sektor-sektor tak terlihat seperti diplomasi dan intelijen. Siapa tahu?

Catatan: Resensi ini pertama kali dimuat di blog harian LIFESCHOOL pada 1 Februari 2009.

 

 

Leave a Reply