Resensi Film-Bhayu MH

X-Men: The Last Stand

Year : 2006 Director : Brett Ratner Running Time : 104 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
5/5

Dalam film ini, X-Men akan menghadapi situasi hidup-mati melawan kelompok Magneto. Terjadi perang sesama mutant, dimana X-Men justru berupaya melindungi manusia. Judul sekuel “The Last Stand” merupakan penggambaran dari situasi itu.

Jalan Cerita

Diawali dengan kejadian 20 tahun sebelumnya, dimana Charles Xavier dan Erik Lensherr menemui Jean Grey muda di rumah orangtuanya. Maksudnya tentu untuk mengajaknya menjadi murid Sekolah Khusus Mutant yang didirikan Xavier. Sepuluh tahun setelahnya, ayah dari industrialis Warren Worthington III menyadari kalau anaknya adalah mutant saat putranya sedang berupaya memotong sayapnya.

Di kemudian hari, Worthington Labs mengumumkan kalau mereka membuat serum penawar untuk menekan Gen-X yang menjadikan seseorang mutant. Ini menekan kemampuan istimewa mereka dan menyembuhkan mutant menjadi manusia normal. Tanpa diketahui publik, serum itu dibuat dari genome milik mutant muda bernama Jimmy. Ia sebenarnya adalah anak William Stryker yang memang dijadikan kelinci percobaan. Oleh ayahnya, ia memang diserahkan kepada Worthington dan ditahan di Pulau Alcatraz, bekas penjara keamanan maksimum.

Presiden mengumumkan program penyembuhan mutant itu, meminta para mutant mendaftarkan diri untuk mendapatkan serum buatan Worthington Labs. Banyak yang tertarik termasuk Rogue yang telah menjadi X-Men. Tetapi Lensherr yang telah menjadi Magneto menolaknya. Ia mendirikan Kelompok Persaudaraan Mutant untuk melawannya, sembari memperingatkan bahwa tindakan penyembuhan itu sebenarnya berujung pada pemusnahan ras mutant.

Dengan bantuan Mystique dan Pyro, Magneto merekrut anggota tim baru. Mereka adalah Callisto, Juggernaut dan Multiple Man. Saat berupaya membebaskan Multiple Man dalam mobil tahanan khusus, seorang tentara pengawal menembakkan senjata dengan peluru berisi serum penyembuh mutasi. Tembakan yang semula ditujukan pada Magneto dihadang oleh Mystique. Hal itu berakibat ia kehilangan kemampuan mutasinya dan menjadi manusia normal. Merasa Raven tidak lagi berguna untuknya, Magneto meninggalkannya.

Sementara itu, Cyclops yang masih penasaran dengan hilangnya Jean Grey tunangannya, mencoba melacak ke Danau Alkali. Sebagai informasi, di sekuel film sebelumnya yaitu X2 (2003), Jean mengorbankan diri dengan turun dari pesawat untuk menahan air bah sementara dengan tenaganya menghidupkan mesin jet yang macet. Ia lantas diterjang air bah dan tenggelam, tetapi tidak bisa dipastikan kematiannya karena mayatnya tak pernah ditemukan. Jean tiba-tiba muncul menemui Cyclops, tetapi saat mereka berciuman, Jean mulai menghancurkan Cyclops. Mencium adanya ketidakberesan, Xavier mengirimkan Wolverine dan Storm untuk menyusul ke Danau Alkali. Ketika mereka berdua tiba, tampaklah batu-batu yang mengambang secara telekinetic dan kacamata Cyclops. Sedangkan Jean ditemukan pingsan, sementara Cyclops menghilang.

Ketika kembali ke X-Mansion, Xavier menjelaskan kepada Wolverine bahwa ketika Jean mengorbankan dirinya, alter ego atau kepribadian gandanya terlepas. Namanya Phoenix, dimana kekuatan telepatiknya malah lebih kuat daripada Xavier dan berpotensi tak bisa mengendalikan diri untuk merusak.Wolverine tertarik pada kemampuan psychic Jean, tetapi saat wanita itu bangun, Wolverine tersadar bahwa ia sudah jadi pribadi berbeda dan telah membunuh Cyclops. Phoenix mengalahkan Wolverine dan kabur ke rumah masa kecil Jean Grey.

Di pihak lain, Magneto pun menyadari kebangkitan kembali Jean menjadi Phoenix melalui Callisto. X-Men tiba di rumah Jean bersamaan dengan Brotherhood of Mutants. Mereka berusaha membujuk Jean untuk berpihak kepada kelompok masing-masing. Tetapi saat Phoenix bangkit, ia malah menghancurkan rumah dan seisinya. Xavier yang berusaha melawan telepatinya pun dihancurkan. Phoenix lantas pergi bersama Magneto.

Kelompok mereka lantas memutuskan menyerang Worthington Labs. Magneto menggunakan kekuatannya untuk memindahkan jembatan Golden Gate guna menghubungkan Alcatraz dengan San Fransisco. Brotherhood of Mutants menyerang membabi-buta, dimana X-Men kemudian tiba untuk melindungi manusia. Para prajurit dan kelompok X-Men kalah jumlah dan nyaris kalah.

Tanpa diduga oleh Magneto, Beast mengendap-endap dan berhasil menyuntiknya dengan obat penyembuh mutasi. Tindakan itu menetralisir kekuatan magnetik Magneto. Jimmy dan Kitty Pryde pun berhasil selamat dari serangan Juggernaut. Pasukan bantuan militer tiba dan menyerang Jean, membuat alter-ego-nya Phoenix muncul dn mengamuk. Tak ada mutant yang mampu menghentikannya. Wolverine sadar, hanya dirinya dengan kemampuan menyembuhkan diri sendiri secara super cepat yang mampu mendekati Phoenix. Dan satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan membunuhnya. Wolverine yang sebenarnya jatuh cinta kepada Jean meraung menangisi kematiannya.

Beberapa waktu kemudian, Sekolah Xavier terus beroperasi dengan Storm sebagai Kepala Sekolah. Sementara Presiden A.S. menunjuk Beast sebagai Duta Besar untuk PBB. Rogue mengungkapkan kepada Bobby Drake bahwa ia telah memilih disuntik ramuan penyembuh mutasi. Dan di taman sebuah rumah sakit jompo, Magneto duduk sendirian di depan sebuah papan catur dengan buah catur bermagnet. Ia mencoba menggerakkannya dan ternyata buah catur itu bergerak sedikit. Hal itu menandakan kekuatannya mulai kembali.

Di bagian pasca credit-title, Dr. Moira MacTaggert sedang mengecek seorang pasien yang koma. Tetapi pasien itu lantas menyapanya dengan suara Xavier, membuatnya berdiri terpaku karena terkejut.

Kritik Film

Judulnya membuat bingung penonton awam seperti saya, seolah inilah sekuel film terakhir dari serial franchise film X-Men. Padahal tidak. Bisa jadi sutradara hanya bermaksud menggambarkan perjuangan para mutant hingga “titik darah penghabisan”.

Dari segi adegan pertempuran, film ini melibatkan paling banyak mutant, sehingga tidak satu per satu dikenali dan diberikan karakter. Mereka semua berada di pihak Brotherhood of Mutants. Agak tidak imbang dengan X-Men yang sedikit. Tetapi karena kualitas kemampuannya lebih tinggi, nyatanya jumlah banyak itu masih bisa ditandingi.

Karakter bintang di film ini adalah Jean Grey. Sayang kurang dijelaskan mengenai masa lalunya dan mengapa ia bisa bertransformasi menjadi Phoenix. Meski digambarkan lebih kuat terutama dari segi telepath-nya, sebenarnya kemampuan Jean dan Phoenix sama. Wanita itu hanya tampak seperti kerasukan. Ini berbeda dengan mutasi Hank McCoy awal yang berbeda dengan Beast kemudian akibat pemakaian serum buatannya sendiri. Penjelasan mengenai adanya alter-ego Jean hanya datang dari mulut Xavier tanpa penggambaran visual.

Demikian pula tewasnya Cyclops dan Xavier oleh Jean terasa aneh. Sebabnya hanya karena Jean yang telah jadi Phoenix memaksimalkan kekuatan otaknya yang kemudian meledakkan sel-sel di tubuh lawan yang dihadapinya. Tapi paling aneh adalah untuk membunuh Phoenix yang hebat, ternyata cuma ‘begitu doang’. Mengandalkan kemampuan regeneratifnya, Wolverine yang memang hidup sejak ratusan tahun lalu menusuk perut Phoenix, dan selesai. Ia mati.

Tapi ini fiksi, komik. Jadi, tak perlu serius-serius amat mengamati logikanya. Nikmati saja sebagai hiburan yang menyegarkan bagi seluruh keluarga.

Leave a Reply