Resensi Film-Bhayu MH

Merah Putih

Year : 2009 Director : Yadi Sugandi Running Time : 108 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Setelah sekian lama, akhirnya jagat perfilman Indonesia diramaikan lagi oleh film perang, khususnya perang kemerdekaan. Dengan mengabaikan niatan pribadi penyandang dananya untuk mengenang leluhurnya, prakarsa pembuatan film ini patut dipuji.

Berlatar-belakang sejarah perang kemerdekaan dalam menghadapi Agresi Militer Pertama Belanda tahun 1947, kisah film ini sepenuhnya fiksi belaka. Ini harus dijelaskan dulu di awal agar penonton tidak salah mengira film ini merupakan kisah nyata (true story) dari sejarah.

Meski Indonesia sudah memproklamasikan secara sepihak kemerdekaannya pada 1945, Belanda tidak mengakuinya. Pemerintah pendudukan Jepang di Hindia Timur atau Hindia Belanda pun menyerahkan kembali wilayah ini kepada Belanda. Sebagai bagian dari pasukan Sekutu yang baru saja memenangkan Perang Dunia II, Belanda bersikap jumawa. Mereka menganggap wilayah ini adalah hak mereka. Tentu saja, seluruh rakyat pro republik bangkit melawan.

Dari embrio laskar rakyat, mulai dicoba dibentuk tentara profesional. Salah satunya dengan menempa para calon perwira yang disebut kadet di akademi militer. Salah satunya di Barak Bantir yang berada di Semarang. Sayangnya, belum selesai pendidikan mereka, Clash I pecah memaksa para kadet untuk terjun ke medan perang. Terutama sekali karena kamp mereka termasuk yang diserbu pasukan Belanda. Hampir seluruh kadet tewas terbunuh. Mereka yang selamat lantas menggalang perlawanan dari hutan. Hanya ada empat orang yaitu Amir, Tomas, Dayan dan Marius. Mereka lantas mencari pasukan gerilya di pedalaman Jawa untuk berkoordinasi.

Dibantu oleh beberapa orang tentara lain dan penduduk, tim kecil kadet ini merencanakan penyergapan konvoi pasukan Belanda. Tujuannya tentu untuk sabotase terutama agar pasokan logistik musuh terputus. Dan mereka bukan hanya berhasil menghancurkan konvoi, juga menawan komandan pasukan Belanda Mayor van Gaartner. Film lantas akan dilanjutkan di sekuel berikutnya.

Film ini digarap sangat serius dengan biaya yang konon termahal sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Tak kurang dari US$ 6 juta atau setara Rp 6 milyar digelontorkan untuk membesut trilogi film ini. Kru dan peralatannya pun sebagian menggunakan milik Hollywood. Tak heran, kualitas film ini di atas rata-rata kebanyakan film Indonesia.

Sayangnya, setengah dari film ini beralur lambat sehingga membosankan. Adegan saat para kadet masih berada di kamp terasa begitu membosankan. Saya mengerti, mungkin penulis scenario dan sutradara ingin seperti film Hollywood yang menampilkan suasana di kamp pelatihan militer. Sebutlah seperti G.I. Jane atau Annapolis. Tetapi, dialog yang bertele-tele justru menjadikannya lemah. Malah, gemblengan fisik yang seharusnya Nampak malah tidak terlihat.

Properti (property) dan pakaian (wardrobe) luar biasa detail. Hal ini karena yang menggarap adalah ahli dari Hollywood. Saya acungi jempol untuk penghadiran kembali suasana perang kemerdekaan yang nyaris seperti aslinya, lengkap dengan peralatan tempurnya.

Terlepas dari kebosanan di paruh pertama, hal itu terbayar di paruh kedua film. Penonton bisa menikmati suasana pertempuran yang cukup seru. Termasuk tentu saja adegan tembak-menembak dan peledakan kendaraan yang khas Hollywood. Film yang cukup bagus untuk ditonton dan layak dijadikan koleksi cakram padatnya.

Leave a Reply