Resensi Film-Bhayu MH

Air Mata Surga

Year : 2015 Director : Hestu Saputra Running Time : Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Sinopsis

Karakter pemeran utama perempuan bernama Fisha (Dewi Sandra) merupakan seorang mahasiswi S-2 di Yogyakarta. Kampusnya tidak dijelaskan gamblang, tetapi penonton tentu diharapkan menduga itu adalah UGM (Universitas Gadjah Mada). Ia kebingungan karena untuk menyelesaikan tesisnya ia diharuskan memiliki dosen pembimbing yang minimal bergelar doktor. Karena dosen pembimbing di kampusnya sudah tidak bisa menerima mahasiswa bimbingan lagi, maka ia direkomendasikan dosen tamu dari luar kampus.

Muncullah nama Fikri Syarifudin (Richard Kevin) yang diusulkan. Fisha menghubungi via e-mail. Tanpa diduganya Fikri segera membalas dan bersedia ditemui keesokan harinya. Masalahnya, sang calon dosen pembimbing tinggal di Jakarta. Meski sahabatnya Hamzah (Morgan Oey) mencoba mencegah bahkan mencarikan alternatif, Fisha tetap pergi ke Jakarta.

Fisha terkejut ketika mendapati kalau Fikri ternyata masih muda usia. Dan benih cinta pun mulai bersemi. Sementara itu, Hamzah mencoba merebut hati Fisha dengan ‘nembak’. Tetapi Fisha menolaknya karena merasa mereka lebih pantas sebagai sahabat. Padahal, Weni (Adhitya Putri) sahabat Fisha justru menganggap kalau mereka bisa berjodoh.

Fikri mendatangi Fisha ke Yogyakarta. Dan pertemuan antara mereka berdua pun makin intim. Di saat ia mengantarkan Fisha pulang, tiba-tiba Fikri langsung melamar Fisha. Ibunda Fisha (Ayu Diah Pasha) pun terkejut. Tetapi adiknya mendukung karena menganggap Fikri ganteng. Ibunya pun akhirnya setuju dengan syarat Fisha harus selesai kuliah dulu.

Ketika Fikri memberitahukan rencana itu kepada keluarganya, ibunya yang janda bernama Halimah (Roweina) tidak setuju. Ia ingin menjodohkan putranya itu dengan Riri (Imaz Fitria), yang merupakan anak sahabat almarhum suaminya. Walau begitu, pernikahan tetap berlangsung meski Halimah menganggap keluarga Fisha tidak selevel dengan mereka yang kaya. Hamzah hadir ditemani Weni meski dengan hati sakit.

Setelah menikah, Oma Aida (Titi Dibyo) nenek Fikri dan adiknya yang bernama Dian (Andania Suri) malah dekat dengan Fisha. Tinggal di apartemen, mereka dibantu oleh seorang asisten rumah tangga. Dan seperti pandangan keluarga tradisional, tugas utama seorang istri adalah reproduksi atau menghasilkan keturunan bagi suaminya. Meski tidak dilarang oleh suaminya, pekerjaan Fisha sebagai guru TK dianggap malah seperti “kurang uang” oleh mertuanya.

Dan meski sudah berhati-hati, Fisha yang hamil kemudian keguguran. Akibatnya, ia memutuskan berhenti bekerja untuk total mencoba hamil. Walau tidak ada yang menyalahkannya kecuali mertuanya. Ketika Fisha akhirnya bisa hamil lagi, semua gembira. Tetapi untuk kedua kalinya ia kembali keguguran. Fisha pun depresi.

Ketika Fikri berbisnis di luar kota, Fisha kembali mengalami sakit di perutnya. Dokter pun kemudian memberitahukan diagnosanya kalau Fisha mengalami kanker rahim stadium akhir. Mertuanya pun kembali mengusahakan agar Fikri menikahi Riri. Kali ini bahkan dengan pendekatan poligami. Membujuk Fisha agar menyadari tugasnya sebagai seorang istri.

Pada akhirnya, Fisha pun menghembuskan nafas terakhir. Meninggalkan kenangan yang membekas dalam diri Fikri dan keluarganya.

Kritik Film

Memasuki gedung bioskop dengan kepala kosong ada gunanya. Tanpa membaca resensi atau mendengar komentar orang lain. Apalagi film ini merupakan adaptasi dari novel karya Aguk Irawan M.N. berjudul Air Mata Tuhan (2014). Saya sendiri tidak pernah membaca novelnya karena jujur saja saya tidak tahu kalau novel ini laris. Biasanya, berita soal novel laris akan mudah ditemui di media massa. Dengan demikian, dalam kesempatan pertama ini saya tidak bisa membandingkan antara buku dengan filmnya.

Ceritanya sendiri sederhana plotnya dan sangat bisa ditebak. Nyaris seperti “Cinderella story” dengan “sad ending”, atau mungkin bisa disebut Cinderella gagal bahagia. Tentu saja, kata “bahagia” bisa ditafsirkan lain dengan sebentuk pengabdian seorang istri kepada suami. Apalagi, warna Islami begitu kental.

Tetapi dibandingkan dengan film Indonesia terlaris tahun ini yaitu Surga Yang Tak Dirindukan, film ini terasa masih beberapa tingkat di bawahnya. Karakterisasi kurang kuat, bahkan menurut saya, pemilihan Dewi Sandra sebagai aktris agak terlalu dipaksakan. Ia terlihat terlalu dewasa untuk profil mahasiswa. Di film, tak terlihat kalau ia mahasiswa S-2. Informasi ini didapatkan dari situs yang memuat release resmi dari produsernya.

Bisa jadi, ini karena Dewi Sandra adalah “Brand Ambassador” dari Wardah, produk kosmetik yang jadi sponsor utama film ini. Selain Wardah, tampak jelas Da Vinci dan Rumah Sakit Setya Negara juga jadi sponsor pendukung untuk lokasi. Penampakan ketiga sponsor di film ini, meski tidak sampai mengganggu jalan cerita, cukup mengganggu kenyamanan mata menyaksikannya.

Plot cerita utama yang linear mengabaikan tokoh-tokoh pendukung yang seharusnya bisa jadi cerita sampiran yang mempermanis. Paling fatal adalah karakter Hamzah yang terabaikan setelah ia bertemu Fisha secara sangat kebetulan di dalam kereta api. Ia digambarkan sudah “move on” begitu mudah setelah bekerja di Jakarta. Demikian pula karakter ayah Riri yang sempat marah ketika keluarga Fikri membatalkan rencana pernikahan, di kehidupan nyata akan sangat aneh bila mau didekati lagi.

Bagi saya pribadi, film ini “sinetron banget”. Terlalu banyak kebetulan, dan nuansa romansanya dangkal, jalan ceritanya pun seperti “diseret-seret” untuk maju terus, mengabaikan berbagai konflik yang bertebaran. Pernikahan ala “orang kaya” bagi saya terlihat seperti di FTV saja, karena justru terasa sederhana. Hanya tertolong oleh interior galeri Da Vinci -saya sudah pernah ke sana juga- yang memang mewah. Tetapi dandanan tamu dan penataan hidangan terlihat amat sangat seadanya.

Bagaimana pun, film ini tetap menarik bagi pecinta film bernuansa religi. Terutama karena ia menyisipkan beberapa “pesan sponsor” seperti harus menghormati istri walau ia gagal memberikan keturunan. Dan tentunya kisah analogi “ranting terbaik” -dalam versi lain adalah “bunga pertama”- yang berasal dari tradisi Tiongkok, justru dijadikan motivasi utama karakter Fikri untuk segera mempersunting Fisha yang baru ditemuinya. Mungkin bisa jadi penyemangat para “jomblo” untuk tidak menunda-nunda menikah.

 

Leave a Reply