Resensi Film-Bhayu MH

X-Men: First Class

Year : 2011 Director : Matthew Vaughn Running Time : 132 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
1/5

Bagi penggemar serial film franchise X-Men dan tentunya penggemar komiknya, akan terpuaskan dengan film ini. Saya yang tak pernah membaca komiknya memang agak bingung dengan asal-usul para mutant. Dan di film ini, justru diceritakan mengenai masa muda para tokoh utama X-Men, terutama sekali Magneto dan Profesor X.

Jalan Cerita

Kisah diawali di tahun 1944, di dalam kamp konsentrasi Nazi Jerman di wilayah pendudukan Polandia. Di sana, ada seorang remaja pria bernama Erik Lehnsherr yang marah saat dipisahkan dari ibunya. Kemarahannya membuat gerbang besi yang besar tertarik dan merepotkan tiga penjaga yang kewalahan menahannya. Dari jendela ruangannya yang terletak di ketinggian, Dr. Klaus Schmidt memperhatikan hal itu. Ia tahu bahwa anak itu mutant yang memiliki kemampuan telekinetic dengan kekhususan memanipulasi logam atau kekuatan magnetic.

Ia kemudian memanggil Lensherr ke ruangannya, memintanya untuk menggerakkan uang logam. Tetapi ia tak kunjung bisa. Dalam upaya menekan Lensherr agar mengeluarkan kekuatannya, Schmidt kemudian membunuh ibunya. Karena sedih dan marah, kekuatan Lensherr justru keluar. Ia menghancurkan ruangan penyiksaan dan membunuh dua penjaga. Sebagai hadiah atas keberhasilan Lensherr mengeluarkan kekuatan telekineticnya, uang logam Nazi yang tadi diminta untuk digerakkan dihadiahkan kepadanya.

Di tempat lain, tepat di sebuah puri keluarga di Westchester County-New York, seorang anak penghuninya menemukan ibunya berada di dapur. Tetapi ia tahu sosok itu bukan ibunya justru karena mengatakan akan memasak untuknya. Padahal, seumur hidupnya, sang ibu bahkan tak pernah masuk dapur sama sekail. Dengan kekuatan telepatinya, ia masuk ke kepala sosok yang menyusup itu dan memintanya mengungkap jati dirinya. Ternyata sosok itu juga anak mutant seperti dirinya. Ia lantas berubah ke sosok aslinya yang kulitnya bersisik dan berwarna biru. Mutant itu mengaku bernama Raven dan kelaparan. Karena kasihan, Charles Xavier yang gembira karena bertemu sesama mutant, lantas mengundang Raven yang tak punya keluarga untuk tinggal bersamanya sebagai adik angkat.

Pada tahun 1962, Lensherr yang sudah dewasa melacak Schmidt. Di saat bersamaan , Xavier lulus sebagai doktor dari University of Oxford dengan tesis tentang mutasi manusia. Sementara itu, di Las Vegas, agen CIA Moira MacTaggert mengintai seorang Kolonel Angkatan Darat A.S. yang masuk ke sebuah klub malam bernama “Hellfire Club”. Memanfaatkan peluang masuknya sejumlah gadis penghibur dan ikut menyusup bersama mereka, Moira melihat Kolonel Hendry masuk ke sebuah ruangan. Tetapi saat ia ikut masuk, ternyata Kolonel Hendry menghilang ke ruangan rahasia. Di sana ia menyaksikan fenomena dimana Kolonel Hendry diancam oleh para mutant. Dipimpin oleh Schmidt yang kini bernama Sebastian Shaw, Riptide yang mampu membuat angin puyuh menakuti Kolonel Hendry. Ia meminta agar sang kolonel setuju menempatkan sejumlah peluru kendali atau missile untuk menghadapi Uni Sovyet. Bersamanya juga ada mutant dengan kemampuan telepati Emma Frost serta mutant yang mampu melakukan teleportasi Azazel. Kolonel Hendry lalu dibawa ke Ruang Komando Perang Gabungan dengan teleportasi oleh Azazel. Ia menyarankan agar melakukan penempatan rudal nuklir di Turki. Upaya Moira memperingatkan atasannya sia-sia karena tak percaya Kolonel Hendry bisa melakukan perjalanan sejauh 10 mil dalam sekejap mata. Kemudian, saat meminta bayaran, Kolonel Hendry justru dibunuh oleh Shaw di yacht-nya.

Karena kebingungan menghadapi para mutant, MacTaggert mencari bantuan ahli dan menemukan nama Xavier. Ia kemudian membawanya ke rapat pimpinan di CIA, tetapi mereka malah dianggap ancaman oleh Direktur CIA McCone. Seorang agen CIA yang mengaku sebagai Kepala Divisi X membawa mereka pergi, dengan pengaruh dari telepati Xavier.

Dalam upaya melacak Shaw, Xavier dan MacTaggert berhasil menemukan yacht-nya di perairan. Mereka mengejarnya tetapi justru melihat adanya mutant lain yang juga menyerang yacht itu. Sementara pasukan militer penyerbu dengan mudah dikalahkan oleh Riptide. Karena bernafsu membunuh Shaw alias Schmidt, Lensherr memaksakan kekuatannya untuk menahan kapal selam yang dikendarai Shaw dan teman-temannya untuk kabur.

Xavier terjun ke air dan membujuk Lensherr, lantas membawanya ke Divisi X. Di sana, Lensherr, Xavier dan Raven bertemu ilmuwan muda Hank McCoy yang ternyata juga mutant dengan kelainan kaki yang berbentuk tangan sehingga bisa dipakai seperti tangan termasuk bergelantungan. Raven dan McCoy merasakan ada ketertarikan di antara mereka karena mutasi mereka tergolong aneh dan harus disembunyikan, berbeda dengan Lensherr dan Xavier yang wujudnya tetap manusia biasa.

Raven memberikan contoh darahnya kepada McCoy yang berupaya menciptakan serum penyembuh mutasi. Tetapi dengan sinis Lensherr mengatakan, justru kalau McCoy benar mencintai Raven, ia akan menerimanya apa adanya. McCoy sendiri juga merancang mesin bernama Cerebro, yang digunakan Xavier untuk mencari mutant-mutant lain di luar sana. Mereka berhasil menemukan dan merekrut sejumlah mutant remaja yaitu Angel Salvadore, Armando Muñoz, Alex Summers, dan Sean Cassidy. Tetapi satu orang mutant dewasa yang ditemui di bar menolak bergabung. Ia adalah Wolverine.

Di asrama Divisi X, para mutant remaja itu mencari julukan untuk diri mereka sendiri. Angel Salvadore memakai nama depannya Angel, Muñoz memilih nama Darwin, Summers sebagai Havok dan Cassidy dijuluki Banshee. Sementara Raven menggelari dirinya sebagai mutant dengan nama Mystique. Ia pun menyematkan nama Profesor X untuk Xavier dan Magneto untuk Lensherr.

Kelompok CIA dipimpin MacTaggert menguntit keberadaan Shaw. Mereka mendeteksinya akan menemui seorang Jenderal Uni Sovyet. Tetapi ternyata Shaw tidak ada di tempat dan hanya mengutus Emma Frost. Lensherr menyerbu masuk, membuat Xavier dan MacTaggert terpaksa mengikuti. Emma selain seorang telepath juga mampu merubah tubuhnya menjadi berlian, tetapi Lensherr berhasil membuatnya kembali menjadi bentuk manusia. Xavier membaca pikiran Frost dan mendapati rencana Shaw memicu Perang Dunia III. Tujuannya untuk menegakkan kekuasaan mutant di atas manusia.

Sementara Xavier dan Lensherr pergi, markas Divisi X diserbu oleh Shaw dan anak buahnya. Mereka membunuh semua penjaga manusia dan mengajak para mutant bergabung.Hanya Angel yang menerima, sementara Darwin pura-pura ikut. Tetapi saat Havok menyerang dan Darwin berupaya melindungi Angel, Shaw menangkap energi tembakan Darwin dan menggunakannya untuk membunuh Darwin.

Ketika kembali ke markas Divisi X yang hancur, Xavier sadar mereka tak aman lagi. Maka ia memutuskan membawanya ke puri pribadi milik keluarganya dan melatih mereka di sana. Selain dilatih oleh Xavier, McCoy juga membuat aneka peralatan untuk mengendalikan dan memaksimalkan kemampuan para mutant. Ia juga berhasil menciptakan serum, tetapi Raven menolaknya karena bujukan Lensherr. Sementara ia sendiri setelah memakainya sempat sembuh sebentar, tetapi kemudian malah mutasinya berkembang lebih parah. Ia yang tadinya cuma memiliki kaki berbentuk tangan, kini malah seluruh tubuhnya berbulu biru dan berwajah seperti singa.

Di Moskow, Shaw meyakinkan jenderal yang semula didekati Frost untuk mengirimkan peluru kendali berhulu ledak nuklir di Kuba. Ia memakai helm anti-telepati untuk menghindari Xavier yang ia ketahui keberadaannya dari Frost.

Baik gerombolan Shaw dan kelompok Xavier kemudian menuju Kuba. Di sana, dalam kejadian historis yang bernama “Insiden Teluk Babi” –tetapi di film ini dijadikan fiktif- angkatan laut Amerika Serikat sudah berhadapan dengan angkatan laut Uni Sovyet. Mereka memperingatkan kapal barang yang membawa rudal nuklir untuk tidak melewati garis batas. Dengan pesawat jet milik Xavier yang dirancang McCoy, menggunakan kemampuan Banshee sebagai sonar, mereka melacak keberadaan Shaw yang ternyata berada di kapal selam. Lensherr pun memakai kekuatan magnetiknya untuk mengangkat kapal selam itu keluar dari air. Para prajurit AS dan US terkejut melihat ada kapal selam terbang dan pesawat jet yang melampaui teknologi mereka.

Kapal selam maupun pesawat jet akhirnya jatuh ke pantai. Saat teman-teman lainnya berkelahi dengan sesama mutant pimpinan Shaw, Lensherr memburu Shaw yang berada di dalam reaktor. Ia masih berupaya meledakkan nuklir dengan menggunakan kekuatan mutantnya. Xavier mampu membuat Shaw yang helm anti-telepatinya dilepaskan menjadi kaku, tetapi helm itu malah kemudian dipakai Lensherr. Karena dendam masa kecilnya, dengan uang logam Nazi yang diberikan Shaw, ia membunuh orang yang pernah memerintahkan pembunuhan ibunya itu.

Tetapi para manusia lantas menganggap keberadaan para mutant yang sebenarnya hendak menyelamatkan mereka sebagai ancaman. Sehingga kedua belah pihak malah menembakkan rudal ke arah para mutant. Lensherr berupaya membalikkan rudal-rudal itu kepada penembaknya, tetapi berusaha dicegah oleh Xavier. MacTaggert yang muncul menembakkan pistolnya masih dalam upaya mencegah rudal-rudal itu ditembakkan ke kapal-kapal perang AS dan US. Lensherr menepis peluru, membuat rudal-rudal itu jatuh dan meledak di laut. Tetapi peluru itu kemudian berbelok dan mengenai tulang belakang Xavier. Kejadian inilah yang membuat Xavier lumpuh dan kemudian mengharuskannya berada di kursi roda sepanjang sisa hidupnya.

Menyadari perbedaan cara pandang mereka, Lensherr meski masih memakai seragam X-Men generasi pertama memutuskan berpisah dengan Xavier. Ia mengajak serta eks anak buah Shaw yaitu Riptide dan Azazel serta Angel yang bergabung saat masih di markas Divisi X. Mystique adik angkat Xavier pun memutuskan bergabung dengan Magneto, yang berpandangan mutant dan manusia tak bisa bekerjasama.

Di akhir film, Xavier berniat mengubah puri pribadinya menjadi sekolah khsusu mutant. MacTaggert yang sempat ikut ke puri itu berjanji akan merahasiakan lokasinya dan mendukung para mutant. Tetapi demi keamanan mereka, Xavier menghapus memori agen CIA itu. Ketika ditanya dalam sebuah rapat debriefing CIA, MacTaggert hanya mengaku mengingat sebuah ciuman saja dari kejadian itu. Di tempat lain, Lensherr yang kini menjadi Magneto membebaskan Frost dari tahanan.

Kritik Film

Jenius. Film ini memasukkan latar belakang sejarah nyata ke dalam jalinan cerita film yang fiktif. Bagi yang terlalu tinggi fantasinya, bisa-bisa terpengaruh mengira kejadian tersebut memang nyata adanya. Tetapi tentu saja penonjolan kemampuan mutant secara superhero justru mengingatkan penonton bahwa semua ini fiksi komikal belaka.

Penonton dibawa menjelajah ke masa lalu para mutant, sehingga yang tak pernah membaca komiknya mendapatkan pengetahuan tersebut. Cukup menarik melihat penggambaran di tahun 1944 dan 1962. Dimana detail para prajurit dan perlengkapannya digambarkan dengan sangat baik oleh tim produksi. Penonton di tahun 2011 saat film ini dirilis bisa melihat bagaimana tegangnya era Perang Dingin di masa itu. Dimana kedua belah pihak siap mempertaruhkan apa pun demi kehormatan negaranya.

Secara pribadi, saya menyukai penggambaran proses latihan para mutant menjadi superhero, generasi pertama atau first class dari X-Men. Ini menunjukkan kekuatan super mereka meski diperoleh sebagai semacam anugerah tanpa syarat tetapi pengoptimalannya memerlukan pembiasaan yang tidak mudah. Demikian pula proses penerimaan diri secara psikologis yang dialami Hank McCoy dan Raven Darkhölme menarik diamati.

Ini juga sekuel dalam serial film franchise X-Men yang paling seksi. Betapa tidak ada beberapa adegan memperlihatkan para gadis berpakaian dalam saja. Termasuk karakter Moira MacTaggert dan Emma Frost. Ini tentu pemandangan menyenangkan bagi para penonton pria.

Dan terakhir, skisma atau perpisahan dua sahabat Charles Xavier dan Erik Lensherr serta dua saudara Charles Xavier dan Raven Darkhölme terasa trenyuh. Tetapi penggambarannya dengan sudut ketegaran sangat bagus, tidak lantas jatuh jadi menye-menye seperti film drama. Walau tetap terasa nuansa kesedihan dan patah hati dari mereka. karena terpaksa berpisah hanya karena beda pendapat dan prinsip hidup. Ini mengajarkan, sebagai manusia atau pun mutant, prinsip haruslah dipegang teguh.

resensi film movie review bahasa Indonesia Bhayu

Leave a Reply