Resensi Film-Bhayu MH

Hercules

Year : 2014 Director : Brett Ratner Running Time : 98 minutes Genre : , , , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Banyak orang yang sudah tahu mengenai legenda Hercules. Ia dikisahkan adalah anak Dewa Zeus dalam mitologi Yunani. Tetapi bukan hasil dari pernikahan dengan istri sahnya Hera, melainkan dari seorang wanita manusia. Karena itu, sepanjang hidupnya Hercules selalu diganggu oleh Hera. Tetapi karena ia manusia setengah dewa, maka ia mewarisi kekuatan ayahnya yang menguasai petir.

Tetapi itu legenda. Film ini justru berkisah mengenai Hercules yang manusia biasa, seorang tentara bayaran yang mencari uang dengan mengabdi pada para raja. Dua Belas Tugas (Twelve Labors) yang dalam legenda dikisahkan sebagai kehebatannya karena membunuh monster, ternyata adalah tugas dari raja untuk membasmi penjahat di wilayahnya. Dan ia tidak beraksi sendirian.

Hercules (Dwayne Johnson) di film ini merupakan “kepala geng” dari para jagoan yang masing-masing punya keahlian berbeda. Mereka adalah Amphiaraus (Ian McShane) yang mampu meramal kematian dirinya sendiri dan ahli tombak, Autolycus (Rufus Sewell) ahli lempar pisau, Tydeus (Aksel Hennie) ahli kampak, dan satu-satunya wanita ahli panah dari Amazon bernama Atalanta (Ingrid Bolsø Berdal). Selain para ahli beladiri dan tempur tersebut, ia juga ditemani oleh keponakannya yaitu Iolaus (Reece Ritchie). Tugas sang keponakan unik, yaitu sebagai pencerita. Dari dialah legenda Hercules sang anak dewa diciptakan dan disebarkan kepada khalayak.

Hercules sendiri dihantui mimpi buruk kematian istri tercintanya Megara (Irina Shayk) dan ketiga anak mereka yang tinggal di istana saat ia sedang mengabdi pada King Eurystheus (Joseph Fiennes). Raja menyalahkannya atas kematian istri dan anaknya sendiri sehingga berupaya membunuhnya, tetapi Hercules berhasil kabur dibantu teman-temannya. Ia kemudian dihantui mimpi buruk terbunuhnya keluarganya adalah karena serigala berkepala tiga yang dijuluki Cerberus.

Saat sedang berada di sebuah kedai, masuklah seorang wanita bangsawan yang dikawal prajurit. Ia adalah Putri Ergenia (Rebecca Ferguson) yang atas nama ayahnya Lord Cotys (Jhon Hurt) meminta Hercules dan rekan-rekannya untuk bekerja kepada mereka. Karena dijanjikan akan dibayar emas seberat berat tubuh mereka, akhirnya mereka bersedia. Tugasnya bukan langsung memburu penjahat negara seperti sebelumnya, melainkan melatih tentara kerajaan kecil bernama Thrace yang dipimpin Lord Cotys. Tindakan ini untuk kemudian melawan pasukan pemberontak yang dipimpin Rheseus (Tobias Santelmann).

Hercules dan teman-temannya kemudian melatihan pasukan yang dipimpin Jenderal Sitacles (Peter Mullan) hingga menjadi pasukan yang siap tempur, padahal asalnya mereka cuma rakyat biasa. Ujian pertama bagi pasukan itu datang saat Lord Cotys meminta mereka bertempur melawan kelompok barbar. Hampir saja mereka kalah, karena tidak sadar masuk dalam jebakan. Hercules sendiri terluka dalam pertempuran itu, tetapi Iolaus menutupi lukanya dengan mantel bulu agar pasukannya tidak melihat. Karena akan aneh bagi legendanya kalau Hercules sang manusia setengah dewa bisa terluka. Di dalam tenda, lukanya kemudian dirawat oleh Ergenia yang baik hati.

Ujian sebenarnya kemudian tiba saat mereka berhadapan dengan pasukan pemberontak pimpinan Rheseus, yang desas-desusnya merupakan Centaur yaitu manusia berkaki dan bertubuh kuda. Ternyata, itu hanyalah trik dimana di kejauhan memang terlihat seperti itu apalagi dari arah membelakangi matahari. Tetapi faktanya penunggang kuda menaiki bagian pangkal leher kuda sehingga bayangan kepala kudanya tertutupi bayangan penunggangnya.

Rheseus bisa dikalahkan sehingga wilayah kekuasaannya direbut oleh Lord Cotys dan ia bisa berkuasa sebagai raja penuh. Tetapi saat digelandang sebagai tawanan, Rheseus sempat mengecam Hercules, mengatakan dia berada di pihak yang salah karena justru dirinyalah yang membela rakyat. Dalam pesta di aula kerajaan, Rheseus diikat supaya menonton pesta agar tambah merasa tersiksa sembari disiksa dan dipermalukan. Ergenia mencoba memberinya minum, tetapi dilarang oleh Lord Cotys. Hercules mengejarnya dan menanyakan kebenaran yang mengganggunya, dan Ergenia memberikan informasi bahwa ia tidak setuju pada tindakan ayahnya. Tetapi ia menahan diri agar Arius putranya tetap selamat. Karena ia berharap kelak Arius bisa memperbaiki kesalahan kakeknya dengan menjadi raja yang bijak.

Ketika Hercules memaksa agar hadiahnya diberikan, Lord Cotys memintanya tetap tinggal, tetapi ditolak. Akan tetapi, karena menerima informasi dari Ergenia, ia sadar bahwa Rheseus-lah yang benar. Maka, ia pun memutuskan tinggal untuk melawan Lord Cotys. Teman-temannya pun mengikuti, kecuali Autolycus yang memilih pergi.

Tetapi perlawanan mereka dapat dipatahkan. Mereka pun ditawan di penjara yang berada di dalam gunung berbatu. Dalam kondisi terantai, Lord Cotys membawa masuk King Eurystheus yang ternyata bersekongkol dengannya. Saat itulah Hercules sadar, bahwa keluarganya dibunuh oleh King Eurystheus yang kuatir pada popularitasnya. Dan ternyata Cerberus itu bukan serigala berkepala tiga, melainkan memang ada tiga serigala dirantai jadi satu.

Ergenia pun hendak dibunuh ayahnya sendiri dengan tuduhan pengkhianatan. Hercules dengan dorongan Amphiaraus dan teman-temannya akhirnya berhasil membebaskan diri. Bersama-sama mereka melawan pasukan Lord Cotys. Hercules pun berhasil membunuh King Eurystheus. Sementara Jenderal Sitacles dibunuh oleh Iolaus.

Saat mereka sampai di lapangan kerajaan, Lord Cotys dan pasukannya sudah menghadang. Arius disandera tetapi akhirnya berhasil diselamatkan oleh Autolycus yang memutuskan kembali. Tydeus pun terluka dalam upaya menyelamatkan Arius, tetapi berhasil membunuh banyak pasukan Thracian. Mereka terdesak oleh ribuan pasukan, tetapi Hercules memaksimalkan kekuatannya dan mendorong jatuh patung raksasa Hera hingga menimpa Lord Cotys. Dengan tewasnya sang raja, pasukan kemudian menyerahkan diri dan memberi hormat kepada Hercules. Arius kemudian naik tahta dengan pendampingan ibunya Ergenia. Sementara Hercules dan teman-temannya memilih pergi dari kerajaan untuk mencari petualangan lainnya.

 

Kritik Film

Sebagai film superhero, film ini membalikkan legenda sang tokoh sendiri. Ia keluar pakem, walau tidak lantas menjadi antihero. Sang tokoh protagonist tetap jadi pahlawan, walau dengan cara berbeda. Film ini kental nuansa moral, bahwa seorang pembunuh dan tentara bayaran pun punya hati. Apabila seseorang mau menggunakan nuraninya, ia akan tahu nilai kebenaran.

Tentu saja, kekerasan vulgar yang ditunjukkan film ini tak bagus untuk anak-anak di bawah umur. Walau bagi orang dewasa, kadar darahnya tak sevulgar 300 (2007) dan sekuelnya 300: Rise of An Empire (2014) misalnya. Malah, bagi saya, perkelahiannya cukup realistis, tidak terlalu superhero. Malah, caranya membuktikan bahwa legenda tentang para monster itu ternyata cuma tipuan cukup menarik. Hydra sang monster berkepala ular, ternyata cuma manusia biasa yang menggunakan kostum topeng ular.

Walau pada akhirnya tetap saja sutradara dan penulis cerita tergoda menunjukkan kekuatan luar biasa Hercules di akhir film. Dimana ia merubuhkan patung Hera berukuran raksasa tepat saat petir sedang menyambar, sehingga jelas terkesan ia memang manusia setengah dewa. Padahal, sudah cukup logis saat Hercules dan kelompoknya kalah saat menghadapi pasukan Thracian. Toh di penjara ia berhasil membebaskan diri juga dengan kekuatannya yang memutuskan rantai.

Secara keseluruhan , film ini memuaskan. Penonton disuguhi epic kepahlawanan yang tidak biasa. Membuat kita tahu, siapa pun meski orang biasa punya jiwa membela kebenaran di dalam dirinya, asalkan mengikuti suara hati nurani.

 

Leave a Reply