Resensi Film-Bhayu MH

Birthday Girl

Year : 2002 Director : Jez Butterworth Running Time : 93 minutes Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
3/5

Kritik Film

Saat menonton film ini, saya sampai lupa kalau Nicole Kidman itu asli Australia, bukan berasal dari Russia. Karena akting aktris papan atas Hollywood ini begitu meyakinkannya. Ia adalah satu dari sedikit aktris dan aktor yang tiap kali bermain penonton seperti lupa pada jatidiri aslinya. Karakter yang dibawakannya berbeda-beda dan perannya selalu menantang. Ia bak bunglon yang bisa menjelma warna apa saja.

Penampilan Nicole sebagai Sophia alias Nadia begitu meyakinkannya, sampai penonton akan dibuat merasa ikut tertipu seperti halnya karakter John Buckingham yang dimainkan oleh Ben Chaplin. Meski secara popularitas Ben kalah terkenal dibandingkan Nicole, tetapi di film ini ia mampu mengimbangi justru dengan akting lugunya.

Nicole-in-Birthday-Girl-nicole-kidman-4925895-1016-570Jalinan ceritanya menarik dan menjebak, dengan akhir yang tidak diduga. Walau terus-terang sejak awal penonton akan dibawa bersimpati dan memihak pada tokoh protagonist John yang malang. Emosi penonton sempat dibuat naik dan tidak simpati saat Nadia ternyata menipu John. Tetapi kemudian ternyata Nadia yang bernama asli Sophia ternyata benar-benar jatuh cinta pada John. Maka, emosi penonton pun berbalik kembali bersimpati kepadanya.

Penggunaan bahasa Russia yang berganti-ganti dengan bahasa Inggris di film ini eksotis. Termasuk pula kemampuan pelafalan Nicole yang apik. Saya memang tidak mampu berbahasa Russia, tetapi jelas tidak ada film Hollywood yang dibuat setengah-setengah.

Karakter John yang ternyata memiliki orientasi seksual BD dari BDSM (Bondage-Domination-Sadism-Masochism) juga menarik dieksplorasi. Penyajian adegan seks tidak lantas membuat film ini jatuh menjadi film seksual yang vulgar, tetapi semata menjadi film erotis yang memikat.

Meskipun jelas fiksi, tetapi kisah yang diangkat film ini benar-benar bisa ditemui di dunia nyata. Pasca runtuhnya Uni Sovyet tahun 1991, Russia dan negara-negara pecahan lainnya mengalami kesulitan ekonomi. Walau mungkin di tingkat negara terlihat masih kuat, tetapi di tataran warga negara biasa mereka mengalami depresi ekonomi hebat. Hal itu memaksa mereka ‘melakukan apa saja’ untuk bisa bertahan hidup. Termasuk, ‘menjual diri’ baik sebagai pelacur atau pun dengan tujuan dinikahi resmi.

Dan sebagai pengingat bagi siapa pun yang berminat mencari istri dengan cara “kencan online” seperti itu, bahwa potensi penipuan terbuka lebar. Di Indonesia saja hal-hal semacam ini terjadi, walau tentu tidak sedramatis seperti digambarkan di film ini. Paling penipuannya bermodus pinjam uang atau barang, lantas ditinggal kabur, bukan dirampok habis-habisan. Atau ada pula lelaki beristri yang mengaku bujangan lantas setelah menikmati kegadisan seorang wanita lantas kabur tak tentu rimbanya.

Sayangnya, film ini secara komersial tak begitu sukses, walau juga tidak merugi. Dengan biaya pembuatan US$ 13 juta, dia hanya untung sekitar US$ 3 juta dollar saja.

One Response so far.

Leave a Reply