Resensi Film-Bhayu MH

Jupiter Ascending

Year : 2015 Director : The Wachowskis Running Time : 127 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
1/5

Jalan Cerita

Di awal cerita, dikisahkan penduduk Bumi tidak menyadari bahwa ras manusia bukanlah penghuni satu-satunya di alam semesta yang luas ini. Tetapi lebih parah lagi, mereka tidak tahu bahwa alam semesta ini ternyata diciptakan oleh satu ras alien super-maju yang memiliki struktur kerajaan. Tujuan penciptaan berbagai planet itu adalah untuk “dipanen” di kemudian hari. Karena manusia yang “diternakkan” akan menghasilkan semacam serum usia muda untuk para elit yang masih berada di planet lain. Setelah kematian Ratu penguasa Istana Abrasax, dinasti alien paling kuat dan berkuasa, ketiga anaknya Balem, Kalique dan Titus merebut warisan mereka. Balem mewarisi tambang berharga di Jupiter sementara Titus menguasai Bumi. Dan celakanya, ia bermaksud “memanen” Bumi.

Jupiter lantas mengisahkan bahwa ayahnya Maximillian Jones bertemu ibunya Aleksa di Saint Petersburg. Setelah Maximillian terbunuh dalam suatu aksi perampokan, Aleksa menamai anaknya Jupiter sesuai amanat mendiang suaminya. Mereka pun kemudian pindah ke Chicago untuk hidup bersama keluarga Aleksa.

Bertahun-tahun setelahnya, Jupiter bekerja kepada Aleksa dan bibinya Nino. Ia bertugas sebagai petugas pembersih rumah tetangga mereka yang kaya-raya. Guna mewujudkan niatnya membeli teleskop, Jupiter setuju untuk menjual sel telurnya untuk membantu reproduksi pasangan mandul ke klinik kesuburan. Ia dibantu oleh sepupunya Vladie, dengan memakai nama temannya Katharine Dunlevy. Saat berada di rumah Katharine, tiba-tiba ada makhluk alien yang disebut “keepers” menyerang. Jupiter sempat memotret mereka, tetapi makhluk itu mencegahnya dengan menghapus ingatannya tentang insiden itu.

Ketika di klinik, saat akan dilakukan prosedur donasi sel telur di meja operasi, tiba-tiba dokter dan susternya berubah menjadi alien dan hendak membunuh Jupiter. Seseorang alien lain mendobrak masuk ruangan menggunakan sepatu terbang. Setelah berhasil diselamatkan, ia memperkenalkan diri sebagai Caine Wise, seorang bekas serdadu di Abrasax yang dikirim oleh Titus. Seorang temannya, Stinger Apini pun kemudian setuju membantu Jupiter. Tetapi sekelompok pemburu lantas membawa Jupiter ke istana Kalique di planet yang jauh. Di sana, Kalique menerangkan bahwa Jupiter secara genetika identik dengan Ratu yang wafat. Maka, karena itu dialah pewaris hak milik Bumi. Didukung oleh Kapten Diomika Tsing dari Aegis –sebuah kesatuan polisi antar galaksi-, Caine berhasil membawa kembali Jupiter dari tangan Kalique. Lantas dibawanya ke planet Ores –ibukota antar galaksi- untuk mengklaim hak warisnya atas kepemilikan planet Bumi.

Dalam perjalanan kembali ke Bumi, Titus menahan Jupiter dan Caine. Kepada Caine, Titus mengungkapkan rencananya untuk menikahi Jupiter demi mengklaim hak atas Bumi, tetapi kemudian berniat membunuhnya. Caine lantas dilemparkan ke semacam pembuangan untuk membunuhnya. Tetapi di luar dugaan, Caine berhasil selamat dan meloloskan diri. Ia pun bergegas menuju ke altar karena pernikahan akan dimulai. Ia berhasil menyelamatkan Jupiter yang kemudian menaruh hati pada Caine.

Ketika Jupiter meminta kembali pulang ke rumahnya di Bumi, ia baru tahu bahwa keluarganya telah diculik. Mereka dibawa ke sebuah tempat bernama Great Red Spot. Balem menuntut agar Jupiter melepaskan hak atas Bumi sebagai ganti untuk menyelamatkan keluarganya.

Meski terdesak, Jupiter tahu bahwa sebagai pemegang hak atas Bumi, Balem tidak bisa “memanen” planetnya itu tanpa seizinnya. Oleh karena itu, Jupiter menolak memenuhi tuntutan Balem. Gusar, Balem pun berupaya membunuh Jupiter. Tetapi Jupiter malah bisa mengalahkannya dalam pertarungan. Caine kembali menyelamatkan Jupiter bersama-sama dengan Stinger dan Tsing.

Setelah segala konfilk di planet alien selesai, keluarga Jupiter dikembalikan ke rumah mereka di Bumi. Tentu saja, para alien menghapus ingatan mereka semua. Hanya Jupiter yang tahu apa yang telah terjadi. Hanya saja, ada yang berubah. Jupiter yang semula malas-malasan saat bekerja, kini jadi bersemangat. Keluarganya yang semula acuh-tak acuh bahkan cenderung menghina Jupiter pun kini berubah menjadi baik. Mereka malah membelikan Jupiter teleskop bintang yang diinginkannya. Sementara di planetnya, Caine menerima kembali sepasang sayang yang dahulu sempat dicopot paksa dari tubuhnya. Dan tentu hal terpenting harus dirahasiakan: bahwa Jupiter-lah pemilik planet Bumi.

 

Kritik Film

Jupiter Ascending - wideMengecewakan dan membosankan! Itu kesan pertama saya setelah menonton film ini. Padahal, film ini garapan “The Wachowskis” yang dulu menyebut dirinya “The Wachowski Brothers”. Mereka adalah duo bersaudara yaitu Andy dan Larry yang dulu terkenal karena membesut trilogi The Matrix (1999,2003,2003) yang sangat sukses. Sekedar mengingat kembali, film ini dulu menghasilkan pemasukan sebesar US$ 1,632,989,142 dari biaya produksi sebesar US$ 363 juta. Dahsyat kan?

Nah, berkebalikan dengan Jupiter Ascending (2015) ini yang malah nyaris “nggak nutup”. Bayangkan saja, dari biaya produksi US$ 176 juta, film ini hanya meraup pemasukan sebesar US$ 181,8 juta saja. Berarti keuntungannya hanya US$ 5,8 juta. Jelas sangat minim untuk ukuran Hollywood.

Dari trailer-nya, sebenarnya saya sudah bisa menduga film ini bakal membosankan. Meski menggunakan teknologi CGI yang sudah paling mutakhir, tetapi justru hasil akhirnya malah tampak seperti film-film Star Wars atau Star Trek di dekade 1980-an. Kuno sekali!

Sebagai perbandingan, suasana Asgard di film Thor (2011) dan Thor: The Dark World (2013) malah lebih menakjubkan bagi saya. Padahal, lamanya scene di film ini yang menunjukkan suasana istana dan alam di planet alien seharusnya bisa menunjukkan efek “wow” lebih baik. Tetapi, malah sebaliknya terkesan sekali bahwa para pemain berdiri di depan “green screen” dan latar-belakangnya yang memang matte hanya tempelan.

Ceritanya juga bertele-tele dan terlalu melodramatik. Padahal, seharusnya sesuai dengan trailer-nya, film ini menjanjikan tontonan penuh aksi. Penggambaran metamorfosis Jupiter Jones kurang tuntas. Dari semula ia yang bekerja sebagai pembersih ruangan menjadi putri dari planet alien. Tapi malah kemudian setelah segala hiruk-pikuk konflik selesai, sang putri kembali lagi jadi manusia biasa. Ini menyedihkan dan ironis, terutama bagi penonton yang menghendaki happy ending, kalau perlu dengan tulisan “and finally they lived happily ever after”.

Adegan pertempurannya? Hadeuh! #tepokjidatdotcom. Aksi laganya pun sami mawon. Malu-maluin untuk film ber-budget lebih dari Rp 1,7 T! Sayang. Amat sayang-disayang. Padahal seharusnya film ini bisa meledak, tapi nyaris malah jadi flop.

Jadi, kalau memang mau menonton film ini, setidaknya bagi yang laki-laki masih bisa menikmati wajah manis pemeran Jupiter Jones, Mila Kunis. Masalahnya, bagaimana bagi penonton perempuan? Apakah cuma bisa meringis? Karena bagi saya, Channing Tatum sebagai Caine Wise tidaklah sebegitu charming-nya.

Leave a Reply