Resensi Film-Bhayu MH

Laskar Pelangi 2: Edensor

Year : 2013 Director : Benni Setiawan Running Time : 90 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
4/5

7-Fakta-Film-Laskar-Pelangi-Sekuel-2-EdensorKeterkaitan erat antara film ini dengan dua film prekuelnya Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi membuat penonton harus mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Demikian pula karena seperti pendahulunya film ini diangkat dari novel karya Andrea Hirata, maka akan lebih baik bila sudah membaca pustaka aslinya. Akan lebih mudah bagi penonton mengikuti jalan ceritanya bila melakukan salah satu dari dua hal itu. saya saja harus membuka-buka kembali novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Edensor (2007). Terutama sekali saat harus mengingat detail karakter, karena saat penayangan di film terlampau cepat dan sangat sulit dicatat mengingat gelapnya bioskop.

Awal film saja sudah dibuka dengan adegan diusirnya Ikal dan Arai dari griya mahasiswa di negeri asing. Bagi yang belum membaca novel atau menonton film prekuelnya, dipastikan akan bingung, siapa mereka? Keduanya adalah dua orang anggota “Laskar Pelangi” dari Belitong, yang mendapatkan beasiswa meneruskan kuliah di Universite de Sorbonne, Prancis. Tentu saja, mereka mendapatkan beasiswa bukan karena keanggotaan “Laskar Pelangi”, karena kelompok anak yang dikisahkan pernah sama-sama bersekolah di SD Muhammadiyah Belitong ini bukan organisasi resmi. Mereka berdua berhasil mendapatkan beasiswa karena kepintaran dan kegigihannya.

film Laskar Pelangi 2-Edensor 02-foto BhayuSetelah semalaman berjuang menahan dingin di Paris yang tengah dilanda musim dingin, Ikal dan Arai akhirnya bisa mendapatkan tempat tinggal setelah dibantu KBRI. Untuk menjaga suhu tubuh agar tidak drop, Arai menutupi tubuh Ikal dengan dedaunan. Menurutnya, tentara Napoleon melakukan ini di masa perang melawan Rusia karena humus menjaga suhu tubuh tetap hangat bahkan di tengah salju. Setelah itu, mereka akhirnya bisa melewati malam dan mengurus kedatangan mereka di Paris. Tak lupa, mereka pun berwisata dengan menaiki kapal gondola di kanal-kanalnya.

Ikal yang mengambil master di bidang ekonomi bergabung dengan kelompok yang mereka juluki sendiri “The Pathetic Four”. Ini tentu merupakan pelesetan dari kelompok superhero “The Fantastic Four”. Apalagi anggotanya juga terdiri dari 3 pria dan 1 wanita. Selain Ikal, juga ada Vikram Raj Chauduri Manooj dari India, Gonzales dari Meksiko dan Ninochka dari Georgia. Mereka bergabung karena merasa memiliki kesamaan sebagai mahasiswa beasiswa asal negara berkembang. Karena Arai adalah sahabat Ikal, maka meskipun berbeda jurusan ia pun kerap bercengkerama dengan mereka.

Kisah selanjutnya sebenarnya ‘datar’ saja, karena berkisar di seputar dunia perkuliahan Ikal. Bumbunya cuma romantisme cinta alakadarnya antara Ikal dan Katya, dengan sedikit persaingan untuk memperebutkan gadis itu. Ini kemudian diikuti konflik Ikal dan Arai karena sobatnya itu menilai Ikal terjebak pada fantasi cintanya sehingga nilainya jeblok. Apalagi, sebenarnya di dalam hatinya Ikal masih saja terpaut hatinya pada cinta pertamanya di masa kecil: Aling.

film Laskar Pelangi 2-Edensor 01-foto BhayuPenggambaran suasana Paris jauh lebih bagus daripada film 99 Cahaya di Langit Eropa. Detail universitas dan kotanya lebih terasa. Hampir tidak ada scene dimana terlihat secara tak sengaja ada ‘bule kampung nonton shooting’. Bahkan para mahasiswa-mahasiswi yang berada di kantin tampak tak peduli pada adanya shooting. Tentu, itu bisa dicapai justru karena mereka semua adalah figuran yang sudah diatur. Sinematografinya ciamik. Pemandangan alam terasa begitu indahnya, terutama suasana kanal-kanal di Paris dan pantai Belitong. Indah.

Demikian pula penggunaan bahasa Prancis hampir di sepanjang film, cukup memadai. Walau pelafalan bahasa Prancis aktor-aktris kita terkesan perlahan dan takut salah, itu wajar. Saya bisa membandingkan ini karena memiliki teman orang Indonesia yang sudah fasih berbahasa Prancis, dan ia berbicara dengan cukup cepat untuk kategori non-native speaker. Kapabilitas para aktor dan aktris Indonesia saat beradu akting dengan aktor dan aktris asing juga cukup baik. Walau sayangnya aktor dan aktris kita itu sudah terkategori ‘papan atas’, sementara aktor dan aktris asingnya jelas masih termasuk ‘pendatang baru’. Jadi, justru permainan aktor dan aktris asing itulah yang lebih pantas dipuji.

Secara subyektif, saya justru suka pada akhir film di mana Ikal berupaya menelusuri jejak Aling. Ada flashback dari angle berbeda yang menunjukkan bahwa sebenarnya Ikal dan Aling sudah beberapa kali berpapasan di Paris. Hanya saja, karena baik Ikal, Aling maupun Arai sama sekali tidak lagi mengenali wajah sobat masa kecilnya sewaktu dewasa, maka tak ada tegur-sapa. Ini mengingatkan saya pada scene di film Hitch (2005) yang menunjukkan Alex “Hitch” Hitchens (Will Smith) dan Sara Melas (Eva Mendes) sudah bersilang jalan beberapa kali sebelum akhirnya mereka berkenalan. Ini membuat saya merenung bahwa bila memang Tuhan tak mengizinkan kita bertemu dan berhubungan dengan seseorang, upaya sekeras apa pun tak akan berhasil. Seperti halnya Ikal dan Arai yang gagal saat mengejar Aling hingga ke stasiun kereta.

2 Responses so far.

  1. Memang manteb bener dah ini film.. Saya sangat suka. Memang pantes film ini menjadi film inspirasi bagi kalangan anak mudah..

Leave a Reply