Resensi Film-Bhayu MH

Dracula Untold

Year : 2014 Director : Gary Shores Running Time : 92 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Pada abad pertengahan, alkisah ada seorang Pangeran Transylvania bernama Vlad the Impaler. Saat masih kanak-kanak, di diperbudak oleh Imperium Turki dan dilatih menjadi serdadu handal sehingga masuk dalam kesatuan elite Sultan bernama Janissary. Ia menjadi pahlawan perang yang sangat ditakuti, sehingga dijuluki Impaler atau “Penjagal”, karena ia telah membunuh ribuan musuh. Lama kelamaan, ia muak sendiri pada aksinya. Ia berusaha keluar dan menyingkir serta kembali ke Transylvania, memerintah negerinya dengan tenteram. Ia berupaya mengubur masa lalunya. Walau reputasinya terlalu besar untuk ditutupi.

Satu hari saat sedang berkelana di hutan bersama prajuritnya, Vlad menemukan helm pasukan Turki di aliran sungai. Ia pun kuatir bahwa itu adalah bagian dari tim pengintai Turki yang sedang mempersiapkan serangan. Mereka mengikuti arus itu ke gua gunung yang tinggi. Di dalamnya, lantai gua ternyata dipenuhi tulang yang telah dihancurkan, dan mereka lantas diserang oleh makhluk tak dikenal dalam kegelapan. Meskipun prajuritnya terbunuh, Vlad berhasil meloloskan diri menuju sinar matahari dan tak diikuti makhluk itu. Dari pendeta setempat, ia mendapatkan keterangan bahwa makhluk itu adalah “Vampire”. Tadinya dia adalah manusia, tetapi membuat perjanjian dengan setan sebagai imbalan atas kekuatan khususnya yang luar biasa bagi manusia.

Hari berikutnya, Vlad merayakan Paskah bersama istrinya Mirena, putranya Ingeras dan sejumlah petinggi istana. Tiba-tiba, kontingen Turki tiba tanpa diundang di kastilnya. Vlad menawari mereka upeti seperti biasa berupa koin perak. Tetapi utusan itu menyatakan bahwa satu battalion pengintai Turki hilang dan menuduh Vlad membunuh mereka. Sebagai gantinya, mereka menuntut pembayaran 1.000 pemuda untuk Janissary. Vlad menolak, tetapi pasukannya terlalu kecil dan tidak sebanding melawan Turki.

Untuk menyelamatkan rakyatnya, Vlad mendekati Sultan Turki, Mehmed. Ia menawarkan driinya sendiri sebagai ganti daripada harus mengambil para pemuda. Tetapi Sultan menolaknya. Malah, ia meminta putra Vlad sebagai tambahan upeti.

Panik dan putus asa, Vlad kembali ke gua vampire dan meminta bantuan. Sang vampire menawarinya untuk meminum darahnya, yang berefek untuk sementara memberikan Vlad kekuatan vampire. Apabila ia berhasil melawan kebutuhan dan keinginannya yang haus untuk meminum darah manusia, setelah tiga hari, ia akan kembali menjadi manusia. Tetapi bila gagal, ia akan menjadi vampire selamanya. Dan pada saatnya akan harus melayani pembuatnya. Vlad menerima tawaran itu dan meminum darah vampire.

Terbangun di tengah hutan keesokan harinya, Vlad menemukan bahwa dia telah memiliki kemampuan penginderaan hebat, kecepatan tinggi, dan kemampuan merubah wujud menjadi kelelawar. Tetapi ia memiliki kelemahan karena kulitnya terbakar bila terkena sinar matahari langsung.

Ketika Vlad kembali ke Kastil Drakula, tentara Turki menyerang. Tetapi sendirian saja Vlad membunuh mereka semua. Ia kemudian mengirimkan seluruh penghuni kastil dan rakyatnya ke Biara Cozia yang terletak di puncak gunung. Selama perjalanan, Mirena mengetahui kutukan terhadap Vlad, tetapi ia bisa menerima karena ia akan kembali menjadi manusia setelah Turki dikalahkan. Seorang gypsy bernama Shkelgim, mengetahui bahwa Vlad adalah vampire, lantas menawarkan dirinya sebagai pelayan dan menawari darahnya sendiri untuk diminum, tetapi Vlad menolak.

Di dekat biara, rombongan pengungsi Transylvania diserang oleh tentara Turki. Dan ketika Vlad dan pasukannya berhasil mengusir mereka, kekuatan Vlad yang tiba-tiba meningkat pesat menimbulkan kecurigaan pada rakyatnya. Sehari kemudian di biara, rahib mengetahui kutukan terhadap Vlad dan menghasut rakyat supaya melawan Vlad. Karena siang hari, Vlad bersembunyi dari sinar matahari di dalam sebuah gubuk. Mereka lantas membakarnya, tetapi asap hitam malah menghalangi sinar matahari dan membuat Vlad yang marah berhasil lolos. Ia lantas keluar dan mengatakan bahwa ia terpaksa menjadi vampire untuk melindungi rakyatnya dari Turki.

Di malam harinya, tentara Turki yang ditutup matanya berbaris menuju ke biara. Vlad menghadapi mereka dengan kekuatan gaibnya menggunakan ribuan kelelawar untuk menyerang. Meski berhasil mengalahkan pasukan itu, Vlad terkecoh karena pimpinan pasukan itu bukanlah Mehmed sang Sultan. Karena itulah para tentara itu ditutup matanya agar tidak mengetahui bahwa mereka berperang bukan di bawah komando Sultan.

Sementara itu, sekelompok anggota pasukan Turki berhasil menyusup ke biara dan menculik Ingeras. Mirena yang berusaha mempertahankan putranya terjatuh dan terlempar dari atas ketinggian biara. Vlad menyadari adanya upaya penyusupan itu dan bergegas kembali saat istrinya terlempar. Meski menggunakan kekuatan gaibnya, Vlad gagal menyelamatkan istrinya yang jatuh menghantam tebing dan sekarat.

Menyadari situasi sulit mereka, Mirena meminta Vlad meminum darahnya guna menyelamatkan Ingeras. Meski berat hati, Vlad akhirnya bersedia meminum darah istrinya hingga istrinya tewas. Tindakan itu membuat Vlad bertransformasi menjadi vampire seutuhnya. Kekuatannya makin besar. Vlad kembali ke biara dan mengubah penduduk serta prajurit yang tersisa menjadi vampire.

Di tendanya, Mehmed menyiapkan invasi besar-besaran terhadap Eropa. Kelompok vampire Vlad tiba dan membantai semua prajurit tanpa sisa. Kekuatan setan mereka tak bisa ditandingi manusia. Vlad sendiri memburu Mehmed ke tenda Sultan. Tetapi Sultan sudah mendapatkan informasi mengenai kelemahan vampire. Maka, ia memenuhi lantai tendanya dengan koin perak dan bertarung menggunakan pedang perak. Ia berhasil memperdaya Vlad, tetapi karena kecerobohannya keadaan berbalik sehingga Vlad berhasil mengalahkannya. Vlad berubah menjadi kelelawar dan kemudian membunuh Mehmed dengan meminum darahnya. Ia pun mengumumkan nama barunya sebagai “Dracula, Putra Setan.”

Vlad berhasil membebaskan Ingeras yang ditawan di tenda Sultan. Tetapi di luar tenda, Dracula dan Ingeras dikepung oleh para vampire yang kehausan. Mereka ingin membunuh dan meminum darah Ingeras, satu-satunya manusia tersisa di sekitar tempat itu. Tanpa diduga, rahib yang semula menentang Vlad datang. Ia menakuti para vampire dengan Salib Kristen. Vlad yang telah menjadi Dracula memerintahkan rahib untuk membawa pergi Ingeras. Ia lantas menggunakan kekuatannya untuk mengusir awan hitam dari langit. Ini menyebabkan matahari kembali nampak dan bersinar terang serta membakar semua vampire lain. Dracula sendiri terjatuh, terbakar, dan berubah menjadi sosok mayat hangus berupa tulang-belulang berbalut kulit.

Eropa terselamatkan dari invasi Turki. Ingeras kemudian dimahkotai sebagai Pangeran Transylvania yang baru. Vlad the Impaler alias Dracula dianggap tewas. Tanpa diketahui siapa pun, Shkelgim diam-diam membawa Dracula ke balik bayangan gunung dan membangkitkannya kembali dengan meminumkan darahnya.

Film melompat ke masa kini, masa post-modern dimana diperlihatkan Eropa yang sudah maju. Mobil-mobil berseliweran dan di trotoar tampak berjalan sesosok lelaki menggunakan overcoat. Dengan mudah dikenali bahwa lelaki itu adalah Vlad. Ia melihat sosok wanita cantik dan mendekatinya karena kemiripan dengan Mirena. Mereka berkenalan dan wanita itu menyebutkan namanya sebagai “Mina”. Vlad mengutip puisi buatannya sendiri, yang ternyata merupakan favorit si wanita tanpa tahu di hadapannya adalah sang penyair yang sudah berusia ribuan tahun. Vampire yang mengutuk Vlad memperhatikan mereka dari jauh. Ia pun menyeringai sambil berkata, “Let the games begin”.

Kritik Film

Menyaksikan film ini tanpa pretense, saya terbayang film Dracula lain. Tentu saja, sosok ini begitu menancap di benak sebagai film horror. Makanya saat Bram Stoker membuat versi Dracula-nya sendiri, dunia perfilman sempat heboh. Di film ini, sosok Dracula malah dihadirkan seolah sebagai sosok historis. Lebih dari itu, ia justru pahlawan bagi bangsanya: Transylvania.

Pemirsa harus diingatkan bahwa film ini adalah fiktif. Pada kenyataannya, meskipun Turki tidak berhasil menguasai seluruh Eropa, tetapi Sultan Mehmed II The Conqueror tidak pernah terbunuh di medan laga. Apalagi dibunuh oleh vampire. Sebagai Muslim, sebenarnya saya geram simbol-simbol Islam dipergunakan sebagai ‘mainan’ di film ini. Jelas sekali ada satu adegan dimana Vlad menggunakan tombak pasukan Turki yang terpasang bendera terpasang untuk menghalau musuh. Dan terlihat jelas kalau bendera dan panji pasukan Turki berserakan di tanah setelah perang. Padahal, di bendera dan panji itu tersemat asma “ALLAH” dan tulisan “Laa Ilaaha Ilallah” yang suci bagi umat Islam.

Secara agamis, juga aneh kalau Dracula yang disebut hamba setan tidak takut pada asma Tuhan Islam. Tetapi ia justru takut pada salib yang dibawa pendeta.

Toh, semua itu harus disingkirkan karena jelas ini film buatan Hollywood dari dunia barat yang Yudeo-Kristiani. Jelas nuansa barat dan Kristen sentris kental di sini. Jangan harap film ini seperti Kingdom of Heaven (2005) yang cukup obyektif memotret sejarah.

Tetapi, sekali lagi harus diingat film ini justru fiktif, walau memasukkan latar sejarah. Tidak ada data dan fakta sahih mengenai keberadaan Dracula. Semuanya cuma dongeng dan mitos belaka.

Dengan mengesampingkan semua itu, secara umum film ini masih bisa dinikmati. Akting Luke Evans sebagai Vlad III Țepeș bagus, malah terlalu menonjol dibandingkan karakter lainnya. Sebenarnya peran Mirena sebagai istrinya bisa lebih dioptimalkan. Sehingga penonton akan lebih mudah mengerti mengapa Vlad sampai bersekutu dengan setan, karena ia justru hendak menyelamatkan rakyatnya dan keluarganya. Tetapi secara ideologis juga bisa dipahami bahwa kekuatan Turki ternyata berhadapan dengan kekuatan setan, sehingga pada akhirnya terpaksa kalah.

Toh, akhir film ini mengesankan akan ada sekuelnya. Dengan keberadaan Vlad yang ternyata terus hidup hingga masa modern. Bisa jadi mengingat film ini sukses secara komersial. Dengan biaya produksi US$ 70 juta, pemasukannya US$ 215 juta. Menggoda memang untuk dibuatkan lanjutannya.

One Response so far.

  1. Aisyah Senja says:

    Iya kak, film hollywood seringkali subyektif. Apalagi di era abad pertengahan. Muslim harusnya bisa hebat di segala aspek, jadi kalau mereka bikin film macam ini. Kita bisa lawan, ga pakai kekerasan. tapi juga pakai film yang lebih obyektif dan edukatif.
    Anyaway thanks a lot buat bnyk resensi filmnya, sangat membantu.

Leave a Reply