Resensi Film-Bhayu MH

5 Days of War

Year : 2011 Director : Renny Harlin Running Time : 113 mins. Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Menyaksikan film ini di bioskop membuat efek suara dan imaji menjadi maksimal. Kengerian yang tergambar dari perang mencuat jelas. Bagi yang memiliki masalah bila melihat darah atau berpenyakit jantung tidak dianjurkan menyaksikan film ini. Demikian pula bagi yang senang menyaksikan film action atau perang dengan satu “jagoan” utama yang “pasti menang”, film ini bisa dipastikan menimbulkan kebosanan. Genre film ini adalah action-war-drama. Kalau pernah menyaksikan film-film perangnya Steven Spielberg semacam Saving Private Ryan (1998) atau The Thin Red Line (1998)-nya sutradara Terrence Malick, film ini memiliki gaya serupa.

Penonton harus bisa membedakan bahwa yang nyata dari film ini hanya setting atau latar belakang penceritaannya. Maka, tulisan “based on true event” yang dipampang di kredit film harus dimaknai bahwa cerita yang jadi latar belakang film ini nyata. Sedangkan karakter, plot alur cerita dan semua adegannya fiktif belaka.

Apa yang nyata adalah terjadinya Perang Russia-Georgia di tahun 2008. Karena berada di provinsi Ossetia Selatan, maka perang ini juga kerap disebut “South-Ossetia War”. Sedangkan kisah perjuangan para jurnalis di film ini fiktif.

Tema dasar film ini adalah romantisme jurnalisme, yang mengidealkan “perjuangan menyiarkan kebenaran, apa pun taruhannya”. Ini mengamini kutipan dari Senator A.S. Hiram Warren Johnson yang ditampilkan di awal film: “The first casualty when war comes is truth”. Para jurnalis di film ini berjuang menyiarkan kebenaran mengenai perang tersebut, yang dikesankan berusaha ditutup-tutupi pihak Russia.

Film dimulai justru di Irak, tahun 2007. Di mana terdapat trio jurnalis yaitu Thomas Anders, Sebastian Ganz dan Miriam yang sedang meliput. Namun, tiba-tiba mereka diserang oleh milisi Irak yang menyebabkan tewasnya Miriam kekasih Thomas Anders. Di saat itulah mereka ditolong oleh pasukan koalisi asal Georgia pimpinan Kapten Rezo Avaliani. Sang kapten memberikan jimat berupa medallion bergambar St. George kepada Thomas Anders. Pemilihan tokoh St. George ini merupakan simbolisasi agar para jurnalis memperjuangkan kebenaran meskipun harus mengorbankan nyawanya, persis seperti teladan martir Katholik tersebut.

Setahun kemudian, di Georgia, Thomas Anders dan Sebastian Ganz ditugaskan meliput perang di sana. Mereka menghubungi kontak lokal yang dikenal dengan nama sandi Dutchman. Keduanya menunggu sang penghubung datang di sebuah pesta pernikahan warga lokal. Tiba-tiba, pesawat tempur Russia menembaki dan membom tempat itu yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil, termasuk pengantin pria yang tewas. Kedua jurnalis itu lantas berupaya menolong warga lokal yang terluka parah ditemani oleh Tatia, kakak dari pengantin wanita. Dari sinilah petualangan kemudian dimulai. Mereka berupaya menembus penjagaan, merekam pembantaian, tertangkap dan diinterogasi pihak Russia, serta upaya menyelamatkan rekaman video dari perampasan pihak Russia. Rekaman kekejaman tentara Russia inilah yang diupayakan oleh para jurnalis untuk disiarkan ke seluruh penjuru dunia.

Dalam perang yang hanya berlangsung selama lima hari ini (karenanya disebut Five Days War), pihak Russia menggunakan tentara bayaran atau milisi di garis depan. Mereka digambarkan bertindak kejam dengan melakukan pembantaian massal atas penduduk desa di perbatasan. Sementara itu, dunia tidak tergerak membantu terutama karena tidak tahu. A.S. dan NATO memilih lebih percaya pada pernyataan resmi Russia yang menyatakan tindakan mereka itu merupakan “urusan dalam negeri”. Tentu saja seraya menghindari perang terbuka langsung melawan negara pewaris kekuasaan bekas negara adikuasa Uni Sovyet itu. Padahal, Georgia sudah masuk sebagai anggota UE (Uni Eropa) dan saat itu sedang melamar menjadi anggota NATO. Karena itulah para jurnalis di film ini berupaya menyiarkan rekaman video pembantaian yang dilakukan milisi sewaan Russia.

Apa yang mengagumkan bagi saya dari film ini adalah detailnya. Bahkan tadinya saya mengira tank dan pesawat jet tempur yang digunakan adalah miniatur. Tapi ternyata setelah saya membaca dan melihat foto “behind the screen” proses pembuatan film, property kendaraan yang digunakan asli! Maka, penyuka kemiliteran akan menyaksikan pameran kendaraan tempur terutama buatan Russia seperti tank T-54, pesawat jet serang-tempur MiG-24 Fishbed, helikopter tempur Mi-24 Hind, pesawat pembom Tu-24 Badger, hingga sejumlah kendaraan angkut militer dan MLRS (Multiple Launcher Rocket System). Sementara dari pihak Georgia tampak kendaraan tempur serba guna segala medan buatan Amerika Serikat: Humvee.

Selain itu detail kota pun tampak begitu nyata. Seolah ini adalah film dokumenter. Padahal jelas film ini fiktif, meski setting-nya kejadian sejarah yang nyata terjadi. Properti lain baik pakaian maupun senjata juga akurat. Saya juga tertarik pada penggambaran budaya Georgia (ada adegan menari tradisional yang menarik di pesta pernikahan) termasuk pakaian adat khasnya serta detail agama Kristen Orthodoks yang dianut. Semua kecermatan itu tentu layak untuk dipuji.

Meski begitu, tetap ada beberapa adegan yang “film banget”. Misalnya adegan klasik sang tokoh protagonist yaitu Thomas Anders berjalan menjauh dengan latar belakang ledakan api dari bangunan yang meledak ditembak roket dari helikopter. Juga adegan saat pasukan Georgia pimpinan Kapten Rezo Aviliani mendadak masuk dengan cara rappelling memecahkan kaca jendela tepat saat Thomas Anders diinterogasi oleh Kolonel Alexandr Demidov.

Singkatnya, film ini bagus bagi penyuka sejarah dan epik perang. Namun, sekali lagi bukan perang ala Rambo dengan jagoan tunggal tak pernah kalah. Di sini, tokoh protagonisnya adalah para jurnalis, bukan prajurit. Medan perjuangannya pun bukan memenangkan suatu misi dalam perang, melainkan berupaya menyiarkan kebenaran ke seluruh dunia.

Leave a Reply