Resensi Film-Bhayu MH

Braveheart

Year : 1995 Director : Mel Gibson Running Time : 177 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
3/5

Film ini berlatar sejarah abad pertengahan awal. Di masa dimana “Inggris tidak selalu ada”, itulah judul salah satu bab yang pernah saya di komik sejarah karya Larry Gonnick, The Cartoon History of the Universe III (2002).

Seperti halnya banyak hal dalam catatan sejarah, kesimpangsiuran dan kontroversi selalu ada. Apalagi menyangkut sejarah perang atau pertempuran, termasuk penaklukan dan pembasmian setelahnya. Karena biasanya, pihak-pihak yang terlibat punya versi masing-masing tentang itu. Tentu saja, versi tiap pihak menguntungkan kelompoknya sendiri dan mengecilkan peran pihak lain.

Mel Gibson muda yang bertindak sebagai sutradara sekaligus didapuk menjadi tokoh historis William Wallace tampil prima. Ia adalah seorang pemimpin pemberontakan bangsa Skotlandia melawan Inggris di abad ke-13, saat berlangsungnya Perang Kemerdekaan Skotlandia pertama. Saat itu, Inggris yang belum seluas akhir abad pertengahan dipimpin oleh King Edward I.

Keakuratan sejarah yang ditampilkan di film ini sangat dikritisi. Tidak hanya dari penggambaran karakter yang merupakan tokoh sejarah nyata, tetapi juga atribut lain yang digunakan termasuk pakaian dan peralatan. Selain William Wallace, ada tokoh sejarah lain yang ditampilkan yaitu Isabella of France, Robert the Bruce, King Edward I the Longshanks dan putranya Prince of Wales yang kelak menjadi King Edward II. Semuanya dianggap mengalami distorsi sejarah.

Penulis skenario Randall Wallace menyatakan dirinya menulis terinspirasi dari buku puisi panjang yang ditulis oleh penyair bernama Blind Harry di abad ke-15. Judul puisi epiknya “The Acts and Deeds of Sir William Wallace, Knight of Elderslie”. Sekedar catatan, di abad pertengahan sangat wajar istana atau pihak berkuasa menyewa penyair untuk menuliskan sejarah. Selain itu, profesi seniman termasuk penyair juga dihargai tinggi sehingga cukup banyak intelektual yang memiliki kemampuan menulis juga menjadi penyair. Tetapi, puisi epik itu dianggap kurang memadai sebagai sumber sejarah Skotlandia oleh sejarawan.

Meskipun tidak akurat dari segi historisitas, film ini mendapatkan sambutan luas dari pasar pemirsa film. Terbukti ia menghasilkan pemasukan lebih dari US$ 210 juta, hampir tiga kali lipat biaya produksinya yang ‘hanya’ US$ 72 juta. Efek kepada dunia nyata juga cukup berarti karena meningkatkan minat kepada sejarah dan pariwisata Skotlandia.

Selain itu, secara positif ada nilai moral yang bisa diambil penonton untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itu adalah nilai keberanian, pantang-menyerah, kejujuran, ketulusan dan kesanggupan berjuang dalam penderitaan untuk mencapai tujuan. Semua itu tak akan lekang oleh waktu. Walau William Wallace hidup di abad ke-13, tetapi tetap relevan hingga sekarang. Dan ada satu kutipannya yang bagi saya sangat inspiratif: “Setiap orang akan mati. Tetapi tidak semua orang sungguh-sungguh hidup”. Sangat dalam maknanya!

Catatan: Resensi ini ditulis tahun 2015, tetapi tanggal pemuiatannya agar teratur tetap ditempatkan di tahun peluncuran film yaitu 1995.

2 Responses so far.

  1. […] dari kisah epik karakter historis bernama William Wallace (untuk resensinya bisa dibaca di situs http://resensi-film.com). Sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Skotlandia, ia berjuang melawan tentara Inggris dalam […]

Leave a Reply