Resensi Film-Bhayu MH

Secretary

Year : 2002 Director : Steven Shainberg Running Time : 111 minutes Genre : , , , ,
Movie review score
4/5

Kritik Film

Mengejutkan!

Itu kesan pertama saya seusai menyaksikan film ini.

Kenapa? Karena tema seksual dan erotis bisa disajikan dengan menarik tanpa jatuh menjadi film seks vulgar yang murahan. Jalan ceritanya bagus dan memikat, tak terduga bagi penonton. Walau tentu saja sejak awal diharapkan adanya “akhir yang bahagia”.

Film ini hanya beredar secara terbatas, karena itu agak sulit dicari di pasar. Walau begitu, secara komersial film ini menghasilkan keuntungan nyaris dua kali lipat. Dengan biaya pembuatan relatif kecil untuk film Hollywood, yaitu hanya US$ 4 juta, ia menghasilkan sekitar US$ 9,3 juta. Tetapi, karena ini film independen, maka biaya dan keuntungan sebesar itu terhitung lumayan. Apalagi, film ini memenangkan banyak penghargaan dari berbagai festival.

Penampilan Maggie Gyllenhaal yang total diganjar Best Actress dari Central Ohio Film Critics, Breakthrough Award dari Gotham Awards, Best Breakthrough Actress dari National Board of Review dan Best Breakthrough Performance dari Online Film Critics, juga nominasi sebagai Best Actress bidang Motion Picture Musical or Comedy di ajang Golden Globe Awards.

Pemilihan Maggie bisa jadi atas dasar berbagai pertimbangan termasuk dana pembuatan yang terbatas. Walau bagi saya, wajahnya kurang cantik dan tubuhnya juga kurang seksi untuk film seperti ini. Tetapi toh aktingnya total dan seperti sudah saya sebutkan di atas, membuatnya diganjar sejumlah penghargaan.

secretary maggieKarakter Lee Holloway yang dimainkan Maggie memang mendominasi hampir seluruh film. Latar belakang diri dan keluarganya digambarkan cukup kuat. Kekuatan karakternya malah mengatasi karakter E.Edward Grey yang dimainkan oleh James Spader. Padahal, sejatinya peran Edward justru dominan dan Lee malah submissive (saya tidak bisa menemukan padanan yang pas untuk kata bahasa Inggris ini dalam bahasa Indonesia dalam konteks BDSM, walau secara harfiah berarti “bawahan”).

Sebagai film dengan jalan cerita “surrealis”, maka ketidakwajaran harus diterima sebagai sebuah kelayakan. Seperti setting kantor pengacara yang sedemikian rupa sehingga sang sekertaris bisa bekerja hanya berdua saja. Tetapi saya agak heran dengan penggambaran saat di kamar mandi dimana Lee beronani, malah terlihat ada pegawai lain. Itu pegawai bekerja di sebelah mana? Karena sepanjang film tidak terlihat ada pekerja lain di kantor tersebut. Sementara kantornya berbentuk rumah, bukan gedung. Sehingga di satu kantor itu hanya ada satu usaha saja, yaitu milik sang pengacara.

Demikian pula saat Lee ngotot melakukan mogok dengan duduk hingga Edward mau menikahinya, agak aneh polisi tidak mendobrak masuk. Karena aktivitas itu sampai diliput televisi segala. Kalau misalnya dengan alasan itu property pribadi –yang sangat dihormati di A.S. dengan privacy act-, maka seharusnya polisi bisa menjemput Edward di rumahnya. Karena bagaimanapun keselamatan Lee terancam karena tidak makan dan minum beberapa hari.

Tapi sudahlah, itu memang seperti disengaja untuk mendramatisir. Lagipula, seperti sudah saya tuliskan tadi, ini film surealis. Jadi, memang kejadian semacam itu hampir mustahil ditemukan di dunia nyata. Maka, nikmati saja jalinan cerita memikat yang diimbuhi bonus penampilan total Maggie Gyllenhaal.

One Response so far.

Leave a Reply