Resensi Film-Bhayu MH

Hati Merdeka (Merah Putih III)

Year : 2011 Director : Yadi Sugandi, Conor Allyn , Running Time : 100 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Saya senang menyaksikan film ini, karena seolah kritikan saya di resensi film sebelumnya dibaca dan diperhatikan. Ketika menonton sekuel film Darah Garuda, terus terang saya mengagumi detailnya. Tetapi, justru di detail itu jualah terdapat sejumlah kelemahan. Nah, di Hati Merdeka ini, kelemahan itu diperbaiki dengan sangat bagus.

Kisahnya sendiri masih bersambung dari sekuel sebelumnya, tetapi lokasinya yang berbeda. Diawali dengan penyergapan kelompok itu di Batavia Polo Club yang digambarkan terletak di Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk menyalin peta yang disimpan di sana. Sayangnya, mereka harus kehilangan salah satu anggota muda mereka, yaitu Budi yang masih kanak-kanak. Ia terpaksa ditembak dari jarak jauh dengan senapan sniper oleh Amir.

Merasa terpukul karena harus menembak rekan sendiri apalagi yang masih terhitung remaja, Amir pun mengundurkan diri dari ketentaraan. Meskipun tanpa pemimpin, kelompok kadet itu tetap menjalankan misi perang ke Bali. Mereka ditugaskan memburu Kolonel Raymer yang telah membunuh keluarga Tomas di sekuel pertama trilogi film ini: Merah Putih. Tomas sendiri telah dipilih sebagai komandan mereka menggantikan Amir.

Dipandu oleh Dayan yang memang tinggal di Bali, mereka melacak jejak pasukan Belanda. Meskipun bisu, tetapi Dayan mampu berkomunikasi dengan cukup baik dengan rekan-rekannya. Mereka pun menumpang kapal phinisi untuk menuju lokasi. Tetapi belum sampai ke tujuan, mereka terpaksa terjun ke laut karena kapal mereka dibombardir kapal perang Belanda. Untunglah sudah dekat pantai sehingga mereka bisa lari bersembunyi ke dalam hutan, meskipun Marius terluka.

Secara pribadi, Marius terlibat persaingan dengan Tomas untuk merebut hati Senja. Meski begitu, mereka tetap bisa bekerjasama sebagai tim. Dan tim ini sempat menyelamatkan Dayu, seorang gadis lokal yang hampir diperkosa tentara KNIL pimpinan Kolonel Raymer. Walau mereka harus melakukan taktik pukul dan lari ala gerilya karena kalah jumlah dan persenjataan.

Hingga akhirnya mereka bertemu dengan kelompok perlawanan lokal yang dipimpin Wayan Suta. Mereka akhirnya menggabungkan kekuatan. Dan tak diduga, Amir ternyata juga sampai di lokasi. Terjadi pertentangan soal siapa yang harus memimpin, hingga akhirnya disepakati Amir kembali memegang tampuk komando atas persetujuan komandan yang lebih tinggi.

Kelompok ini merencanakan jebakan untuk menarik masuk pasukan KNIL. Tetapi, justru mereka yang nyaris dihabisi karena pasukan pendahulu justru cuma tipuan belaka untuk memancing para pejuang keluar dari persembunyian. Pasukan KNIL asli dilengkapi tank menyerbu, untungnya masih bisa ditahan oleh pasukan pejuang Indonesia.Sampai Kolonel Raymer sendiri kemudian terdesak di tebing curam pinggir pantai, dan ia pun kemudian ditahan sebagai tawanan perang, alih-alih dibunuh sebagai balas-dendam Tomas belaka. Cerita pun berakhir di situ.

Seperti saya utarakan di paragraf pertama, film ini memperbaiki dan melengkapi sejumlah properti-nya. Tentu saja yang paling kentara adalah penggunaan dua kapal ukuran asli. Satu kapal phinisi yang digunakan kelompok kadet, satu lagi kapal patroli cepat milik Belanda. Bagi film Indonesia, ini keren banget! Sebuah upaya yang tidak main-main dalam pembuatan film. Sayangnya, ada kekeliruan dari kapal perang Belanda itu, dimana terlihat ada radar jenis berputar (rotating antenna marine radar) yang jelas belum ada di tahun 1940-an. Radar yang berbentuk seperti tabung besi itu seingat saya baru dibuat pertama kali pada tahun 1960-an. Juga ada bloopers dimana tiang ketiga kapal phinisi yang sudah patah tertembak meriam di satu scene, mendadak utuh lagi di scene berikutnya.

Dari segi persenjataan yang ditampilkan juga lebih beragam. Pistol jenis Luger terlihat jelas, juga senapan otomatis Bren Mk.V dan M1 Bazooka. Tetapi yang paling bagus adalah flame thrower yang memang senjata khas Perang Dunia II. Selain tentu saja caraben M1 Garand dan senapan semi otomatis Thompson M1A1. Di darat, detail paling bagus tentu saja penampakan replika tank M4A3 Sherman.

Seragam dan kelengkapannya seperti tanda pangkat dan tanda jasa juga lumayan. Walau jujur saya tidak yakin seragam coklat itu memang ada atau tidak. Karena di film-film kita seingat saya Belanda hampir selalu berpakaian loreng. Sedangkan seragam tentara Jepang yang memang coklat khaki itu cukup akurat, termasuk pula tanda pangkat dan sepatu boot-nya yang dibalut semacam perban kain putih yang membentuk kaus kaki.

Secara keseluruhan, film ini sekuel terbaik dari Trilogi Merdeka. Dan cukup bagus dalam menampilkan pesan moral terutama untuk memupuk rasa nasionalisme. Salut!

One Response so far.

  1. bernard says:

    itu bukan m4a3 melainkan m3 stuart

Leave a Reply