Resensi Film-Bhayu MH

Negeri Van Oranje

Year : 2015 Director : Endri Pelita Running Time : 97 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Produser  : Frederica
Sutradara : Endri Pelita
Penulis     : Annisa Rijadi, Titien Wattimena, Raden Wahyuningrat, Adept Lenggana, Rizki Pandu Permana
Pemeran  : Tatjana Saphira, Chicco Jerikho, Abimana Aryasatya, Arifin Putra, Ge Pamungkas

Alkisah, lima orang Indonesia terdampar di stasiun kereta Amersfoort. Mereka empat orang lelaki dan satu orang wanita. Bukan karena sengaja tentu, karena mereka terpaksa tertahan akibat badai yang menghempas. Berawal dari kedinginan, keempat pria yang doyan merokok itu pun berbagi rokok. Semula rokok lintingan saja, karena harga rokok di Negeri Kincir Angin itu mahal, tetapi kemudian pria terakhir membawa rokok kemasan pabrikan. Sang wanita yang datang terakhir semula bermuka “jutek”, tetapi kemudian berubah ramah karena sadar bahwa mendapatkan teman orang dari kampung halaman di negeri orang sangat berarti.

Dari situlah petualangan kelima sahabat itu dimulai. Mereka kemudian menamakan dirinya “AAGaban”. Identitas kelima orang Indonesia itu adalah:

  • Irwansyah Iskandar (Arifin Putra). Dipanggil “Is” di kampung halamannya, tetapi kemudian menggunakan “nama gaul” Banjar, menunjukkan asal daerahnya yang dari Banjarmasin. Eksekutif muda di perusahaan rokok sebelum studi bisnis lanjutan ke Belanda.
  • Wicak Adi Gumelar (Abimana Aryasatya), dipanggil Wicak. Asli Banten dan semula berasal dari keluarga pengusaha karet. Aktivis LSM yang memerangi illegal logging sebelum dikirim studi S-2  ke Wageningen Universiteit .
  • Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri (Ge Pamungkas), akrab disapa Daus. Putra Betawi dan staf Ditjen Bina Masyarakat Islam Departemen Agama yang mengambil studi Human Rights Law di Utrecht.
  • Garibaldi Utama Anugraha Atmadja (Chicco Jerikho), asal Bandung dan merupakan orang paling kaya di “AAGaban”. Mengambil studi master bisnis di Leiden Universiteit .
  • Anandita Lintang Persada (Tatjana Saphira), satu-satunya wanita di kelompok ini. Keturunan Jawa-Minang dan mengambil program master di bidang European Studies di Leiden Universiteit.

Saya harus membeli novelnya untuk mengetahui detail semua karakter tersebut secara tepat, karena tentu saat menonton sulit untuk mencatatnya. Anda tahulah, selain cepat penayangannya juga gelap. Tetapi, jujur saja, saya tidak menyesal membeli novelnya. Ternyata, membaca novelnya pun semengasyikan menonton filmnya. Ini berbeda dengan sejumlah novel yang laris dari segi pemasaran dan juga difilmkan, tetapi ternyata saat dibaca kurang lancar cara bertuturnya.

Dan keindahan bertutur inilah yang jadi andalan di film ini. Tidak sekedar mengemas alur yang kuat, tetapi juga nikmat dilihat. Bagi saya, kualitas sinematografi film ini bisa disejajarkan dengan Laskar Pelangi (2008) yang membuat banyak orang ingin berkunjung ke Belitong. Saya jamin, siapa pun yang melihat film Negeri van Oranje ini akan ngebet pengen ke Belanda. Tampaknya, film ini didukung penuh pemerintah Belanda. Tampak jelas dari hampir sterilnya lokasi shooting yang tampak seperti diblokir sehingga seolah hanya ada aktor yang sedang berakting, hinggga adegan di kampus dan perpustakaan yang megah pun bisa terlihat sepi.

Demikian pula footage yang “boros” memamerkan keindahan negeri yang terkenal dengan bunga tulipnya itu, luar biasa indahnya. Bahkan, ada footage saat karnaval atau festival, plus kanal-kanal dan pesta kembang api segala. Dahsyat! Ini jelas sulit karena mesti tahu kapan ada acara seperti itu di sana. Meski sesekali saat di jalan ada saja satu-dua orang Belanda “kampungan” yang tengah menatap keheranan ke arah kamera, tetapi secara keseluruhan saya seperti melihat film Hollywood saja. Sebutlah seperti Eat, Pray, Love (2010) yang antara lain mengambil lokasi shooting di Indonesia tetapi sangat terkondisi lingkungannya. Belum lagi kualitas gambar yang HD (High Definition) hingga warna-warni mulai dari langit, bangunan, kanal, pantai, hingga bunganya terlihat cemerlang. Plus bonus beberapa menit adegan saat “Aagaban” berwisata ke Praha-Republik Ceko. Dan ada sedikit pembelajaran sejarah saat masing-masing pria mengajak Lintang untuk “city tour”.

Secara alur dan plot cerita, sebenarnya agak mirip dengan 5 cm (2012). Selain karakter utamanya juga lima orang sahabat, unsur motivasinya juga ada. Bedanya, di film yang juga nge-hits di masanya itu, tidak ada dari para pria yang menjadi suami dari wanita yang jadi sahabat mereka. Nah, itulah konflik yang terjadi di film Negeri van Oranje ini. Karena keempat pria itu sejak awal berupaya memperebutkan perhatian dari Lintang yang dipanggil “Tang”, kecuali Geri yang memanggilnya “Nanda” dari nama depannya Anandita. Di awal film juga sudah dibuka dengan adegan pamungkas bahwa akan berlangsung pernikahan antara Lintang dengan salah satu di antara mereka. Sehingga, keseluruhan alur cerita film sebenarnya adalah kilas-balik (flash-back).

Penggunaan bahasa Belanda dan Inggris secara taat asas dan tepat tempat pun terasa nyaman sekali. Toh ada terjemahan subtitle di layar, sehingga penonton tidak kesulitan. Para karakter yang orang Indonesia berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi saat berinteraksi dengan orang asing, menggunakan bahasa asing juga. Detailnya pun patut dipuji, mulai dari kostum (wardrobe), kendaraan hingga akomodasi. Pakaian tiap karakter mencerminkan kondisi mereka di Belanda. Wicak yang lecek dengan Geri yang dandy, terlihat jelas bedanya. Apalagi saat Geri menggunakan mobil Mustang-nya dan “AAGaban” berpesta di apartemen Geri, terlihat sekali status sosial-ekonominya yang tinggi.

Kalau pun ada kelemahan, cuma kecil-kecil saja dan tidak mengganggu keseluruhan film. Seperti singkatan “AAGaban” yang tidak dijelaskan di film. Saya juga agak heran kenapa di film diperlihatkan kalau “rokok keretek” ternyata adalah rokok putih yang menggunakan filter. Setahu saya yang bukan perokok, rokok jenis ini di Indonesia hanya ada satu merek ternama, yang berlabel tiga angka berderet. Kalau rokok putih berfilter namanya ya rokok filter, bukan rokok keretek. Karena kandungan tar dan nikotinnya yang tinggi, rokok keretek dilarang di banyak negara maju termasuk di anggota Uni Eropa dan Amerika Serikat. Tentu saja alasan kesehatan adalah yang utama, walau tentu ada masalah cukai dan pajak juga. Saya juga membayangkan andaikata di tiap kali perpindahan setting lokasi diberikan notifikasi tulisan di layar sehingga memudahkan penonton. Kebingungan terutama terasa saat di bagian akhir film tiba-tiba ada adegan keempat lelaki “Aagaban” tampak blingsatan. Saya baru ngeh kalau mereka sedang mencari Lintang sebagai kelanjutan dari intro di bagian awal film.

Humor-humor di film ini juga cerdas sekali, tidak slapstick. Mengandalkan situasi dan script yang kuat. Beberapa kali penonton dibuat tertawa karena mendapati kekonyolan para karakternya, yang justru tidak dibuat-buat supaya terlihat konyol. Tentu saja juga terdapat sponsor untuk film mahal seperti ini. Tetapi tidak seperti di film-film Indonesia lainnya, selain logo di credit title, saya tidak mendapati penampakan yang ‘norak’. Malah, saya melihat justru dua merek mobil yaitu Mustang dan Citroen tampil cukup jelas di sana. Padahal, kedua merek ini justru tidak populer di Indonesia. Oh ya, saat akhir film, credit title-nya juga menarik karena tidak semata deretan tulisan putih di atas dasar hitam saja, tetapi dilengkapi foto-foto asli keempat penulis novel dan karakternya.

Pada akhirnya, secara keseluruhan saya mengacungkan jempol untuk film yang diangkat dari novel berjudul sama ini. Sebagai film Indonesia, ceritanya kuat, karakternya kuat, alurnya kuat, gambarnya kuat, dan logikanya pun memadai. Maka, saya memberikan angka 4,3 pada skala 5 atau setara 8,6 pada skala 10. Seperti juri kompetisi dangdut di televisi yang sedang populer, saya pun berteriak: “W-O-W! Wow!”

144549899069735_500x333

 

Catatan: Klik pada gambar poster di kiri atas untuk melihat trailer-nya.

Leave a Reply