Resensi Film-Bhayu MH

Bandidas

Year : 2006 Director : Joachim Rønning and Espen Sandberg Running Time : 93 minutes Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
2/5

Melihat posternya, semua calon penonton bisa menduga langsung tiga hal. Pertama, ini film tentang “cowboy world”. Kedua, karena judulnya berbahasa Spanyol, lokasinya di Meksiko. Ketiga, dua orang wanita adalah bintangnya.

bandidasKetiganya betul. Karena ini memang kisah mengenai dua bandit wanita Meksiko yang digambarkan beroperasi sekitar 1850-an. Kedua orang itu adalah Sara Sandoval (Salma Hayek) dan María Álvarez (Penélope Cruz). Sebenarnya latar-belakang keduanya berbeda. Sara adalah anak orang kaya yang berpendidikan tinggi, sementara Maria justru sebaliknya anak petani miskin yang tidak terdidik. Tetapi ayah keduanya menjadi korban Baron Amerika yang korup dan kejam bernama Tyler Jackson (Dwight Yoakam). Sebagai tindak pembalasan, keduanya lantas menjadi perampok. Sara enggan memakai senjata api seperti Maria yang jago tembak, tetapi ia ahli melempar pisau. Seperti Robin Hood, harta hasil rampokan mereka lantas dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin.

Kebanyakan bank yang jadi sasaran adalah milik Jackson. Karena itu ia menyewa detektif swasta bernama Quentin Cooke (Steve Zahn). Tetapi, kedua bandit wanita itu malah berhasil menangkapnya. Dan menggunakan “daya tarik wanita”-nya, Quentin malah berbalik ikut jadi bandit. Bertiga mereka merampok dan melawan Jackson. Pada akhirnya, Jackson berhasil dibunuh oleh Sara.Di akhir film Quentin memilih bersama tunangannya dan kedua bandit wanita menuju Eropa. Karena menurut Sara yang pernah kuliah di sana, bank-nya lebih besar.

Ide dasar ceritanya sebenarnya menarik. Eksekusinya juga tidak mengecewakan. Apalagi ditambah ‘bumbu penyedap’ pemeran utamanya dua wanita cantik dan seksi. Rasanya, film ini sudah memadukan unsur-unsur penentu sebuah film yang bakal booming di box office.

Akan tetapi di luar dugaan, film ini flop atau gagal secara pemasaran. Ia hanya berhasil meraup penghasilan sebesar US$ 18 juta-an dibandingkan biaya produksi US$ 35 juta. Saya tidak mengerti apa penyebabnya. Bisa saja selera pasar yang sedang tidak menyukai film semacam ini. Padahal film bertema serupa seperti “Trilogi Meksiko”-nya sutradara Robert Rodriguez menuai sukses. Mungkin cuma bisa menyalahkan nasib sial saja.

Kalau dicerna lebih jauh, film ini mungkin kurang dalam pengembangan plot. Agak terlalu sederhana dalam meramu unsur ‘balas dendam’. Jalan para bandit wanita juga seperti terlalu mulus dalam mencapai tujuannya. Mereka bak “superhero” yang tak terkalahkan. Padahal, andaikata memakai “rumus standar” yaitu “jagoan kalah duluan, tapi akhirnya menang”, mungkin akan terasa lebih gereget. Contohnya, andaikata kedua atau salah satu wanita itu jadi “damsels in distress”, rasanya akan lebih mantap lagi. Daripada malah Quentin yang dengan mudah dikalahkan.

Tapi ya sudahlah. Namanya juga film. Rupanya penulis skenario Luc Besson dan duo sutradara asal Norwegia Joachim Rønning dan Espen Sandberg memang menginginkannya begitu.

Leave a Reply