Resensi Film-Bhayu MH

(James Bond 007) Spectre

Year : 2015 Director : Sam Mendes Running Time : 148 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

Ini film keempat yang diperankan Daniel Craig sebagai James Bond. Dalam film produksi ke-24 dalam serial franchise film James Bond, seluruh pemeran di pihak MI-6 juga tetap sama. Tentu saja untuk penjahat (villain)-nya berbeda karena kisahnya juga berbeda. Tetapi, dikisahkan mereka berasal dari organisasi yang sama: Spectre.

Jalan Cerita

Di awal film, Bond berada di Mexico City. Ia mendapatkan pesan tersembunyi dari M yang telah tewas terbunuh. Tanpa izin operasi, sendirian Bond berupaya menggagalkan upaya pemboman di tengah keramaian pesta Día de Muertos (Hari Orang Mati). Bond berhasil membunuh dua orang teroris. Sayangnya, bom tetap meledak dan pentolannya bernama Marco Sciarra (Alessandro Cremona) berusaha kabur dengan helikopter. Bond berhasil mengejar secara dramatis dengan menggantung di kaki helikopter, masuk, membunuh pilot dan kemudian juga membunuh Sciarra dengan melemparkannya keluar helikopter. Tetapi sebelumnya, ia sempat merebut cincin besi dari jari Sciarra. Di situ terpatri gambar gurita (octopus). Bagi yang masih ingat, simbol ini pertama kali muncul di film From Russia with Love (1963), film James Bond yang dibintangi Sean Connery.

Di saat kembali ke London, Bond justru diskors atau diberhentikan sementara oleh M alias Gareth Malllory (Ralph Fiennes), yang berada dalam tekanan. Apalagi saat itu MI-6 digabungkan dengan MI-5 di bawah Joint Intelligence Service yang dikepalai C, yang bernama asli Max Denbigh (Andrew Scott). Agensi JIC ini didukung swasta terutama untuk menggabungkan biro intelijen sembilan negara dalam satu proyek bernama “Nine Eyes” (Sembilan Mata”). Sebagai pejabat baru, C tidak begitu menyukai operasi oleh agen nol ganda (double 0) dan menganggapnya kuno.

Bond mengabaikan perintah M untuk cuti dahulu dan malah bepergian ke Roma untuk menyaksikan pemakaman Sciarra. Sorenya, ia mengunjungi janda Sciarra bernama Lucia (Monica Bellucci) yang mengungkapkan kepadanya tentang Spectre. Seperti biasa, karena Lucia adalah wanita cantik, maka Bond pun menggunakan pesonanya bahkan sempat bercinta dengannya. Meski sempat diperingatkan bahayanya Spectre, atas petunjuk Lucia dengan percaya diri Bond pun mendatangi lokasi pertemuan rahasia Spectre.

Setibanya di tempat yang dipenuhi mobil mewah itu, Bond menyusup ke lantai atas. Ia tidak tahu bahwa kedatangannya justru sudah ditunggu, bahkan penjaga di pintu masuk sudah mengenalinya. Untuk menggantikan Sciarra, pemimpin Spectre menawarkan siapa saja yang berani untuk maju. Mr. Hinx (Dave Bautista) membunuh calon pengganti dan ia kemudian memburu Bond setelah Franz Oberhauser (Christoph Waltz) menyebut namanya, membuat Bond sadar telah ketahuan.

Moneypenny (Naomie Harris) memberikannya informasi bahwa data mengarah ke Mr. White (Jesper Christensen). Dia adalah bekas anggota Quantum, cabang dari Spectre. Bond yang terkejut dengan masih hidupnya Oberhauser meminta Moneypenny menyelidikinya.

Berbekal data intelijen dari timnya, Bond menuju Austri untuk mencari White. Ternyata, sosok yang dicarinya sudah tua dan sekarat, karena keracunan thallium. White yang sembunyi setelah memutuskan meninggalkan Quantum bersedia memberitahukan rahasia yang diinginkan Bond asalkan putrinya yang bernama Dr. Madeline Swann (Léa Seydoux) dilindungi. Menurut White sebelum tewas menembak dirinya sendiri, Swann akan memberitahukan rahasia “L’Américain”.

Bond berhasil menemukan Swann di Hoffler Klinik. Tetapi karena hubungannya dengan sang ayah kurang baik, Swann menolak saat diajak pergi oleh Bond. Di saat Bond turun ke cafetaria dan secara tiba-tiba ditemui oleh Q (Ben Whishaw), ia melihat di lantai atas Swann diculik oleh Hinx dan anak buahnya. Bond berhasil menyelamatkannya dan meminta Q menyelidiki cincin yang dirampasnya dari Sciarra. Mereka berpisah jalan dan Q sempat hampir ditangkap oleh tim Spectre. Dengan perangkat scanning canggih, cincin itu ternyata memberikan petunjuk dari misi bond sebelumnya. Akhirnya diketahui kalau musuh-musuh Bond sebelumnya yaitu Le Chiffre, Dominic Greene dan Raoul Silva adalah agen Spectre.

Swann yang akhirnya setuju membantu Bond membawanya ke Maroko. Ternyata “L’Américain” adalah nama sebuah hotel tempat ayah dan ibunya pertama kali berbulan madu. Dan untuk memperingatinya, setiap tahun mereka selalu ke sana. Semula Bond heran apa yang istimewa dari tempat yang sudah mulai rusak itu. Barulah saat malam, ia mendapati adanya ruangan rahasia di sebelah kamar bulan madu itu. Di ruangan rahasia yang merupakan ruang kerja White itulah mereka mendapatkan koordinat geografis yang menunjukkan fasilitas rahasia milik Oberhauser yang terletak di padang pasir.

Saat keduanya menuju ke lokasi tersebut menggunakan kereta api, Spectre mampu melacak jejak mereka. Hinx pun menerobos masuk dan terlibat perkelahian tangan kosong dengan Bond. Tetapi Bond mampu mengalahkannya dan melemparkan Hinx keluar gerbong kereta. Sesampai di stasiun yang ternyata sunyi sepi karena berada di tengah padang pasir, mereka kemudian dijemput sebuah mobil. Keduanya diantarkan ke fasilitas Oberhauser dan disambut walau kemudian tentu saja ditangkap. Di sana, Oberhauser mengungkapkan rencananya menggunakan Nine Eyes untuk terorisme. Sebuah ironi karena program ini berisikan data intelijen yang dipasok oleh biro intelijen sembilan negara.

Di depan mata Swann, yang sudah jatuh cinta kepada Bond, Oberhauser menyiksa agen rahasia itu. Perlahan-lahan, ia membor kepalanya dengan tujuan tidak untuk membunuh, tetapi membuatnya cacat. Ia pun menceritakan siapakah dirinya kepada Swann. Oberhauser ternyata adalah saudara tiri Bond. Saat kecil, ketika Bond menjadi yatim-piatu, ayah Oberhauser menjadi pelindungnya. Karena iri dan kuatir Bond akan menggantikannya sebagai anak kesayangan, Oberhauser membunuh ayahnya dan memalsukan kematiannya sendiri. Ia memakai nama Ernst Stavro Blofeld dan mulai mendirikan Spectre. Karena asyik bercerita, Oberhauser alias Blofeld lengah. Swann yang diberi kesempatan mendekati Bond dibisiki rencana untuk kabur. Menggunakan jam khusus buatan Q, Bond meledakkan fasilitas itu dan meninggalkan Blofeld yang tewas.

Karena basis di Maroko adalah satu titik dari jaringan yang lebih luas, Bond dan Swann kembali ke London. Mereka bertemu Bill Tanner -Kepala Staf MI-6- yang didampingi oleh M, Q dan Moneypenny di rumah perlindungan karena markas MI-6 tidak aman. Karena mereka sudah tahu kalau C ternyata agen ganda Spectre, mereka berupaya mencegah supaya Nine Eyes gagal beroperasi penuh. Waktu tinggal beberapa jam karena tengah malam program komputer itu akan online.

Swann memutuskan pergi meninggalkan Bond karena tidak mau terlibat di kegiatan spionasenya. Tetapi ia lantas diculik oleh Spectre. Dalam perjalanan, kelompok Bond diserang dan Bond sendiri berhasil diculik. Tetapi sisa teman-temannya memutuskan meneruskan rencana. Q yang ahli teknologi berhasil mencegah Nine Eyes beroperasi.

Ketika M hendak menangkap C, C melawan hingga tewas. Bond yang diculik dibawa ke gedung MI-6 lama yang telah hancur dibom dalam film sekuel sebelumnya, Skyfall (2012). Gedung itu akan dibom dan diratakan dengan tanah, dengan Bond akan dikubur hidup-hidup di dalamnya. Tetapi Bond berhasil meloloskan diri dan bertemu Blofeld yang ketakutan. Ia memberitahu kalau waktunya hanya tiga menit sebelum gedung meledak. Bond diberi dilema, akan menyelamatkan diri sendirian atau mencoba menyelamatkan Swann, yang tampak mustahil. Tentu saja Bond memilih yang kedua, dan secara ajaib lolos dengan kapal motor (boat) yang berada di ruangan rahasia.

Dalam pengejarannya, Bond berhasil menembak jatuh helikopter Blofeld yang kemudian menghantam Westminster Bridge. Ketika Blofeld yang ternyata masih hidup merangkak keluar dari reruntuhan, Bond mendatanginya. Tempat itu juga sudah dikepung pasukan polisi Inggris “Scotland Yard”. Blofeld justru berharap Bond membunuhnya, tetapi ia malah ditinggalkan agar ditangkap. Bond meninggalkan jembatan itu bersama Swann. Beberapa hari kemudian, ia menemui Q untuk mengambil Aston Martin DB5 1964 yang telah diperbaiki. Bond kemudian meninggalkan lokasi bersama Swann dengan mobil klasik itu.

Kritik Film

Setelah menunggu 3 tahun pasca Skyfall yang rilis 2012, seharusnya film Spectre ini jadi suguhan yang “wow”. Meski di awal film sempat menjanjikan, alur cerita kemudian berubah jadi monoton. Unsur kejutannya seperti hilang ditelan angin.

Adegan paling mengganggu mata justru perkelahian tangan kosong antara Bond dengan Hinx di dalam kereta api. Saya seperti menyaksikan film-film laga era 1980-an ala Jean-Claude Van Damme. Terlalu “jadul” dengan gerakan yang kurang brutal. Bagi saya, adegan perkelahian di The Raid: Redemption (2011) malah terasa lebih bagus.

Penampilan Monica Bellucci sebagai Lucia sebenarnya juga saya tunggu. Karena sebagai lelaki, ia adalah sosok “wanita ideal”, tentunya secara fisik. Jujur saja saya terkejut betapa ia telah tampak menua. Memang sisa-sisa auranya masih ada, tetapi kok rasanya terlalu tua untuk ditampilkan sebagai “Bond girl”. Meski karakternya hanya jadi yang kedua setelah Swann, masih terasa mengganjal.

Untunglah pemeran Swann yaitu Léa Seydoux tampil menawan. Meski jalan cerita mengharuskannya tak tampil semenggoda gadis Bond di film-film sebelumnya, tetapi tetap saja menyegarkan. Karena saya menyaksikan di bioskop, tak ditampakkan adegan bercinta yang biasanya ada. Toh tanpa itu pun, tetap bagus.

Secara keseluruhan, saya agak kecewa dengan film Bond kali ini. Apalagi sebelumnya ada film sejenis yaitu Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) yang rilis bulan Juli. Meski jelas karakternya tidak selegendaris Bond, khusus untuk sekuel film yang itu saya merasakan ia mengungguli sekuel film Bond kali ini.

Leave a Reply