Resensi Film-Bhayu MH

5 cm

Year : 2012 Director : Rizal Mantovani Running Time : 126 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Ini film Indonesia terlaris di tahun 2012. Memecahkan rekor penayangan tidak hanya dari segi jumlah penonton, tetapi juga dari banyaknya layar yang digunakan untuk menayangkan di bioskop. Secara serta-merta menimbulkan efek ikutan makin bertambahnya minat masyarakat awam untuk mendaki Gunung Semeru. Keren!

Kisah film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Dicky Dhigantoro. Novel ini juga laris-manis sehingga menjadi “best seller” dan tentunya karena itu pula lantas diangkat menjadi film. Diceritakan ada lima orang sahabat yang sudah saling mengenal sekitar sepuluh tahun lamanya. Mereka adalah Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji). Mereka mengalami kebosanan karena saat berkuliah terus melakukan kegiatan yang sama secara bersama-sama. Hanya sekedar berkumpul lalu menghabiskan malam di rumah orangtua Arial. Rutinitas itu membuat Zafran ‘naksir’ kepada Dinda (Pevita Pearce), adik kandung Arial.

Karena jenuh pada hubungan pertemanan mereka, Arial mengusulkan agar mereka berpisah sementara selama tiga bulan. Ia lantas akan mengatur acara khusus untuk perayaan pertemuan kembali mereka, yang sengaja dibuat pas 17 Agustus, hari kemerdekaan. Keempat temannya setuju dan mereka pun berpisah dengan janji untuk menghindari kontak dengan segala cara selama tiga bulan penuh.

Setelah tenggat pertemuan kembali tercapai, mereka kembali berkumpul. Ternyata, direncanakan perjalanan mendaki Gunung Semeru yang merupakan puncak tertinggi di Pulau Jawa. Meski sempat ragu, tetapi kelima sahabat itu ditambah Dinda akhirnya melakukan ekspedisi tersebut. Di perjalanan itulah, kemudian terungkap bahwa Dinda dan Riani sebenarnya menaruh hati pada pria berbeda dalam kelompok itu. Namun, yang lebih penting, mereka menyadari arti pentingnya persahabatan dan mencintai tanah air.

Kata “5 cm” atau bisa dibaca lima sentimeter yang jadi judul film ini sebenarnya merupakan sebuah filosofi. Digambarkan bahwa mencapai impian atau menggapai tujuan itu tidak sulit. Caranya dengan meletakkan telunjuk 5 cm di depan kening seraya membayangkan bahwa itulah tujuan kita. Atau dengan kata lain, menganggap impian itu “sudah dekat”. Sehingga, kita akan bersemangat mengejarnya.

Menyaksikan film ini, saya bingung hendak berkomentar apa. Karena terus-terang, baik saat membaca novelnya maupun menonton filmnya, saya tidak menikmatinya. Walau ternyata, entah mengapa, film dan novelnya ternyata sama-sama laris. Artinya, pasar menerimanya dengan baik.

Tapi toh saya harus obyektif dan tetap kritis dengan mengesampingkan semua fakta tersebut. Maka, saya memulainya dari alur penceritaan yang menurut saya datar dan lurus. Terlalu linier. Penonton seperti didikte untuk mengikuti cerita, bak mendengarkan dongeng dari penulis cerita, tetapi tanpa narasi memadai.

Film ini juga terlalu meremehkan ekspedisi pendakian. Seolah, tanpa latihan dan persiapan siapa saja bisa mendaki gunung tinggi. Apalagi di film ini ada sosok Ian yang bertubuh gemuk. Well, sebagai mantan pecinta alam, saya meragukannya. Hal ini berbahaya karena mempromosikan kemudahan berpetualang di alam bebas, yang sebenarnya tidak segampang itu.

Tetapi tampaknya, penonton kita lebih menyukai “hikmah” di balik film. Yang kalau mau ditarik-tarik, ya memang ada sih. Walau bagi saya alasan pengambilan hikmah –sekedar jenuh karena rutinitas persahabatan- agak ‘maksa’. Tidak ada satu peristiwa yang biasanya berupa musibah yang jadi pendorong pengambilan hikmah tersebut. Padahal, di dunia nyata, “turning point” ini sangat penting.

Yah, bagaimana pun, film ini menarik untuk disaksikan. Apalagi bagi yang belum pernah “jalan-jalan ke gunung”. Penyajian pemandangan apalagi saat sudah “di atas awan” terasa menarik. Saya salut pada kru film yang pastinya tidak mudah menggotong peralatan pembuatan film hingga ke ketinggian itu. Karena lokasi film ini memang benar-benar di gunung, bukan hasil CGI dengan green screen. Pendek kata, bagi yang butuh motivasi, film ini cukup bisa dijadikan pendorong semangat.

Leave a Reply