Resensi Film-Bhayu MH

Kingdom Of Heaven

Year : 2005 Director : Ridley Scott Running Time : 144 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Kritik Film

Film Kingdom of Heaven (KoH) ini bisa jadi merupakan film pertama buatan Hollywood yang bernuansa positif atau minimal netral tentang Islam. Karena jangkauan akses saya baru sebatas film sampai tahun 1980-an, saya tidak tahu kalau ada film lain sebelum itu yang bagus. Seingat saya cuma ada Lawrence of Arabia (1962) dan Prince of Persia: The Sands of Time (2010)yang berlatar belakang sejarah Islam dan cukup bagus. Tetapi, keduanya tidak secara tegas menunjukkan secara faktual kejadian historis. Judul kedua malah fiktif karena diangkat dari video game terkenal. Sementara film-film lainnya yang menyinggung Islam, sejarah Islam atau tokoh Muslim bernuansa negatif. Sebutlah salah satunya seperti Dracula Untold (2014).

Ada beberapa versi sejarah memang tentang kejadian seputar Perang Salib III. Termasuk tentang peran Balian sendiri. Karena cerita yang didengar sekarang sudah berabad-abad dan dituturkan dalam tradisi lisan turun-temurun, bisa jadi saat ditulis sejarah sudah mengalami distorsi. Apalagi, ada kecenderungan untuk menutupi kekalahan, membesarkan kemenangan, menyangkal kesalahan sendiri seraya mengecilkan kebenaran pihak lain.

Kingdom_o_h_01-1024Tetapi ada fakta yang tak dapat disangkal. Bahwa secara historis, tokoh-tokoh seperti Salahuddin, King Baldwin IV, Guy d’ Lusignan, hingga King Richard “the Lion Heart” memang ada. Dan fakta lain adalah, Yerusalem dan jazirah Palestina memang direbut kembali oleh pasukan Muslim pada 1187 dalam Perang Hattin. Dan sejak itu, tak pernah lagi kembali ke tangan pasukan Salib atau sekutunya hingga berdirinya Israel pada 1948. Walau pada tahun 1917 Yerusalem direbut oleh pasukan Inggris dari tangan Turki Ottoman dalam Perang Dunia 1, tapi tidak lantas kemudian jadi ‘milik Inggris’. Bahkan, hingga sekarang wilayah itu masih jadi sengketa.

Secara sinematografis, film ini sangat bagus dan detail. Baik dari segi penggambaran situasi, peralatan, pakaian, bahasa, hingga elemen-elemen detail lainnya. Sepertinya, tidak ada bloopers sama sekali di film ini yang saya tangkap. Nyaris sempurna!

Pakaian yang dipakai Saladin dan para panglimanya misalnya, sangat detail hingga ke rajutan benang emas dan pahatan bertuliskan “Laa ilaaha ilallah Muhammadur Rasulullah”-nya. Juga bendera-bendera yang digunakan sebagai panji perang pasukannya pun detail sekali. Lambang bulan sabit dengan lengkungan ke atas –bukan ke samping- juga ditampilkan. Sekedar info, lambang ini memang lambang dinasti Ayyubid yang didirikan Salahuddin.

Kemunculan film ini setelah peluncuran trilogi the Lord of The Rings (LoTR) pada 2001,2002 dan 2003 yang sangat sukses dan digemari pecinta film. Dengan memaksimalkan teknologi terbaru dan tercanggih yang ada, trilogi film LoTR tersebut menghadirkan efek visual dan suara yang sangat dahsyat. Adegan pertempuran massal ala abad pertengahan hingga makhluk-makhluk mitologis dari ‘negeri dongeng’ bisa dihadirkan dan ‘dihidupkan’ secara nyata bak film documenter. Dan karena film itu berasal dari serial novel karya J.R.R. Tolkien yang ditulis pada 1937-1949, sang pengarang meskipun mengambil setting lokasi di dunia khayal bernama “Bumi Tengah”, tetapi jelas sekali berbagai detailnya berasal dari abad pertengahan. Karena itu, penikmat film justru pertama kali melihat berbagai alat perang abad pertengahan di serial fiktif tersebut.

Maka, saat film KoH ini hadir pada 2005, terkesan ia ‘meniru’ LoTR. Karena alat-alat perang yang digunakan serupa. Padahal, film KoH ini justru historis dan berupaya mereka-ulang sejarah, sementara LoTR jelas fiksi.

KoH 7168930_f520Nah, dari segi alat perang dan perlengkapan prajurit inilah, di film ini kita bisa menyaksikan pameran alat yang merupakan ‘nenek-moyang’ dari alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang ada sekarang. Sebutlah seperti menara serbu, catapult, mangonel, hingga trebuchet. Tetapi, ada yang keliru secara fatal di film ini saat pasukan Saladin mulai menyerbu Yerusalem. Terdengar teriakan –entah dari siapa karena tidak diperlihatkan- dari salah seorang prajurit Yerusalem, keras sekali dengan maksud memperingatkan yang lain dengan berkata, “trebuchet”! Padahal, tembakan bola api yang dilontarkan dari jauh itu berasal dari alat bernama “catapult”. Sementara, trebuchet sendiri adalah panah raksasa yang ditembakkan seperti meriam, dengan tujuan mengaitkan ke tembok untuk menaikkan tangga atau menjebol tembok benteng.

Sebagai Muslim, saya senang menyaksikan film ini. Terutama sebagai penyemangat saat melihat berita dunia diwarnai ketidakadilan dan penindasan oleh kapitalisme. Apalagi pasca insiden 11 September 2001, seakan dunia Islam jadi tertuduh dan biang kerok belaka. Film ini menunjukkan, warna Muslim sesungguhnya: berani membela kebenaran, tapi sekaligus pengasih kepada sesama. Dan Islam ditunjukkan sebagai agama yang teguh dan lurus pada pendiriannya. Salut!

One Response so far.

Leave a Reply