Resensi Film-Bhayu MH

{Rudy Habibie}

Year : 2016 Director : Hanung Bramantyo Running Time : 142 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
3/5
rudy-habibie1-402x600Film ini memang sekuel dari film Habibie & Ainun (2012), sehingga memiliki judul alias “Habibie & Ainun 2”. Digarap oleh rumah produksi berdana besar dan berpengalaman panjang yaitu MD Pictures dengan produser Manoj Punjabi, penonton bisa berharap tontonan yang menarik. Sebagai seorang kritikus film independen tanpa bayaran, saya tentu mengharapkan lebih. Karena ini film biografi dengan latar sejarah, satu yang saya soroti adalah bagaimana sutradara dan seluruh crew film menampilkan keakuratan detail di layar perak. Dan, dengan melihat sekali saat tayang perdana untuk umum di bioskop Kamis (30/6) kemarin, sedikit-banyak saya cukup terpuaskan. Walau, tetap saja, tak ada gading yang tak retak.
OK. Kita mulai saja ulasannya.
Untuk menonton film ini, diharapkan Anda sudah menyaksikan sekuel film pertamanya,Habibie & Ainun (2012). Karena ada beberapa bagian yang sangat terkait dengan film itu. Tetapi bila tidak pun, sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, karena bagi orang Indonesia sosok Prof. Dr. Ing. Bacharudin Jusuf Habibie begitu terkenal, cerita dan karakter di film ini terasa asing karena memang tak tampil di kehidupan sang presiden ketiga negara kita itu. Karakter utama film ini tentu saja Rudy Habibie, yang masih menempuh studi S-1-nya di Jerman, tepatnya di RWTH (Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule) di kota Aachen. Bila di film pertama dikisahkan saat ia menempuh studi doktoral hingga jadi Presiden, maka berarti film ini bisa dibilang prekuel dari serial pertamanya. Satu hal kecil namun terasa mengganggu bagi penonton dengan detail seperti saya adalah ketiadaan penjelasan waktu terjadinya peristiwa. Pada tulisan di layar, hanya ada tulisan nama kota. Padahal, bukan hal sulit mencantumkan tambahan “Aachen-Jerman, awal 1960” misalnya. Ini akan terasa mengganggu ketika ada tokoh historis Bung Karno dimunculkan di layar. Padahal kita tahu, Habibie justru adalah pendukung utama Soeharto, presiden kedua Indonesia yang menggulingkan sang proklamator. Konflik ini akan muncul di seperempat akhir film.
Tapi marilah kembali fokus ke cerita, yang tampaknya diinginkan pihak produser dan sutradara agar penonton terbuai di sana. Kisah dimulai saat Rudy kecil dan adiknya Fanny sedang bermain bersama teman-temannya di Pare-pare. Mereka melihat empat pesawat milik tentara Dai Nippon sedang membom pelabuhan. Habibie nyaris terjatuh dari tebing karena selain asyik, juga terkejut ternyata pesawat yang disenanginya malah melakukan hal jahat. Sementara di rumahnya, ibu mereka (Dian Nitami) –yang dipanggil mami- memutuskan mengungsi. Padahal ayah dan kedua anak lelakinya itu belum pulang. Rudy bertemu ibu dan keluarganya di jalan, tapi ia kembali ke rumah karena tak mau meninggalkan buku dan pesawat model mainannya yang disebut “Meccano”. Saat tiba di rumah, tak lama sang ayah pun pulang mendapati rumah sudah berantakan. Ia memaksa kedua anaknya untuk segera pergi walau Rudy belum sempat menyelesaikan berkemasnya. Kisah masa kecil Rudy inilah yang kemudian di sepanjang film menjadi semacam jangkar bagi Rudy muda yang tengah menempuh pendidikan jauh di negeri orang.
Kisah lantas beralih ke saat Rudy menempuh pendidikan strata satu di Jerman. Ia termangu di depan sebuah gereja yang direkomendasikan dari tanah air. Seorang pastor yang keluar memperkenalkan namanya, dan meski ia orang Jerman, tapi ternyata fasih berbahasa Indonesia. Ternyata Pastor Gilbert itu adalah teman dari Romo Soegijapranata -Uskup Semarang- saat masih di seminari. Bersama sang pastor, Rudy mencari rumah yang mau menampung dirinya untuk indekost. Ternyata, profilnya dari negara bernama Indonesia yang tidak dikenal membuatnya sulit diterima. Dan itu bukan kesulitan pertamanya sebagai mahasiswa, walau ia digambarkan fasih berbahasa Jerman dan Belanda, yang merupakan bahasa serumpun, selain bahasa Inggris dan juga Prancis. Rudy yang kaku dan cenderung kuper ternyata ditaksir beberapa wanita karena kepintarannya. Di film ini digambarkan ia menjadi bintang di sebuah pesta yang diadakan oleh PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Tetapi tentu saja romansa yang terjalin adalah antara Rudy dengan Ilona, dengan bumbu cinta tertolaknya Ayu. Detailnya tentu lebih nyaman bila disaksikan sendiri. Oh ya, karena kita tahu bahwa Habibie akhirnya menikah dengan Ainun, tentu bukan rahasia bila penonton bisa menebak bahwa kisah romansanya dengan Ilona juga pada akhirnya kandas.
Dalam bagian-bagian berikutnya, saya lebih memilih membahas mengenai beberapa aspek dalam sinematografi daripada jalan ceritanya. Karena untuk hal ini, lebih terasa asyik bila menonton langsung filmnya di bioskop. Oh ya, ada “intipan” juga untuk sekuel ketiganya pasca film sebelum credit title. Sebuah gaya keren yang meniru model filmnya Marvel.
Alur dan Teknik Penceritaan
Rudy Habibie sedang mengikuti ujian masuk RWTH (Foto: MD Pictures)

Rudy Habibie sedang mengikuti ujian masuk RWTH (Foto: MD Pictures)

Rudy Habibie sedang menempuh ujian masuk RWTH. (foto: MD Pictures) Satu hal yang harus sangat diingat penonton, film ini fiktif berlatar historis. Hanya “based on inspiring true story” bukan “true story”. Diangkat dari buku berjudul Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner karya Gina S Noer. Beberapa karakter saya ragukan keaslian historisnya karena saya sama sekali tak membaca bukunya. Seperti karakter Ayu yang digambarkan sebagai “putri raja Solo” yang bahkan didampingi abdi dalem saat kuliah di Jerman. Apakah karakter ini benar ada? Berarti ia adalah salah satu putri “raja Solo”, walau tak jelas yang mana, apakah Kasunanan Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran? Bila karakter ini historis dan faktual, bukankah sama saja menyatakan putri sang raja tertolak cintanya oleh B.J. Habibie dan itu sedikit banyak mempermalukan harkat dan martabatnya? (Patut dicatat saya menulis resensi ini dengan mengesampingkan wawancara dengan para pemain dan produser yang saya lihat di televisi).

Juga ketiga karakter antagonis yang dikisahkan merupakan veteran dari “Laskar Pelajar” yang juga sedang belajar di RWTH. Apalagi mereka bertiga sampai menghajar Rudy secara fisik. Padahal seringkali mereka juga mem-bully-nya. Agak tidak masuk akal juga seorang di antaranya yaitu Panca (Cornelio Sunny) sampai membawa-bawa pistor Luger ke mana-mana. Walau tentu regulasi di Jerman bisa berbeda, agak aneh seorang WNA bisa bebas bersenjata api.

Alur penceritaan film ini maju dengan beberapa kilas balik (flash-back) ke masa lalu Rudy kecil. Teknik penceritaannya adalah melalui “God’s eye” atau “angel’s eye” yang menunjukkan seolah kita melihat rekaman hidup Rudy dan para karakter di sekitarnya. Semacam reka ulang non-dokumenter dengan bumbu dramatisasi di sana-sini. Yah, soal dramatisasi ini saya merasakan aroma “lebay” di beberapa scene. Pertama adalah adegan saat Rudy masih kecil. Adegan ini bahkan dua kali diulang sebagai kilasan memori. Itu adalah adegan saat pengungsi tampak berjongkok sambil menutup telinga di sebuah lapangan, sementara di latar belakang mereka tampak ada ledakan dari bom yang dijatuhkan pesawat. Duh, adegan berteriak sambil berjongkok dan menutup telinga itu terlihat sekali diaturnya. Tidak alami. Kedua adalah saat Alwi Abdul Jalil Habibie (Donny Damara) ayah Rudy Habibie meninggal dunia saat sedang menjadi imam shalat. Luar biasa khusnul khatimah-nya. Apalagi ditambah adegan slow-motion para anggota keluarga yang menangis, tentu saja untuk memancing penonton ikut menangis terharu.
Pemain dan Karakter
Ilona dan Rudy (Foto: MD Pictures yang dimuat detik.com)

Ilona dan Rudy (Foto: MD Pictures yang dimuat detik.com)

Ilona dan Rudy (Foto: MD Pictures yang dimuat detik.com) Mengenai para pemain, saya terutama memuji penampilan Chelsea Islan sebagai Illona Ianovska, yang mampu mengimbangi pasangan mainnya yang lebih senior Reza Rahadian sebagai Rudy Habibie. Hanya satu kekurangan, teknologi perfilman kita belum mampu membuat tokoh seperti Dwarf di trilogy film The Lord of The Ring dan The Hobbit. Sehingga Rudy di film sama jangkungnya dengan pemerannya, dan jelas lebih tinggi daripada Rudy historis yang masih hidup. Tak heran terlihat ada satu adegan di taman dimana Chelsea mengenakan sepatu berhak tebal demi mengimbangi ketinggian fisik pasangan mainnya itu. But, after all, dengan kepiawaian acting keduanya, soal kekurangan penampilan fisik tertutupi dengan baik.

Satu pemain lagi yang mampu mencuri hati saya adalah Indah Permatasari yang memerankan Ayu. Ia mampu tampil kenes dan menggemaskan, sesuai karakter putri Solo yang diperankannya. Padahal ia baru berusia 18 tahun lho. Kelemahan pemilihan pemain justru tampak dari pemain pendukungnya. Saya sangat mempertanyakan pemilihan tiga komika (stand-up comedian) di film ini, yaitu Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa dan Boris Bokir. Padahal, peran mereka serius. Hanya karakter milik Boris yaitu Poltak Hasibuan yang agak kocak, lainnya tidak. Kerancuan ini nampak jelas karena saat Ernest pertama kali muncul, banyak alay yang menonton di bioskop bersama saya tertawa. Sementara Pandji rupanya agak kurang dikenali para alay dan mampu tampil cukup perform dengan perannya sebagai Peter, senior Rudy.
Selain mereka bertiga, riasan Dian Nitami sebagai ibunda Rudy (R.A. Tuti Marini Puspowardojo), agak kurang pas. Masih terlihat terlalu muda. Walau jujur, saya tak tahu berapa tepatnya usia Mami Rudy di masa Rudy masih seusia anak sekolah dasar. Tapi di hati kecil saya berharap kemunculan pemain seusia Christine Hakim untuk memerankannya. Namun setelah saya pikir, seharusnya usia maminya Rudy masih sekitar 30-40-an tahun saat itu, karena “orang zaman doeloe” banyak yang menikah muda. Maka, riasan dengan rambut beruban justru terlalu berlebihan. Sementara karakter ayah Rudy tampil cukup kuat walau hanya sebentar saja durasinya.
Property, Wardrobe dan Detail Lain
Karakter dari kiri ke kanan: Peter, Liem Keng Kie, Rudy, Mami Habibie, Ayu, Poltak (Sumber foto: posbali.id) Karakter dari kiri ke kanan: Peter, Liem Keng Kie, Rudy, Mami Habibie, Ayu, Poltak (Sumber foto: posbali.id)

Karakter dari kiri ke kanan: Peter, Liem Keng Kie, Rudy, Mami Habibie, Ayu, Poltak (Sumber foto: posbali.id) Karakter dari kiri ke kanan: Peter, Liem Keng Kie, Rudy, Mami Habibie, Ayu, Poltak (Sumber foto: posbali.id)

Saya memilh tak menterjemahkan kedua istilah perfilman itu dari bahasa Inggris, walau ada padanannya yaitu “perlengkapan” dan “busana”, tetapi terasa kurang pas. Karena ada konotasi atau rasa bahasa yang terasa kurang dari terjemahannya. Satu kelemahan fatal dari wardrobe adalah busana Bung Karno. Well, digambarkan Bung Karno pernah mengunjungi Jerman. Pakaian sang Bung Besar digambarkan di film begitu kedodoran dan tak pas di badan. Jahitannya pun tak rapi. Saya agak heran dengan kelemahan detail itu. Padahal, Bung Karno terkenal dandy dan trendy. Agak sulit dipercaya pakaian jas yang dikenakan seorang presiden seberantakan itu. Demikian pula ia tampil polos dengan jas putih saja, tanpa mengenakan atribut kemiliteran sebagai Pangti ABRI/KOTI sama sekali. Padahal, dari foto-foto sejarah, kita tahu Bung Karno selalu tampil sebagai panglima militer tertinggi lengkap dengan beragam tanda jasa di dadanya, terkadang malah dilengkapi bintang lima di pundaknya. Karakternya memang cuma sepintas tampil saja, walau malah disayangkan wajahnya yang jelas tak mirip sempat tampil. Padahal justru pengambilan gambar dari punggung dan hanya tangan saja lebih pas. Selain itu, secara umum wardrobe cukup teliti dalam memotret busana era 1960-an.

Walau begitu, detail lain saya puji, yaitu artikel di koran Jerman tentang kedatangan Soekarno di sana. Walau tentu untuk era digital printing seperti ini tak sulit membuatnya, beda kasus bila film ini dibuat 20 tahun lalu misalnya.
Terakhir, yang amat saya sayangkan, keberpihakan pembuat film ini –entah disengaja atau tidak- pada rezim Orde Baru-nya Soeharto teramat sangat terasa. Koran yang memuat berita soal Soekarno tadi misalnya, cuma dijadikan alas shalat darurat oleh Rudy, yang setelahnya jelas Rudy membuangnya begitu saja. Demikian pula di seperempat terakhir film terasa sekali nuansa anti-Soekarno digambarkan di sana. Tokoh antagonis pun disebut dari “Laskar Pelajar”, yang jelas terlalu dekat penamaannya dengan kesatuan historis “Tentara Pelajar”. Dan pertentangan terhadap penyelenggaraan Seminar Pembangunan kontra Front Nasional merupakan penggambaran yang terlalu telanjang terhadap suasana pro-kontra Soekarno dan rezim Orde Lama. Oh ya, penamaan Orde Lama dan Orde Baru pun sebenarnya bias, karena diciptakan oleh rezimnya Soeharto. Rudy pun digambarkan berani bicara keras –bahkan sambil menudingkan telunjuk tangan- kepada Bung Karno, satu hal yang terasa mustahil benar terjadi. Bung Karno memang dikenal dekat dengan rakyat hingga siapa saja bahkan bisa masuk istana saat ia menjabat. Tapi, di era 1960-an usai ia diangkat jadi Presiden Seumur Hidup oleh MPRS pada 15 Mei 1963, posisinya sudah begitu absolut dan membuat orang takut. Tidak mungkin seorang mahasiswa –apalagi sesantun B.J. Habibie muda- berani menudingkan telunjuk kepada presiden. Apalagi B.J. Habibie digambarkan selain santun juga sangat menghormati orang yang lebih tua. Bagaimana pun, Bung Karno adalah orang tua yang kebetulan diamanatkan sebagai presiden kita saat itu.
Mengenai property, pemilihan lokasi sangat cermat. Penggambaran setting di Indonesia, Jerman dan Chekoslovakia bagus. Penonton akan dibawa ke suasana Jerman di masa 1960-an. Walau sekarang banyak kota di Jerman sudah banyak berubah, menemukan lokasi yang tepat tentu sebuah tantangan tersendiri. Detail kecil seperti kotak telepon umum serta telepon yang nomornya diputar tentu juga merupakan sebuah kerja yang tidak mudah dari tim yang bertugas. Dan ini saya pujikan telah dikerjakan dengan baik.
Detail lain adalah pada bahasa. Saya memuji penggunaan bahasa Jerman yang cermat dan tanpa kesalahan tata bahasa. (Kebetulan saya cukup menguasai walau mungkin tak sefasih Habibie). Dalam film, tantangan terberat ada pada karakter Ilona, seorang Polandia yang mampu berbahasa Jerman, Inggris bahkan bahasa Indonesia. Dan luar biasanya, Chelsea Islan bahkan mampu memerankannya dengan sangat baik sampai saya lupa dia orang Indonesia!
Pesan & Hikmah Bagi Penonton
Seusai menonton film ini, penonton tentu diharapkan terinspirasi dari perjuangan B.J. Habibie muda. Nama Habibie sendiri sebenarnya nama keluarga, tapi kita memang mengenal Bacharudin Jusuf Habibie sebagai Habibie saja, walau ada banyak Habibie lain di keluarga beliau. Penggambaran film biografi –sebagaimana juga buku biografi- yang dilakukan dengan supervisi pemilik riwayat hidup terkait, memang sulit untuk obyektif. Hampir pasti yang ditonjolkan adalah sisi-sisi positifnya saja. Kecil kemungkinan ada cacat dan cela yang ditampilkan. Walau masih lebih baik biografi dengan supervisi daripada otobiografi. Namun, tentu yang paling obyektif adalah biografi yang ditulis ahli tanpa supervisi. Jadi, harus dimaklumi bila sebagian besar cerita semata adalah hal positif. Secara pribadi, saya terinspirasi oleh Rudy Habibie muda yang menghadapi tantangan tidak ringan dalam studinya. Habibie yang berkali-kali mengatakan “saya gagal” pun saya alami. Karena sebagai sesama perfeksionis, kegagalan adalah hal yang paling ditakuti. Dan Rudy Habibie muda ternyata juga sulit memperoleh teman yang percaya pada visinya.

Bagaimana pun, film ini bagus untuk edukasi, terutama bagi generasi muda. Dan di hari perdana penayangan untuk umum kemarin, kursi bioskop terisi penuh. Bisa jadi target “angka sakral” 1 juta penonton bisa ditembus film ini, seperti halnya telah sukses dilakukan sekuel film pertamanya. Pada akhirnya, kerja keras crew film yang dipimpin Hanung Bramantyo sebagai sutradara harus diberikan apresiasi tinggi. Proficiat!

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana : http://www.kompasiana.com/bhayu/rudy-habibie-romansa-habibie-muda-ulasan-film_577636f1e122bd76174f1c2f

{Rudy Habibie} on July 1, 2016 rated 3.4 of 5

One Response so far.

  1. Oyik says:

    Keereeenn

Leave a Reply