Resensi Film-Bhayu MH

Desperado

Year : 1995 Director : Robert Rodriguez Running Time : 106 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Film ini adalah sekuel kedua dari “Trilogi Meksiko” karya Robert Rodriguez, menyusul sekuel pertamanya El Mariachi (1992). Inti ceritanya adalah tentang seorang jagoan Meksiko bernama El Mariachi yang menuntut balas atas kematian kekasihnya. Pembunuhnya adalah raja obat terlarang kartel Meksiko.

Jalan Cerita

Kehebatan El Mariachi (Antonio Banderas) telah banyak didengar khalayak ramai di Meksiko. Legendanya seringkali membuat orang yang belum pernah menyaksikan langsung aksinya sulit percaya. Seperti saat di sebuah bar seorang lelaki mengatakan bahwa ia menjadi saksi mata suatu pembantaian yang dilakukan pria menggunakan tempat gitar penuh senjata. Ketika pria itu menyebutkan bahwa pria tersebut mencari pria bernama “Bucho”, sang pemilik bar marah. Di tempat terpisah, setelah keluar dari bar, lelaki tersebu memberitahu El Mariachi bahwa bar itu adalah tempat bagus untuk mulai mencari Bucho. Di sisi lain, bartender memberitahu Bucho bahwa “pria bersetelan hitam” mencarinya. Mendengar itu, Bucho pun meningkatkan pengamanan dirinya.

El Mariachi tiba di kota itu dan berteman dengan seorang pemuda. Tetapi saat ia masuk bar, sang pemilik mengenalinya. Celakanya di dalam bar itu semua orang bekerja untuk Bucho, sehingga terjadi baku tembak. Dalam kekisruhan, El Mariachi menyelamatkan seorang wanita, yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Carolina (Salma Hayek). Ia adalah seorang pemilik toko buku, yang walau sepi namun anehnya tetap bisa buka. Ternyata, Bucho yang memberinya uang tentu dengan keinginan memiliki Carolina.

Segera setelah merasa lebih baik, El Mariachi menemui teman Amerika-nya di dekat gereja. Tetapi, mereka diserang oleh ahli pelempar pisau bersuku Indian Navajo, pembunuh suruhan Bucho. Temannya tewas, tetapi El Mariachi selamat walau terluka. Tetapi si pembunuh itu malah ditembak anak buah Bucho karena dicurigai sebagai agen ganda Kolombia. Walau sebenarnya dia malah dikirim oleh atasan Bucho untuk membunuh El Mariachi.

Karena El Mariachi terluka, ia pun kembali ke toko buku dan bersembunyi dulu setelah dirawat Carolina. Menyadari bahwa El Mariachi bersembunyi di sana, Bucho mengirim segerombolan orang untuk mengepung. Toko buku dibakar habis, tetapi keduanya berhasil lolos melalui atap. Dari posisinya di atas, El Mariachi punya kesempatan untuk membunuh Bucho. Tetapi setelah melihat wajahnya di periskop bidik senapan, ia malah mengurungkan niatnya. Carolina tentu heran dan meminta penjelasan, tetapi El Mariachi menolak menjawab.

desperado-originalDi hotel, El Mariachi lantas meminta agar Carolina meninggalkan kota. Tetapi wanita itu menjawab seluruh uangnya telah terbakar bersama toko bukunya. Menyadari bahwa ia kini harus menghadapi Bucho dan anak-buahnya, El Mariachi meminta bantuan dua temannya. Mereka adalah Campa (Carlos Gallardo) dan Quino (Albert Michel, Jr.), yang keduanya serupa dengannya, yaitu jago tembak berkamuflasekan kotak kemasan gitar. Bertiga, mereka berhasil menghabisi gerombolan Bucho. Walau pada akhirnya, hanya El Mariachi yang selamat sementara kedua temannya gugur.

Dalam baku tembak, El Mariachi sadar bahwa pemuda temannya yang ditampilkan berteman dengannya di awal film tertembak. Berdua Carolina, El Mariachi melarikannya ke Rumah Sakit sebelum menuju ke ranch (peternakan kuda) Bucho.

Saat tiba di sana, baru diketahui bahwa Bucho ternyata adalah kakak El Mariachi. Tetap saja Bucho marah karena pengkhianatan Carolina yang telah dianggapnya sebagai kekasih. Ia mengancam akan membunuh wanita itu untuk membalas kematian orang-orangnya yang dibunuh El Mariachi, Quino dan Campa. Walau enggan, El Mariachi terpaksa menembak mati Bucho demi menyelamatkan Carolina.

Setelah itu, El Mariachi dan Carolina menengok pemuda yang dirawat di RS. Karena ia sudah berangsur sembuh, maka bisa ditinggalkan. Di akhir film, Carolina yang melintas di jalan raya di tengah padang pasir melihat El Mariachi sedang berjalan kaki. Ia menawarinya tumpangan dan tentu saja El Mariachi mau. Ia sempat membuang tas kotak gitarnya yang berisi senjata, lantas mencium Carolina. Mobil Carolina sempat melaju, tetapi kemudian mundur kembali untuk mengambil tas kotak gitar yang tadi dibuang. El Mariachi mengatakan kalau itu untuk jaga-jaga karena perjalanan masih jauh. Keduanya lantas menuju ke arah matahari terbenam.

Kritik Film

Meski menggunakan setting Meksiko dan kehidupan masyarakatnya, harus diingat film ini fiksi belaka. Lebih daripada itu, cerita film ini surreal, mendekati comical superhero. Dalam hal ini, penonton akan dibuat terpukau pada aksi El Mariachi yang bak Lucky Luke, menembak lebih cepat dari bayangan. Apalagi saat Campa dan Quino bergabung, aksi mereka bak tiga pendekar pedang tak terkalahkan. Walau tentu saja mereka menggunakan senjata api. Keren abis!

3684_5Dengan teknologi perfilman di tahun 1995, film ini tergolong hard core. Sekedar mengingatkan, film ini sezaman dengan Braveheart, Golden Eye, dan Die Hard with A Vengeance. Dan tentunya saat itu teknologi CGI belum semaju sekarang (resensi film ini dibuat tahun 2015, tetapi tetap diposting di tanggal peluncuran perdananya di 1995 agar teratur). Walau begitu, adegan tembak-menembaknya tetap menimbulkan efek wow.

Apalagi dipadu dengan kesegaran dua bintangnya, Antonio Banderas dan Salma Hayek, dijamin akan memuaskan mata penonton. Antonio yang saat itu berusia 35 tahun dan Salma yang 29 tahun merupakan usia matang dalam dunia perfilman. Dan memang keduanya membuktikan sangat layak didapuk sebagai pemeran untuk karakter Latino.

Logika cerita sebenarnya lemah di sana-sini, tetapi karena sekali lagi ini film surreal ala comical superhero, maka harus dimaklumi kalau jagoan haruslah menang. Contohnya bagaimana keduanya tiba-tiba bisa berada di atap seberang bangunan toko yang dibakar merupakan sebuah misteri. Dan lucunya, atap yang cuma setinggi 2-3 meter itu seolah bisa menyembunyikan keduanya dari pandangan orang-orang anak buah Bucho –dan Bucho sendiri– yang berkerumun di bawah.

Latar-belakang El Mariachi dan Bucho yang ternyata bersaudara kandung juga tak jelas. Pokoknya penonton seakan harus menerima fakta itu apa adanya begitu saja tanpa penjelasan. Karena itu, bagi saya, selain menikmati keelokan paras dan tubuh Salma Hayek (karena saya pria), cukuplah mengikuti adegan baku-tembaknya yang memang seru abis! Tak usah terlalu banyak berpikir logika, yang penting jagoan menang!

Leave a Reply