Resensi Film-Bhayu MH

Ketika Mas Gagah Pergi

Year : 2016 Director : Firman Syah Running Time : 99 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
1/5

Ketika Mas Gagah Pergi: Film Dakwah yang Mendakwahi.

Produser  : Helvy Tiana Rosa
SutradaraFirman Syah
Penulis      : Fredy Aryanto, Helvy Tiana Rosa
Pemeran   : Hamas Syahid Izzuddin, Masaji Wijayanto, Aquino Umar, Izzah Ajrina

 

Konon, novel yang jadi sumber film ini merupakan novel laris sejak 20 tahun belakangan. Tetapi sama seperti saat membaca novelnya, saya tidak mendapati faktor yang menarik hati di sana. Bisa jadi, novelnya laris karena Helvy Tiana Rosa adalah pendiri komunitas penulis “Forum Lingkar Pena” yang konon anggotanya ribuan. Jadi, secara teoretis ia sudah punya “fanbase” sendiri. Maka, bagaimana pun kualitas bukunya, akan selalu “dilahap” oleh penggemarnya.

Film dan novel sudah pasti berbeda. Dan di film ini, fokusnya pertama-tama justru dari sudut pandang Gita, adik kandung Gagah. Gambaran Gagah mirip “Mas Boy” di film Catatan Si Boy yang ngetop di era 1980-an. Pemuda yang gaul, tapi tetap religius. Bedanya, ayah Gagah digambarkan sudah meninggal, sehingga ia jadi ikut membantu mamanya mencari nafkah.

Di awal film, Gagah sempat digambarkan terjatuh dari tebing saat sedang mengambil gambar. Ia tercebur ke laut. Adegan lantas kilas-balik ke kondisi di rumah dimana Gita selalu membanggakan Gagah. Narasi jelas dari mulut Gita.

Hingga adegan kemudian menyatu kembali dengan adegan di awal film, dimana Gagah kembali dari tugasnya di daerah. (Ingat, di film sama sekali tidak tampak di mana kah gerangan daerah itu, walau dari ulasan yang saya baca -tampaknya dari rilis pers produser- disebutkan di Maluku Utara). Setelah terjatuh dari tebing ke laut, Gagah mengaku dirawat oleh seorang kiai lokal bernama Kyai Ghufron yang membuatnya ‘hijrah’. Gagah kini bukan lagi ‘anak gaul’, tapi lebih kepada ‘anak pengajian’.

Gita menjadi terkejut karena Gagah tak lagi seperti dulu. Aktivitasnya pun berubah. Secara sangat kebetulan, di bus Gita pun bertemu Yudi yang selalu berceramah secara gratis. Dan kemudian, ia pun melihat Yudi membantu korban penggusuran bersama Tim ACT yang memang jadi sponsor film ini.

Sosok Gagah yang baru membuat Tika sahabat Gita pun ikut terpukau. Hingga ia pun mengajak Gita masuk Rohis (Kerohanian Islam) di SMA-nya, bahkan ia sendiri kemudian mengenakan jilbab. Ia pun kemudian juga berteman dengan Nadia.

Gagah sendiri kemudian bersama teman-temannya membangun “Rumah Cinta”. Ini adalah semacam rumah singgah dengan fasilitas taman bacaan gratis untuk umum dan musholla. Ia digambarkan membangunnya setelah mengalahkan tiga preman yang memalaknya. Ketiga preman itu yaitu Urip, Asep dan Ucok pun lantas berbalik insyaf dan membantunya. Walau ternyata ada tantangan dari kelompok preman lain yang tidak menyukai keberadaan tempat itu karena dianggap memobilisasi massa. Dan tantangan bagi ‘hijrah’-nya Gagah pun terus berlanjut. Terutama dari Gita yang malah kecewa setelah ibunya sendiri memutuskan memakai jilbab. Itu terjadi setelah ia mendapatkan ‘hidayah’ pasca mengunjungi “Rumah Cinta”.

Yaaaaah…. begitulah cerita film tersebut. Jelas sekali memang sengaja dirancang sebagai film dakwah yang mendakwahi. Beda sekali dengan Bulan Terbelah di Atas Amerika yang justru novel aslinya ditulis oleh adik kandung Helvy Tiana Rosa, yaitu Asma Nadia. Ibaratnya, ini film dakwah “garis keras”. Penonton bak dipaksa menyaksikan benar-salah secara putih-hitam. Bahkan secara gamblang ada adegan teater -yang tidak jelas latihan atau pementasan, dan konteks situasinya pun tidak terpaut- tentang Palestina. Retorikanya? Hah! Saya tak tega menuliskan perasaan di ulu hati saya saat menyaksikan film ini. Rasanya ingin buru-buru keluar ke kamar mandi dan membuang isi perut di sana.

Namun saya harus fair. Akting pemeran Gita cukup memadai, mampu menghidupkan karakternya yang manja dan menyebalkan. Sementara karakter lain…. well… you know lah… Bahkan, Wulan Guritno yang semestinya sudah punya ‘jam terbang’ mencukupi pun tampak ‘mati kutu’ di film ini. Tentu saja, ia cuma bersikap profesional menuruti arahan sutradara dan tuntutan skenario. Penampilan aktor kondang Mathias Muchus yang juga tampil beberapa scene sebagai ayah Yudi saja tampak sangat tersia-siakan.

Saya juga heran mengapa produser film ini tergoda untuk narsis. Padahal, jelas dengan menjadi penulis novel laris dan sekaligus juga boss besar film ini, ia sudah sangat eksis. Kenapa saya bilang begitu? Lihat saja plat nomor polisi mobil yang digunakan Gagah: B 1970 HTR. Tahu kan itu mobil siapa? Apalagi ditambah sempat tampil pulanya Asma Nadia, adik kandung Helvy Tiana Rosa yang namanya tercantum pula di credit title. Lengkap sudah.

Dan ketika akhirnya film ini berakhir, saya nyaris menarik nafas lega. Kenapa nyaris? Karena ternyata film ini bersambung ke sekuel kedua! What? Yakin sekali akan ada penontonnya ya? Tapi melihat basis “ikhwan” dan “akhwat” yang haus film yang sesuai selera mereka, bisa jadi minimal biaya produksi akan tertutupi. Yah…. yang jelas, film ini memang “hanya untuk kalangan sendiri” kok.

Leave a Reply