Resensi Film-Bhayu MH

Daredevil

Year : 2003 Director : Mark Steven Johnson Running Time : 103 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Tak banyak atau malah sangat jarang jagoan alias superhero yang cacat. Dan DareDevil adalah salah satunya. Ia buta, walau tidak sejak lahir.

Matt Murdock –nama asli DareDevil- lahir dan tumbuh di lingkungan bernama Hell’s Kitchen, yang kini disebut Clinton. Lingkungan itu keras dan kumuh, membuat Matt belajar bertahan hidup sebisanya. Apalagi setelah ayahnya yang mantan petinju dan hendak meraih kembali karirnya justru dibunuh. Padahal, saat itu Matt sudah buta karena ia terkena cairan kimia saat berlari menghindari ayahnya yang tengah memalak seseorang. Dan sebenarnya karena Matt jadi buta itulah ayahnya bertobat. Sayangnya, ia melawan kehendak Kingpin yang bertaruh atas kekalahannya di ring tinju dengan tetap memenangkan pertandingan, sehingga ia dibunuh.

Meskipun buta, ternyata indera pendengaran Matt menjadi super-peka. Ia mendapatkan gambaran sekitarnya dengan mendengarkan pantulan suara, jadi seperti radar atau sonar. Dan sejak kecil hingga dewasa, ia pun terus melatih diri. Selain ilmu beladiri, ia pun kuliah hingga menjadi pengacara.

Tetapi, berbeda dengan pengacara pada umumnya, ia hanya mau membela client yang berasal dari golongan bawah, tertindas dan tak mampu. Akibatnya, mereka selain kerap kali kalah di pengadilan dari client yang bisa menyewa pengacara mahal, juga mereka sendiri miskin.

Satu ketika, di sebuah restoran, saat Matt sedang minum, seorang wanita cantik masuk. Ia mencoba berkenalan, tetapi tidak diacuhkan hingga ia mengikutinya. Setelah berkelahi singkat sekedar untuk menguji, wanita itu akhirnya mau memberitahukan namanya: Elektra Natchios. Ternyata, ia putri dari Nicholas Natchios, milyuner kota itu. Singkat cerita, mereka berdua akhirnya berpacaran.

Fisk alias Kingpin lantas menyewa Bull’s Eye untuk membunuh Nicholas, yang justru terfitnah sebagai Kingpin kejahatan. Tetapi, karena ia menggunakan tongkat DareDevil yang direbutnya, Elektra salah kira. Setelah berlatih keras, dalam pertarungan singkat ia melukai DareDevil yang tak melawan. Barulah setelah membuka topengnya Elektra tahu DareDevil adalah Matt, dan tahu ia telah salah sasaran.

Justru di saat itulah Bull’s Eye datang dan langsung menyerang. Elektra pun terluka parah justru oleh senjatanya sendiri yang berupa trisula. DareDevil pun terpaksa melarikan diri karena polisi keburu datang. Ia menuju ke gereja dimana pastornya mengenalnya sejak kecil. Tetapi Bull’s Eye entah bagaimana mengetahuinya dan memburunya. Tentu saja, DareDevil berhasil mengalahkannya.

Ia lantas memburu Kingpin ke kantornya. Dan meski pun terluka parah, Dare Devil membuat Kingpin tak berdaya. Tetapi ia tak membunuhnya melainkan membiarkan si raja penjahat itu ditangkap polisi.

Di akhir kisah, Ben Urich wartawan The New York Post hendak menuliskan kisah soal DareDevil. Itu karena ia akhirnya tahu identitas asli sang pahlawan berjuluk setan itu. Tetapi, ia mengurungkannya karena menganggap kota New York dan masyarakatnya masih membutuhkan sang superhero.

Sebagai film Hollywood, tentu sulit mencari kelemahan filmografi. Kalau pun ada, mungkin sekedar kesalahan editing yang menyebabkan bloopers. Tetapi, jalinan cerita bisa pula menimbulkan kesulitan menalar yang mengakibatkan kelemahan logika. Karena meskipun ini kisah fiksi superhero yang jelas komikal, logika pikiran kita sebagai manusia haruslah tetap dipertimbangkan.

Bagaimana Matt yang buta tumbuh besar sendirian tanpa pelatih, hanya ada seorang pastor yang tahu siapa dia, menjadi tanda tanya. Mustahil ada manusia yang bisa melatih tubuh dan kemampuan bela dirinya tanpa ada guru. Apalagi, ia buta. Demikian pula Elektra yang dalam waktu sangat singkat berhasil menjadi pakar pertarungan dengan trisula, menjadi tanda tanya besar.

Agak lucu juga ketika DareDevil justru senang dengan hujan dimana ia seperti bisa “melihat kembali” karena adanya pantulan suara hujan di mana-mana. Sementara, saat mendengar bunyi lonceng gereja ia justru terganggu karena “pekak”. Demikian pula ia yang digambarkan harus tidur dalam semacam bath-tub berisi air agar tenang terasa aneh. Karena jelas manusia akan sakit paru-paru basah bila berendam dalam waktu lama setiap hari seperti itu. Tentu ini berbeda dengan dracula atau vampire yang bukan manusia dan harus tidur dalam peti mati demi menghindari sinar matahari.

Baik DareDevil maupun Elektra adalah sosok superhero yang merupakan manusia biasa berkostum, hanya saja berketrampilan bela diri tinggi. Ia lebih mirip Batman daripada Superman. Hanya saja, kecuali Elektra yang digambarkan putri milyuner, DareDevil bukan orang kaya. Maka, bukankah terasa ganjil bagaimana ia bisa membiayai hidupnya sehari-hari, termasuk memesan peralatannya yang khusus?

Yah, meskipun banyak keganjilan dan keanehan logika di sana-sini, film ini tetap menarik disaksikan. Terutama sekali bagi pecinta cerita ala komik, karena memang penggambarannya dibuat mirip dengan kisah aslinya.

Leave a Reply