Resensi Film-Bhayu MH

Black Hat

Year : 2015 Director : Michael Mann Running Time : 133 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
1/5

Jalan Cerita

Di sebuah pusat pembangkit tenaga nuklir yang berada di Chai Wan- Hong Kong, peretas sistem jaringan komputer (hacker) menyebabkan pompa pendingin sistem kelebihan panas dan meledak. Tak lama kemudian di Chicago, the Mercantile Trade Exchange (Bursa Berjangka Mercantile) juga diretas. Kejadian ini menyebabkan harga komoditi kacang kedelai melejit. Pemerintah China dan FBI mendeteksi bahwa serangan disebabkan oleh Remote Access Tool (RAT). Seorang perwira dari unit peperangan sistem jaringan internet (cyber warfare unit) China bernama Kapten Chen Dawai (Leehom Wang) ditugaskan untuk menemukan orang yang bertanggung-jawab atas aksi peretasan itu. Ia lantas meminta bantuan pada saudarinya Chen Lien (Tang Wei), seorang insinyur jaringan.

Chen lantas bertemu dengan Agen Carol dari FBI di Los Angeles. Kepadanya, Dawai mengutarakan bahwa kode pemrograman RAT ditulis sendiri olehnya dan seorang rekannya sekamarnya di asrama kampus bernama Nicholas Hathaway (Chris Hemsworth). Dawai meminta agar FBI mengatur supaya Hathaway dilepaskan dari penjara, dimana ia sedang menjalani hukuman karena kejahatan komputer yang pernah dilakukannya. Sebagai imbalan atas bantuannya kepada pemerintah dan polisi, Hathaway ditawari pembebasan sementara.

Kematian seorang rekan kolega komputer membawa mereka pada petunjuk adanya suatu hubungan. Jadi, Hathaway dan Lien pergi ke tempat pertemuan. Sayangnya itu adalah jebakan yang dibuat oleh hacker yang menyebabkannya sadar tengah dikejar.

Di Hong Kong, tim mendeteksi jejak uang perdagangan bursa mengalir ke kelompok paramiliter bernama Kassar. Kassar diserbu oleh Unit Tugas Khusus (Special Duties Unit) dimana Hathaway, Jessup, Chen, dan Trang ikut bersamanya. Tetapi lagi-lagi itu hanya jebakan yang menyebabkan ada anggota tim yang terbunuh, termasuk Trang. Celakanya Kassar dan orang-orangnya lolos.

Pembangkit tenaga nuklir cukup stabil untuk menerima data dari ruang kontrol, namun sayangnya datanya rusak. Hathaway lantas menjebol NSA untuk menggunakan perangkat data bernama Black Widow untuk merekontruksi data yang rusak itu. Agen Barrett yang ada di sana tutup mata seolah tak tahu itu adalah pelanggaran hukum. Hathaway lantas mengetahui kalau server si hacker terletak di Jakarta-Indonesia. Lien pun mendapati bahwa hacker itu telah membeli foto satelit dari sebuah area terpencil di Perak-Malaysia.

Aksi Hathaway meretas ke dalam sistem komputer NSA bukannya tidak diketahui. Pemerintah AS menuntutnya dikembalikan ke penjara. Atasan Dawai setuju karena mereka tidak ingin bermusuhan dengan AS. Sementara Barrett dan Jessup menerima perintah untuk menahan Hathaway. Tetapi Dawai dan Lien sepakat membantu Hathaway meloloskan diri dari pengejarnya. Mereka bersiap meninggalkan Hong Kong untuk melanjutkan penyelidikan. Tiba-tiba komplotan Kassar menyerang mereka, menyebabkan tewasnya Dawai. Tak lama kemudian, Barrett dan Jessup tiba di lokasi karena mereka melacak gelang kaki penanda yang dipakai Hathaway. Baku tembak antara komplotan Kassar dengan dua agen FBI itu memberikan waktu bagi Lien dan Hathaway untuk melarikan diri ke jalur kereta bawah tanah. Tetapi, Barrett dan Jessup tewas tertembak.

Hathaway dan Lien pergi ke lokasi yang ditunjukkan foto satelit di Malaysia. Mereka berupaya mencari tahu tujuan si peretas. Di saat itulah Hathaway menyadari bahwa serangan kepada pembangkit tenaga nuklir sebenarnya cuma tes belaka sebelum melancarkan serangan ke sejumlah tambang timah di Malaysia. Hal ini akan menyebabkan si peretas mampu meraih keuntungan lewat perdagangan komoditi berjangka yang dananya didapat dari meretas Bursa Berjangka Mercantile.

Kedua orang itu lantas berangkat ke Jakarta-Indonesia. Di kota itu, mereka berhasil secara fisik mendapatkan akses ke server si hacker. Mereka berhasil mentransfer uang si hacker dari bank-nya di Hong Kong sehingga memaksa si peretas menghubungi mereka. Hathaway berhasil membuat perjanjian di si peretas untuk bertemu guna menegosiasikan pengembalian uangnya. Tetapi Hathaway berencana untuk terlibat dalam rencana lebih besar lagi.

Hathaway bersikukuh agar si peretas dan Kassar datang sendiri, tetapi mereka membawa serta anak buahnya. Lokasi pertemuan sendiri diadakan di Lapangan Banteng-Jakarta, dimana tengah diselenggarakan sebuah festival tari Bali. Hathaway mengendap-endap mendekati si peretas dan Kassar dari belakang. Tetapi Kassar kemudian menodongkan pistol kepada Hathaway. Untungnya Hathaway sigap dan menusukkan obeng kepadanya serta meloloskan diri. Dua orang teman si peretas berhasil mencegat dan melukai Hathaway, tetapi mereka berdua berhasil dibunuh.

Pada akhirnya, Hathaway berhadapan muka dengan si peretas dan berhasil membunuhnya, walau ia sendiri tertusuk. Ia berhasil meloloskan diri di antara keramaian parade dengan pertolongan Lien. Film diakhiri dengan keduanya meninggalkan Indonesia, masih menyimpan uang si peretas di rekening mereka.

Kritik Film

blackhat nyepiSaya terus-terang terkejut begitu mengetahui film ini salah satu lokasi pengambilan gambarnya di Jakarta-Indonesia. Kenapa? Karena tidak ada publikasi sama sekali. Ini berbeda dengan Eat Pray Love (2010) yang sempat menghebohkan Indonesia. Itu karena pengambilan gambarnya di Bali dihadiri oleh aktris besar Julia Roberts. Sehingga, liputan media massa sejak dari rencana pengambilan gambar hingga ketika berlangsungnya shooting cukup lumayan. Penjualan novelnya melalui toko buku juga membantu. Sehingga saat akhirnya tayang, film ini mendapatkan sambutan bagus. Bagaimana pun, pasar Indonesia dengan penonton bioskop jutaan jelas lumayan.

Di film ini pun sebenarnya ada Chris Hemsworth. Penikmat film jelas tahu dialah pemeran superhero yang merupakan seorang dewa asal Asgard, Thor. Sutradara Michael Mann sebelum menyutradarai film ini juga beberapa kali membesut film bagus seperti Ali (2001), Collateral (2004), Hancock (2008), atau Public Enemies (2009). Artinya, film berbiaya 70 juta dollar A.S. ini tidak digarap orang sembarangan dan seharusnya berpotensi sukses. Tapi nyatanya, pasar tidak menerimanya dengan baik. Diluncurkan di Januari 2015, film ini malah menjadi film pertama di tahun ini yang terkategori gagal. Bukan sekedar flop, malah disebut sebagai box office bomb. Jelas saja, pemasukannya hanya US$ 17,8 juta saja atau hanya mencapai sekitar 25 % dari biaya pembuatannya. Jelas rugi bandar!

Saat menyaksikan film ini, saya memang merasakan banyak faktor yang bisa disebut sebagai “biang kegagalan”. Mari kita ulas satu per satu.

Pertama-tama, saya tidak merasakan gereget apa pun saat menontonnya. Dan hal ini berakibat pada tidak hadirnya rasa nikmat yang seharusnya ada. Bagaimana pun, film adalah media hiburan. Dan hal terutama yang diinginkan penonton adalah refreshing. Kalau pun ada film yang “kudu mikir”, tetap saja ada rasa nikmat menyaksikannya. Karena itu film yang berjenis ini biasanya adalah pemenang festival. Digarap serius, hasilnya pun bagus.

Film ini jelas digarap serius. Lokasi pengambilan gambarnya saja di empat negara: Amerika Serikat (Los Angeles-California), China (Hong Kong), Malaysia (Kuala Lumpur) dan Indonesia (Jakarta). Tetapi, menonton film ini bak terjebak di kepala penulis skenario atau sutradaranya tanpa mampu keluar lagi dari sana. Penonton dibuat sibuk sendiri dan kebingungan.

Apalagi bila dibandingkan dengan film action yang juga mengkisahkan mengenai perang dunia maya atau cyber war dengan pertarungan antar hacker jagoan seperti Die Hard 4.0: Live Free or Die Hard (2007), film Black Hat ini terasa sekali sangat nggak nendang! Banyak adegan laga dan baku-tembak yang mustinya asik, malah jadi ngambang!

Jalan cerita kurang jelas dan tegas. Area kebingungan di benak penonton bahkan belum terjawab tuntas hingga akhir film. Motif ekonomi mendapatkan keuntungan dari kekacauan bursa berjangka komoditi rasanya juga terlalu cetek. Dengan kemampuan hacker yang dicitrakan sehebat itu, kenapa tidak sekalian saja motifnya dibuat superlative, sebutlah seperti hendak menguasai dunia?

Sebagai film yang berlatar-belakang teknologi informasi, film ini juga kurang menunjukkan kecanggihannya. Banyak adegan para karakter sedang mengutak-atik komputer, tetapi cuma diperlihatkan dari belakang komputernya. Atau dengan kata lain, terlihat “pura-pura nguliknya” karena layar komputer tidak diperlihatkan. Gambaran kecanggihan teknologinya kalah jauh dengan The Fifth Estate (2013), film yang mengangkat mengenai kisah Wikileaks.org.

blackhatMaka, tak salah bila saya memberi nilai tak sampai 1 untuk film ini. Sangat disayangkan. Padahal, lokasi pengambilan gambarnya tergolong jarang dan sulit didapatkan izinnya. Sebutlah seperti Hang Seng Bank di Hong Kong dan tentunya Lapangan Banteng di Jakarta. Sayang…

One Response so far.

Leave a Reply