Resensi Film-Bhayu MH

Night at the Museum: Secret of the Tomb

Year : 2014 Director : Shawn Levy Running Time : 97 minutes Genre : , , , , , ,
Movie review score
4/5

Jalan Cerita

Film dibuka dengan penggambaran ekspedisi arkeologi di Mesir pada tahun 1938. Seorang anak dari kepala tim arkeolog jatuh ke sebuah lubang. Ternyata, di dalam lubang itu adalah aula dari sebuah ruangan besar dalam struktur bangunan kuno. Ayahnya pun menyusul bersama tim, dan di sana mereka menemukan artefak berharga. Sebuah tablet terbuat dari emas yang disebut “Tablet Ahkmenrah”. Penduduk lokal mengingatkan agar tablet itu tidak dipindahkan, mengatakan “akhir akan tiba”.

Kisah melompat ke masa sekarang, dimana Larry Daley sudah kembali bertugas sebagai penjaga malam di American Museum of Natural History. Larry mengatur acara pembukaan “museum malam” untuk mencari dana tambahan. Para penghuni museum yang hidup di kala malam akibat kekuatan “Tablet Ahkmenrah” setuju membantu. Mereka bak para penampil profesional, maju silih berganti. Mulai dari patung lilin Teddy Roosevelt, replika zodiac bintang di langit-langit museum,hingga Dexter si Capuchin. Tetapi ada satu figur baru manusia era Neanderthal yang menyebut dirinya “Laaa”. Ternyata, itu semacam lelucon dari Dr. McPhee, sang direktur museum. Karena sosok patung lilin itu dibuat sangat mirip dengan Larry. Saat bertemu, bahkan Laaa menganggap Larry sebagai ayahnya sehingga memanggilnya “Dada”.

Acara pembukaan pameran tidak berlangsung lancar, tiba-tiba semua penampil kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Bahkan “Rexy”, kerangka T-Rex mengamuk. Semua pengunjung pun kocar-kacir dan berhamburan. Sehingga, Larry pun ditegur oleh McPhee.

Segera Larry menggelar rapat dengan teman-temannya penghuni museum. Pemilik “tablet Ahkmenrah” di dunia nyata Mesir Kuno, Pharaoh Ahkmenrah memperingatkan bahwa tabletnya itu berjamur dan mengalami korosi. Tetapi ia sendiri tidak tahu sebabnya. Setibanya di rumah, Nicky anak Larry yang baru saja lulus kuliah mengatakan kepada Larry bahwa dia tidak ingin melamar ke perguruan tinggi. Melainkan mengambil waktu satu tahu rehat untuk mengetahui apa yang ingin dilakukannya dengan hidupnya.

Larry lantas pergi ke perpustakaan milik museum di siang hari. Meski ditertawakan penjaga perpustakaan yang menganggap aneh seorang satpam yang senang belajar, Larry tak peduli dan terus mencari-cari data, hingga ia menemukan sebuah foto saat tablet itu ditemukan. Ternyata, sang anak yang menemukan tablet itu adalah Cecil Fredericks. Dia adalah mantan penjaga museum yang pernah berusaha mencuri “tablet Ahkmenrah” ketika dia pensiun. Dari penjaga perpustakaan Larry mengetahui cerita itu.

Mencari Cecil, Larry pergi ke rumah jompo. Ia menceritakan kejadian di museum. Di situlah Cecil baru ingat bahwa perkataan “akhir akan tiba” yang dikatakan orang Mesir saat tablet itu ditemukan bukanlah akhir dunia, melainkan akhir dari kekuatan tablet itu. Ia menyarankan agar Larry menemui ayah Ahkmenrah, yang berada di British Museum.

Ditemani Nicky, Larry mengatur perjalanan yang seolah dinas resmi ke London. Menggunakan mobil dinas resmi museum, Tilly penjaga malam di British Museum membolehkannya masuk untuk menaruh barang. Meski ia berpura-pura pergi keluar lagi dengan mobilnya, tetapi dengan bantuan Nicky, Larry berhasil menyelinap kembali. Tidak terlalu sulit karena Tilly yang berperawakan gemuk itu gemar tidur.

Sesampainya di dalam, ketika boks kayu yang dibawanya dibuka, ternyata teman-temannya dari American Museum of Natural History semuanya ikut. Theodore Roosevelt, Attila the Hun, Sacagawea, dua patung miniatur Jedediah dan Octavius dan tentunya Ahkmenrah sendiri. Terakhir, tanpa diduga ada juga Laaa. Karena paling tidak bisa berkomunikasi dan dianggap tak berguna, Larry menugaskan Laaa menahan pintu masuk dengan tangannya, seraya mengatakan “stay”.

Kekuatan “tablet Ahkmenrah” membuat seluruh penghuni museum hidup. Dan karena itu pertama kalinya, hampir semua kebingungan apa yang terjadi. Rombongan itu secara tak diduga bertemu dengan kerangka Triceratops yang juga hidup. Mengira ia bisa ditaklukkan dengan diajak bermain seperti Rexy di museum tempatnya bekerja, Larry melemparkan tanduk. Tetapi, ternyata tanduk itu cuma digigit dan lantas dihancurkan, untuk kemudian Triceratops itu memburu mereka.

Pontang-panting semuanya lari hingga tiba di suatu aula. Baju zirah yang ternyata milik Sir Lancelot hidup dan menyelamatkan mereka. Patung lilin yang merasa dirinya adalah Sir Lancelot itu merasa harus menyelesaikan misinya, yaitu Guinevere untuk menyerahkan “Holy Grail” (cawan suci yang menjadi mitos Kristiani). Tetapi, sebelumnya, ia mencoba membantu kelompok Larry lebih dulu.

Saat itulah mereka menyadari bahwa Jedediah dan Octavius yang semula berada di topi bulu Attila the Hun terjatuh. Mereka menduga kedua miniature yang hidup itu jatuh ke saluran ventilasi angin di lantai. Larry lantas mengikatkan Hand Phone milik Nicky ke tubuh Dexter, yang ditugaskan masuk ke saluran ventilasi angin. Mengikuti sinyal dari HP, rombongan itu memasuki ruangan demi ruangan. Hingga tiba di satu ruangan, patung kecil Garuda asal Tibet yang hidup mencegah mereka memasukinya. Ternyata, di ruangan itu ada patung raksasa Xiangliu, semacam naga mitologis asal China yang berkepala sembilan. Sir Lancelot, Larry dan Nicky bertempur melawan Xiangliu. Mereka akhirnya berhasil mengalahkan sang naga dan melanjutkan pencarian.

Sementara itu, Jedediah dan Octavius malah ketakutan melihat bayangan Dexter yang dikira monster. Mereka lari dan justru terjatuh ke diorama kota Pompeii, tepat sebelum Mount Vesuvius meletus. Di saat lahar hampir mencapai mereka yang terdesak tak bisa lari ke mana-mana lagi, Dexter tiba dan dengan kencingnya membekukan lahar.

Kelompok Larry akhirnya berhasil mempertemukan Ahkmenrah dan Merenkahre ayahnya, yang juga didampingi ibunya. Meski semula menolak memberitahukan rahasia “tablet Ahkmenrah” karena menurutnya “belum saatnya”. Ia tidak tahu bahwa masanya hidup dengan saat itu sudah berjarak 3.000 tahun. Setelah diberitahu oleh anaknya, akhirnya Merenkahre mengungkapkan bahwa tablet itu dibuat dengan kekuatan Khonsu, Dewa Bulan bangsa Mesir Kuno. Karena itu perlu mendapatkan paparan cahaya Bulan di waktu tertentu untuk memperoleh kembali kekuatan sihirnya.

Sir Lancelot mengira tablet itu adalah “holy grail” karena kekuatannya, maka, ia merebutnya dan dengan kuda lari ke kota. Semua panik. Bukan saja karena akan tampak aneh seorang berbaju zirah keliling kota, tetapi juga karena tablet itu bisa menghidupkan aneka benda dan sekaligus juga mengancam “hidup” semua figur museum bila tak mendapatkan paparan cahaya Bulan malam itu. Ketika hendak mengejar Sir Lancelot, Tilly datang dan mengurung Larry serta Laa di ruang istirahat pegawai. Larry malah ‘curhat’ hubungannya dengan Nicky dan dengan lucu diartikan berbeda oleh Laa, yang membebaskan mereka dengan menandukkan kepalanya ke kaca di pintu. Rombongan pun kemudian mengejar Sir Lancelot, setelah memerintahkan Laaa mengamankan Tilly di posnya sendiri.

Di taman kota Trafalgar Square, empat patung singa hidup dan nyaris menyerang mereka. Untung Larry bisa mengalihkan perhatiannya dengan memainkan senter, atas saran Jedediah yang sebelumnya melihat Youtube. Sir Lancelot terus berkuda dan melihat ada pertunjukan teater yang menampilkan lakon “Camelot” dimana ada peran Lady Guinevere. Rombongan itu mengikutinya .

Sir Lancelot naik ke panggung dan mengancam dua pemain di panggung. Mereka adalah King Arthur yang diperankan oleh Hugh Jackman dan Lady Guinevere oleh Alice Eve. Menyadari bahwa dua orang di hadapannya bukan King Arthur dan Lady Guinevere asli, Sir Lancelot keluar panggung dan naik ke atap.

Rombongan mengikutinya dan di atas atap Larry menerangkan bahwa Sir Lancelot pun bukanlah Sir Lancelot, melainkan hanya patung lilin replika saja. Satu per satu penghuni museum kembali kaku, menjadi patung, termasuk Pharaoh Ahkmenrah sendiri kembali jadi mumi. Sementara hidung Sir Lancelot pun mencair.

Menyadari kekeliruannya, Sir Lancelot mengembalikan “tablet Ahkmenrah” kepada Larry. Buru-buru Larry menyelaraskan panel di tablet itu dan memaparkannya ke cahaya Bulan. Kekuatan sihir tablet itu kembali dan seluruh figur museum kembali hidup.

Mereka semua kembali ke British Museum. Larry diberi penghargaan oleh Merenkahre yang berterima kasih pada jasanya. Para penghuni American Museum of Natural History di New York meminta agar “tablet Ahkmenrah” ditinggal di British Museum bersama Merenkahre. Ahkmenrah sendiri memutuskan untuk tetap tinggal bersama ayah dan ibunya. Ketika akan pergi, Tilly ternyata jatuh cinta kepada Laaa. Dan ia pun membiarkan rombongan Larry pergi. Sebelum pergi, Larry mengatakan kepada Tilly bahwa besok malam akan menjadi pekerjaan paling menyenangkan di dunia baginya.

Setelah semuanya kembali ke American Museum of Natural History di New York, semuanya sadar bahwa dengan ketiadaan “tablet Ahkmenrah”, maka malam berikutnya mereka tak akan hidup lagi. Mereka pun mengucapkan salam perpisahan kepada Larry.

Tiga tahun kemudian, pameran dari British Museum diadakan di American Museum of Natural History. Tilly menemui McPhee, menyerahkan kembali “tablet Ahkmenrah” kepada museum pemilik aslinya. Ia mengatakan itu adalah titipan dari Larry, yang menurutnya penjaga malam terbaik yang pernah ada. Larry sendiri mengambil-alih tanggung-jawab dari Direktur Museum atas kekacauan yang terjadi saat pembukaan “pameran museum malam” beberapa waktu sebelumnya. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai penjaga malam.

Tilly pun berinisiatif menunjukkan kekuatan sihir “tablet Ahkmenrah” kepada McPhee. Ia membawanya ke dalam ruangan museum dan tepat saat matahari terbenam, keajaiban terjadi. Seluruh penghuni museum hidup dan berpesta-pora merayakannya. McPhee terkejut, tetapi senang. Sementara Tilly bertemu kembali dengan kekasihnya “Laaa” yang memintanya “stay”. Di luar, Larry ternyata tengah melintas di trotoar seberang museum. Ia berhenti sejenak melihat adanya lampu-lampu menyala di dalam museum, tanda tengah ada pesta. Ia tahu para penghuni museum hidup kembali dan tersenyum.

Kritik Film

wallpapper_1024x768_01

Film ini lumayan ditunggu, karena seorang aktor besarnya wafat sebelum diluncurkan. Dan wafatnya pun karena bunuh diri. Dia adalah Robin Williams. Dan film ini jadi film terakhirnya sekaligus didedikasikan untuknya. Seorang aktor lagi juga wafat karena usia tua, dia adalah Mickey Rooney. Tetapi peran Rooney sebagai Gus -bekas penjaga berusia tua- tidaklah sesignifikan Williams sebagai patung lilin Theodore “Teddy” Roosevelt saat masih jadi Kolonel di Kavaleri Tentara A.S.

Ide serial franchise film “Night at the Museum” ini unik. Karena film pertama, Night at The Museum (2006) diangkat dari buku anak-anak berjudul sama karya Milan Trenc. Agak jarang Hollywood tertarik mengangkat kisah dari pengarang yang kurang dikenal. Kalau pun ada, biasanya sekelas H.C. Andersen atau malah yang sedang “trending” dari buku komik.

Di film ini, kembali Larry Daley bekerja sebagai penjaga keamanan malam hari di American Museum of Natural History-New York city. Setelah di sekuel sebelumnya ia sempat beralih profesi menjadi pengusaha sukses, walau kemudian terpaksa kembali karena keadaan darurat yang terjadi di museum. Dan di film ini, ia langsung melanjutkan kariernya semula. Walau dari segi kelogisan pikiran di dunia nyata, itu jelas aneh. Karena di sekuel film pertama dikisahkan ia bekerja di malam hari karena terpaksa, diakibatkan baru saja bercerai dan kehilangan pekerjaan ‘normal’ di siang hari. Dan siapa juga yang mau ‘balik lagi ke lumpur’ setelah sempat ‘mentas’? Pengusaha sukses dengan penghasilan besar dibandingkan penjaga keamanan malam hari? Pastinya penghasilannya seperti bumi dan langit.

Kelemahan logika lain juga tampak di sana-sini, terutama sekali karena karakter patung lilin Attila the Hun digambarkan malah pengecut dan berhati lembut. Saat bertarung dengan Xiangliu, Attila yang memilki pedang dan Theodore Roosevelt yang berpistol sama sekali tak membantu. Tetapi penampakan “Garuda asal Tibet” membuat saya yang orang Indonesia terhenyak. Karena ternyata binatang yang jadi “lambang negara” Republik Indonesia itu berasal dari mitologi kuno bangsa lain, walau diserap oleh mitologi Jawa.

Putra tunggal Larry yaitu Nick pun di film ini sudah remaja. Karena itu pemerannya berganti dari di dua sekuel film sebelumnya yang diperankan oleh Jake Cherry, di film ini oleh Skyler Gisondo. Dan Ben Stiller sebagai pemeran utama, di sekuel film ini mendapatkan tantangan bermain ganda. Selain sebagai Larry Daley, ia juga berperan sebagai Laaa. Dan karena make-up serta wardrobe costume yang bagus, penonton yang kurang awasa akan nggak ngeh bahwa dua karakter itu diperankan aktor yang sama.

Saya terkejut dengan penampilan cameo dari dua bintang Hollywood terkenal di film ini, yaitu Hugh Jackman dan Alice Eve. Kesediaan mereka tampil tentunya menunjukkan penghargaan atas film ini. Apalagi perannya “segitu doang”, sebagai penampil teater yang tidak dikenali, bahkan setelah Hugh Jackman menunjukkan gayanya sebagai “Wolverine” dalam serial franchise film “X-Men”.

Secara umum, film ini masih menarik untuk disaksikan bersama keluarga. Tetapi terasa sekali nuansa sedihnya karena jelas ditunjukkan ini sekuel film terakhir dari serial franchise film “Night of the Museum”. Apalagi seperti disebutkan tadi, kita tahu ada dua aktornya yang wafat di dunia nyata. Maka, saat Theodore “Teddy” Roosevelt naik ke atas kudanya untuk terakhir kali dan kemudian membeku kembali menjadi patung lilin saat matahari terbit, penonton yang ‘baca berita’ akan merasakan kehilangan sosok Robin Williams. Sedih.

Leave a Reply