Resensi Film-Bhayu MH

Escape Plan

Year : 2013 Director : Mikael Håfström Running Time : 115 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Duo jagoan gaek yang di masa jayanya dahulu seolah bersaing jadi aktor laga terbaik kini malah berkolaborasi di satu film. Mereka adalah Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger. Sebenarnya ini bukan film pertama mereka bermain bersama. “Reuni akbar” para bintang laga tempo doeloe justru berlangsung di The Expendables. Di sana malah ada beberapa nama aktor laga terkenal dari dekade tahun 1980-1990-an.

Di film ini, Stallone berperan sebagai seorang konsultan keamanan bernama Ray Breslin. Ia adalah mantan jaksa yang setelah pensiun ikut menjadi salah satu pemilik firma konsultan keamanan yang spesialisasinya adalah menguji kehandalan penjara keamanan maksimum. Ia berkali-kali sengaja ditangkap dan dimasukkan penjara untuk kemudian meloloskan diri. Hanya pejabat tingkat atas yang tahu statusnya, sedangkan penghuni lain dan sipir penjara tidak tahu. Dengan demikian ia dianggap tahanan biasa dan tidak diperlakukan berbeda. Berdasarkan pengalamannya, ia menulis buku berjudul “Compromising Correctional Institution Security”.  Di awal film, ia berhasil meloloskan diri dari penjara Bendwater dan mengungkapkan bahwa seorang narapidana perlu tiga hal untuk kabur: mengetahui struktur penjara, mengenali pola kebiasaan orang-orang di penjara terutama para penjaga dan ada bantuan dari pihak di luar penjara.

Satu saat, ia dan partnernya Lester Clark ditawari kesepakatan jutaan dollar oleh pengacara CIA Jessica Miller untuk tugas menguji keamanan penjara. Ia membiarkan dirinya ditangkap di New Orleans, negara bagian Lousiana dengan nama samara Anthony Porthos. Surat dakwaan palsu dibuat mengesankan ia adalah seorang teroris asal Spanyol.

Selama ini, apabila ia sedang dalam tugas serupa, Breslin tetap dipantau oleh timnya. Tapi kali ini, para penangkapnya berhasil menemukan micro-chip pelacak di bawah kulitnya dan menghancurkannya. Breslin pun dibius dan sempat pula dipukuli. Dalam keadaan setengah sadar ia melihat seorang tahanan lain malah dilempar keluar dari helikopter karena melawan petugas.

Ia terbangun di sebuah penjara berdinding kaca anti peluru. Saya lantas teringat pada penjara plastiknya Magneto di film X-Men: The Last Stand (2006). Tapi di film ini, para tokohnya bukan superhero atau villain, tapi orang biasa. Maka, Breslin pun mempelajari dan mengamati penjara tempatnya ditahan itu.

Saat pertama kali sesi orientasi tahanan yang sangat singkat, Breslin terkejut karena kepala penjara bukan bernama Marsh, melainkan Willard Hobbes. Bahkan saat ia menyebutkan sederetan angka sebagai sandi evakuasi, ternyata tak berlaku.

Pertama kali keluar dari sel untuk berinteraksi dengan sesama tahanan di aula, Breslin yang narapidana blok A nyaris dipukuli kelompok dari blok D. Lalu datanglah seseorang mencegah. Ia adalah pimpinan kelompok lain yang disegani, Emil Rottmayer yang diperankan Arnold. Semula, Breslin tidak mau berteman dengan Rottmayer. Tapi kemudian ia memilih untuk mencari sekutu apalagi saat Rottmayer menawarkan bantuan.

Untuk mempelajari struktur penjara, Breslin meminta mereka berdua sengaja berkelahi agar dikirim ke sel isolasi. Ternyata sel itu sangat menyiksa. Bukan hanya terletak di ketinggian dan ukurannya sempit hingga sulit berdiri dan bergerak, tapi tepat di depan sel diletakkan lampu halogen berdaya tinggi yang menyorot ke dalam. Akibatnya, siapa pun yang berada di dalam bukan cuma akan silau, tapi juga kepanasan. Tapi saat itulah Breslin mendapati lantai sel isolasi bisa dibuka karena terbuat dari aluminium dengan sekrup besi.

Saat mereka berdua dikurung, rekan kerja di firma konsultan Breslin panik. Selain kehilangan jejak, ternyata ada beberapa kejanggalan lain seperti tak ada data tentang operasi itu sama sekali. Di penjara, seusai dikurung beberapa jam Breslin diperiksa oleh seorang dokter. Ia mencoba mengetuk rasa kemanusiaan dokter itu terhadap kondisi para tahanan.

Setelah dilepaskan dari sel isolasi, mereka kembali berunding. Barulah saat itu Rottmayer tahu kalau Breslin yang gemar mengamati lingkungan penjara berencana kabur. Berdua mereka bertukar pikiran tentang cara meloloskan diri dari penjara itu. Breslin meminta Rottmayer mencarikannya pelat besi tipis. Untuk itu Rottmayer lantas meminta bicara dengan kepala penjara.

Dalihnya adalah memberikan informasi yang dicari oleh Hobbes, yaitu lokasi keberadaan boss dari  Rottmayer yang bernama Victor Mannheim. Ia sendiri dipenjarakan di situ oleh musuh-musuh bossnya. Di negaranya, Mannheim bertindak bak Robin Hood, merampok dari orang kaya dan dibagikan kepada warga miskin. Karena itu ia disebut pahlawan rakyat, namun dibenci orang kaya dan penguasa. Dari kantor Hobbes akhirnya Rottmayer berhasil mengambil potongan besi dari lantai di bawah mejanya.

Sesampai di ruang makan, potongan besi itu diberikan pada Breslin. Di penjara itu ditahan para kriminal kelas kakap termasuk digambarkan adalah narapidana terorisme yang tentu saja beragama Islam, walau tak disebutkan secara literal mereka Al-Qaeda. Seperti di sekolah atau kehidupan nyata, di penjara juga ada pengelompokan atau geng. Biasanya berdasarkan ras. Dan kelompok muslim ternyata cukup banyak. Breslin dan Rottmayer semula menghindari bentrokan dengan mereka. Namun, kali ini mereka justru mengajak Javed, salah satu tahanan Muslim untuk bekerjasama.

Mereka bertiga membuat ulah sehingga dimasukkan ke sel isolasi. Dengan potongan itu ia berhasil membuka lantai dan dengan susah-payah berhasil naik ke atap penjara. Alangkah terkejutnya Breslin sesampainya di sana ternyata penjara itu berada di lambung sebuah kapal kargo raksasa yang tengah berlayar di lautan.

Breslin berhasil kembali ke sel isolasinya tepat waktu. Ketiga orang itu lantas berunding kembali. Mereka terutama Breslin mempelajari kembali pola para penjaga dan struktur bangunan. Mereka kemudian memutuskan untuk mencari tahu di mana sebenarnya posisi kapal itu berada. Breslin membuat sextan untuk mengukur posisi bintang dan mempelajari arah angin. Mereka meminta Javed bernegosiasi dengan Hobbes. Javed bermuslihat bahwa ia mengetahui rencana pelarian Breslin dan Rottenmayer.

Sementara itu, Lester Clark ternyata mengenal Hobbes. Ia menghubungi sang kepala penjara dan membuka rahasia kedok penyamaran Breslin sebagai Porthos. Hobbes pun mengkonfrontir fakta itu kepada Breslin. Tapi ia menolak membebaskannya karena menurutnya justru client-nya menginginkan dirinya ditahan selamanya.

 Breslin meneruskan rencana kaburnya. Javed meminta barter informasi dengan kesempatan berada di tempat dimana ia bisa “dlihat oleh Tuhannya”. Itu berarti ia meminta agar berada di tempat terbuka di mana bisa mehat langit. Permintaan ini dikabulkan. Berkat Javed yang menggunakan sextan darurat, Breslin berhasil mengidentifikasi lokasi mereka di Samudera Atlantik, dekat Maroko.

Sementara itu Breslin mencoba bernegosiasi dengan Hobbes. Ia mengatakan tahu mengenai informasi rahasia yang diinginkan yaitu lokasi Victor Mannheim. Itu menurutnya karena Rottmayer mempercayainya. Informasi itu membuatnya diberi kesempatan bicara berdua dengan Hobbes di kantornya beberapa kali. Breslin juga berhasil membuat dokter membantunya. Sehingga sang dokter mengirimkan e-mail mengenai lokasi mereka dan meminta penjemputan dengan helikopter.

Javed memberikan informasi palsu mengenai rencana pelarian Breslin. Dengan kamera CCTV menyoroti selnya, Breslin sengaja memberi kode ketukan palsu. Ironisnya, Hobbes merujuk pada buku Breslin sendiri untuk tahu artinya. Dari ketukan itu, Breslin seolah mengindikasikan akan da kerusuhan di Blok C. Karena itu, Hobbes menginstruksikan agar melipat-tigakan penjagaan di sana.

Dengan bantuan Rottmayer dan Javed, mereka memancing pecahnya kerusuhan. Di saat itulah ketiganya menyelinap kabur. Sebuah helikopter bersenjata telah menjemput mereka. Dan meski para pengawal berupaya mencegah, namun mereka berhasil kabur. Hobbes sendiri tewas dalam ledakan karena berada di dekat drum minyak yang ditembak oleh Rottmayer.

Sesampai mereka di lepas pantai Maroko, sebuah mobil jeep datang menjemput. Ternyata itu adalah pengacara CIA Jessica Miller. Ia mengungkapkan dirinya adalah anak Rottmayer, dan sebenarnya Rottmayer adalah Mannheim itu sendiri. Saat menyadari ayahnya ditahan dengan nama Rottmayer, Miller berupaya membebaskannya. Nama “Rottmayer” sendiri adalah kode yang berarti ia berada di penjara keamanan maksimum. Sementara nama “Porthos” justru kode bagi Mannheim bahwa ia adalah teman yang akan membantunya melarikan diri.

Sementara itu rekan kerja Breslin yaitu Hush dan Abigail Ross mendapati keterlibatan Clark. Mereka tahu Clark dijanjikan akan menjadi kepala penjara terapung itu yang diberi nama “The Tomb”. Untuk membalas dendam pada penangkapan Breslin secara semena-mena, mereka lantas melacak keberadaan Clark. Hush sang ahli teknologi informasi berhasil mendeteksinya di Miami. Mereka menangkapnya lantas memasukkannya ke dalam kapal kargo beserta mobilnya. Keberadaan kapal The Tomb yang dioperasikan oleh swasta jebolan kontraktor keamanan BlackWater diumumkan ke publik dan akhirnya dihentikan operasionalnya.

Secara pribadi saya menyukai ketegangan dalam film ini. Tak banyak adegan laga, tapi ketika terjadi baku-hantam jadi “terasa perlu”. Akting dua bintang utamanya sebenarnya sudah berhenti berkembang sejak bertahun-tahun lalu. Tapi tetap terasa lumayan karena seperti nostalgia melihat mereka bermain di film terbaru.

Walau begitu, ada beberapa kejanggalan logika yang terasa. Keterlibatan Clark agak kontradiktif karena disebut motivasinya adalah agar ia diangkat sebagai kepala penjara “The Tomb”. Sementara saat di dalam penjara, kepala penjara Hobbes menyebutkan client yang membayarnya menginginkan agar Breslin dipenjara selamanya. Jadi, siapa sebenarnya sang client itu? Demikian pula dengan cek yang sulit dicairkan dari Miller, apakah berarti orang CIA itu bohong? Namun, di saat akhir dikesankan Miller sengaja mengirimkan Breslin ke penjara keamanan maksimum itu untuk membebaskan ayahnya. Jadi, sebenarnya apa hubungan Miller dengan Clark?

Saat pelarian pun kurang masuk akal. Jarak sejauh itu ditempuh cuma dalam 10 menit. Demikian pula pengukuran posisi yang cuma berdasarkan sextan darurat dari kertas bekas dan kacamata serta mencium arah angin, sulit dipercaya. Seorang yang pernah mempelajari navigasi atau mencari jejak akan tahu bahwa cara di film itu terlalu menggampangkan. Bahkan seorang dengan peta dan kompas lengkap saja belum tentu bisa menebak posisi secara tepat.

Meskipun ada beberapa kekurangan, inilah contoh film thriller yang mengguncang jiwa. Sensasinya mirip dengan Buried (2010) karena kisahnya begitu terasa dekat dan nyata. Penonton diajak membayangkan bagaimana kalau mereka berada dalam posisi sang karakter utama. Dipenjara atau dikurung nyaris tanpa kemungkinan lolos.  Rasa frustrasinya terasa begitu lekat. Sebuah karya film yang patut diapresiasi.

Leave a Reply