Resensi Film-Bhayu MH

Everly

Year : 2015 Director : Joe Lynch Running Time : 92 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
3/5

Jalan Cerita

Everly (Salma Hayek) adalah seorang pelacur yang bekerja untuk seorang raja kriminal brutal bernama Taiko (Hiroyuki Watanabe). Satu saat, ia diserang di apartemennya oleh pasukan Taiko karena bossnya mengetahui bahwa Everly bekerjasama dengan polisi untuk menghancurkan organisasinya. Meskipun Everly berhasil ditangkap, tetapi ia tidak segera dibunuh melainkan hendak disiksa dulu secara BDSM. Ini memberikan kesempatan pada Everly untuk menggapai pistol yang disembunyikannya dip aha dan berhasil membunuh seluruh orang yang menahannya. Karena para pengawalnya dibunuh, Taiko menawarkan pada para pelacur lain di lantai apartemen tersebut uang hadiah dalam jumlah besar bila berhasil membunuh Everly. Tetapi Everly berhasil membunuh mereka semua.

Masih dalam kondisi terkepung, Everly berhasil mengontak ibunya Edith (Laura Cepeda) dan putri kecilnya Maisey (Aisha Ayamah). Ia lantas menyuruh keduanya datang ke apartemen untuk menyelamatkan mereka dari gerombolan Taiko yang menyerbu.

Dikisahkan pula bahwa Everly sebelumnya adalah tahanan di sebuah apartemen setelah diculik oleh Taiko empat tahun sebelumnya. Ia pun dipaksa menjadi pelacur. Dia tidak bisa menghubungi ibu dan putrinya, karena itu ibunya sempat gusar saat Everly tiba-tiba mengontak justru dalam situasi berbahaya. Sementara itu, orang-orang suruhan Taiko terus berdatangan. Bahkan mereka yang menggunakan seragam mirip tim SWAT dari kepolisian.

Tanpa diduga, Edith terbunuh oleh penembak jitu (sniper) yang berada di bangunan seberang apartemen. Everly akhirnya berhasil ditangkap Taiko. Tetapi saat para penjaganya pergi, Taiko justru berhasil dibunuh oleh Everly. Putrinya Maisey yang dilindungi salah satu pelacur temannya selamat, tetapi justru temannya itu terbunuh.

Film diakhiri dengan Everly rubuh ke lantai bersimbah darah. Sementara Maisey di sisinya meratapi dan kemudian diselamatkan oleh polisi. Meski diduga tewas, tetapi sebelum penayangan nama-nama kru yang terlibat dalam pembuatan film atau credit title, suara dari detektor jantung dan nafas menandakan Everly kemungkinan justru masih hidup.

Kritik Film

everly-2Menyaksikan film ini membuat saya sontak teringat pada Colombiana (2011). Kisahnya mirip, mengenai seorang wanita yang berjuang melawan mafia. Meski status Everly di film ini adalah pelacur, sementara Catelya dalam Colombiana bukan. Tetapi jagoan protagonis di film yang sosoknya sepintas seperti wanita lemah membuatnya begitu mirip. Dan kedua wanita itu juga wanita biasa, dalam arti bukan orang terlatih seperti agen rahasia atau detektif. Walau Catelya di Colombiana sengaja meminta dilatih oleh pamannya yang seorang mafia atau gangster.

OK. Kembali ke laptop.

Di film ini, Salma Hayek tampil dingin dan dewasa. Meski jelas kecantikan dan keseksian tubuhnya masih belum hilang, tetapi usia 49 tahun tentu tetap terlihat. Penampilan Salma Hayek sendiri meski masih seksi, namun tidak sesensual di masa lebih muda. Sebutlah seperti penampilannya di Fair Game (1995), In the Time of the Butterflies (2001), Once Upon a Time in Mexico (2003) atau Bandidas (2006). Dan itu berarti sebuah kemajuan dalam hal karir. Walau bagi saya, aktingnya masih belum istimewa dan kuat.

Tetapi itu cukup untuk memberikan nuansa. Di tengah film yang hampir seluruh bagiannya berlangsung di satu ruangan saja.

Hanya saja, rasionalisasi logika agak kurang di sana-sini. Background kisah trafficking sebenarnya menarik, andaikata dieksplorasi seperti trilogi Taken misalnya. Tetapi di film ini malah jadi sekedar tempelan. Kisah lebih utama justru upaya karakter Everly mempertahankan dan meloloskan diri. Yang lucunya justru harus menghadapi gerombolan mafia yang aneh, termasuk yang berkostum untuk mengadakan pesta BDSM.

Surealisme ini justru membuat penonton seperti sadar, kisah yang penuh darah ini cuma film. Dan film tak bisa lain memang pada akhirnya ditonton untuk hiburan.

Foto scene film: houseofgeekery.com

One Response so far.

Leave a Reply