Resensi Film-Bhayu MH

Eat Pray Love

Year : 2010 Director : Ryan Murphy Running Time : 140 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Kisah petualangan seorang wanita penulis bernama Elizabeth Gilbert dalam mencari jatidiri.

Di awal film, digambarkan Elizabeth “Liz” Gilbert sempat mengunjungi Bali-Indonesia. Di sana ia menemui seorang tetua Bali, ahli pengobatan generasi kesembilan bernama Ketut Liyer (Hadi Subiyanto). Dengan palmistry atau membaca garis tangan, Liz diramal akan kembali lagi ke Bali dan tinggal lebih lama, untuk mengajari Ketut bahasa Inggris dan sebagai imbalannya Ketut berjanji akan mengajari semua yang diketahuinya. Ketika akan pergi, Ketut memberikannya gambar tradisional Bali yang intinya menggambarkan konsep: “berpikirlah dengan hati, jangan cuma dengan kepala”.

Sekembalinya ke New York-Amerika Serikat, enam bulan setelahnya, tampaklah kehidupan Elizabeth “Liz” Gilbert bisa jadi merupakan impian dari banyak wanita modern. Ia adalah seorang penulis laris bersuamikan pemuda pintar. Rumahnya bagus dan tentu harta bukan lagi masalah baginya. Tetapi, ia merasakan kehampaan dalam kehidupannya. Terutama karena suaminya Stephen (Billy Crudup) tidak jelas arah tujuan hidupnya. Meski cukup kaya, tetapi suaminya sebenarnya pengangguran karena terus berganti-ganti usaha dan pekerjaan. Terkadang Stephen juga bisa bersifat romantis, tetapi pada dasarnya dia lelaki yang kasar.Maka, Liz pun memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai.

Setelah melalui drama dimana suaminya sempat menolak cerai bahkan mewakili dirinya sendiri tanpa pengacara, Liz berhasil menyelesaikan masalah rumahtangganya. Tetapi tidak dengan hatinya. Ia makin galau. Ia sendiri kini tidak yakin lagi apa tujuan hidupnya. Terutama karena ia sendiri tidak dekat dengan Tuhan dan tidak pernah bersembahyang atau berdo’a.

Liz kemudian berkenalan dengan aktor teater bernama David Piccolo (James Franco). Pria yang lebih muda darinya itu menemaninya melewati masa-masa galaunya saat proses perceraian masih berlangsung. Dari David pula Liz mengenal “Guru Gita” yang memiliki ashram di New Delhi-India dan New York-Amerika Serikat. David juga dikenalkan kepada sahabat dan editornya Delia Shiraz (Viola Davis) beserta suaminya Andy Shiraz (Mike O’Malley)

Maka, Liz pun mengelaborasi dirinya. Ia pun berpamitan pada Delia untuk libur setahun. Pertama-tama ia hendak mencari pencerahan di Italia. Petualangannya ini kemudian akan dilanjutkan ke dua negara lain yang diawali huruf I: India dan Indonesia. Dengan keberangkatannya ke Italia, berarti Liz memutuskan meninggalkan David. Dan saat itulah ia mendapatkan kabar dari pengacaranya bahwa Stephen akhirnya setuju menandatangani akta perceraian.

Setibanya di Naples-Italia, sempat kesulitan berkomunikasi dengan bahasa setempat. Sampai saat ia sedang berusaha memesan di sebuah kedai kopi, seorang wanita asal Swedia yang sudah cukup lancar berbahasa Italia membantunya. Sofi (Tuva Novotny) lantas memperkenalkan Liz pada guru privat bahasa Italianya bernama Giovanni (Luva Argentero). Selain belajar bahasa dan berwisata, di Italia Liz menikmati makanannya yang lezat. Selain ditemani Sofi dan Giovanni, ia juga berkenalan dengan pria asli Italia teman mereka, Luca Spaghetti yang mengaku keluarganyalah penemu makanan seperti mie ala Italia yang terkena itu. Ia diperkenalkan pada konsep Italia “dolce far niente” alias “seni manisnya tidak berbuat sesuatu pun”.

Saat berjalan-jalan ke Roma, di tengah reruntuhan Augusteum yang dibangun oleh Kaisar Romawi Kuno Octavian Augustus, Liz mendapatkan penyadaran. Reruntuhan itu sendiri sudah menjadi tempat tinggal bagi kaum gelandangan dan tidak terawat baik. Kota Roma modern sendiri berkembang pesat di sekelilingnya, meninggalkan jejak masa lalu itu bak luka yang terlalu berharga untuk dilupakan. Itu seperti patah hati yang tidak ingin kau biarkan pergi hanya karena rasa sakitnya begitu dalam. Kita seringkali memaksa diri tinggal dalam kenestapaan, karena kita takut pada perubahan, pada sesuatu yang akan mengganggu reruntuhan. Padahal reruntuhan adalah hadiah, jalan menuju transformasi.

Ketika Liz akan meninggalkan Italia, mereka mengadakan makan malam di rumah Ruffina, ibunda Giulio. Makan malam Thanksgiving ala Amerika itu jadi lucu karena Luca lupa memanggang kalkunnya, sehingga mereka baru memakannya pada saat sarapan.

eat-pray-love_ubud_baliLiz lalu menuju ke India, tepatnya di kota Calcutta untuk tinggal di ashram Guru Gita-nya David. Tapi konyolnya, sang Guru malah tengah berada di New York, kota asal Liz. DI situ, ia berkenalan dengan Corella (Sophie Thompson), wanita Eropa teman sekamarnya. Juga dengan Tulsi, gadis remaja asli India yang ‘curhat’ kepadanya karena hendak dijodohkan orangtuanya. Tetapi yang menjadi teman baiknya adalah seorang pria paruh baya yang berasal dari negara yang sama dengannya. Namanya Richard (Richard Jenkins) yang berasal dari Texas. Ia mengaku sudah bertahun-tahun tinggal di ashram itu karena mencari ‘penebusan dosa’ atas kelalaiannya hampir menyebabkan anaknya tertabrak oleh mobilnya sendiri saat ia sedang mabuk. Tetapi sang istri tidak memaafkannya hingga pergi membawa anak-anaknya. Richard kemudian malah pulang lebih dulu daripada Liz. Tetapi sebelumnya mereka berdua sempat menghadiri pernikahan Tulsi yang akhirnya mau dijodohkan karena pemuda calonnya itu ternyata baik dan pintar.

Perhentian terakhir Liz dalam perjalanan liburan setahunya adalah di Bali-Indonesia. Di sini, Liz semula hanya hendak menghabiskan akhir tahun atau bertahun baru saja. Ia pun kembali menemui Ketut Liyer yang ternyata memintanya untuk menyalin naskah daun lontar. Saat Liz terjatuh disenggol oleh jip yang dikendarai oleh pebisnis dari Brazil bernama Felipe (Javier Bardem), ia kemudian menemui Wayan (Christine Hakim) yang merupakan ahli pengobatan tradisional. Dengan ramuannya, lukanya cepat sembuh dan ia pun bisa berpesta bersama Felipe.

Felipe ternyata seorang duda dengan anak yang sudah remaja. Setelah melalui pergulatan batin dan tarik-ulur di antara keduanya, pada akhirnya Liz dan Felipe mampu menerima satu sama lain. Tidak hanya mendapatkan jodoh baru, hati Liz pun kemudian tergerak untuk menyurati semua temannya untuk menyumbangkan uang bagi Wayan dan anaknya Tutti yang rumahnya tergusur. Dan dengan uang sumbangan yang terkumpul sebesar US$ 18.000 itu, Wayan akhirnya bisa punya rumah. Akhir film digambarkan Liz dan Felipe memutuskan mengarungi hidup baru, disimbolkan dengan menaiki kapal menyeberangi pulau.

Kritik Film

eat-pray-love-wallpaper19Saya tidak tahu musti berkomentar apa. Film ini sarat nuansa emosional seperti digambarkan oleh Elizabeth Gilbert sendiri dalam novel berjudul sama yang diadaptasi film ini. Dan satu yang pasti, penggambaran tiga negara yang jadi setting film ini cukup memukau. Termasuk, tentu saja negara saya, Indonesia. Pemandangan alam, nuansanya, makanannya, penduduknya, dapet banget!

Kegalauan hati Liz sepanjang film terasa sekali. Apalagi ditunjang oleh akting prima Julia Roberts dan para pemain lain, membuat kita seolah sedang menonton film documenter saking wajar dan alaminya. Tidak tampa dibuat-buat bahkan seperti sedang tidak bermain film.

Meski sepintas kita tahu Liz tidak taat beragama dari caranya berdo’a yang kaku di awal film, tetapi tidak tampak seperti sebuah kampanye ateisme. Bahkan saat Liz pergi ke India dan mengatakan “saya dan Guru Gita tidak cocok”, juga tak terdengar sebagai penghinaan kepada agama, Hindu khususnya.

Kalau pun mau dibilang “kelemahan” adalah pada alur cerita yang amat lambat. Bagi penyuka film beritme cepat seperti genre action atau war, menonton film ini akan membuat bosan dan mengantuk.

Menonton film ini di saat yang tepat, akan membuat hati merasa tenang. Rasanya menyenangkan dan menenangkan, apalagi bagi yang tengah mengalami masalah dengan hidupnya seperti Liz. Film yang pantas dikoleksi untuk ditonton kembali sewaktu-waktu.

2 Responses so far.

  1. […] menjadi penuh para “pencari”. Gambarannya bisa kita lihat di film Eat, Pray, Love (resensi bisa dibaca di https://lifeschool.wordpress.com). Mereka yang sehari-hari jarang bahkan tak pernah bersentuhan dengan spiritualitas atau […]

Leave a Reply