Resensi Film-Bhayu MH

Yes Man

Year : 2008 Director : Peyton Reed Running Time : 104 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Petugas kredit sebuah bank bernama Carl Allen menarik diri dari dunia sesudah perceraiannya dengan bekas istrinya Stephanie. Meski temannya Pete dan Rooney berupaya mengajaknya melakukan berbagai kegiatan, Carl terus berusaha menolaknya. Ia berpandangan negatif terhadap dunia dan hidupnya. Hingga akhirnya ia tidak menghadiri pesta pertunangan Pete. Seusai pesta, Pete mendatangi rumah Carl yang dengan konyol beralasan lupa dimana menaruh telepon genggamnya. Pete pun mengingatkan kalau Carl terus seperti ini, hidupnya akan berakhir kesepian.

Tanpa diduganya, saat sedang istirahat makan siang di bangku taman depan kantornya, Carl didatangi seorang teman lamanya. Ia memprovokasi Carl agar mendatangi seminar motivasi bertajuk “Yes!” Meski semula ogah-ogahan, Carl akhirnya datang dan mendapatkan inspirasi dari sang guru Terrence Bundley. Ia pun diajak berubah dari “No Man” menjadi “Yes Man” dengan mengatakan “ya” kepada setiap kesempatan yang datang dalam bentuk apa pun.

Setelah seminar, ia didatangi seorang gelandangan yang hendak menumpang. Kurang ajarnya, si gelandangan juga meminjam telepon Carl hingga baterainya habis dan meminta seluruh uangnya. Ia pun terdampar di Elysian Park. Belum cukup kesialannya, mobilnya mogok kehabisan bahan bakar. Memaksanya kembali turun ke kota dengan berjalan kaki.

Di pom bensin, ia bertemu seorang wanita jenaka yang memotretnya tengah mengisi bahan bakar ke jeriken. Wanita yang mengaku bernama Allison itu kemudian bersedia mengantarkan Carl dengan skuternya kembali ke mobil yang ditinggal di bukit. Allison sempat mencium bibir Carl sebelum pergi, meninggalkan Carl yang termangu.

Setelah pengalaman bertemu Allison, Carl jadi bersemangat, walau konyolnya ia tidak tahu bagaimana musti menghubungi gadis itu lagi. Tetapi saat ia menolak oral seks dari tetangganya seorang nenek bernama Tillie, ternyata ia mengalami kesialan. Ia jatuh berguling-guling dari tangga saat melarikan diri dan nyaris diserang anjing. Ketika menyadari akibat berkata “tidak”, Carl pun kembali kepada Tillie. Meski ngeri dengan pikiran bercinta dengan nenek, ternyata Tillie ahli memuaskannya.

Sejak itu, Carl menyambar setiap kesempatan yang datang kepadanya. Ia memperbaiki hubungan dengan Pete dan Rooney, serta membangun hubungan pribadi dengan atasannya Norman. Carl juga mengambil kursus bahasa Korea yang kemudian berguna saat menolong Lucy tunangan Pete saat berhadapan dengan perancang gaun pernikahannya yang ternyata orang Korea. Di saat sedang berada di toko perancang pernikahan, seorang lelaki hendak bunuh diri dengan melompat keluar jendela gedung bertingkat itu. Carl mencegahnya dengan bernyanyi menggunakan gitar yang baru saja dikuasainya. Dengan nekat ia juga mendaftar kontak jodoh dan bertemu gadis Iran. Di pekerjaan, ia dipromosikan karena semua kredit yang ia setujui tak ada yang macet sehingga memberikan keuntungan besar bagi bank. Ia pun akhirnya menerima brosur yang disebarkan seorang pemuda di luar coffee shop yang biasa didatanginya. Padahal selama ini ia tidak pernah mau menerima. Dan ia malah memutuskan datang ke acara yang tertulis di brosur itu. Di sana, ada pertunjukan panggung oleh grup musik aneh bernama Munchausen by Proxy. Ternyata, vokalis utamanya adalah Allison.

Keduanya saling tertarik dan mulai berkencan. Carl tertarik pada keunikan Allison sementara Allison terkesan pada spontanitas Carl. Dalam berkencan, mereka pun mengambil tindakan spontan, termasuk tiba-tiba pergi keluar kota tanpa tujuan pasti dengan pesawat pertama yang ada. Dan mendaratlah mereka di Lincoln-Nebraska. Mereka mengunjungi museum telepon yang sangat sepi pengunjung. Ketika berteduh dari hujan, Allison meminta Carl pindah tinggal bersamanya, tetapi Carl mengambil jeda sebelum mengatakan ya, menunjukkan keraguannya.

Ketika sedang mengecek jadwal pesawat kembali ke kota mereka, keduanya ditangkap oleh agen FBI. Dengan konyolnya, mereka dituduh sebagai teroris. Mereka menghubungkan Carl yang mengambil kursus pilot, belajar bahasa Korea sebagai sarana berhubungan dengan Korea Utara, menyetujui pinjaman kepada perusahaan pupuk yang bisa digunakan sebagai bom, bertemu gadis Iran, serta membeli tiket pesawat di saat terakhir. Pete yang seorang pengacara membebaskannya dengan menerangkan motivasi Carl melakukan itu karena sebuah seminar. Tetapi justru karena itu Allison meragukan komitmen Carl kepada dirinya tulus, karena Carl akan mengatakan ya pada apa pun. Allison pun meninggalkan Carl setelah dibebaskan dan menolak mengangkat telepon darinya.

Kehidupan Carl berubah kembali jadi buruk dan ia nyaris lupa pada malam pengantin Lucy. Ia lantas diingatkan dan dengan bantuan teman-temannya berhasil membuat pesta kejutan. Setelah pesta, Carl menerima telepon dari Stephanie yang mengatakan kalau pacarnya meninggalkan dia. Stephanie pun curhat kepada Carl dan memintanya tinggal semalam bersamanya. Saat ia mengatakan tidak, keberuntungannya memburuk dan ia berniat memutuskan komitmennya dengan kovenan. Carl pun meminjam motor Ducatti milik perawat pria yang kreditnya diluluskan banknya.

Dengan motor itu, Carl pergi ke gedung pertemuan dan bersembunyi di jok belakang mobil beratap terbuka Terrence. Ketika Carl muncul, Terrence terkejut dan menyebabkan kendaraannya mengalami kecelakaan lalu-lintas. Keduanya dibawa ke Rumah Sakit dan dirawat bersebelahan. Setelah sadar, Terrence menyatakan kepada Carl bahwa tidak ada kovenan atau sumpah kutukan. Ini membuka pikiran Carl bahwa ia tidak harus secara membabi-buta menyatakan ya pada apa pun tanpa kecuali, dan ia boleh mengatakan tidak bila diperlukan. Carl lantas mencari Allison yang sedang melatih kegiatan unik “memotret sambil jogging” (joggography) dan mengakui bahwa ia memang belum siap untuk hidup bersama, tetapi mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh mencintai Allison. Mereka pun berbaikan kembali.

Di akhir film, Carl dan Allison terlihat mendonasikan satu truk penuh pakaian yang masih bagus kepada penampungan gelandangan setempat. Ternyata, pakaian-pakaian itu mereka dapatkan dari para peserta seminar “Yes!”. Terrence terkejut mendapati para pesertanya hadir dengan telanjang.

Dalam perjalanan berikutnya yang ditampilkan di tengah credit title, Carl dan Allison terlihat menaiki pakaian beroda 31. Semacam sepatu roda tetapi dipakai di kaki dan tangan dan digunakan dengan cara telungkup, turun dari jalan di gunung menuju ke bawah. Pakaian olahraga unik itu dikisahkan merupakan salah satu penemuan yang kreditnya disetujui oleh Carl. Dalam kehidupan nyata, pakaian itu memang penemuan baru oleh perancang Prancis Jean-Yves Blondeau.

Kritik Film

Bagi penggemar Jim Carrey, film ini bisa mengobati rasa kangen. Walau sebenarnya, aktingnya tidak mengalami perkembangan berarti. Untunglah script-nya kuat, sehingga jalan ceritanya enak diikuti.

Untuk film komedi-drama, pesan moral film ini kuat. Ia mengandung unsur motivasi bahwa kehidupan harus dijalani dengan positif. Meski mungkin tidak segera terlihat hasilnya, tetapi keyakinan bahwa positif hanya bisa berakhir positif membuat hidup lebih baik.

Meski terlihat terlalu banyak kebetulan, toh hidup karakter Carl yang diperankan bagus oleh Jim Carrey terlihat mengalami metamorfosis. Walau tentu saja ada semacam pe-lebay-an atas peran motivator. Cara penempatan karakter Allison juga unik, dengan segala kebiasaannya yang aneh. Cuma, di dunia nyata, saya tidak yakin ada orang seperti dia.

Boleh dibilang, film semacam sisi gelap dari komedi ala Hitch (2005). Sama-sama mengajarkan “tips berkencan” bagi pria, tetapi dengan cara yang konyol. Pendek kata, sebagai hiburan, lebih dari lumayan. Ditambah lagi bila Anda mampu juga berkata “yes” seperti dianjurkan Terrence Bundley. 😀

 

 

Leave a Reply