Resensi Film-Bhayu MH

Once Upon A Time In Mexico

Year : 2003 Director : Robert Rodriguez Running Time : 102 minutes Genre : , , , , ,
Movie review score
3/5

Apa daya tarik utama film ini? Aktor dan aktris pemeran utamanya. Antonio Banderas yang hot bagi wanita dan tentu saja Salma Hayek yang puedessss bagi pria. Akting keduanya yang prima dan sedang di puncak kejayaan saat film ini dirilis, membuat film ini sukses di pasaran. Dengan biaya produksi sekitar US$ 29 juta, hasil yang diraupnya dari penjualan tiket lebih dari US$ 98 juta.

Tapi tentu bukan itu saja faktor kesuksesannya. Karena jalan cerita dan alur penceritaan film ini juga sangat kuat. Sutradara Robert Rodriguez menjadikan film ini pamungkas dari “Trilogi Meksiko” besutannya. Alur ceritanya tentu masih sama melanjutkan dua sekuel film sebelumnya, yaitu tentang tokoh protagonis Meksiko yang bergaya “vigilante”. Berada di luar hukum, tetapi menuntaskan tugas aparat penegak hukum yang tak mampu menghadapi mafia atau pihak yang berkuasa.

Di flim ini, El Mariachi (Antonio Banderas) direkrut oleh CIA melalui agen Sheldon Sands (Johny Depp). Tugasnya adalah untuk membunuh Jenderal Emiliano Marquez (Gerardo Vigil), seorang komandan pasukan gerilya. Ia disewa oleh Armando Barillo (Willem Dafoe), seorang pemimpin kartel obat terlarang. Tindakan intervensi tersebut dilakukan karena mereka berniat menggulingkan pemerintahan Meksiko yang sah dengan cara membunuh Presiden Meksiko (Pedro Armendáriz Jr.).

oncemex4Beberapa tahun sebelumnya anak dan istri El Mariachi yaitu Carolina (Salma Hayek) dibunuh oleh sang jenderal korup itu. Dan ia berusaha menuntut balas. Dalam usaha menggagalkan kudeta, Sands tidak hanya menugaskan El Mariachi, tetapi juga mendekati mantan agen FBI Jorge Ramirez (Rubén Blades) untuk membalas dendam atas kematian rekannya Archuleta. Seorang agen lapangan AFN Ajedrez (Eva Mendes) kemudian juga ditugaskan oleh Sands untuk mengintai Barillo.

Cerita tentu berkisar pada upaya pihak penegak hukum untuk membunuh penjahat sekaligus menggagalkan kudeta. Tetapi di sisi lain, para penjahat juga berupaya melawan. Baku tembak dan tentu saja perkelahian mewarnai upaya tersebut.

Meski sebenarnya film bergenre “superhero” pasti berakhir “jagoan pasti menang”, tetapi tentu proses kemenangannya yang jadi pertanyaan. Dengan cara bagaimana aksi sang jagoan ini memukau penonton. Tentu saja, seakan memuaskan dahaga aneh manusia pada perilaku sadistis, film ini sangat mengumbarnya. Darah bertebaran di mana-mana sebagai akibat dari peluru yang menembus tubuh. Ledakan yang terjadi juga seolah membuat penonton mampu mencium bau mesiunya.

Bagi saya pribadi, film ini secara gamblang mampu menggambarkan betapa carut-marutnya hukum di Meksiko. Padahal negara itu jelas berbatasan langsung dengan Amerika Serikat di selatan. Walau karena film ini buatan Hollywood, bisa saja kita berdalih bahwa bias politik dan kultural mewarnainya. Bagi saya, tetap saja gambarannya –meski digambarkan superlatif secara komikal- membuat kita tahu, bagaimana Meksiko bisa menjadi negara yang dikenal sebagai salah satu pemasok obat terlarang terbesar di dunia.

One Response so far.

Leave a Reply