Resensi Film-Bhayu MH

Aach… Aku Jatuh Cinta

Year : 2016 Director : Garin Nugroho Running Time : 85 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
3/5

Produser  : Raam Punjabi
Sutradara : Garin Nugroho
Penulis      : Garin Nugroho
Pemeran   :  Chicco Jerikho, Pevita Pearce

 

Saya sangat jarang menyaksikan film dengan pola penceritaan dan latar belakang seperti film ini. Tetapi begitu menyadari sutradaranya adalah Garin Nugroho, saya langsung maklum. Karena film ini memang tampaknya ditujukan untuk konsumsi festival film internasional. Terbukti, meski baru tayang di layar bioskop Indonesia mulai 4 Februari 2016 ini, tetapi film ini sudah tayang perdana dunia di Busan International Film Festival pada tanggal 5, 8, dan 9 Oktober 2015. Film ini juga ditayangkan di JAFF pada 6 Desember 2015. Saya juga sempat melihat ada versi poster filmnya yang dicantumkan tanggal tayang 5 November 2015. Pemilihan rilis di Februari 2016 ini bisa jadi karena alasan komersial disebabkan “bulan Valentine”.

Kisahnya sendiri berlatar waktu dekade tahun 1960-1970-an, dimana saat itu dikenal sebagai “Generasi Bunga” (Flower Generation). Masa yang di Indonesia baru saja terjadi peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke rezim Orde Baru. Karakter utamanya bernama Yulia (Pevita Pierce) dan Rumi (Chicco Jerikho). Nama yang jelas-jelas merupakan ‘pelesetan’ dari Romeo dan Juliet, karakter utama dari drama tragedi kondang sejagat karya William Shakespeare.  Judul “Romeo-Juliet” juga tidak bisa dipakai karena sudah ada film Indonesia berjudul sama buatan tahun 2009. Sementara adaptasi Hollywood-nya antara lain berjudul Romeo+Juliet (1996) besutan sutradara Baz Luhrmann yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Claire Danes.

Anyway, kisah Yulia dan Rumi ini sendiri selain penuh romantika juga puitik. Puisi dari Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī, penyair sufi terkenal asal Persia abad ke-12 pun turut dikutip.

Dikisahkan Yulia dan Rumi adalah tetangga sejak kecil. Latar kota meskipun tak disebutkan, tetapi dari penampakannya sepertinya Yogyakarta. Rumah orangtua mereka berseberangan. Ibu Rumi adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ayah Rumi seorang pengusaha minuman limun botolan hasil olahan rumahan. Tetapi kemudian ketika frustrasi akibat menurunnya penghasilan penjualannya, ia sempat memukul ibunda Rumi. Karena marah, ibu Rumi lantas malah menjadi penyanyi kelab malam dan bergabung dengan kelompok wanita hedonis. Sementara ayah Yulia yang orang Belanda semula sempat bekerja di perusahaan milik ayah Yulia, tetapi kemudian usahanya bangkrut. Ia pun kemudian bekerja sebagai tukang reparasi radio, tetapi juga hancur saat televisi mulai masuk pasar. Ibu  Yulia pun lantas bertahan hidup sebagai penjahit ketika ditinggalkan suaminya. Kehidupan kedua keluarga itu pun berubah drastis.

Sebenarnya, keduanya saling mencintai. Tetapi, sayangnya karena merasa mereka bertetangga dan bersahabat, cinta sebagai kekasih dirasakan tak pantas. Apalagi karakter Rumi yang cenderung bengal kerapkali menimbulkan kekacauan yang merepotkan Yulia, termasuk di sekolah. Walau begitu, Yulia selalu mencatatnya dalam buku hariannya. Dan Rumi sendiri selalu mengirimkan pesan-pesan puitiknya dengan memasukkannya di dalam botol limun bekas buatan pabrik ayahnya.

Saat kuliah, Rumi terlibat pergerakan. Meski tidak dijelaskan gamblang, tapi dari jaket kuningnya dan latar waktunya serta slogannya yang anti produk asing, bisa jadi itu Malari (15 Januari 1974). Rumi sempat ditahan tentara yang menyerbu asrama mahasiswa, membuat Yulia sempat kehilangan jejak.

Baik Yulia maupun Rumi akhirnya memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Tetapi dengan segera pernikahan mereka berantakan hanya karena BH yang dikirimkan Rumi kepada Yulia. BH itu direbut Rumi saat mereka berlatih taekwondo di sekolahnya dahulu. Tentu saja kisah cinta ini menjadi pertanyaan standar: akankah mereka bersatu sebagai cinta sejati, atau hanya semata cinta platonis yang saling mengagumi tanpa memiliki?

Menyaksikan film ini, saya terutama kagum pada penggambaran puitik yang sangat terasa di sepanjang film. Meski di beberapa scene terasa ‘lebay’, namun masih cukup bisa diterima nalar. Sudut pengambilan gambar pun matang, membuat berbagai pemandangan biasa seperti kereta lori pembawa tebu jadi tampak indah.

Berbagai detail terasa bercerita begitu liris. Seperti pemilihan “pesan dalam botol”, yang langsung mengingatkan saya pada novel Message in the Bottle (1998) karya Nicholas Sparks. Novel yang sangat laris ini juga sudah difilmkan setahun kemudian. Sebuah pemilihan yang brilyan menurut saya.

Permainan kedua karakter utama tak istimewa sebenarnya. Cuma karena script yang kuat, jadi ‘tertolong’. Toh, Pevita dan Chicco membuktikan mampu lepas dari karakter lain di film mereka sebelumnya. Padahal, Pevita sendiri sempat ‘menyepi’ ke luar negeri pasca membintangi Tenggelamnya Kapal van Der Wijk yang fenomenal.

Walau begitu, saya tidak yakin film ini akan memenuhi selera pasar. Karena film model begini “festival banget”, terasa dibuat untuk memukau juri, bukan penonton. Semoga saja film ini berhasil menyabet banyak gelar dan penghargaan di berbagai festival film ya… Karena untuk memenuhi target penonton rasanya sulit. Lha wong waktu menyaksikan film ini di hari perdana pemutarannya saja di Kamis siang, 4 Februari 2016 saya privat kok. Sendirian! Hahaha.

Leave a Reply