Resensi Film-Bhayu MH

Hachiko: A Dog’s Tale

Year : 2009 Director : Lasse Hallström Running Time : 93 mins. Genre : , , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Film ini dibuka dengan sesi di sebuah kelas dimana muridnya diminta bercerita di depan kelas dalam sesi “My Hero”. Seorang anak permepuan menceritakan pahlawannya adalah Christopher Columbus. Ketika tiba giliran seorang anak lelaki bernama Ronnie untuk maju, ia menulis di papan tulis “Hachiko is my Hero”. Saat ia mengatakan “Hachi is my grandfather Akita dog”, seisi kelas tertawa. Tapi sang guru menenangkan dan memberinya kesempatan melanjutkan. Maka, anak itu pun melanjutkan kisah mengharukan ini…

Seekor anak anjing yang dikirim seorang biarawan kepada sahabatnya di San Fransisco lepas dari kandangnya yang terjatuh dari kereta portir di stasiun kereta api Bedridge. Ia berjalan keluar dan “menemukan” seorang lelaki paruh baya yang kemudian membawanya pulang. Karena tahu istrinya tak akan suka, ia lantas menyembunyikannya di ruang kerja. Tapi kemudian anak anjing itu gelisah dan mencari-cari hingga menemukan jalan keluar ke kamar tuannya. Akhirnya ia dipindahkan ke luar rumah dan ditempatkan di gudang.

Sang istri bersikeras tak mau memelihara anjing, apalagi anak anjing itu kemudian merusak maket yang merupakan hasil kerja keras sang istri. Suami yang menghargai istrinya itu pun berupaya agar ada yang mengadopsi anak anjing itu. Mulai dari penjaga loket karcis di stasiun, penjual hotdog-kopi langganannya bernama Jasjeet (Erick Avari), bahkan hingga mahasiswanya. Tapi tak ada yang bersedia. Sampai akhirnya ia membawa pulang lagi anak anjing itu.

Di malam hari, saat hujan, lelaki itu kuatir pada si anak anjing yang kedinginan di gudang. Ia pun berlari menyelamatkannya dan membawanya ke dalam rumah. Di pagi hari, putrinya  Andy Wilson (Sarah Roemer) pun turut menyukai anak anjing itu. Tapi Cate Wilson (Joan Allen), ibu gadis itu dan istri dari Parker Wilson (Richard Gere) yang menemukan si anak anjing tetap tidak setuju. Ia membuatkan selebaran “anak anjing ditemukan” agar dibawa suaminya dan ditempel supaya pemiliknya mengambilnya.

Dalam perjalanan ke kampus –karena Parker adalah profesor seni- ia pun melakukan kehendak istrinya. Anak anjing itu dibawa dan secarik robekan kertas di kalung penengnya juga dibawa. Ia menanyakan isi tulisan beraksara Katakana tersebut kepada kolega dosennya, Ken Fujiyoshi (Cary-Hiroyuki Tagawa). Tujuannya untuk mencari alamat pemilik anak anjing itu. Tapi Ken tak bisa membantu banyak karena robekan kertas itu tak lengkap. Ia lantas menerangkan bahwa aksara Jepang di peneng kayu yang dikenakan anjing itu berarti “Hachi”. Itu adalah bahasa Jepang untuk angka 8, yang berarti “keberuntungan”. Maka, saat pulang, Parker memanggil anak anjing itu “Hachi”. Istrinya gusar karena itu berarti sang suami berniat memeliharanya.

Hari demi hari berlalu. Tak ada juga yang menelepon atau mengambil Hachi. Bahkan Parker juga berusaha menyerahkannya ke dinas pemeliharaan binatang milik pemerintah kota, tapi ditolak. Maka, Hachi pun menjadi peliharaan keluarga Parker. Lama kelamaan istrinya pun mengerti. Bahkan ketika ada seseorang menelepon untuk mengadopsi Hachi, sang istri malah mengatakan anjingnya sudah diadopsi. Itu karena ia melihat kedekatan suaminya dan Hachi.

Tahun demi tahun berlalu. Hachi yang tumbuh besar menolak memainkan permainan seperti anjing lain, yaitu lempar-tangkap bola. Sampai suatu hari Hachi mengikuti sang profesor ke stasiun kereta dan menolak pulang. Ketika sang profesor sudah naik keretanya, barulah Hachi pulang. Tapi di sore harinya, Hachi kembali ke stasiun dan menunggu majikannya datang. Berdua mereka pun berjalan pulang. Rutinitas itu berlangsung setiap hari.

Hingga di satu ketika, Hachi menggonggong ribut dan menolak pergi menemani tuannya berangkat ke stasiun. Hachi seolah meminta Parker tidak usah berangkat. Ia bahkan memancing dengan memainkan kejar-tangkap bola. Parker sempat heran, tapi ia tetap berangkat ke kampus. Ternyata, saat sedang mengajar kelas musik, ia terkena serangan jantung fatal dan meninggal dunia.

Di sore harinya, Hachi berangkat ke stasiun menanti tuannya datang. Tapi tak ada tanda-tanda kedatangan Parker. Michael –menantu Parker dan ayah Ronnie- menyusul ke stasiun dan membawanya pulang. Tapi hari berikutnya, Hachi kembali lagi ke stasiun dan menunggu tuannya datang. Karena ia tinggal sendirian di rumah yang besar, Cate pun men jual rumah mereka. Hachi dikirimkan kepada Andy yang tinggal di kota lain bersama suaminya Michael dan Ronnie yang masih bayi. Tapi di saat ada kesempatan pintu pagar terbuka, Hachi kabur dan mencoba mencari jalan ke kota asalnya. Ia pergi menjelajah berkilo-kilometer, menggunakan “radar GPS alaminya” dan akhirnya berhasil menemukan jalan ke rumah lamanya. Karena rumah itu sudah berganti penghuni dan tidak “homey” lagi baginya, Hachi pun pergi ke stasiun. Di sana ia menunggu di titik yang sama, tepat di depan pintu stasiun di tembok semen bawah pohon rindang. Semalaman di bawah salju ia menunggui tuannya. Hingga akhirnya  Andy datang datang membawanya pulang. Tapi, ia akhirnya membiarkan Hachi pergi lagi segera keesokan harinya. Hachi melakukan itu tiap hari dan baru pulang di malam hari menempuh jarak sangat jauh. Bahkan karena kelelahan ia kerapkali beristirahat di bawah kolong jembatan.

Hachi melakukan itu bertahun-tahun. Bahkan ia akhirnya tak lagi pulang ke rumah keluarga Andy, tapi tetap bertahan di stasiun kereta dari pagi ke pagi lagi. Selama sembilan tahun ia terus-menerus melakukan hal itu. Jasjeet yang merupakan langganan Parker selama hidupnya berbaik hati memberinya makan hotdog. Karena ia selalu menunggu di tempat yang sama di tempat umum secara menyolok, wartawan tertarik menulis ceritanya. Maka dengan narasumber Jasjeet, profil Hachi dimuat di Koran lokal. Itu membuat Ken kolega Parker di kampus datang untuk menengok.

Sepuluh tahun setelah kematian Parker, Cate datang untuk berziarah ke makam almarhum suaminya. Ia juga bertemu Ken dan menyatakan masih berduka walau sudah sepuluh tahun berlalu. Cate kemudian menuju ke stasiun kereta dan bertemu Hachi. Anjing itu sudah menua, kotor karena berada di jalanan dan lemah karena mulai sakit-sakitan. Teringat almarhum suaminya dan menghargai kesetiaan Hachi, Cate menunggu bersama Hachi hingga kereta terakhir datang dan stasiun tutup. Ia lantas pulang dan menceritakan mengenai Hachi pada cucunya Ronnie yang kini berusia 10 tahun.

Hachi yang tetap menunggu Parker di depan stasiun di tengah hujan salju kemudian mati. Tapi saat itulah akhirnya ia bertemu Parker. Kali ini, bukan Hachi yang menjemput Parker dan menemaninya berjalan ke rumah, tapi justru Parker yang menjemput Hachi untuk dibawa ke alam keabadian.

Adegan film kembali ke dalam kelas dimana Ronnie bercerita. Dan ia pun menyimpulkan mengapa Hachi adalah pahlawannya. Karena anjing itu mengajarkan arti sebuah kesetiaan: sebuah rasa terima kasih dan balas budi bagi mereka yang mencintaimu sepenuh hati. Teman-teman sekelasnya yang mendengarkan cerita itu trenyuh dan tampak terharu. Sepulang sekolah, Ronnie dijemput oleh anak anjing yang menemaninya berjalan pulang. Ronnie pun memberinya nama sama dengan anjing kakeknya: Hachi.

Film ini meski tidak terkenal di Indonesia, tapi ternyata mendapatkan sambutan bagus dari penonton di seluruh dunia. Dengan biaya pembuatan sekitar 16 juta dollar, pendapatannya melebihi 46 juta dollar. Jadi tak hanya bagus secara kualitas, tapi juga sukses secara komersial. Ini merupakan film yang dibuat ulang dari film buatan Jepang berjudul Hachiko Monogatari (1987) yang disutradarai Seijiro Koyama ditulis oleh Kaneto Shindo. Nama terakhir ini adalah penulis buku berjudul sama yang diangkat dari kisah nyata. Di akhir film sendiri dituliskan faktanya: Hachiko asli lahir di Odate-Jepang pada 1923. Ketika tuannya Dr. Eisaburo Ueno, seorang profesor di Tokyo University meninggal pada bulan Mei 1925, Hachi kembali ke stasiun kereta Shibuya keesokan harinya dan terus-menerus setiap harinya selama sembilan tahun kemudian. Hingga ia mati. Untuk memperingati kesetiaannya, pemerintah kota mendirikan patung Hachi tepat di titik yang sama tempat ia menunggu tuannya datang.

Secara subyektif, saya yang memang penyayang binatang sangat tersentuh dengan film ini. Berkali-kali saya menangis saat menontonnya terutama di akhir film. Dan bagi saya pribadi, dalam hidup kesetiaan adalah hal terpenting. Jadi, bila Anda ingin mengajarkan nilai kesetiaan dan cinta sesama makhluk hidup bagi anak dan keluarga Anda, ajaklah menonton film ini.

Leave a Reply